KEBAHAGIAAN DI BALIK AHLI QURAN
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Sabtu 7 Rajab1447 H /27 Desember 2025
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Al-Qur’an merupakan kalamullah yang redaksinya langsung bersumber dari Allah Ta’ala melalui Malaikat Jibril ‘alaihis salam untuk diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidakkah terpikirkan oleh kita, sejenak saja, tentang sebuah pertanyaan, “Kenapa kita ditakdirkan menjadi seorang muslim?” Sebuah pertanyaan yang sejatinya merupakan renungan agar kita bersyukur dengan sungguh-sungguh karena menyadari betapa besar nikmat Islam dan iman ini. Menjadi seorang muslim di mana Al-Qur’an merupakan pedoman hidup duniawi dan ukhrawi bagi kita adalah anugerah yang sangat agung yang patut kita syukuri setiap waktu.
Kitab suci yang mengandung segala hal yang berkaitan dengan kunci-kunci sukses dunia dan akhirat. Warisan yang amat berharga yang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disebut sebagai pegangan yang dengannya kita tidak akan tersesat selamanya.
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
“Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik, Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Hadis ini disahihkan oleh Syekh Salim Al-Hilali di dalam At-Ta’zhim wa Al-Minnah fi Al-Intishar As-Sunnah, hal. 12-13)
Ajaibnya Al-Qur’an
Al-Qur’an, sebuah kitab di mana karena mentadaburinya, banyak ilmuwan
cerdas (yang sebelumnya menganggap akal adalah di atas segalanya) serta merta
tunduk kepada Islam dan menyatakan dirinya sebagai seorang muslim melalui syahadatain.
Kitab suci yang tidak ada satu makhluk pun yang mampu mendatangkan, walaupun satu saja dari 6236 ayat yang terkandung di dalamnya. Allah Ta’ala berfirman,
فَاِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا وَلَنْ تَفْعَلُوْا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِيْ وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ اُعِدَّتْ لِلْكٰفِرِيْنَ
“Jika kamu tidak mampu membuatnya, dan (pasti) tidak akan mampu,
maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang
disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 24)
Sebagai seorang muslim pun, membacanya saja kita mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
“Siapa saja yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an, maka baginya
satu kebaikan dengan bacaan tersebut. Satu kebaikan dilipatkan menjadi 10
kebaikan semisalnya. Dan aku tidak mengatakan الم satu huruf, akan
tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.”
(HR. Tirmidzi dan disahihkan di dalam kitab Shahih Al-Jami’, no.
6469)
Kalamullah yang mulia, dengannya para ahli Qur’an mendapatkan syafa’at karena banyak membacanya selama hidup di dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ
“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya.” (HR. Muslim dari Abu Umamah Al-Bahily radhiyallahu ‘anhu.)
Penyebab hati yang berat
Namun, semulia-mulianya janji Allah Ta’ala kepada
hamba-hamba-Nya melalui keagungan Al-Qur’an, ada saja yang masih enggan untuk
menjadi seorang ahli Qur’an. Buktinya, meskipun telah mengetahui pahala yang
berlipat ganda, rasanya masih ada rasa berat untuk benar-benar menjadikan
Al-Qur’an sebagai prioritas dalam kehidupan.
Tak peduli bahwa seseorang itu telah mengkhatamkan ilmu tajwid, pernah
belajar tahsin, ataupun sudah pernah hafal Al-Qur’an. Tetapi, kenapa kadangkala
ada saja penghalang untuk membuka hati untuk benar-benar menjadi ahli
Al-Qur’an?
Mungkin, termasuk kita yang sedang membaca artikel ini. Bolehlah kita
sebentar bertanya, pada diri sendiri. Di manakah Al-Qur’anku kini? Kapan aku
terakhir membacanya? Kapan terakhir aku mentadaburinya? Sudah rampungkah ilmu
tajwid dan sudah benarkah bacaan Qur’anku? Dari puluhan tahun kesempatan hidup
di dunia, sudah berapa ayat yang sanggup kuhafalkan dan masih tersimpan dalam
memori hafalanku? Adakah hafalan baru yang kuterapkan dalam salatku?
Bahkan, renungkan dan tanyakan pada diri, kitakah orangnya yang kini
benar-benar memahami keutamaan Al-Qur’an, tetapi masih belum tergerak untuk
senantiasa menjadikannya pedoman hidup?
Saudaraku, mungkin, masih ada dosa yang menghalangi kita untuk melakukan amalan mulia itu. Sebagaimana disebutkan dalam Kitab Latha’iful Ma’arif, bahwa seseorang berkata kepada Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu,
ما نستطيع قيام الليل؟
“Mengapa kami tidak mampu melakukan salat malam?”
Beliau pun menjawab,
أقعدتكم
ذنوبكم
“Dosa-dosa kalian telah menghalangi kalian.” (Latha’iful Ma’arif, hal. 46)
Kebahagiaan di balik ahli Qur’an
Ada hal penting yang mungkin belum kita sadari tentang Al-Qur’an. Bahwa
ketika hati kita tergerak untuk membacanya, sesungguhnya Allah Ta’ala sedang ingin berbicara kepada kita melalui
perantara Al-Qur’an Al-Karim. Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
“Jika kamu telah mendengar bahwa Allah berfirman, ‘Wahai orang-orang
yang beriman’, maka fokuskanlah pendengaranmu, karena (di sana) terdapat
kebaikan yang diperintahkan atau keburukan yang dilarang.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1: 374)
Membaca Al-Qur’an sama dengan membaca kalamullah.
Kandungan Al-Qur’an berupa perintah dan larangan, kisah-kisah, peringatan
tentang hari kiamat, tauhid, akidah, hukum, akhlak, ilmu pengetahuan, dan
berbagai substansi mahapenting lainnya. Adalah kalimat-kalimat yang tak
ternilai harganya jika kita mampu menghadirkan perasaan bahwa membaca dan
mentadaburi Al-Qur’an tersebut berarti Allah sedang berbicara kepada kita.
Tidakkah hati ini bahagia tatkala mengetahui bahwa Allah Ta’ala sedang berbicara kepada kita?
Sebaliknya, terkadang kita enggan membacanya, bahkan menyentuh mushaf
pun terasa amat berat. Padahal, kitab suci tersebut ada dekat dengan fisik
kita, terletak manis di atas meja, atau terpampang kokoh di dalam lemari.
Setiap hari kita bisa lihat. Namun, ada saja hal yang memalingkan kita dari
menyentuhnya, membuka lembar demi lembar isi kandungannya, serta mambacanya.
Atau, ketika kita hidup di zaman dengan kecanggihan teknologi di mana
belajar membaca Al-Qur’an tidak lagi menjadi perkara yang sulit. Justru sangat
mudah bagi kita untuk dapat mengakses sumber-sumber pembelajaran yang
berkualitas, bahkan kita dapat memperolehnya dengan cuma-cuma (gratis) seperti
di channel-channel yang menyediakan konten belajar
Al-Qur’an atau situs-situs website yang
memberikan akses untuk mendapatkan e-book gratis
untuk belajar. Lalu, kenapa hati ini masih berat untuk tergerak memanfaatkan
fasilitas yang telah Allah anugerahkan kepada kita tersebut?
Allah Ta’ala berfirman,
خَتَمَ
اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ وَعَلٰى سَمْعِهِمْ ۗ وَعَلٰٓى اَبْصَارِهِمْ
غِشَاوَةٌ
“Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka dan penglihatan
mereka telah tertutup.” (QS. Al-Baqarah: 7)
Maka, sadarilah bahwa bisa saja hal itu bermakna bahwa Allah Ta’ala sedang tidak ingin berbicara kepada kita.
Tidakkah hati ini tergerak untuk segera berupaya mencari jalan agar mendapatkan
kemudahan dalam membaca Al-Qur’an dan hati terdorong untuk selalu bersamanya?
Penulis: Fauzan Hidayat
Artikel: Muslim.or.id
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
Penulis: Fauzan Hidayat
Artikel: Muslim.or.id
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Penulis: Fauzan Hidayat
Artikel: Muslim.or.id
Edit: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar