BESARNYA PERHATIAN ISLAM TERHADAP PERKARA SILATURAHMI
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Sabtu 21 Rajab1447 H /10 Januari 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Dalam
Islam, silaturahmi memiliki kedudukan yang agung dan bahkan lebih didahulukan
dari amal-amal kebaikan lainnya. Allah Ta’ala berfirman,
وَأُولُو
الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
وَالْمُهَاجِرِينَ
“Dan
orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak
(waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan
orang-orang Muhajirin.” (QS.
Al-Ahzab: 6)
Ayat
ini merupakan ayat yang menghapus hukum warisan pada awal Islam yang bersandar
pada hijrah dan hubungan pertemanan. Di mana di dalam ayat tersebut menjelaskan
bahwa hubungan kerabat dan saudara sedarah lebih diutamakan dari
hubungan-hubungan selainnya.
Di
ayat yang lain, Allah Ta’ala menjadikan wasiat menyambung
silaturahmi bersandingan dengan wasiat untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfiman,
وَاتَّقُوا
اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا
“Dan
bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling
meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya
Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa’: 1)
Allah Ta’ala memerintahkan
kita untuk menyambung tali silaturahmi setelah memerintahkan kita untuk
bertakwa. Hal ini untuk menunjukkan kepada kita bahwa menyambung silaturahmi
merupakan buah dan hasil serta keberkahan takwa kita kepada Allah Ta’ala,
menunjukkan juga jujurnya keimanan kita kepada Allah Ta’ala.
Mereka
yang senantiasa menyambung tali silaturahmi dan menjaga hubungan kekerabatan
dengan sanak keluarganya adalah orang yang paling sempurna imannya serta paling
sempurna ketakwaannya. Sebagaimana hal ini disebutkan di dalam hadis yang
sahih,
ومَن كانَ
يُؤْمِنُ باللَّهِ واليَومِ الآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Dan
barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia menyambung tali
silaturahmi.” (HR.
Bukhari no. 6138 dan Muslim no. 47)
Tidak
mengherankan juga jika Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi
muslim yang paling perhatian terhadap kerabat dekat dan keluarganya, karena
beliaulah hamba Allah yang paling bertakwa. Pada permulaan turunnya wahyu
kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mengemukakan
kepada Khadijah akan rasa khawatir terhadap dirinya sendiri atas apa yang
terjadi kepada beliau dari turunnya wahyu yang sangat berat ini. Maka
Khadijah radhiyallahu ‘anha mengatakan kepada beliau,
كَلَّا،
أبْشِرْ، فَوَاللَّهِ لا يُخْزِيكَ اللَّهُ أبَدًا؛ إنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وتَصْدُقُ
الحَدِيثَ، وتَحْمِلُ الكَلَّ، وتَقْرِي الضَّيْفَ، وتُعِينُ علَى نَوَائِبِ الحَقِّ
“Tidak.
Bergembiralah engkau. Demi Allah, Allah tidak akan mencelakakanmu
selama-lamanya. Sesungguhnya engkau benar-benar seorang yang senantiasa
menyambung silaturahmi, seorang yang jujur kata-katanya, menolong yang lemah,
memberi kepada orang yang tak punya, engkau juga memuliakan tamu, dan membela
kebenaran.” (HR.
Bukhari no. 6982)
Perkara
menyambung tali silaturahmi juga merupakan salah satu perkara yang diajarkan
dan didakwahkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pertama
kali. Dikisahkan bahwa ketika Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhu sedang
bersama Kaisar Heraklius, Kaisar Heraklius bertanya kepadanya,
“Apa
yang diperintahkan olehnya kepada kalian (maksudnya adalah Nabi Muhammad).”
Maka
Abu Sufyan menjawab,
اعْبُدُوا
اللَّهَ وحْدَهُ ولَا تُشْرِكُوا به شيئًا، واتْرُكُوا ما يقولُ آبَاؤُكُمْ، ويَأْمُرُنَا
بالصَّلَاةِ والزَّكَاةِ والصِّدْقِ والعَفَافِ والصِّلَةِ
“(Dia
menyuruh kami), ‘Sembahlah Allah dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu
apa pun, dan tinggalkan apa yang dikatakan oleh nenek moyang kalian. (Dia juga
memerintahkan kami untuk) menegakkan salat, menunaikan zakat, berkata jujur,
saling memaafkan, dan menyambung silaturahmi.’” (HR. Bukhari no. 7)
Ancaman
bagi seseorang yang memutus hubungan silaturahmi
Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam sangat memotivasi umatnya untuk menyambung tali
silaturahmi serta mengancam dan mengingatkan mereka dari bahaya memutusnya.
Nabi ingatkan mereka bahwa akibat buruk dari memutus silaturahmi begitu
cepatnya sampai kepada pelakunya. Beliau bersabda,
مَا مِنْ
ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا مَعَ
مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِى الآخِرَةِ مِنَ الْبَغْىِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ
“Tidak
ada satu dosa yang lebih pantas untuk disegerakan hukumannya bagi pelakunya di
dunia bersamaan dengan hukuman yang Allah siapkan baginya di akhirat daripada
al-baghyu (kezaliman dan berbuat buruk kepada orang lain) dan memutuskan tali
silaturahmi.” (HR.
Bukhari dalam Adabul Mufrad, no. 29; Tirmidzi no.
2511; Abu Dawud no. 4902)
Di
hadis yang lain disebutkan,
إِنَّ الرَّحِمَ
شَجْنَةٌ مِنْ الرَّحْمَنِ فَقَالَ اللَّهُ مَنْ وَصَلَكِ وَصَلْتُهُ وَمَنْ قَطَعَكِ
قَطَعْتُهُ
“Sesungguhnya,
penamaan rahim itu diambil dari (nama Allah) Ar-Rahman, lalu Allah berfirman,
‘Barangsiapa menyambungmu, maka Akupun menyambungnya. Dan barangsiapa
memutuskanmu, maka Aku pun akan memutuskannya.'” (HR. Bukhari no. 5988)
Dalam
riwayat Muslim, dikisahkan dengan lebih lengkap,
إِنَّ اللَّهَ
خَلَقَ الْخَلْقَ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مِنْهُمْ قَامَتْ الرَّحِمُ فَقَالَتْ هَذَا
مَقَامُ الْعَائِذِ مِنْ الْقَطِيعَةِ قَالَ نَعَمْ أَمَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ
وَصَلَكِ وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ قَالَتْ بَلَى قَالَ فَذَاكِ لَكِ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ { فَهَلْ عَسَيْتُمْ
إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ أُولَئِكَ
الَّذِينَ لَعَنَهُمْ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ
الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Sesungguhnya
Allah Ta’alalah yang menciptakan seluruh makhluk. Setelah Allah ‘Azza Wajalla
menciptakan semua makhluk tersebut, maka rahim pun berdiri sambil berkata,
‘Inikah tempat bagi yang berlindung dari terputusnya silaturahmi (Menyambung
silaturahim)?’ Allah Ta’ala menjawab, ‘Benar. Tidakkah kamu rela bahwasanya Aku
akan menyambung orang yang menyambungmu dan memutuskan yang memutuskanmu?’
Rahim menjawab, ‘Tentu.’ Allah berfirman, ‘ltulah yang kamu miliki (apa yang
aku sebutkan tadi itulah yang akan aku perbuat).’ Setelah itu, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Jika kamu mau, maka bacalah ayat
berikut ini, ‘Maka, apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan berbuat
kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah
orang-orang yang dilaknat oleh Allah dan ditulikan telinga mereka serta
dibutakan penglihatan mereka. Maka, apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an
ataukah hati mereka terkunci?’ (QS. Muhammad 22-24).” (HR. Muslim no. 2554)
Allah Ta’ala memberikan
jaminan bagi siapa saja yang menjaga hubungan silaturahmi dengan kerabat
dekatnya, menjamin rezeki mereka dan keberkahan hidup mereka. Allah Ta’ala juga
mengancam siapa pun yang memutus hubungan silaturahmi dengan saudara dan
kerabatnya, bahwa Allah juga akan memutus hubungannya dengan orang tersebut.
Sungguh,
hadis dan ayat tersebut menjelaskan kepada kita betapa besarnya perhatian Allah
dan Nabi-Nya terhadap perkara menyambung silaturahmi ini, baik itu dengan
saling berkunjung, memberikan hadiah, ataupun memenuhi kebutuhan kerabat dan
saudara kita yang membutuhkan.
Lebaran,
momentum terbaik untuk bersilaturahmi
Tidak
dapat dipungkiri bahwa kebiasaan dan adat lebaran di negeri kita merupakan
salah satu kesempatan besar untuk menyambung silaturahmi dengan keluarga kita,
orang tua kita, dan sanak keluarga kita. Adanya kesempatan liburan secara
serempak serta kebiasaan untuk mudik ke kampung halaman, semuanya itu
memudahkan kita untuk bisa menyambung silaturahmi.
Marilah
kita manfaatkan momentum lebaran dan bulan Syawal ini untuk meraih keutamaan
yang besar dari menyambung silaturahmi. Sebagaimana disampaikan oleh Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam,
تَعَلَّمُوا
مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُونَ بِهِ أَرْحَامَكُمْ فَإِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ
فِي الْأَهْلِ مَثْرَاةٌ فِي الْمَالِ مَنْسَأَةٌ فِي الْأَثَرِ
“Belajarlah
tentang nasab kalian yang dapat membantu untuk silaturahmi karena silaturahmi
itu dapat membawa kecintaan dalam keluarga, memperbanyak harta, serta dapat
memperpanjang umur.” (HR.
Ahmad no. 8855 dan Tirmidzi no. 1979)
Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam juga bersabda,
مَنْ أَحَبَّ
أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ
رَحِمَهُ
“Siapa
yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaknya ia
menyambung silaturahminya (dengan kerabat).” (HR. Bukhari no. 5985 dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul
Iman no. 7571)
Belum
lagi, menyambung silaturahmi adalah salah satu sebab masuknya seseorang ke
dalam surga. Sahabat Abu Ayub Al-Ansari radhiyallahu ‘anhu menceritakan,
“Seorang
laki-laki berkata, ‘Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku suatu amalan yang
dapat memasukkanku ke surga.’ Orang-orang pun berkata, ‘Ada apa dengan orang
ini? Ada apa dengan orang ini?’ Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda,
أرَبٌ ما
له، تَعْبُدُ اللَّهَ ولَا تُشْرِكُ به شيئًا، وتُقِيمُ الصَّلَاةَ، وتُؤْتي الزَّكَاةَ،
وتَصِلُ الرَّحِمَ.
‘Biarkanlah
urusan orang ini.’ (Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan
sabdanya), ‘Kamu beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya, menegakkan
salat, dan membayar zakat, serta menjalin tali silaturahmi.’” (HR. Bukhari no. 1396)
Wallahu
A’lam bisshawab.
Penulis: Muhammad Idris, Lc.
Sumber: https://muslim.or.id/
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Artikel Abah Luky
Edit: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar