SABAR : MAHKOTA KEMULYAAN DAN PILAR KEKUATAN JIWA
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Sabtu 28 Rajab1447 H /17 Januari 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Kekuatan sejati ada pada ketangguhan jiwa dan sabar. Sabar, bukan pasif, tapi tindakan aktif mengendalikan diri dalam taat, hindari maksiat, dan hadapi musibah. Kunci hidup tenang.
Pernahkah terlintas di benak kita, apakah sejatinya kekuatan itu? Bukanlah mereka yang berbadan kekar, tangkas bergulat, atau pintar bersilat. Hakikat kekuatan sejati justru terletak pada ketangguhan jiwa. Jiwa yang kuat adalah pelita yang mampu membimbing hati, pikiran, dan raga untuk tegar menghadapi badai kehidupan. Sebaliknya, jiwa yang rapuh akan mudah terjerumus dalam jurang keputusasaan, kemalasan, dan prasangka negatif yang merusak. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sendiri bersabda, “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang menguasai jiwanya ketika marah.” Sebuah pengingat yang begitu mendalam, bahwa kendali atas diri, terutama dalam gejolak emosi, adalah puncak dari sebuah kekuatan.
Kemampuan agung untuk menguasai dan mengendalikan jiwa inilah yang kita kenal sebagai sabar. Berakar dari bahasa Arab ‘shobaro’ yang berarti menahan atau mencegah, sabar dalam istilah keagamaan dimaknai sebagai kemampuan jiwa untuk menahan diri dari kegundahan dan emosi yang meluap, menahan lisan dari keluh kesah, serta mengendalikan anggota tubuh dari perbuatan yang sia-sia. Dari definisi ini saja, jelaslah bahwa sabar bukanlah simbol kepasrahan yang pasif, ketidakberdayaan, atau apatis terhadap cobaan. Justru, sabar adalah sebuah perintah untuk bertindak aktif dan positif, mentransformasi pandangan jiwa agar senantiasa berorientasi pada kebaikan di setiap situasi.
Sabar bukanlah sifat yang mudah dimiliki, melainkan sebuah mahkota kemuliaan yang hanya dapat bertengger kokoh dalam diri orang-orang beriman. Mereka yang jiwanya terikat kuat dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memandang setiap musibah sebagai teguran atau ujian dari-Nya, bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan sebagai bentuk perhatian Ilahi yang mendorong mereka untuk berbuat lebih baik. Oleh karena itu, Imam Al-Ghazali menyebut sabar sebagai “Ruang di antara ruang-ruang agama yang tinggi” yang tidak akan tertanam kecuali pada orang yang mengenal Allah. Allah Subhanahu Wa Ta'ala juga berfirman,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْاۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَࣖ ٢٠٠
Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga di perbatasan (negerimu), dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200).
Ayat ini menegaskan bahwa sabar adalah bagian tak terpisahkan dari iman, bahkan “Syathrul Iman ” (separuh iman), yang berarti kesempurnaan iman belum tercapai tanpa kesabaran.
Dalam ajaran Islam, sabar terbagi menjadi tiga pilar utama : sabar dalam menaati perintah Allah, sabar dalam menjauhi kemaksiatan, dan sabar dalam menghadapi ujian atau musibah dari Allah. Pilar pertama, sabar dalam ketaatan, seringkali menjadi yang terberat. Ia menuntut kesabaran dari niat, saat menjalankan ibadah agar hati tak berpaling dari-Nya, hingga setelah ibadah usai, menjaga diri dari riya’ atau keinginan dipuji orang lain. Imam Al-Ghazali mengingatkan, serangan riya’ dapat mengoyak pertahanan iman dan membuat ibadah sia-sia jika kita tidak bersabar menahannya, menjadikan ibadah hanya untuk selain Allah.
Adapun sabar terhadap musibah, inilah aspek kesabaran yang paling sering kita dengar dan nasehatkan. Kisah seorang wanita yang menangis pilu di sisi kubur, lalu ditegur oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dengan sabda, “Sesungguhnya sabar itu terdapat pada hentakan pertama” (HR. Bukhari Muslim), adalah pelajaran berharga. Ia mengajarkan bahwa sabar sejati adalah ketabahan pada saat pertama kali musibah itu datang menghantam, bukan setelah gejolak emosi mereda. Pilar sabar ini diperkuat oleh tauhid yang kokoh; seseorang yang menyandarkan segala sesuatunya kepada Allah tidak akan mudah goyah, karena sandarannya adalah Yang Maha Segalanya, bukan materi yang fana dan tak berdaya.
Lantas, bagaimana kita dapat memupuk sifat sabar yang mulia ini? Imam Al-Ghazali menasihati untuk senantiasa melatih diri atau Riyadhah, dimulai dengan merenungkan hakikat kehidupan dunia dan tujuan akhir kita setelahnya. Mujahadah atau perjuangan melawan hawa nafsu dapat dimulai dari hal-hal kecil, seperti menahan keinginan akan makanan atau pakaian mahal, serta menghancurkan sifat malas. Ketika rasa malas menyerang, bangkitlah, ambil wudhu, dirikan shalat dua rakaat, dan mulailah beraktivitas dengan semangat baru. Ingatlah selalu janji Allah,
وَاَطِيۡعُوا اللّٰهَ وَرَسُوۡلَهٗ وَلَا تَنَازَعُوۡا فَتَفۡشَلُوۡا وَتَذۡهَبَ رِيۡحُكُمۡ وَاصۡبِرُوۡا ؕ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيۡنَۚ ٤٦
Artinya : “Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah bersama orang-orang sabar” (QS. Al-Anfal: 46).
Dengan sabar, hidup akan menjadi lebih tenang, dinamis positif, dan setiap realitas akan selalu dipandang melalui kacamata iman yang jernih.
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Artikel Abah Luky
Edit: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar