KEUTAMAAN DAN URGENSI TAUHID
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Rabu 7 Syafar 1448 H /22 Juli 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Tauhid adalah fondasi utama dalam Islam yang bermakna mengesakan Allah dalam rububiyah, uluhiyah, dan asma wa sifat-Nya. Ia adalah tujuan mutlak penciptaan manusia dan esensi dari seluruh dakwah para Nabi dan Rasul
Urgensi
tauhid
Ibnu
Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah (penulis Syarh
Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah) mengatakan,
“Ketahuilah,
tauhid merupakan seruan pertama dakwah para rasul. Ia adalah fase perjalanan
pertama dan maqam awal yang harus dipijak oleh seorang yang
menempuh jalan menuju Allah ‘Azza Wajalla.
Allah Ta’ala berfirman,
لَقَدۡ
أَرۡسَلۡنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ فَقَالَ یَـٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم
مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤ
Artinya
: “Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Dia menyerukan ‘Wahai
kaumku, sembahlah Allah. Tiada sesembahan (yang hak) bagi kalian, selain Dia.’”(QS.
Al-A’raf: 59)
Hud
‘alaihis salam mengatakan kepada kaumnya,
ٱعۡبُدُوا۟
ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤۚ
Artinya
: “Sembahlah Allah. Tiada sesembahan (yang hak) bagi kalian, selain Dia.”
(QS. Al-A’raf: 65)
Shalih
‘alaihis salam mengatakan kepada kaumnya,
ٱعۡبُدُوا۟
ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤۚ
Artinya
: “Sembahlah Allah. Tiada sesembahan (yang hak) bagi kalian, selain Dia.”
(QS. Al-A’raf: 73)
Allah Ta’ala juga
berfirman,
وَمَاۤ
أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ
إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ
Artinya
: “Tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun sebelum engkau, melainkan Kami
telah wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada sesembahan yang hak, kecuali Aku.
Maka sembahlah Aku saja.” (QS. Al-Anbiya’: 25)
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda,
أُمِرْتُ
أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ
مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ
Artinya
: “Aku diperintahkan untuk memerangi seluruh manusia sampai mereka mau
bersaksi bahwa tiada sesembahan yang hak selain Allah dan Muhammad adalah
utusan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Oleh
sebab itulah, maka sesungguhnya pendapat yang benar ialah yang menyatakan bahwa
kewajiban pertama yang ditanggung oleh setiap hamba adalah bersaksi la
ilaha illallah, sehingga tauhid itulah kewajiban yang pertama. Bahkan, dia
juga menjadi kewajiban terakhir. Hal ini sebagaimana tercantum dalam sabda
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
مَنْ كَانَ
آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
Artinya
: “Barangsiapa yang perkataan terakhirnya adalah laa ilaaha illallah pasti
masuk surga.” (HR. Abu Dawud, Ahmad dan al-Hakim, dia mensahihkannya dan
Adz-Dzahabi menyetujuinya) (lihat Al-Minhah Al-Ilahiyah fi Tahdzib
Syarh Ath-Thahawiyah, hal. 35)
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam memerintahkan Mu’adz bin Jabal tatkala hendak diutus
berdakwah ke negeri Yaman, “Hendaklah perkara pertama kali yang engkau
dakwahkan kepada mereka adalah syahadat laa ilaaha illallah” dalam
riwayat lain, “Supaya mereka mentauhidkan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Di
dalam riwayat Muslim dengan lafaz, “Hendaknya perkara paling pertama yang
harus engkau sampaikan kepada mereka adalah ibadah kepada Allah.”
Al-Hafizh
Ibnu Hajar mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ibadah kepada Allah di sini
adalah bertauhid (Fath al-Bari, 20: 440. Asy-Syamilah)
Tauhid,
intisari ajaran Islam
Syaikhul
Islam rahimahullah mengatakan, “Dan telah diketahui dengan
pasti suatu prinsip yang termasuk ajaran agama Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam dan juga disepakati oleh seluruh umat, yaitu pokok
ajaran Islam dan perintah pertama yang diberikan kepada manusia ialah
syahadat la ilaha illallah wa anna muhammadar rasulullah. Dengan
itulah seorang kafir berubah menjadi muslim, musuh menjadi teman, yang semula
darah dan hartanya boleh diambil, berubah menjadi terpelihara darah dan
hartanya.” (Dikutip dari Fath Al-Majid, hal. 81)
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata, “Simpul ajaran
agama (Islam) ada pada dua prinsip: [1] Kita tidak menyembah, kecuali kepada
Allah, [2] Dan kita tidak menyembah-Nya, kecuali dengan syari’at-Nya, bukan
dengan kebid’ahan. Hal ini sebagaimana terkandung dalam firman Allah Ta’ala,
فَمَن كَانَ
یَرۡجُوا۟ لِقَاۤءَ رَبِّهِۦ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلࣰا صَـٰلِحࣰا وَلَا یُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ
رَبِّهِۦۤ أَحَدَۢا
Artinya
: “Maka, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah
dia melakukan amal saleh dan tidak mempersekutukan sesuatu pun (berbuat syirik)
dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110)
Itulah
perwujudan dua kalimat syahadat. Syahadat laa ilaha illallah dan syahadat
anna muhammadar rasulullah. Pada (syahadat) yang pertama
terkandung prinsip bahwa kita tidak beribadah, kecuali kepada-Nya. Sedangkan
pada (syahadat) yang kedua terkandung prinsip bahwa Muhammad-lah utusan-Nya
yang menyampaikan wahyu dari-Nya. Oleh sebab itu, kita wajib membenarkan
beritanya dan mentaati perintahnya.” (Al-‘Ubudiyah, hal. 137).
Terkait
dengan pentingnya tauhid ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Ketahuilah,
sesungguhnya kebutuhan hamba untuk senantiasa beribadah kepada Allah tanpa
mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya merupakan kebutuhan yang tak tertandingi
oleh apapun yang bisa dianalogikan dengannya. Akan tetapi, dari sebagian sisi
ia bisa diserupakan dengan kebutuhan tubuh terhadap makanan dan minuman.
Di
antara keduanya sebenarnya terdapat banyak sekali perbedaan. Karena
sesungguhnya, jati diri seorang hamba adalah pada hati dan ruhnya. Padahal,
tidak ada kebaikan baginya (hati dan ruh), kecuali dengan (pertolongan)
Tuhannya, yang tiada ilah (sesembahan) yang hak, selain Dia.
Sehingga, ia tidak akan bisa merasakan ketenangan, kecuali dengan
mengingat-Nya.
Seandainya seorang hamba bisa memperoleh kelezatan dan kesenangan dengan selain Allah, maka hal itu tidak akan terus menerus terasa. Akan tetapi, ia akan berpindah dari satu jenis ke jenis yang lain, dari satu individu ke individu yang lain. Adapun Tuhannya, maka dia pasti membutuhkan-Nya dalam setiap keadaan dan di setiap waktu. Di mana pun dia berada, maka Dia (Allah) senantiasa menyertainya.” (Majmu’ Fatawa, I: 24. Dikutip dengan perantara Kitab Tauhid Syekh Shalih al-Fauzan, hal. 43)
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Artikel: www.muslim.or.id
Editing: Ndik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar