BAGAIMANA CARA MENGHIDUPKAN TAKWA DALAM KEHIDUPAN KITA?
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Jum'at 27 Rajab1447 H /16 Januari 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Khotbah Pertama
السَّلاَمُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.
إِنّ الْحَمْدَ
ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ
أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .
اَللّٰهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ
التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ
بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى
فَقَالَ
اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:
يَا أَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا
زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي
تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Ma’asyiral
Muslimin, jemaah
masjid yang dimuliakan Allah.
Mengawali
khotbah kali ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah
sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita
kepada Allah Ta’ala. Karena takwa merupakan benteng dari
segala fitnah dan bekal untuk segala cobaan. Takwa jugalah yang akan
membentengi seorang mukmin dari azab Allah dan kemurkaannya.
Sebagian
ulama mengatakan tentang takwa, “Hakikatnya adalah rasa takut kepada
Al-Jalil (Yang Mahamulia) Allah Ta’ala, pengamalan atas apa yang turun dari
wahyu-Nya, keridaan atas banyak ataupun sedikitnya rezeki yang telah Allah
berikan dan persiapan menghadapi hari kepergian dari dunia ini.”
Ketakwaan
merupakan kewajiban dan wasiat Allah kepada hamba-Nya. Ia berfirman,
يَا أَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا
زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي
تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
“Hai
sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari
seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada
keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan
bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling
meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya
Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa: 1)
Allah Ta’ala juga
berfirman,
وَلَقَدْ
وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا
اللَّهَ ۚ
“Dan
sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum
kamu dan (juga) kepada kamu, ‘Bertakwalah kepada Allah.’” (QS. An-Nisa: 131)
Sudah
menjadi keharusan bagi setiap muslim untuk menyadari kedudukan takwa dan merasa
butuh kepadanya di saat menjalankan ketaatan kepada Allah karena ketakwaan
merupakan ruh dan nyawa bagi setiap ketaatan dan peribadatan. Oleh karenanya,
Allah Ta’ala memberikan balasan khusus untuk hamba-Nya yang
bertakwa. Allah Ta’ala berfirman,
تِلْكَ
الْجَنَّةُ الَّتِي نُورِثُ مِنْ عِبَادِنَا مَنْ كَانَ تَقِيًّا
“Itulah
surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu
bertakwa.” (QS.
Maryam: 63)
Kaum
muslimin yang dirahmati Allah Ta’ala.
Takwa
memiliki berbagai macam cara agar terwujud dan terealisasi dalam kehidupan.
Sumber utamanya adalah rasa takut kita kepada Allah Ta’ala serta
selalu merasa diawasi oleh-Nya dan mengagungkan kebesarannya. Allah Ta’ala menjelaskan
keutamaan mereka yang takut akan kebesaran Allah Ta’ala sebagai
bentuk ketakwaan kepada-Nya dengan berfirman,
وَأَمَّا
مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ
الْمَأْوَىٰ
“Dan
adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari
keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at: 40-41)
Yang
kedua, ketakwaan tak dapat diraih dan diwujudkan, kecuali dengan keimanan yang
sempurna dan tinggi. Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan,
ليس الإيمان
بالتمني، ولا بالتحلي، ولكن هو ما وقر في القلب، وصدقه العمل
“Bukanlah
iman itu dengan angan-angan semata, bukan pula dengan sekedar hiasan. Akan
tetapi, iman itu ialah apa yang menancap di relung hati dan dibenarkan oleh
amalan.” (Majmu’ah
Rasa`il At-Taujihat Al-Islamiyyah li Ishlahil Fardhi wal Mujtama’ karya
Syekh Jamil Zainu)
Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam pernah menjelaskan bahwa kedudukan iman yang tinggi
ini tidak dapat diraih, kecuali dengan menghindarkan diri dari dosa-dosa besar.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لا يَزْنِي
الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وهو مُؤْمِنٌ، ولا يَشْرَبُ الخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُ وهو مُؤْمِنٌ،
ولا يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وهو مُؤْمِنٌ
“Tidaklah
beriman orang yang berzina tatkala ia berzina. Tidaklah beriman orang yang
minum khamr tatkala ia meminumnya. Dan tidaklah beriman orang yang mencuri
ketika ia mencuri.” (HR.
Bukhari no. 2475).
Yang
ketiga, akhlak dan budi pekerti yang baik. Mereka yang berakhlak baik,
seringkali akan terhindarkan dari perbuatan dosa dan kezaliman karena akhlaknya
tersebut. Akhlaknya juga yang akan menuntunnya melakukan perbuatan mulia dan
terpuji.
Jika
terkumpul pada diri seseorang akhlak yang baik, keimanan yang tinggi, serta
rasa takut kepada Allah Ta’ala, bisa dipastikan ia akan lebih berhati-hati,
menjaga, dan menghindarkan dirinya dari larangan-larangan Allah Ta’ala.
Karena ia sadar bahwa kemaksiatan dan dosa sangatlah berlawanan dengan rasa
syukur dan perbuatan baik. Tidak mungkin kebaikan yang selama ini Allah berikan
kepadanya dibalas dengan kekufuran dan kemaksiatan kepada-Nya. Allah Ta’ala pernah
berfirman,
هَلْ جَزَآءُ
ٱلْإِحْسَٰنِ إِلَّا ٱلْإِحْسَٰنُ
“Tidak
ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman: 6)
Yang
keempat, akal sehat. Akal yang sehat akan menghalangi pemiliknya dari berbuat
sesuatu yang tidak pantas dan tidak baik. Akal yang sehat akan memotivasi
pemiliknya untuk senantiasa bertakwa. Oleh karenanya, di dalam Al-Qur’an,
Allah Ta’ala mengajak mereka yang berakal untuk bertakwa.
Allah Ta’ala berfirman,
قُل لَّا
يَسْتَوِى ٱلْخَبِيثُ وَٱلطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ ٱلْخَبِيثِ ۚ فَٱتَّقُوا۟
ٱللَّهَ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Katakanlah,
‘Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu
menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah, wahai orang-orang berakal, agar
kamu mendapat keberuntungan.” (QS.
Al-Ma’idah: 100)
Jemaah
salat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Banyak
sekali amalan-amalan dalam ajaran Islam yang disyariatkan dengan tujuan untuk
mewujudkan takwa. Salat yang kita lakukan merupakan bukti nyata ikatan seorang
hamba dengan Rabbnya. Puasa yang kita lakukan merupakan tameng dari perbuatan
haram dan terlarang. Haji yang dilakukan seorang muslim, maka itu adalah
sebaik-baik bekal untuk mewujudkan ketakwaan. Sungguh semua amalan saleh yang
dilakukan seorang hamba dengan niat untuk meraih wajah Allah Ta’ala maka
itu semua tujuannya adalah ketakwaan kepada Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman,
لَيْسَ
الْبِرَّاَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ
الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ
وَالنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ
وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى
الزَّكٰوةَ ۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْا ۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى
الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا
ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ
“Kebajikan
itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan
itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir,
malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang
dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang
dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya,
yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji
apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada
masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah
orang-orang yang bertakwa.” (QS.
Al-Baqarah: 177)
Di
antara konsekuensi takwa di dalam beramal, seorang muslim dituntut untuk
memperdalam tata cara beribadah yang sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wasallam, sehingga seluruh amalan yang akan dikerjakannya nanti
diridai oleh Allah Ta’ala dan diterima oleh-Nya. Banyak
sekali orang yang rajin beramal namun tidak diterima oleh Allah karena tidak
memenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya. Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam pernah bercerita,
ذَكَرَ
الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ:
يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ
وَغُذِّيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ
“Ada
seseorang yang melakukan perjalanan panjang dalam keadaan dirinya kusut dan
kotor. Dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa, ‘Wahai
Rabb-ku, wahai Rabb-ku,’ namun makanannya haram, minumannya haram, dan
pakaiannya haram dan kenyang dengan sesuatu yang haram, lalu bagaimana mungkin
doanya akan dikabulkan?!” (HR.
Muslim no. 1015)
Dalam
hadis tersebut, Nabi menunjukkan bahwa doa yang dikabulkan memiliki beberapa
syara. Di antaranya adalah memakan makanan halal, meminum minuman halal, dan
mengenakan pakaian halal.
Seorang
muslim tentunya juga harus bersemangat untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala dalam
setiap ucapan yang keluar dari lisannya. Tidak berucap kecuali dengan
kebenaran, jujur, dan menghindarkan diri dari ucapan-ucapan yang dapat merusak
lisan. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِنَّ
عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ كِرَامًا كَاتِبِينَ يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ
“Padahal
sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi
(pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat
(pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infithar: 10-12)
Di
ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,
مَا يَلْفِظُ
مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ
“Tidak
ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas
yang selalu siap (mencatat).” (QS.
Qaf: 18)
Jemaah
salat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Ketahuilah,
bahwa wujud ketakwaan di dalam kehidupan tidak hanya nampak pada perbuatan dan
perkataan. Lebih dari itu, takwa sangatlah nampak pada keyakinan (akidah) dan
akal pikiran seorang muslim. Seorang muslim yang baik tentunya akan bertakwa
kepada Allah di dalam akidahnya, sehingga ia antusias dan bersemangat di dalam
menguatkan keimanannya akan keberadaan Allah Ta’ala, menyifatinya
dengan sifat-sifat yang sempurna dan mulia, serta juga bersemangat terhadap
hal-hal yang berkaitan dengan rukun-rukun keimanan dan hal-hal mendasar dalam
agamanya.
Karena
ia menyadari bahwa hati dan keyakinan merupakan salah satu hal yang dilirik dan
diperhatikan Allah Ta’ala dari hambanya. Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam pernah bersabda,
إنَّ اللَّهَ
لا يَنْظُرُ إلى صُوَرِكُمْ وأَمْوالِكُمْ، ولَكِنْ يَنْظُرُ إلى قُلُوبِكُمْ وأَعْمالِكُمْ
“Sesungguhnya
Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah
hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564)
Jemaah
yang dirahmati dan dimuliakan Allah Ta’ala, marilah kita semua
selalu memperhatikan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala, di setiap
keadaan dan kesempatan, mewujudkannya baik dalam bentuk keyakinan hati,
perkataan maupun perbuatan, karena takwa merupakan salah satu kunci diterimanya
amalan kita. Allah Ta’ala berfirman,
اِنَّمَا
يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ
“Sesungguhnya
Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)
Semoga
Allah Ta’ala menjadikan kita salah satu hamba-Nya yang bisa
mengamalkan ayat,
وَاتَّقُوْا
يَوْمًا تُرْجَعُوْنَ فِيْهِ اِلَى اللّٰهِ ۗثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ
وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ
“Dan
takutlah pada hari (ketika) kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian
setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah
dilakukannya, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan).” (QS. Al-Baqarah: 281)
Yaitu
mereka yang selalu bertakwa kepada Allah hingga ajal datang menjemputnya. Amiin
ya rabbal aalamiin.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khotbah Kedua
اَلْحَمْدُ
للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا
الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ
عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى
النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،
اللهم ادْفَعْ
عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ
وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا
بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً،
إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
رَبّنَا
لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا
إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا
مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا
فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ
إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
اللهمّ
أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ
الآخِرَةِ
رَبَنَا
ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.
وَالْحَمْدُ
للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
Penulis: Muhammad Idris, Lc.
Artikel: www.muslim.or.id
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Penulis: Muhammad Idris, Lc.
Artikel: www.muslim.or.id
Edit: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar