MEMULIAKAN BULAN MUHARAM SESUAI PETUNJUK RASULULLAH
بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Jum'at 4 Muharam 1448 H /19 Juni 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
KHOTBAH PERTAMA
السَّلاَمُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.
إِنّ الْحَمْدَ
ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ
أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .
اَللّٰهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ
التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ
بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى
فَقَالَ
اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:
يَا أَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا
زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي
تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Ma’asyiral
Muslimin, jemaah
masjid yang dimuliakan Allah.
Pertama-tama,
khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar
senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Sungguh
takwa adalah sebaik-baik bekal kita di hari akhirat nanti. Allah Ta’ala berfirman,
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai
orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan
bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu
kerjakan.” (QS.
Al-Hasyr: 18)
Kaum
muslimin yang dimuliakan Allah Ta’ala.
Hari-hari
berlalu. Siang berganti malam. Bulan demi bulan. Dan tahun demi tahun. Namun,
masih saja ada dari sebagian manusia yang terus-menerus bermain dalam
kemaksiatan dan pelanggaran. Sibuk dengan urusan dunia, hingga tidak ada
impiannya yang tidak terwujud. Padahal waktu dan ajalnya tak pernah sekalipun
diakhirkan oleh Allah Ta’ala.
Kaum
muslimin yang semoga senantiasa di dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala.
Saat
musim berbuat kebaikan berlalu, pasti akan datang musim kebaikan yang lain.
Saat hilang sebuah kesempatan untuk berbuat kebaikan, maka akan Allah gantikan
dengan kesempatan lainnya. Sesungguhnya, saat ini kita berada di bulan Muharam
yang penuh kemuliaan dan keutamaan. Sebuah kesempatan emas yang datang setelah
berlalunya bulan Zulhijah yang juga penuh dengan kemuliaan dan keutamaan.
Bulan
Muharam ini merupakan bulan yang mulia. Bukan bulan sial serta bulan kesedihan
sebagaimana yang menjadi anggapan sebagian orang. Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam bahkan menjelaskan bahwa Muharam termasuk bulan yang
mulia dan menisbatkan bulan mulia ini kepada Allah Ta’ala. Sahabat
Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada
Nabi,
سألتُ النَّبيَّ
صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: أيُّ اللَّيلِ خيرٌ، وأيُّ الأشهُرِ أفضَلُ؟ فقال: خيرُ اللَّيلِ
جَوفُه، وأفضَلُ الأشهُرِ شَهرُ اللهِ الذي تَدْعونَه المُحَرَّمَ
“Aku
bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Apakah malam yang paling
baik dan apakah bulan yang paling utama?’ Beliau bersabda,
‘Sebaik–baik malam adalah pertengahannya, dan seutama-utamanya bulan adalah
bulan Allah yang kalian menamainya dengan Al-Muharram.” (HR. An-Nasai no. 4216 dalam As-Sunan
Al-Kubra)
Hikmah
dari penyebutan Muharam sebagai ‘bulan Allah’ sebagaimana yang disebutkan oleh
Al-Hafidz Al-Iraqi di dalam kitab Syarhu At-Tirmidzi adalah,
“Bisa
kita katakan, karena Muharam merupakan salah satu bulan suci/ haram yang Allah
haramkan di dalamnya peperangan. Dan ia merupakan bulan yang pertama kali
dinisbatkan kepada Allah Ta’ala secara khusus. Dan tidak ada bulan-bulan
lainnya yang secara sahih dinisbatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam kepada Allah Ta’ala, kecuali bulan Allah Muharam ini.”
Penisbatan
ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Rajab rahimahullah dalam
kitabnya Lathoif Al-Ma’arif, menunjukkan besarnya keutamaan
dan kemuliaan bulan Muharam. Beliau rahimahullah berkata,
فَإِنَّ
اللَّهَ -تَعَالَى- لَا يُضِيفُ إِلَيْهِ إِلَّا خَوَاصَّ مَخْلُوقَاتِهِ، كَمَا نَسَبَ
مُحَمَّدًا وَإِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَغَيْرَهُمْ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ
إِلَى عُبُودِيَّتِهِ، وَنَسَبَ إِلَيْهِ بَيْتَهُ وَنَاقَتَهُ
“Karena
sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menisbatkan kepada diri-Nya, kecuali
makhluk-makhluk yang khusus dan tertentu. Sebagaimana Ia menisbatkan Nabi
Muhammad, Ishak, Yakub dan nabi-nabi yang lain kepada penghambaan terhadap
diri-Nya. Sebagaimana juga Allah Ta’ala menisbatkatkan ka’bah dan unta Nabi
Shalih kepada-Nya.”
Maasyiral
Mukminin, yang
dirahmati Allah Ta’ala.
Bulan
Muharam merupakan bulan yang paling mulia setelah bulan Ramadan. Inilah
pendapat yang banyak diambil oleh para ulama. Hasan Al-Basri rahimahullah berkata,
إِنَّ اللَّهَ
-تَعَالَى- افْتَتَحَ السَّنَةَ بِشَهْرٍ حَرَامٍ -أَيِ: الْمُحَرَّمِ- وَخَتَمَهَا
بِشَهْرٍ حَرَامٍ -أَيْ: ذِي الْحِجَّةِ- فَلَيْسَ شَهْرٌ فِي السَّنَةِ بَعْدَ شَهْرِ
رَمَضَانَ أَعْظَمَ عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْمُحَرَّمِ
“Sesungguhnya
Allah Ta’ala mengawali tahun dengan dengan bulan yang suci dan mulia, yaitu
Muharam. Dan menutupnya juga dengan bulan yang suci dan mulia, yaitu bulan
Zulhijah. Maka, tidak ada bulan yang lebih mulia setelah bulan Ramadan, kecuali
bulan Muharam.”
Begitu
mulianya bulan ini hingga Allah Ta’ala tekankan haramnya
berbuat kezaliman dan kemaksiatan di bulan ini, serta Allah Ta’ala lipat
gandakan dosa kemaksiatan di dalamnya. Oleh karenanya, Ia berfirman,
إِنَّ عِدَّةَ
الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ
السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا
تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
“Sesungguhnya
jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan
Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan
haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi
dirimu dalam (bulan yang empat) itu.” (QS. At-Taubah: 36)
Al-Qurtubi rahimahullah mengatakan,
“Allah
khususkan penyebutan bulan-bulan haram serta Allah larang perbuatan zalim di
dalamnya sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan, walaupun (perbuatan zalim)
itu terlarang di setiap zaman dan waktu. Inilah (tafsir ayat di atas) yang
banyak diambil oleh ulama tafsir, yaitu: ‘janganlah kamu sekalian menzalimi
diri kalian sendiri pada bulan-bulan haram yang empat itu.’”
Jemaah
Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.
Setelah
mengetahui besarnya keutamaan bulan Muharam ini, serta mengetahui bahwa
kemaksiatan dan kezaliman padanya dosanya lebih besar, seorang muslim
seharusnya semakin sadar diri. Mengisi bulan ini dengan ketaatan kepada
Allah Ta’ala yang sesuai dengan ajaran dan tuntunan Allah dan
Rasul-Nya.
Ia
juga harus sadar bahwa ke-bid’ah-an dan mengada-adakan hal baru dalam
urusan agama dosanya sangatlah besar. Sehingga ia berhati-hati dari terjerumus
pada setiap amal ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh generasi terdahulu,
karena sejatinya ke-bid’ah-an akan merugikan pelakunya. Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ هَلْ
نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
“Katakanlah,
‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi
perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan
dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat
sebaik-baiknya.’” (QS.
Al-Kahfi: 103-104)
Begitu
banyak dari kaum muslimin yang terjerumus ke dalam perbuatan bid’ah,
baik pada hari Asyura secara khusus, maupun pada bulan Muharam secara umum.
Padahal semuanya itu tidak pernah diajarkan oleh Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam dan tidak pernah dicontohkan juga oleh para
sahabatnya dan para pengikutnya. Abu Syamah rahimahullah seorang
ahli sejarah dan ahli hadis dari Damaskus berkata,
وَلَمْ
يَأْتِ شَيْءٌ فِي أَوَّلِ لَيْلَةِ الْمُحَرَّمِ، وَقَدْ فَتَّشْتُ فِيمَا نُقِلَ
مِنَ الْآثَارِ صَحِيحًا وَضَعِيفًا، وَفِي الْأَحَادِيثِ الْمَوْضُوعَةِ، فَلَمْ أَرَ
أَحَدًا ذَكَرَ فِيهَا شَيْئًا، وَإِنِّي لَأَتَخَوَّفُ -وَالْعِيَاذُ بِاللَّهِ- مِنْ
مُفْتَرٍ يَخْتَلِقُ فِيهَا حديثاً
“Tidak
ada riwayat apapun yang menyebutkan keutamaan malam pertama Muharam. Saya telah
meneliti berbagai riwayat dalam kitab kumpulan hadis yang sahih maupun yang
daif, atau dalam kumpulan hadis-hadis palsu, namun aku tidak menjumpai seorang
pun yang menyebutkan hadis itu. Saya khawatir, wal iyadzu billah, hadis ini
berasal dari pemalsu, yang membuat hadis palsu terkait tahun baru.” (Al-Bahis ’ala Inkar al-Bida’
wa al-Hawadits, hlm. 77)
أقول قولي
هذا. أستغفر الله لي ولكم فاستغفروا الله إنه هو الغفور الرحيم
KHOTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ
للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.
Jemaah
yang berbahagia.
Salah
satu keutamaan bulan Muharam yang mulia ini adalah anjuran untuk memperbanyak
puasa di dalamnya. Bahkan, sebagian ulama membolehkan berpuasa sunah sebulan
penuh di dalamnya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam,
أَفْضَلُ
الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ
الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
“Puasa
yang paling utama setelah Ramadan adalah (puasa) di bulan Allah (yaitu)
Muharam. Sedangkan salat yang paling utama setelah (salat) fardu adalah salat
malam.” (HR.
Muslim no. 1163)
Pada
bulan ini juga terdapat satu hari, yang Rasulullah sangatlah bersemangat untuk
berpuasa di dalamnya serta memerintahkan para sahabatnya untuk turut serta
berpuasa, bahkan para sahabat mengajak serta dan mengajarkan anak-anak yang
belum baligh untuk berpuasa di dalamnya.
Ketahuilah
wahai jemaah sekalian, hari tersebut adalah hari Asyura, hari kesepuluh dari
bulan Muharam. Hari di mana Allah Ta’ala menyelamatkan Nabi
Musa ‘alaihis salam dari kekejaman raja Firaun dan hari di mana
Allah Ta’ala tenggelamkan Firaun dan bala tentaranya. Dari
sinilah puasa Asyura disyariatkan sebagai bentuk rasa syukur atas selamatnya
Nabi Musa dari kekejaman Firaun dan bala tentaranya.
Jemaah
yang dirahmati Allah Ta’ala. Syariat juga memberikan balasan yang besar bagi
siapa saja yang berpuasa di hari Asyura ini. Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda,
وَصِيَامُ
يَوْمِ عَاشُورَاءَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
“Dan
puasa hari Asyura saya berharap kepada Allah dapat menghapus (dosa) tahun
sebelumnya.” (HR.
Muslim, no. 1162)
Semangat
Nabi dalam berpuasa Asyura juga terlukis pada perkataan sahabat Ibnu
Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang artinya,
“Aku
tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat bersemangat
serta sangat mengharapkan pahala dari berpuasanya pada suatu hari yang lebih ia
utamakan dari berpuasa di hari-hari lainnya, kecuali pada hari ini, yaitu hari
Asyura dan pada bulan bulan ini, yaitu bulan Ramadan.”
Puasa
pada tanggal 10 Muharam ini akan semakin sempurna pahalanya dan akan lebih
utama bila kita dahului dengan berpuasa pada hari sebelumnya, yaitu pada
tanggal 9 Muharam. Hal ini berdasarkan perkataan Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam,
لَئِنْ
بَقِيتُ أو لئِنْ عِشْتُ إلى قابلٍ لأصومَنَّ التاسِعَ
“Seandainya
umurku sampai tahun depan atau aku masih hidup, niscaya aku akan berpuasa pada
tanggal Sembilan (tasyu’a).” (HR.
Muslim no. 1134 dan Ibnu Majah no. 1736 dan lafaz ini merupakan lafaznya)
Maasyiral
muslimin, jemaah
yang dirahmati Allah Ta’ala.
Semoga
kita semua termasuk hamba Allah Ta’ala yang bisa memanfaatkan
momen bulan Muharam ini dengan maksimal, menjaga batasan dan larangan Allah
dengan tidak melanggarnya, serta memperbanyak berpuasa di bulan yang mulia ini.
Semoga kita semua dikumpulkan bersama Nabi kita yang mulia Muhammad shallallahu
‘alaihi wasallam di dalam surga Allah Ta’ala yang
kekal nanti.
فَيَا أَيُّهَا
الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ
عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى
النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،
اللهم ادْفَعْ
عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ
وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا
بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً،
إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
رَبّنَا
لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا
إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا
مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا
فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ
إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
اللهمّ
أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ
الآخِرَةِ
رَبَنَا
ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.
وَالْحَمْدُ
للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ
عِبَادَ
اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى
ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
***
Penulis: Muhammad
Idris, Lc.
Artikel: www.muslim.or.id
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Editing: Ndik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar