KETIKA DUNIA MENOLAK, ALLAH MEMANGGIL
(Refleksi Hidayah Dalam Kesendirian)
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Selasa 24 Rajab1447 H /13 Januari 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Ada masa dalam hidup di mana semuanya terasa menjauh. Teman yang dulu dekat, perlahan menghilang. Keluarga tak memahami, cinta ditolak, pekerjaan gagal, dan dunia seakan berkata: “Kamu tidak layak.” Di titik itulah, banyak orang merasa sendirian. Tapi justru di titik itulah, banyak hati akhirnya mengenal sesuatu yang jauh lebih dalam—yaitu Hidayah.
Kesendirian : Sebuah Ruang Dialog Antara Diri dan Tuhan.
Kesendirian sering dianggap sebagai kondisi menyedihkan. Padahal, bagi jiwa yang sedang mencari, itu adalah ruang refleksi paling jujur. Ketika tak ada lagi yang bisa diajak bicara, seseorang akhirnya mulai bicara dengan dirinya sendiri, lalu menengadah dan bicara pada Tuhannya.
Tak jarang, justru saat hidup menolak kita dari segala arah, kita malah mulai menengok ke atas. Itulah kenapa banyak kisah hidayah dimulai dari rasa kehilangan, penolakan, bahkan kehancuran.
Kesendirian, meskipun pahit, adalah pintu rahasia menuju perjumpaan dengan cahaya ilahi.
Dunia Tak Selalu Mengerti, Tapi Allah Selalu Mendengar
Kadang, kita merasa tak dipahami oleh siapa pun. Cerita kita terlalu rumit, luka kita terlalu dalam. Dan saat kita ingin curhat, tak ada yang benar-benar peduli. Dunia terburu-buru, dan semua sibuk dengan luka masing-masing.
Namun di saat semua diam, Allah tetap mendengar. Bahkan sebelum kata-kata kita terucap, Dia sudah tahu isi hati kita. Inilah indahnya iman: ketika dunia menolak, kita tidak benar-benar sendiri.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirma QS. Al-Baqarah : 186
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ ١٨٦
Artinya : "Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah : 186)
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirma QS. Qaf : 16
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗۖ وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ ١٦
Artinya : "Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh dirinya. Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.i". (QS. Qaf : 16)
Saat Dunia Jatuh, Hidayah Naik
Coba perhatikan : banyak orang menemukan hidayah justru setelah titik terendah dalam hidup mereka. Ada yang mendapat hidayah setelah dipenjara, ada yang setelah ditinggal orang tercinta, ada yang setelah dihina habis-habisan, dan ada pula yang setelah kehilangan segalanya.
Dunia yang runtuh seakan menjadi alarm untuk membangunkan jiwa yang tertidur. Ketika sudah tak punya sandaran manusia, seseorang akhirnya bersandar kepada Allah. Dan di situlah hidayah sering turun, diam-diam, lembut, tapi menghujam.
Hidayah tidak selalu datang dalam bentuk wahyu atau keajaiban besar. Kadang, ia datang berupa air mata malam hari, kesendirian yang menggigit, atau pertanyaan yang terus mengusik hati: “Untuk apa semua ini?”
Dan saat kita benar-benar menjawabnya dengan kejujuran, saat itu juga cahaya mulai masuk.
Menemukan Allah Dalam Kesendirian
Banyak orang mengenal Tuhan hanya lewat teori—melalui pelajaran agama di sekolah, khutbah di masjid, atau sekadar nasihat orang tua. Tapi pengenalan paling dalam sering datang bukan dari buku, melainkan dari pengalaman personal.
Ketika seseorang benar-benar merasa kosong, lalu mengisi kekosongan itu dengan shalat, dzikir, doa, atau sekadar menangis dalam sujud—itulah titik baliknya. Tidak ada yang lebih menggetarkan daripada merasa disapa oleh Allah di tengah malam ketika semua tidur, dan kita satu-satunya yang terjaga, bicara dengan-Nya dalam bahasa paling jujur.
Kesendirian menjadi ladang ibadah yang dalam. Dan hidayah tumbuh subur di sana.
Tanda-Tanda Hidayah Dalam Sunyi
Hidayah kadang tak terasa seperti hidayah. Ia bisa hadir dalam bentuk kegelisahan, keresahan, atau bahkan rasa sakit hati yang terus menghantui. Tapi saat kita mulai berpikir : “Apa maksud semua ini?”, itu adalah awal dari petunjuk.
Tanda-tanda hidayah bisa bermacam-macam :
- Hati mulai merasa tidak nyaman saat melakukan dosa.
- Tiba-tiba tertarik mendengarkan ceramah atau membaca ayat Al-Qur’an.
- Menangis saat mendengar lantunan adzan atau shalawat.
- Merasa malu pada diri sendiri dan ingin menjadi lebih baik.
- Ada dorongan untuk memulai hidup baru, meninggalkan yang lama.
Itu semua bukan kebetulan. Itu adalah panggilan. Allah sedang memanggilmu, pelan-pelan, lembut, tapi pasti.
Jangan Takut Berubah Sendirian
Banyak orang ragu menerima hidayah karena merasa akan berjalan sendiri. Takut dijauhi teman, takut dibilang sok alim, takut dianggap berubah terlalu cepat. Padahal, hidayah adalah urusan hati. Jika hatimu sudah terpanggil, jangan tunggu orang lain mengerti.
Ketahuilah, ketika kamu berjalan menuju Allah, Dia akan berlari menyambutmu. (HR. Bukhari dan Muslim)
Perubahan memang berat di awal, apalagi saat dilakukan sendiri. Tapi percayalah, semakin kamu melangkah, Allah akan mempertemukanmu dengan orang-orang yang sama-sama sedang menuju-Nya. Teman baru, lingkungan baru, energi baru—semuanya akan hadir seiring perjalanan.
Kamu mungkin memulai sendiri, tapi kamu tidak akan selamanya sendiri.
Kesimpulan : Hidayah Bukan untuk yang Sempurna, Tapi untuk yang Mau Berubah
Refleksi hidayah dalam kesendirian adalah bukti bahwa cinta Allah tidak mengenal syarat. Ia tidak menunggu kamu menjadi sempurna. Justru dalam kekurangan, dalam keterpurukan, dan dalam kesunyian—Dia hadir lebih dekat dari sebelumnya.
Jangan takut jika saat ini dunia menolakmu. Mungkin itu cara Allah untuk mengundangmu kembali. Karena saat semua pintu tertutup, hanya satu yang selalu terbuka: pintu-Nya.
Dan siapa pun yang mengetuknya, akan disambut dengan cinta yang tak pernah habis.
Jadi, jika hari ini kamu sedang merasa sendiri, jangan sedih—barangkali itu pertanda bahwa Allah sedang memanggilmu pulang.
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Artikel Abah Luky
Edit: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar