SUDAH TAUBAT LALU BERMAKSIAT LAGI, APAKAH DITERIMA TAUBATNYA?
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Rabu 14 Syafar 1448 H /29 Juli 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Taubat Anda tetap diterima setiap kali Anda mengulanginya dengan sungguh-sungguh. Allah SWT adalah At-Tawwāb (Maha Penerima Taubat). Pintu ampunan tidak pernah tertutup selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan Anda tidak meremehkan dosa.
Pintu
Taubat Dibuka Lebar
Sungguh
Allah Ta’ala telah melapangkan dan melonggarkan serta memberi
kesempatan yang seluas-luasnya kepada kita untuk bertaubat kepada-Nya.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّ اللهَ
يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ النَّهَارِ ، وَبِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ
مُسِيْءُ اللَّيْلِ
“Sungguh,
Allah meluaskan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat dari hamba
yang bermaksiat di siang hari. Dan Allah meluaskan tangan-Nya pada siang hari
untuk menerima taubat dari hamba yang bermaksiat di malam hari” (HR. Muslim
no.7165)
Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam juga bersabda:
إِنَّ اللهَ
يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لمَ ْيُغَرْغِرْ
“Sungguh
Allah menerima taubat hamba-Nya selama nyawa belum sampai di kerongkongan”
(HR. At Tirmidzi, 3880. Ia berkata: “Hadits ini hasan gharib”. Di-hasan-kan
oleh Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi).
Kemudian
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga telah mengabarkan
kepada kita kisah seorang lelaki yang telah membunuh 99 orang:
فَدُلَّ
عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ
لَهُ مِنَ تَوْبَةٍ فَقَالَ لاَ. فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ عَنْ
أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ
نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ نَعَمْ وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ
التَّوْبَةِ
“Lelaki
tersebut ditunjukkan kepada seorang ahli ibadah, ia mendatanginya dan bertanya:
‘Aku telah membunuh 99 orang. Apakah aku masih bisa bertaubat?’. Ahli ibadah
tadi berkata: ‘Tidak’. Lelaki tersebut pun membunuhnya hingga genaplah 100
orang. Kemudian ia bertanya kepada penduduk yang paling alim, dan ia pun
ditunjukkan kepada seorang ulama. Ia kemudian bertanya: ‘Aku telah membunuh 100
orang. Apakah aku masih bisa bertaubat?’. Ulama tadi berkata: ‘Ya. Memangnya
siapa yang bisa menghalangimu untuk mendapatkan taubat?’” (HR. Muslim,
no.7184)
Maka
siapakah yang bisa menghalangi anda dari taubat, saudaraku? Kesempatan selalu
terbuka lebar!
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ
لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya
Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa selain syirik bagi
siapa yang Allah kehendaki” (QS. An Nisa: 48)
Bahkan dosa syirik! Ketika seorang musyrik bertaubat kepada Allah dan ia kembali ke jalan Allah Ta’ala, maka tidak ada yang dapat menghalangi ia dari Allah. Bahkan, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengabarkan bahwa orang musyrik dari kalangan ahlul kitab yang bertaubat, ia mendapat dua pahala dari taubatnya.
Mengulang
Dosa Setelah Taubat
Memang
demikianlah sifat dasar manusia, berbuat kesalahan tidak hanya sekali namun
berkali-kali. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
كُلُّ ابْنِ
آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap
manusia pasti banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah
adalah orang yang sering bertaubat” (HR. Tirmidzi no.2687. At Tirmidzi
berkata: “Hadits ini gharib”. Di-hasan-kan Al Albani dalam Al Jami Ash Shaghir,
291/18).
Perhatikan
dalam hadits ini digunakan kata خطاء yang artinya: banyak berbuat salah. Namun
kata Nabi setelah itu, “sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang
sering bertaubat”. Ini isyarat bahwa orang yang dosanya banyak, termasuk orang
yang mengulang dosa yang sama setelah taubat, tetap akan diterima taubatnya.
Juga
dalam sebuah hadits shahih disebutkan:
أإِنَّ
عَبْدًا أَصَابَ ذَنْبًا فَقَالَ يَا رَبِّ إِنِّى أَذْنَبْتُ ذَنْبًا فَاغْفِرْ لِى
فَقَالَ رَبُّهُ عَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ
فَغَفَرَ لَهُ ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَصَابَ ذَنْبًا آخَرَ وَرُبَّمَا
قَالَ أَذْنَبَ ذَنْبًا آخَرَ فَقَالَ يَا رَبِّ إِنِّى أَذْنَبْتُ ذَنْبًا آخَرَ فَاغْفِرْ
لِى قَالَ رَبُّهُ عَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ
بِهِ فَغَفَرَ لَهُ ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَصَابَ ذَنْبًا آخَرَ وَرُبَّمَا
قَالَ أَذْنَبَ ذَنْبًا آخَرَ فَقَالَ يَا رَبِّ إِنِّى أَذْنَبْتُ ذَنْبًا آخَرَ فَاغْفِرْ
لِى فَقَالَ رَبُّهُ عَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ
بِهِ فَقَالَ رَبُّهُ غَفَرْتُ لِعَبْدِى فَلْيَعْمَلْ مَا شَاءَ
“Ada
seorang hamba yang berbuat dosa lalu ia berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah berbuat
dosa, ampunilah aku’. Lalu Allah berfirman: ‘Hambaku mengetahui bahwa ia
memiliki Rabb yang mengampuni dosa’. Lalu dosanya diampuni. Dan berjalanlah
waktu, lalu ia berbuat dosa lagi. Ketika berbuat dosa lagi ia berkata: ‘Ya
Rabbi, aku telah berbuat dosa lagi, ampunilah aku’. Lalu Allah berfirman:
‘Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa’. Lalu dosanya
diampuni. Dan berjalanlah waktu, lalu ia berbuat dosa lagi. Ketika berbuat dosa
lagi ia berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah berbuat dosa lagi, ampunilah aku’. Lalu
Allah berfirman: ‘Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni
dosa’. Lalu dosanya diampuni. Lalu Allah berfirman: ‘Aku telah ampuni dosa
hamba-Ku, maka hendaklah ia berbuat sesukanya’” (HR. Bukhari no. 7068).
Dalam Fathul Baari dijelaskan Ibnu Hajar Al Asqalani berkata: “Makna dari firman Allah ‘Aku telah ampuni dosa hamba-Ku, maka hendaklah ia berbuat sesukanya‘ adalah: ‘Selama engkau selalu bertaubat setiap kali bermaksiat, Aku telah ampuni dosamu’”. Beliau juga membawakan perkataan Imam An Nawawi: “Jika seseorang berbuat dosa seratus kali, seribu kali, atau bahkan lebih banyak, dan setiap berbuat dosa ia bertaubat, maka taubatnya diterima. Bahkan jika dari ribuan perbuatan dosa tadi setelahnya ia hanya sekali bertaubat, taubatnya pun diterima” (Fathul Baari, 89/21).
Apakah
Ini Kabar Gembira Untuk Ahli Maksiat?
Tentu
ini bukan angin segar untuk terus berbuat maksiat. Karena seseorang bermaksiat
hendaknya ia sadari bahwa belum tentu ia mendapatkan taufiq untuk bertaubat
nasuha setelah maksiat dan belum tentu ia mati dalam keadaan sudah bertaubat.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّمَا
الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا
“Sungguh
setiap amal tergantung pada bagian akhirnya” (HR. Bukhari no. 6493).
Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam juga bersabda:
الرجلَ
ليعمل الزمنَ الطويلَ بعمل أهلِ الجنَّةِ ، ثم يُختَمُ له عملُه بعمل أهلِ النَّارِ
، و إنَّ الرجلَ لَيعمل الزمنَ الطويلَ بعملِ أهلِ النَّارِ ثم يُختَمُ [ له ] عملُه
بعمل أهلِ الجنَّةِ
“Ada
seseorang yang ia sungguh telah beramal dengan amalan penghuni surga dalam
waktu yang lama, kemudian ia menutup hidupnya dengan amalan penghuni neraka.
Dan ada seseorang yang ia sungguh telah beramal dengan amalan penghuni neraka
dalam waktu yang lama, lalu ia menutup hidupnya dengan amalan penghuni surga”
(HR. Al Bukhari no. 2898, 4282, Muslim no. 112, 2651).
Maka teruslah istiqamah menjauhi maksiat dan terus bertaubat kepada Allah, semoga kita dimatikan di atas kebaikan.
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Artikel: Muslim.or.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar