MAKNA HADITS: SEBAIK-BAIK KALIAN ADALAH YANG MEMPELAJARI ALQURAN DAN MENGAJARKANNYA
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Selasa 10 Rajab1447 H /30 Desember 20252025
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Meluruskan
pemahaman keliru terhadap maksud dari hadits belajar Al-Qur’an: “Sebaik-baik
kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”
Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah,amma ba’du :
Pemahaman
yang salah!
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
خيركم من تعلم القرآن وعلمه
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”. (HR. Bukhori).
Di antara pemahaman yang salah dalam memahami hadis di atas adalah membatasi golongan manusia yang layak disebut sebagai orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya hanyalah sebatas orang yang mempelajari dan mengajarkan huruf dan lafadz Al-Qur’an, Tajwid dan ilmu Qiro`ahnya semata! Ini adalah sebuah keyakinan yang salah!
Akibat
dari meyakini pemahaman yang salah tersebut
Ketika
seseorang meyakini keyakinan yang salah ini, maka sangat memungkinkan ia akan
merasa cukup bila sudah menguasai ilmu Tajwid dan
Qiro`ah atau sudah hafal Al-Qur’an, maka
bisa jadi ia akan berhenti ataupun malas dari melanjutkan mempelajari tafsir
Al-Qur’an, memahami makna dan penjelasan kandungannya, baik berupa aqidah yang
shohihah, ibadah, akhlak karimah serta hukum-hukum Syari’at.
Karena ia merasa sudah mengamalkan hadits belajar Al-Qur’an ini, guna meraih derajat yang terbaik!
Tujuan
Al-Qur’an diturunkan
Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah telah menjelaskan :
فالقرآن الكريم نزل لأمور ثلاثة: التعبد بتلاوته، وفهم معانيه والعمل به
“Al-Qur’an itu diturunkan untuk tiga tujuan : beribadah dengan membacanya, memahami makna dan mengamalkannya”
Lihatlah, di sini Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah menunjukkan tiga perkara yang menjadi tujuan diturunkannya Al-Qur’an, tentunya ketiga perkara ini sama-sama pentingnya, sama-sama baiknya, sama-sama menjadi tujuan diturunkannya Al-Qur’an!
Pertama dari
tujuan tersebut adalah beribadah kepada Allah dengan membacanya, tentunya
membacanya dengan tajwid dan ilmu Qiro`ah,
Kedua,
memahami makna atau tafsirnya,
Ketiga,
mengamalkannya.
Maka -misalnya- ketika seseorang baru meraih salah satu dari tiga perkara itu dengan baik, berarti baru meraih sepertiga dari tujuan diturunkannya Al-Qur’an! Janganlah berhenti sampai di situ saja, teruskan meraih dua perkara yang lainnya.
Makna
yang benar dari hadits belajar Al-Qur’an
Imam Ibnul Qoyyim rahimahullahu setelah membawakan hadits di atas, lalu menjelaskan maknanya:
وتعلم القرآن وتعليمه يتناول تعلم حروفه وتعليمها , وتعلم معانيه وتعليمها
Mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya mencakup:
1.
Mempelajari dan
mengajarkan huruf-hurufnya
2.
Mempelajari dan
mengajarkan makna-maknanya
وهو أشرف قسمي تعلمه وتعليمه , فإن المعنى هو المقصود , واللفظ وسيلة إليه ,
Yang terakhir inilah (yaitu no.2, pent.) merupakan jenis mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya yang paling mulia, karena makna Al-Qur’an itulah yang menjadi tujuan yang dimaksud, sedangkan lafadz Al-Qur’an adalah sarana untuk mencapai maknanya.
فتعلم المعنى وتعليمه تعلم الغاية وتعليمها
Maka mempelajari dan mengajarkan makna-maknanya (hakekatnya) adalah mempelajari dan mengajarkan tujuan.
وتعلم اللفظ المجرد وتعليمه تعلم الوسائل وتعليمها
sedangkan mempelajari dan mengajarkan lafadz semata (hakekatnya) adalah mempelajari dan mengajarkan sarana
وبينهما كما بين الغايات والوسائل “
Dan (perbandingan) diantara keduanya seperti perbandingan antara tujuan dan sarana.
Kesimpulan
·
Mempelajari
Al-Qur’an dan mengajarkannya mencakup dua macam sekaligus, yaitu: Lafadz dan
maknanya. Berarti kedua-duanya sama-sama pentingnya.
·
Perbandingan
keduanya, seperti perbandingan antara tujuan dan sarana. Berarti, jenis yang
satu lebih mulia dari yang lainnya.
·
Mempelajari
makna-maknanya dan mengajarkan makna-maknanya (tafsirnya) lebih mulia dari mempelajari huruf-hurufnya dan
mengajarkan huruf-hurufnya saja (tajwidnya semata).
Oleh karena itu, pantaslah jika dua orang yang masyhur disebut sebagai pakar Tafsir di kalangan Sahabat, yaitu: Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dan selain keduanya, berpandangan bahwa orang yang membaca Al-Qur’an dengan tartil dan mentadabburi (merenungi) maknanya -walaupun sedikit jumlah Ayat Al-Qur’an yang dibacanya- lebih utama daripada orang yang cepat dalam membaca Al-Qur’an, sehingga banyak jumlah Ayat Al-Qur’an yang dibacanya, namun tanpa mentadabburi maknanya.
Di zaman Al-Fudhail rahimahullah pun sudah dijumpai adanya orang yang di dalam mengamalkan Al-Qur’an lebih kepada “sebatas membacanya semata”, padahal sesungguhnya mengamalkan Al-Qur’an lebih luas daripada sekedar membacanya saja, karena dalam Al-Qur’an terdapat aqidah, ibadah, mu’amalah dan hukum-hukum Islam yang tertuntut untuk kita amalkan.
Berkata Al-Fudhail rahimahullah menuturkan fenomena yang beliau lihat di masanya :
إنما نزل القرآن ليعمل به ، فاتخذ الناس قراءته عملا
“Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan untuk diamalkan, namun ternyata ada saja orang yang menjadikan (sebatas) membacanya sebagai sebuah bentuk pengamalannya”,
Syaikh Abdur Razzaq Al-Badr hafizhahullah setelah membawakan perkataan Al-Fudhail di atas, bertutur :
فأهل القرآن هم العالمون به والعاملون بما فيه، لا بمجرد إقامة الحروف
“Ahlul Qur’an, mereka adalah orang-orang yang mengetahui maknanya dan mengamalkan isinya, bukan hanya sekedar melafadzkan huruf-hurufnya dengan benar.”
Catatan Penting!
·
Tulisan ini
bukanlah dimaksudkan untuk menyudutkan para penghafal Al-Qur’an atau para
Qurra` (Ahli Qiro`ah), tanpa diragukan lagi keduanya adalah dua kelompok
manusia yang menduduki derajat yang tinggi dalam Islam, namun yang kami
maksudkan disini adalah mendudukkan sesuatu pada tempatnya, semua ajaran Islam
adalah penting, namun tingkat kepentingannya bertingkat-tingkat! Maka di dalam
Islam ada skala prioritas suatu amal peribadatan.
· Mempelajari makna
ayat-ayat Al-Qur’an yang terdapat dalam kitab-kitab Tafsir, Tauhid, Fikih, dan
selainnya serta mengajarkannya, tanpa diragukan lagi, ini termasuk salah satu
bagian yang termulia dari kelompok orang yang mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an
yang dimaksud dalam hadits di atas, karena hakikatnya, kitab-kitab tentang
Tauhid adalah kitab yang mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an tentang Tauhid.
Kitab-kitab tentang Fikih, hakikatnya adalah kitab-kitab yang mengumpulkan
ayat-ayat Al-Qur’an tentang Fikih, dan demikian seterusnya.
· Dengan demikian,
siapakah sebaik-baik orang diantara kalian? Jawabannya: Orang yang mengumpulkan
kedua macam aktivitas mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.
· Semoga Allah menjadikan kita termasuk kedalam barisan orang-orang yang terbaik di masyarakat kita, Aamiin.
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
Sumner https://muslim.or.id/
Copyright © 2024 muslim.or.id
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Sumner https://muslim.or.id/
Copyright © 2024 muslim.or.id
Edit: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar