JANGAN BERHARAP PUJIAN MANUSIA, BALASAN ALLAH LEBIH SEMPURNA
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Sabtu 3 Syafar 1448 H /18 Juli 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Dalam
perjalanan hidup ini, sering kali kita berbuat baik tanpa ada yang tahu,
membantu tanpa diminta, atau berkorban tanpa dihargai. Di saat-saat seperti
itu, hati mudah lelah. Namun, ada satu pengingat yang mampu menenangkan
segalanya, bahwa tidak ada satu pun kebaikan yang luput dari pandangan
Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا تَفْعَلُوا۟
مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ ٱللَّهُ
Artinya
: “Dan kebajikan apapun yang kamu kerjakan, niscaya Allah (pasti)
mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah: 197)
Ayat
ini menjadi pengingat bahwa setiap kebaikan, baik besar atau kecil, terlihat
atau tersembunyi, tidak ada satu pun yang luput dari pengetahuan Allah Ta’ala.
Dari
ayat ini, setidaknya ada dua pelajaran penting yang dapat kita ambil.
Pertama,
melatih keikhlasan
Ketika
seseorang terbiasa mengingat dan meyakini bahwa setiap kebaikan yang dilakukan
itu pasti dilihat dan akan dibalas oleh Allah Ta’ala, maka
seseorang tidak akan terlalu peduli apakah orang lain melihat kebaikannya atau
tidak.
Ibnul
Qayyim rahimahullah menyatakan,
وَلَا يَجْتَمِعُ
فِي قَلْبِ الْعَبْدِ هَمَّانِ مُتَضَادَّانِ: هَمُّ الْإِخْلَاصِ لِلَّهِ، وَهَمُّ
طَلَبِ الْمَحْمَدَةِ وَالثَّنَاءِ مِنَ الْخَلْقِ
Artinya
: “Tidak akan berkumpul dalam satu hati dua tujuan yang saling
bertentangan: tujuan ikhlas karena Allah dan tujuan mencari pujian manusia.”
(Al-Fawa’id, hal. 171–173)
Al-Hasan
al-Bashri rahimahullah juga pernah berkata, “Seseorang itu
tidak akan mencapai keikhlasan sampai ia tidak suka jika amalnya diketahui oleh
manusia.” (Shifat ash-Shafwah, 2: 164)
Keikhlasan
akan tumbuh saat seseorang hanya berharap Allah Ta’ala yang
menilai dan membalas amalnya, bukan manusia. Pujian manusia menjadi tidak
penting, karena balasan Allah jauh lebih sempurna.
Kedua,
menjadikan seseorang tidak baperan
Terkadang
seseorang sudah berbuat baik, tetapi orang yang dibantu justru lupa, tidak
menghargai, atau malah membalas dengan keburukan. Inilah yang sering membuat
hati menjadi baper, kecewa, dan patah semangat. Namun, ketika
ia yakin bahwa Allah melihat dan mengetahui setiap niat dan kebaikannya, serta
menjanjikan balasan yang sempurna, maka hatinya menjadi lebih lapang, lebih
tenang, dan tidak mudah tersinggung oleh sikap manusia.
Allah Ta’ala telah
mengabarkan tentang salah ciri penduduk surga dalam firman-Nya,
إِنَّمَا
نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَآءً وَلَا شُكُورًا
Artinya
: “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan
keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula
(ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insan: 9)
Salah
satu ciri dan sifat penduduk surga yaitu mereka berbuat baik karena Allah Ta’ala, bukan
karena berharap manusia akan membalas atau bahkan sekedar berterima kasih.
Jangan
harap balasan manusia, kebaikan itu tak akan pernah sirna
Dalam
kehidupan sehari-hari, kita melihat begitu banyak kebaikan yang mengalir dari
hati manusia. Guru yang sabar menuntun muridnya, suami dan istri yang saling
melayani, orang tua yang bekerja keras demi anak-anaknya, hingga kebaikan kecil
yang kita berikan kepada teman dan tetangga.
Namun,
sering kali kebaikan itu tidak kembali kepada kita sebagaimana yang kita
harapkan. Tidak selalu ada ucapan terima kasih. Tidak selalu ada penghargaan.
Tidak selalu ada balasan yang setimpal. Tetapi ketahuilah bahwa tidak ada satu
pun kebaikan yang hilang di sisi Allah Ta’ala.
Walaupun
manusia tidak membalas, selama kebaikan itu dilakukan karena Allah Ta’ala, niscaya
balasan dari-Nya pasti datang dengan lebih indah, lebih adil, dan lebih
sempurna daripada apa pun yang dapat diberikan manusia.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ اللَّهَ
لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
Artinya
: “Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat
kebaikan.” (QS. At-Taubah: 120)
Rasulullah shallallahu
‘aliahi wa sallam juga memberikan kabar gembira,
إِنَّ اللَّهَ
لَا يَظْلِمُ مُؤْمِنًا حَسَنَةً
Artinya
: “Sesungguhnya Allah tidak akan menzalimi seorang mukmin atas kebaikan apa
pun.” (HR. Muslim)
Artinya,
setiap kebaikan pasti diganti oleh Allah, meskipun manusia tidak membalasnya.
Hal ini tentu berbeda ketika kita menjadi objek penerima manfaat atau kebaikan
dari orang lain.
Ketika
kebaikan itu ditujukan kepada kita
Syariat
Islam memerintahkan kepada kita untuk senantiasa berterima kasih kepada sesama
manusia atas berbagai kebaikan, keutamaan, dan peran mereka dalam kehidupan
kita.
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wassallam bersabda,
لاَ يَشْكُرُ
اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ
Artinya
: “Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak bersyukur (berterima
kasih) kepada manusia.” (HR. Abu
Dawud no. 2970, Ahmad no.
7926 dengan isnad sahih. Lihat Al-Shahih no.
417)
Ini
adalah adab mulia yang harus dijaga. Maka, jangan berharap balasan jika
memberi, tetapi jadilah orang yang tahu berterima kasih ketika menerima
kebaikan.
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya
Artikel Muslim.or.id
Editing: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar