TIGA ASPEK UTAMA AJARAN ISLAM
(Oleh: Ardiansyah Ashri Husein Lc., MA)
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Sabtu 6 Rabi'ul-Awal 1447 H /30 Agustus 2025
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Dalam
agama Islam terdapat tiga ajaran mendasar yang ditetapkan oleh Allah dan
Rasul-Nya, yang harus diamalkan dan direalisasikan dalam kehidupan setiap
muslim. Tiga hal itu adalah Iman (akidah), Islam (syariat), dan Ihsan (akhlak).
Ketiga hal ini saling berkaitan satu sama lain, harus diamalkan secara
bersamaan, tidak bisa diabaikan salah satunya atau ketiganya. Tidaklah sempurna
keimanan seorang muslim sehingga ketiga aspek ini diterapkan dalam
kehidupannya.
Contohnya
seseorang yang melaksanakan shalat, artinya telah melaksanakan syariat Islam
yang merupakan salah satu dari rukun Islam. Namun sejatinya ia juga memiliki
dasar keimanan (akidah) yang kuat agar ibadah tersebut dilakukan semata-mata
karena Allah ta’ala. Karena amal yang dilakukan tanpa dasar keimanan dan
keikhlasan tertolak dan tidak mendapat pahala sama sekali. Demikian pula
keterkaitan keduanya dengan aspek akhlak. Syariat shalat yang dilakukan dengan
penuh keikhlasan sejatinya akan mengantarkan seorang muslim kepada akhlak yang
mulia. Karena ibadah yang dijalankan dengan benar dan penuh keikhlasan akan
membuahkan budi pekerti yang mulia.
إِنَّ الصَّلَاةَ
تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ
يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Artinya
: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan
mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 45).
Akidah
Secara
bahasa, akidah berakar dari kata ‘aqada – ya’qidu – ‘aqidatan. Yang berarti
simpul, ikatan, perjanjian dan kokoh. Relevansi antara arti kata ‘aqdan dan
‘akidah berarti keyakinan itu tersimpul dengan kokoh di dalam hati, bersifat
mengikat dan mengandung perjanjian.
Secara
istilah, akidah adalah iman yang teguh dan tertancap kuat, yang tidak ada
keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya. Jadi, Akidah Islam adalah
keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah dengan segala pelaksanaan
kewajiban, bertauhid dan taat kepadaNya, beriman kepada para malaikatNya,
rasul-rasulNya, kitab-kitabNya, hari Akhir, takdir baik dan buruk dan mengimani
seluruh apa-apa yang telah shahih tentang prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin),
perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang telah menjadi ijma’
(konsensus) dari para ulama salafush shalih, serta seluruh berita-berita qath’i
(pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan
menurut Al-Quran dan As-Sunnah yang shahih serta ijma’ salaf as-shalih.
Syariah
Secara
harfiah, syariah berarti jalan yang harus diikuti, bisa juga berarti
menjelaskan dan menyatakan sesuatu (dari kata dasar syara’), atau dari kata
Asy-Syari’ah yang berarti jalan ke sumber air atau jalan yang harus diikuti,
yakni jalan ke arah sumber pokok bagi kehidupan.
Adapun
secara istilah, syariah adalah aturan atau undang-undang yang diturunkan Allah
ta’ala untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, mengatur hubungan
sesama manusia, dan hubungan manusia dengan alam semesta atau dengan kata lain
mengandung dimensi hukum atau peraturan dari ajaran Islam. Imam al-Qurthubi
menyebut bahwa syariat adalah agama yang ditetapkan oleh Allah ta’ala untuk
hamba-hamba-Nya yang terdiri dari berbagai hukum dan ketentuan. Hukum dan
ketentuan Allah itu disebut syariat karena memiliki kesamaan dengan sumber air
minum yang menjadi sumber kehidupan bagi makhluk hidup.
Ruang
lingkup syariah meliputi ibadah (Hablun Minannas) dan muamalah (hablun
minannas). Aspek ibadah seperti ritual shalat, puasa, zakat, haji, dan
lain-lain. Sementara muamalah meliputi jual beli, simpan pinjam, sewa-menyewa,
warisan, wasiat, nafkah, dan lain-lain. Muamalah juga meliputi urusan politik,
budaya, seni, dan transaksi-transaksi yang dilakukan manusia.
Akhlak
Secara
umum, pengertian akhlak adalah suatu sifat atau perangai yang melekat pada diri
seseorang yang tercermin dari tindakan dan perbuatan orang tersebut dalam
kehidupannya sehari-hari. Pendapat lain mengatakan bahwa arti akhlak adalah
perilaku atau budi pekerti seseorang yang tercermin dari tindakan dan kebiasaan
orang tersebut secara spontan sebagai bentuk manifestasi pencerminan dan
refleksi jiwa serta batinnya. Akhlak terbagi dua, akhlak terpuji (Mahmudah) dan
akhlak tercela (mazmumah).
Keterkaitan
Antara Akidah, Syariah, Dan Akhlak.
1.
Hubungan
akidah dengan syariat
Menurut Syaikhul Azhar Syekh Mahmud Syaltut (1893-1963) ketika menjelaskan tentang kedudukan akidah dan syariah beliau menulis, “Akidah itu di dalam posisinya menurut Islam adalah pokok yang kemudian di atasnya dibangun syariat. Sedang syariat itu sendiri adalah hasil yang dilahirkan oleh akidah tersebut. Dengan demikian tidaklah akan terdapat syariat di dalam Islam, melainkan karena adanya akidah; sebagaimana syariat tidak akan berkembang, melainkan di bawah naungan akidah. Jelaslah bahwa syariat tanpa akidah laksana gedung tanpa fondasi, namun demikian islam menyatakan bahwa hubungan antara keduanya merupakan suatu keniscayaan, yang artinya bahwa antara akidah dan syari’ah tidak bisa sendiri-sendiri.
Jadi
ajaran islam terdiri dari dua pokok, yakni akidah (iman) yang terdiri dari enam
rukun iman, yang landasannya adalah dalil-dalil qath’i (Al-Quran dan
Al-Hadits). Kedua, syari’ah (ibadah dan ketentuan agama) yang mengatur dua
aspek kehidupan manusia yang pokok, yaitu mengatur hubungan manusia dengan
Allah (ibadah), dan mengatur hubungan manusia dengan sesamanya (muamalah).
Dengan demikian, maka akidah dan syariat merupakan kesatuan yang tidak dapat
dipisahkan.
2.
Hubungan
Akidah dengan Akhlak.
Akidah
tanpa akhlak adalah ibarat sebatang pohon yang tidak dapat dijadikan tempat
berteduh di saat panas dan tidak pula ada buahnya yang dapat dipetik.
Sebaliknya akhlak tanpa akidah hanya perbuatan semu, labil, dan selalu
berubah-ubah.
Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa kesempurnaan iman seseorang
terletak pada kesempurnaan dan kebaikan akhlaknya. Sabda beliau, “Orang
mukmin yang paling sempurna imannya ialah mereka yang paling bagus akhlaknya”. (HR.
Muslim).
Dengan
begitu, untuk mengukur kekuatan dan kelemahan iman dapat diketahui melalui
tingkah laku dan akhlak seseorang. Karena tingkah laku dan akhlak berbanding
lurus dengan keimanan. Ia merupakan perwujudan dari iman yang terpatri di dalam
hati. Hujjatul Islam Syaikh Imam Muhammad al-Ghazali (1058-1111) mengatakan,
iman yang kuat mewujudkan akhlak yang baik dan mulia, sedang iman yang lemah
mewujudkan akhlak yang buruk. Allah menjadikan keimanan (akidah) sebagai dasar
agama-Nya, ibadat (syariah) sebagai rukun (tiangnya). Kedua hal inilah yang
akan menimbulkan kesan baik kedalam jiwa dan menjadi pokok tercapainya akhlak
yang luhur.
3.
Hubungan
syariah dan akhlak.
Sebagai
bentuk manifestasi iman (Akidah), akhlak harus berada dalam koridor aturan
syariat Islam. Karena sebagaimana diketahui bahwa akhlak adalah salah satu
bentuk ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah ta’ala. Sedangkan
proses ibadah harus dilakukan sesuai dengan aturan mekanisme yang ditetapkan
syariah, agar dihitung sebagai amal shalih.
Syariah
merupakan aturan mekanisme dalam amal ibadah seseorang muslim dalam rangka
mendekatkan diri kepada Allah ta’ala. Melalui wasilah syariah akan
menghubungkan proses ibadah kita kepada Allah. Suatu amalan yang dikerjakan
diluar mekanisme ibadah yang ditetapkan tidak bernilai sebagai amal shalih.
Begitupula akhlak akan menjadi sia-sia jika tidak berada di dalam kerangka
aturan syariah. Jadi, syariah adalah syarat yang akan menentukan bernilai
tidaknya suatu amal ibadah yang dikerjakan manusia.
Syariat
itu menjadi standar dan tolak ukur yang menentukan apakah suatu amal perbuatan
itu benar atau tidak. Ketentuan syariah merupakan aturan dan ketetapan yang
berfungsi membatasi dan mengatur mana perbuatan yang wajib dijalankan dan yang
mesti ditinggalkan.
Jadi
akhlak tidak boleh lepas dari kendali syariat. Syariat menjadi bingkai dalam
praktik akhlak. Upaya melahirkan akhlak tidak boleh melebihi atau melanggar
syariah, namun sejatinya akhlak harus lahir sebagai penguat dan penyempurna
terhadap pelaksanaan syariat.
Wallahu'alam Bishshowab
===
Artikel
ini diterbitkan atas kerja sama dengan shariaconsulting.id
Sumber : https://asamuslim.id/
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Sumber : https://asamuslim.id/
Edit: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar