MEMAHAMI MAKNA SYUKUR
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Senin 9 Rajab1447 H /29 Desember 2025
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Segala
puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan seluruh
kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah beliau sampai hari
kiamat.
Kaum
muslimin yang kami muliakan, sesungguhnya segala kebaikan dan kenikmatan yang
ada pada kita adalah karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ
فَمِنَ اللهِ (53)
“Dan
apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)…” (QS.
An-Nahl: 53)
Betapa
melimpahnya kenikmatan yang Allah Ta’ala berikan
kepada kita, yang tidak terhingga jumlahnya. Allah memberikan kita kehidupan,
kesehatan, makanan, minuman, pakaian dan begitu banyak nikmat yang lainnya.
Jika kita berusaha menghitung nikmat yang Allah karuniakan kepada kita, niscaya
kita tidak akan mampu menghitungnya. Allah Ta’ala berfirman:
وَإِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ
اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا (18)
“Dan
jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan
jumlahnya.” (QS. An-Nahl: 18).
Kebaikan
Yang Hakiki Hanya Ada Pada Seorang Mukmin
Kaum
muslimin yang kami muliakan, seorang muslim sejati tidak pernah terlepas dari
tiga keadaan yang merupakan tanda kebahagiaan baginya, yaitu bila dia mendapat
nikmat maka dia bersyukur, bila mendapat kesusahan maka dia bersabar, dan bila
berbuat dosa maka dia beristighfar (Qowa’idul Arba’,
hal. 01),
Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Bagaimanapun keadaannya, dia tetap masih bisa meraih pahala yang banyak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ
إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ،
إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ
ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ
“Sungguh
menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini
tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan
kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.
Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu
merupakan kebaikan baginya.” (Hadits
shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin
Sinan radhiyallahu ‘anhu).
Kelapangan
Hidup Merupakan Bagian Dari Ujian
Merupakan
sunnatullah bahwasanya Allah Ta’ala telah
menentukan ujian dan cobaan bagi para hamba-Nya. Mereka akan diuji dengan
berbagai macam ujian, baik dengan sesuatu yang disenangi oleh jiwa berupa
kemudahan dalam hidup atau kelapangan rizki, dan juga akan diuji dengan perkara
yang tidak mereka sukai, berupa kemiskinan, kesulitan, musibah atau yang
lainnya.
Allah Ta’ala berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ
الْمَوْتِ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا
تُرْجَعُوْنَ (35)
“Tiap-tiap
yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan
dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah
kamu dikembalikan.” (QS.
Al-Anbiya: 35)
‘Abdullah
ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,
“Maksudnya, Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan
dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan maksiat,
serta petunjuk dan kesesatan. (Tafsiir ath-Thabari,
IX/26, no. 24588).
Inilah
sunnatullah yang berlaku pada para hamba-Nya. Oleh karena itulah, kita melihat
manusia ini berbeda kondisi kehidupannya. Ada yang hidup dengan harta yang
melimpah, fasilitas dan kedudukan. Ada juga yang ditakdirkan hidup sederhana
lagi pas-pasan. Bahkan ada juga yang hidup fakir miskin dan tidak punya
apa-apa.
Segala
nikmat yang Allah berikan kepada kita adalah ujian bagi kita, apakah kita akan
menjadi hamba-Nya yang bersyukur ataukah menjadi orang yang kufur. Sungguh
benar apa yang diucapkan oleh Nabi Sulaiman ‘alaihis salam tatkala
mendapatkan nikmat, beliau mengatakan
هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْ
لِيَبْلُوَنِيْ أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ
لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ (40)
“Ini termasuk karunia dari Rabb-ku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur ataukah mengingkari (nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabb-ku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An-Naml: 40).
Syukur
Adalah Sifat Mulia Para Nabi
Sesungguhnya
para nabi dan rasul ‘alaihimush sholatu was
salam adalah manusia pilihan Rabb semesta alam, yang diutus ke
dunia sebagai suri tauladan bagi umatnya. Mereka adalah manusia terdepan dalam
setiap amal kebajikan. Salah satu sifat yang sangat menonjol pada mereka adalah
senantiasa bersyukur terhadap nikmat yang telah Allah limpahkan pada mereka.
Allah Ta’ala banyak menceritakan keutamaan mereka dalam
al-Qur’an sebagai teladan bagi kita. Allah ‘Azza wa Jalla menyanjung
Nabi Nuh ‘alaihis salam dengan firman-Nya:
إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا
شَكُوْرًا (3)
“Sesungguhnya
dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (QS.
Isra’: 3)
Al-Bukhari
dan Muslim menceritakan di dalam kitab Shahih-nya, bahwa
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun shalat malam
hingga kedua kaki beliau bengkak. Lalu istri beliau, yaitu ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya, ”Mengapa Anda
melakukan ini, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosa Anda yang dulu maupun
yang akan datang?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
أَفَلاَ أَكُوْنُ عَبْدًا
شَكُوْرًا
”Tidak
pantaskah jika aku menjadi hamba yang bersyukur?” (Hadits
shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 4837 dan Muslim, no. 2820)
Hakikat
Syukur
Syukur
adalah akhlaq yang mulia, yang muncul karena kecintaan dan keridho’an yang
besar terhadap Sang Pemberi Nikmat. Syukur tidak akan mungkin bisa terwujud
jika tidak diawali dengan keridho’an. Seseorang yang diberikan nikmat oleh
Allah walaupun sedikit, tidak mungkin akan bersyukur kalau tidak ada
keridho’an. Orang yang mendapatkan penghasilan yang sedikit, hasil panen yang
minim atau pendapatan yang pas-pasan, tidak akan bisa bersyukur jika tidak ada
keridho’an. Demikian pula orang yang diberi kelancaran rizki dan harta yang
melimpah, akan terus merasa kurang dan tidak akan bersyukur jika tidak diiringi
keridho’an.
Kaum
muslimin yang kami muliakan, syukur yang sebenarnya tidaklah cukup hanya dengan
mengucapkan “alhamdulillah”. Namun hendaknya
seorang hamba bersyukur dengan hati, lisan dan anggota badannya. Sebagaimana
yang dikatakan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah,
“Syukur (yang sebenarnya) adalah dengan hati, lisan dan anggota badan. (Minhajul Qosidin, hal. 305)
Adapun
tugasnya hati dalam bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah
Pertama :
Mengakui dan meyakini bahwa nikmat tersebut semata-mata datangnya dari
Allah Ta’ala dan bukan dari selain-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan apa
saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)…” (QS.
An-Nahl: 53). Meskipun bisa jadi kita mendapatkan nikmat itu melalui teman
kita, aktivitas jual beli, bekerja atau yang lainnya, semuanya itu adalah
hanyalah perantara untuk mendapatkan nikmat. Kedua :
Mencintai Allah Ta’ala yang telah memberikan
semua nikmat itu kepada kita. Ketiga :
Meniatkan untuk menggunakan nikmat itu di jalan yang Allah ridhai.
Adapun
tugasnya lisan adalah memuji dan menyanjung Dzat yang telah memberikan nikmat
tersebut pada kita. Sementara tugasnya anggota badan adalah menggunakan nikmat
tersebut untuk mentaati Dzat yang kita syukuri (yaitu Allah Ta’ala) dan menahan diri agar jangan menggunakan
kenikmatan itu untuk bermaksiat kepada-Nya.
Semoga Allah Ta’ala memberikan pertolongan-Nya kepada kita untuk mensyukuri nikmat-Nya dan menjadikan kita hamba-Nya yang pandai bersyukur.
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
Penulis: dr. Muhaimin Ashuri
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar, MA
Artikel www.muslim.or.id
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Penulis: dr. Muhaimin Ashuri
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar, MA
Artikel www.muslim.or.id
Edit: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar