TANDA SHALAT KITA DITERIMA
بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Jum'at 11 Muharam 1448 H /26 Juni 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
KHUTBAH I
الْحَمْدُ
لِلَّهِ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، وَالْفَضْلِ وَالطَّوْلِ وَالْمِنَنِ
الْجِسَامِ، الَّذِي هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا
اللّٰهُ الْوَاحِدُ الْغَفَّارُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
الْمُصْطَفَى الْمُخْتَارُ. صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَى سيدنا محمد وَعَلَى
جَمِيعِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمَلَائِكَةِ وَآلِ كُلٍّ وَأَتْبَاعِهِمُ الْكِرَامِ،
صَلَوَاتٍ مُتَضَاعِفَاتٍ دَائِمَاتٍ بِلَا انْفِصَامٍ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا
أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ الحَاضِرُونَ، أُوصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ
عَزَّ وَجَلَّ، فَهِيَ وَصِيَّتُهُ لِلْأَوَّلِينَ وَٱلْآخِرِينَ، قَالَ اللّٰهُ
تَعَالَى وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِيْنَ أُوتُوْا ٱلْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ
وَإِيَّاكُمْ أَنِ ٱتَّقُوْا اللّٰهَ
Hadirin
jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Di
tengah kehidupan modern yang serba cepat, ibadah sering kali hanya menjadi
rutinitas simbolik. Shalat dikerjakan sekadar untuk menggugurkan kewajiban.
Karena itu, Baginda Nabi Muhammad SAW pernah mengingatkan kita dalam sebuah
hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:
يأَتِى
عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يُصَلُّوْنَ وَلاَ يُصَلُّوْنَ
Artinya:
“Akan datang suatu masa menimpa manusia, banyak yang melakukan shalat,
padahal sebenarnya mereka tidak shalat.”
Hadits
ini mengingatkan kita untuk senantiasa menjaga shalat dari seluruh aspek yang
berkaitan dengannya, mulai dari sisi fiqih hingga hakikat shalat itu sendiri.
Dalam
QS Al-Baqarah ayat 238, Allah Ta’ala berfirman:
حَافِظُوْا
عَلَى الصَّلَوٰتِ وَالصَّلٰوةِ الْوُسْطٰى وَقُوْمُوْا لِلّٰهِ قٰنِتِيْنَ
Artinya: “Peliharalah
semua shalat fardu dan shalat Wusṭā. Berdirilah karena Allah dalam shalat
dengan khusyuk.”
Syekh
Nawawi Al-Bantani dalam kitab Marah Labid jilid II halaman 218 menjelaskan
bahwa ayat tersebut memerintahkan kita untuk menjaga shalat dengan
menyempurnakan rukun dan syarat-syaratnya.
Tidak
hanya itu, dalam penggalan ayat tersebut kita juga diperintahkan untuk berdiri
dalam shalat dengan keadaan khusyuk. Ini menjadi rambu-rambu tentang hakikat
shalat, yaitu penyerahan diri secara total kepada Allah, melalui sujud dan
kepasrahan kepada Tuhan semesta alam.
Hadirin
jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Setelah
mengerjakan shalat dengan tata cara fiqih yang benar dan berusaha mengamalkan
hakikat shalat, terkadang kita masih dihadapkan pada kekhawatiran mengenai
apakah shalat kita diterima atau tidak? Kekhawatiran seperti ini sejatinya
penting bagi seorang mukmin, karena dapat membuatnya lebih
giat dalam memperhatikan dan memperbaiki setiap shalat yang ia
lakukan.
Imam
An-Nakha’i bahkan mengatakan bahwa waswas yang menghinggapi seseorang saat
menunaikan shalat adalah salah satu tanda bahwa shalat tersebut telah
diterima. Tanpa rasa waswas sama sekali, shalat seseorang dikhawatirkan
tidak diterima karena menyerupai ibadah kalangan Yahudi dan Nasrani.
Syekh
Sa'id Muhammad Ba'asyin dalam kitab Busyral Karim, terbitan Darul
Fikr Beirut tahun 2012, jilid 1, halaman 246, menukil perkataan Imam
An-Nakha’i:
وَقَالَ
النَّخَعِيُّ: كُلُّ صَلَاةٍ لَا وَسْوَسَةَ فِيهَا لَا تُقْبَلُ، لِأَنَّ
الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لَا وَسْوَسَةَ لَهُمْ
Artinya:
“Imam An-Nakha’i mengatakan bahwa setiap shalat yang tidak ada waswas di
dalamnya tidak diterima, karena Yahudi dan Nasrani tidak merasakan waswas dalam
shalat mereka.”
Keterangan
ini tentu sama sekali bukan anjuran untuk sengaja waswas atau sengaja dibuat
gelisah dalam shalatnya. Maksudnya, shalat adalah tempat bertemunya seorang
hamba dengan Allah Ta’ala. Setan pasti berusaha mengganggu. Kalau seseorang
shalat dan sama sekali tidak merasa terganggu pikirannya, hal itu sering kali
justru menjadi tanda bahwa hatinya sedang lalai total, sehingga setan tidak
perlu bersusah payah mengganggunya.
Hadirin
jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Karena
itu, penting bagi kita sebagai orang beriman untuk terus memperhatikan dan
memperbaiki shalat kita. Mari kita perbaiki shalat kita, sebagaimana dijelaskan
dalam kitab Mirqatush Shu'udit Tashdiq fi Syarhi Sullamit Tawfiq,
halaman 76:
وَشُرِطَ
مَعَ مَا مَرَّ لِقَبُولِهَا عِنْدَ اللّٰهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يَقْصِدَ
بِهَا وَجْهَ اللّٰهِ تَعَالَى وَحْدَهُ، وَأَنْ يَكُونَ مَأْكُولُهُ
وَمَلْبُوسُهُ وَمُصَلَّاهُ حَلَالًا، وَأَنْ يَحْضُرَ قَلْبُهُ فِيهَا فَلَيْسَ
لَهُ مِنْ صَلَاتِهِ إِلَّا مَا عَقَلَ مِنْهَا، وَأَنْ لَا يُعْجَبَ بِهَا.
Artinya:
“Agar shalat diterima oleh Allah SWT, syarat-syarat berikut perlu
diperhatikan: Pertama, shalat harus dikerjakan hanya bertujuan kepada Allah SWT
semata. Kedua, makanan, pakaian, dan tempat shalatnya harus halal. Ketiga,
menghadirkan hati dalam shalat atau khusyuk, karena seseorang tidak
mendapatkan sesuatu dari shalatnya selain apa yang ia renungkan. Keempat, tidak
berbangga diri dengan shalatnya.”
Namun
demikian, diterima atau ditolaknya sebuah amal ibadah memang
sulit untuk diukur. Keputusan untuk menerima atau menolak amal adalah
hak prerogatif Allah Ta’ala. Manusia, siapa pun dia, tidak boleh menjatuhkan
vonis atas penerimaan atau penolakan amal seseorang, bahkan atas amal dirinya
sendiri.
Hadirin
jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Meskipun
kita tidak bisa mengetahui secara pasti apakah shalat kita diterima atau
ditolak, para ulama merumuskan beberapa tanda bahwa amal kita diterima oleh
Allah Ta’ala.
Syekh
Ahmad Zarruq dalam Syarhul Hikam, terbitan As-Syirkatul
Qaumiyyah tahun 2010 M/1431 H, halaman 80–81, mengutip hikmah Imam Ibnu
Athaillah RA:
مَنْ
وَجَدَ ثَمْرَةَ عَمَلِهِ عَاجِلًا فَهُوَ دَلِيلٌ عَلَى وُجُودِ الْقَبُولِ
Artinya:
“Siapa pun yang mendapati buah dari amalnya di dunia dengan segera, maka itu
adalah tanda bahwa amal tersebut telah diterima.”
Khusus
dalam urusan shalat, yang diterima tentu berdampak nyata dalam
kehidupan. Dampaknya sangat diutamakan pada akhlak yang membaik, lisan
yang semakin beradab, perilaku yang semakin taat, dan hati yang semakin
tenteram.
Hadirin
jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Mari
kita perbaiki shalat kita. Jangan lelah untuk terus berharap agar shalat kita
diterima di sisi Allah Ta’ala. Yakinlah, ditakdirkan untuk bisa bersujud adalah
nikmat yang amat agung. Nikmat yang bahkan selalu diinginkan oleh mereka yang
telah meninggal dunia. Jangan sampai kita baru menyesal setelah kehilangan
nikmat sujud kepada Allah Ta’ala.
Demikian
khutbah singkat di siang hari yang penuh berkah ini. Semoga khutbah ini membawa
manfaat bagi kita semua, menjadikan kita lebih giat memperbaiki shalat, dan
semoga setiap shalat kita, meski masih penuh kekurangan dan kelalaian, diterima
oleh Allah Ta’ala. Amin ya Rabbal alamin.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا
فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا
وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ
KHUTBAH II
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ
أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إلَى رِضْوَانِهِ.
اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا،
أَمَّا
بَعْدُ. فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا
عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ،
أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ
تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِى، يَآ
اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلٰيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا
إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا
إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ
اَلْأَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ
الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ
وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا
اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا
ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ
بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ
لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا
الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا
مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ
المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ
الرّٰحِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ
اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي
اْلقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ. يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللّٰهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ
وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.
Ustadz Abdul Karim Malik, alumni Al-Falah Ploso Kediri, pengurus LBM PCNU Kabupaten Bekasi, dan pengajar di Pondok Pesantren YAPINK Tambun-Bekasi.
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Editing: Ndik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar