TAUHID, FITRAH SELURUH MANUSIA
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Sabtu 10 Syafar 1448 H /25 Juli 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Perlu kita ketahui dan kita perhatikan, pentingnya dan wajibnya kita beradab kepada Allah Ta’ala. Karena sejatinya, tidak ada yang menjadi kewajiban bagi Allah untuk Dia tunaikan dan lakukan terhadap hamba-hamba-Nya dan makhluk-makhluk-Nya.
Sehingga kita tidak boleh menanyakan dan mengatakan “mengapa”
terhadap apa-apa yang diperbuat oleh Allah Ta’ala. Karena
Dialah Zat Mahakuasa yang melakukan apapun yang Dia kehendaki. Tidak boleh
menghakimi keputusan-Nya. Tidak boleh menghalangi ketetapan-Nya. Tidak boleh
bertanya tentang apa yang Dia lakukan.
Allah Ta’ala berfirman,
لَا يُسْـَٔلُ
عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْـَٔلُونَ
Artinya
: “Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan, tetapi merekalah
yang akan ditanya.” (QS. Al-Anbiya’: 23)
وَهُوَ
ٱلْغَفُورُ ٱلْوَدُود ، ذُو ٱلْعَرْشِ ٱلْمَجِيدُ ، فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ
Artinya
: “Dialah Yang Mahapengampun lagi Mahapengasih, yang mempunyai ‘Arsy,
lagi Mahamulia, Mahakuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (QS.
Al-Buruj 14-16)
Allah Ta’ala juga
berfirman,
وَاللّٰهُ
يَحْكُمُ لَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهٖۗ وَهُوَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ
Artinya
: “Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat
menolak ketetapan-Nya. Dia Mahacepat perhitungan-Nya.” (QS. Ar-Ra’d:
41)
Fitrah
Manusia adalah Beribadah dan Mentauhidkan Allah Ta’ala
Setelah
mengetahui bahwa di antara adab kepada Allah Ta’ala adalah
tidak boleh menghakimi keputusan-Nya, tidak boleh menghalangi ketetapan-Nya,
dan tidak boleh bertanya tentang apa yang Dia lakukan, maka wajib untuk kita
ketahui bahwasanya Allah Ta’ala memberikan fitrah kepada
manusia dan menciptakan mereka agar hanya menyembah kepada-Nya serta
mentauhidkan-Nya.
Allah Ta’ala berfirman,
فَاَقِمْ
وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ
لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰه
Artinya
: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai)
fitrah Allah yang Dia telah menciptakan manusia barada di atas (fitrah) itu.
Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah.” (QS. Ar-Rum: 30)
Makna
(Al-Fithrah) adalah agama Islam sebagaimana tafsir dari Mujahid
(Diriwayatkan oleh Ath-Thabary dalam tafsirnya 20/97).
Di
dalam Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah disebutkan, “Dan
teguhlah di atas agama Islam. Ia merupakan agama Allah yang manusia diciptakan
Allah dengan agama Islam sejak kelahiran mereka. Maka, janganlah merubah fitrah
yang telah Allah tetapkan bagi hamba-Nya itu. Namun, teguhlah di atas agama
yang agung dan jalan yang dapat mengantarkan kepada keridaan Allah. Akan
tetapi, mayoritas hamba tidak mengetahui keagungan agama yang benar ini.”
Allah Ta’ala juga
berfirman,
وَمَا خَلَقْتُ
ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya
: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka
mengabdi kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)
As-Sa’di Rahimahullah di
dalam tafsirnya berkata, “Inilah tujuan Allah menciptakan jin dan
manusia. Dan Allah mengutus semua rasul untuk menyeru kepada tujuan tersebut.
Tujuan tersebut adalah menyembah Allah yang mencakup berilmu tentang Allah,
mencintai-Nya, kembali kepada-Nya, menghadap kepada-Nya, dan berpaling dari
selain-Nya. Semua tujuan itu tergantung pada ilmu tentang Allah. Sebab
kesempurnaan ibadah itu tergantung pada ilmu dan ma’rifatullah. Dan Allah
menciptakan mereka bukan karena mereka diperlukan oleh Allah.”
Bahkan,
semenjak masih menjadi janin, sejatinya seluruh manusia telah bersaksi bahwa
Allah Ta’ala adalah sesembahan satu-satunya.
Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذْ
أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى
أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ
الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
Artinya
: “Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari
sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya
berfirman), ‘Bukankah Aku ini Rabbmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Rabb
kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari
kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang
yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb).’” (QS. Al-A’raf: 172)
Oleh
sebab itu, setiap manusia yang lahir, maka dia lahir dalam keadaan Islam,
mengenal Allah Rabb semesta alam, dan mengakui-Nya sebagai sesembahannya.
Lalu
Apa yang Menyebabkan Manusia Menjadi Kafir?
Saat
Allah Ta’ala telah menciptakan seluruh janin dengan kondisi
mereka telah menjadi muslim, lalu bagaimana bisa ada orang yang kafir?
Di
dalam sebuah hadis qudsi Allah Ta’ala berfirman,
إِنِّي
خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ
عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ
يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا
Artinya
: “Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hunafa’
(Islam) semuanya. Kemudian setan datang. Lalu memalingkan mereka dari agama
mereka, mengharamkan atas mereka apa yang Aku halalkan, dan memerintahkan
mereka untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak Aku turunkan
keterangannya.” (HR. Muslim no. 2865)
Allah Ta’ala mengabarkan
dalam hadis qudsi ini bahwa kita pada asalnya diciptakan dalam
keadaan hunafa’. Makna (hunafa’) adalah dalam keadaan Islam
sebagaimana penjelasan An-Nawawi Rahimahullah (lihat Syarh
Shahih Muslim, 9: 247). Kemudian setan dari kalangan jin dan
manusialah yang menjadikan manusia berubah fitrahnya.
Di
antara faktor terbesar yang menjadikan seorang manusia itu menjadi kafir adalah
orang tuanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَا مِنْ
مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ
أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ
فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ
Artinya
: “Tidaklah setiap anak kecuali dia dilahirkan di atas fitrah. Maka, bapak
ibunyalah yang menjadikannya Yahudi, atau menjadikannya Nasrani, atau
menjadikannya Majusi. Sebagaimana halnya hewan ternak yang dilahirkan, ia
dilahirkan dalam keadaan sehat. Apakah Engkau lihat hewan itu terputus
telinganya?” (HR. Bukhari no. 1358 dan Muslim no. 2658)
Maksudnya,
hewan ternak itu semula lahir dalam keadaan sehat tanpa cacat. Kemudian setelah
lahir, terjadi perubahan, telinganya putus karena dipotong oleh manusia.
Demikian pula manusia, ia terlahir dalam keadaan fitrah, tetapi karena keadaan
orang tuanyalah atau karena pola pendidikan orang tuanyalah hingga terjadi
perubahan pada diri anak manusia yang tidak sesuai dengan fitrahnya.
Orang
tua yang Yahudi, Nasrani, atau Majusi akan dapat mengubah anaknya berubah
menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Bukan itu saja, bahkan orang tua yang
muslim pun akan dapat mengubah fitrah buah hatinya dari Islam menjadi Yahudi,
Nasrani, Majusi, atau minimal berkarakter seperti Yahudi, Nasrani, atau Majusi.
Kenapa bisa begitu?
Lemahnya
keislaman orang tua, serta ketidakmampuan mereka di dalam mendidik dan
mengarahkan anaknyalah yang akan menyebabkan perubahan fitrah seorang anak. Dan
hal itu akan berpengaruh besar bagi perkembangan negatif fitrah anak-anaknya.
Orang
tua yang demikian tidak pernah peduli terhadap pendidikan Islam anak-anaknya.
Jangankan berpikir tentang pendidikan keislaman anaknya, untuk berpikir tentang
keislaman dirinya sendiri pun tidak peduli.
Tidak
heran jika mereka menyerahkan pendidikan putra-putrinya kepada orang atau
lembaga yang cita-cita tertingginya adalah sukses duniawi. Bukan membentuk anak
saleh atau salehah yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
berpikir tentang sukses akhirat. Padahal Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ
مَا يُؤْمَرُونَ
Artinya
: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa
api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah
malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak pernah mendurhakai Allah
terhadap apa yang diperintahkan oleh-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan
apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)
Ibnu
Katsir Rahimahullah di dalam tafsirnya mengatakan, “Penjagaan
terhadap diri dan keluarga dari siksa api neraka adalah dengan memberikan
pendidikan dan pengajaran yang baik kepada keluarga termasuk putra-putrinya.”
Semoga Allah Ta’ala senantiasa meneguhkan kita di atas fitrah yang lurus, memberikan kita kekuatan di dalam beribadah dan bertauhid kepada-Nya, serta menjaga seluruh keluarga kita dan anak cucu kita di dalam kalimat tauhid. Amiin Ya Rabbal Aalamiin.
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Artikel: www.muslim.or.id
Editing: Ndik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar