BERPINDAH WAKTU, WASPADA SELALU
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Jum'at 26 Dzulhijah 1447 H /12 Juni 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ
لِلَّهِ الَّذِي أَكْمَلَ لَنَا الدِّينَ، وَأَتَمَّ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ، وَجَعَلَ
أُمَّتَنَا خَيْرَ أُمَّةٍ، وَبَعَثَ فِينَا رَسُولًا مِنَّا يَتْلُو عَلَيْنَا آيَاتِهِ
وَيُزَكِّينَا وَيُعَلِّمُنَا الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
أَحْمَدُهُ
عَلَى نِعَمِهِ الْجَمَّةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا
شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا وَسَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
أَرْسَلَهُ رَبُّهُ لِلْعَالَمِينَ رَحْمَةً، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ صَلَاةً تَبْقَى وَسَلَامًا يُسْرَى
فيا أيها
المسلمون
اتقوا الله
فإن تقواه أفضل مُكتسب، وطاعته أعلى نسب: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا
اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ}
و قال أيضا
{وَأَقِمِ
الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ
أَكْبَرُ}
و قال الرسول:
رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلامِ وَعَمُودُهُ الصَّلاةُ. أما بعد
Segala puji bagi Allah ﷻ Rabb semesta Alam. Dia lah yang menggilir waktu, siang dan malam dengan teratur tanpa cela.
Dia
lah yang menjatah rezeki dan nasib kepada makhluk-Nya dengan adil tanpa
alpa.
Dia
pula yang mengedarkan planet dan gugusan galaksi semesta dengan detil teliti
tanpa satupun tersisa satupun yang di luar jangkauan-Nya.
Shalawat
teriring salam semoga selalu tercurah kepada junjungan besar kita Nabi Muhammad
ﷺ.
Berikut
kepada para sahabat, tabiin, dan tabiut tabiin, dan juga mereka yang senantiasa
mengikuti jejak perjuangan beliau dan para salaf.
Tidak
lupa khatib wasiatkan kepada khatib pribadi dan jamaah sekalian. Untuk tidak
lupa mengatur rencana hariannya agar senantiasa terisi dengan suasana
ketakwaan.
Kalaupun
tidak semua aktifitas, setidaknya jangan sampai hari-hari kita kosong dari
upaya untuk menambah ketakwaan kepada Allah ﷻ. Sebab itulah seutama-utamanya
bekal hidup dunia, terlebih lagi di akhirat.
Ma’asyiral
muslimin jamaah Jum’ah rahimakumullah.
Beberapa
waktu yang lalu mau tidak mau kita disuguhi dengan hingar bingar perpindahan
tahun baru. Momen pergantian waktu yang tidak bisa kita pungkiri.
Terlepas
dari setuju dan tidaknya dengan perayaan itu. Fakta di lapangan ternyata tidak
sedikit umat islam yang ikut merayakannya.
Toh
juga kalender yang berlaku saat ini yang secara umum dipakai adalah penanggalan
masehi.
Namun,
sebagai seorang muslim jangan sampai larut dan bahkan pudar identitas
keislamannya.
Pun
dalam masalah kalender, ada bulan-bulan hijriah yang jangan sampai
dilupakan.
Karena
syariat Islam, dalam pelaksanaannya tidak terlepas dari kalender hijriah.
Ma’asyiral
muslimin jamaah Jum’ah rahimakumullah.
Berbicara
tentang tahun baru, berarti kita berbicara tentang pertambahan usia dan
pengurangan jatah hidup.
Artinya,
ada bagian dari diri kita yaitu umur, yang hanya Allah Yang Tahu, berada dalam
kondisi semakin sempit.
Bisa
menjadi lebih baik atau memburuk. Tergantung bagaimana kita menyikapinya.
Ada
baiknya kita mengingat kembali firman Allah ﷻ,
ؤْتِى الْحِكْمَةَ
مَنْ يَّشَاۤءُۚ وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًاۗ وَمَا
يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ
“Dia
(Allah) menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Siapa yang
dianugerahi hikmah, sungguh dia telah dianugerahi kebaikan yang banyak.
Tidak
ada yang dapat mengambil pelajaran (darinya), kecuali orang orang yang
mempunyai akal sehat.”
Sejenak,
mari kita menjadi muslim yang berhikmah dengan adanya momen tahun baru yang
telah lalu kemarin.
Berharap,
semoga hikmah yang kita gali ini mampu meneguhkan identitas keislaman
kita.
Menguatkan
kepribadian kita sebagai umat Rasulullah ﷺ, serta menjadi lahan introspeksi dan
perbaikan bagi diri kita khususnya, keluarga dan umat Islam secara umum.
Ma’asyiral
muslimin jamaah Jum’ah rahimakumullah.
Tahun
baru itu adalah momen yang berkaitan dengan perpindahan waktu. Dalam Al-Quran
Allah ﷻ menurunkan surat yang secara khusus berbicara tentang waktu.
Yaitu
surat Al-Ashr. Berjumlah 3 ayat namun membahas masalah waktu yang bagi kita
manusia, secara kuantitas berada di luar jangkauan kita.
Hanya
3 ayat namun berbicara sesuatu yang sangat besar dan luas.
Surat
Al-Ashr mengingatkan bahwa panjangnya waktu yang sudah kita lalui sering kali
terasa begitu singkat.
Coba
bayangkan, sepertinya baru kemarin kita lulus dari SMP. Kita lulus dari SMA.
Kita lulus dari kuliah.
Mengenang
masa-masa sekolah dahulu bersama dengan teman-teman. Ada canda tawa, ada sedih,
bahkan ada pertengkaran yang kadang tak terhindarkan.
Itu
semua memori yang sebenarnya kita menjalaninya dalam waktu yang lama, namun
terasa sangat cepat berlalu.
Ma’asyiral
muslimin jamaah Jum’ah rahimakumullah.
Dalam
dunia pernikahan pun begitu. Bagi suami, seperti terasa baru kemarin melamar
sang istri.
Bagi
istri, terasa baru kemarin dipinang oleh laki-laki yang akhirnya menjadi
suaminya. Menjadi ayah dari anak-anaknya.
Melihat
anak yang sudah beranjak dewasa tak terasa ternyata sudah 10, 15, 20, 25 atau
bahkan 30 tahun lebih sudah berlalu.
Semua
yang terasa pendek, ternyata sudah berlalu dan terjadi begitu lama jika
dihitung waktunya.
Ma’asyiral
muslimin jamaah Jum’ah rahimakumullah.
Demikianlah
hikmah yang pertama, lama waktu yang sudah kita lalui namun ternyata begitu
pendek rasanya.
Jika
demikian, lantas bagaimana nanti di akhirat?
Coba
kita lihat firman Allah ﷻ, yang menunjukkan pendeknya jatah hidup kita.
فَٱصۡبِرۡ
كَمَا صَبَرَ أُو۟لُوا۟ ٱلۡعَزۡمِ مِنَ ٱلرُّسُلِ وَلَا تَسۡتَعۡجِل لَّهُمۡۚ كَأَنَّهُمۡ
یَوۡمَ یَرَوۡنَ مَا یُوعَدُونَ لَمۡ یَلۡبَثُوۤا۟ إِلَّا سَاعَةࣰ مِّن نَّهَارِۭۚ
بَلَـٰغࣱۚ فَهَلۡ یُهۡلَكُ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡفَـٰسِقُونَ
“Maka
bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran rasul-rasul yang memiliki
keteguhan hati, dan janganlah kamu meminta azab disegerakan untuk mereka.
Pada
hari mereka melihat azab yang dijanjikan, mereka merasa seolah-olah tinggal (di
dunia) hanya sesaat saja pada siang hari.
Tugasmu
hanya menyampaikan. Maka tidak ada yang dibinasakan, kecuali kaum yang fasik
(tidak taat kepada Allah).”
(QS. Al-Ahqaf: 35)
Kemudian
hitungan di akhirat, Sehari sama dengan 50 ribu tahun.
تَعۡرُجُ
ٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةُ وَٱلرُّوحُ إِلَیۡهِ فِی یَوۡمࣲ كَانَ مِقۡدَارُهُۥ خَمۡسِینَ أَلۡفَ
سَنَةࣲ
“Para
malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan, dalam sehari setara dengan
lima puluh ribu tahun.” (QS. Al-Maʿarij: 4)
Misal
kita hitung dengan kalkulator maka akan kita dapatkan perbandingan bahwa 1
menit di akhirat sekira 347 tahun di dunia, berarti hitungan per-detiknya
sekira 5-6 tahun di dunia. Ini menurut perhitungan manusia.
Ma’asyiral
muslimin jamaah Jum’ah rahimakumullah.
Hikmah
yang kedua dari perpindahan waktu, bahwa waktu itu yg memiliki adalah Allah ﷻ.
Hal
ini dapat kita sarikan tadabburnya dari firman Allah ﷻ,
إِن یَمۡسَسۡكُمۡ
قَرۡحࣱ فَقَدۡ مَسَّ ٱلۡقَوۡمَ قَرۡحࣱ مِّثۡلُهُۥۚ وَتِلۡكَ ٱلۡأَیَّامُ نُدَاوِلُهَا
بَیۡنَ ٱلنَّاسِ وَلِیَعۡلَمَ ٱللَّهُ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَیَتَّخِذَ مِنكُمۡ شُهَدَاۤءَۗ
وَٱللَّهُ لَا یُحِبُّ ٱلظَّـٰلِمِینَ
“Jika
kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun (pada perang Badar)
mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami
pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah
membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar
sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai
orang-orang zalim.” (QS. Ali-ʿImran: 140)
Dalam
ayat ini Allah menjelaskan bahwa ketika kita merasa mendapat kesusahan hidup,
kerepotan luar biasa, kesempitan waktu tiada tara, maka ketahuilah, di sana ada
orang orang yang pernah atau sedang mengalami hal semisal yang kita rasakan.
Waktu,
adalah milik Allah sebagaimana seluruh makhluk-Nya yang lain. Kondisinya,
cuacanya, suasananya berikut hal-hal yg menyertai.
Baik
itu yg membuat kita bahagia ataupun sedih, Allah yang mengaturnya. Maka jangan
lupa bersyukur jika itu membahagiakan, dan jangan lupa bersabar jika itu
menyedihkan.
Kesyukuran
dan kesabaran itulah yang menentukan kualitas keimanan seseorang.
Bahkan
antar orang Islam saja bisa beda dalam menghadapi kondisi yg menyenangkan dan
menyedihkan.
Ma’asyiral
muslimin jamaah Jum’ah rahimakumullah.
Hikmah
berikutnya adalah waktu itu ibarat pedang, Jika orang barat memiliki slogan,
time is money, waktu adalah uang.
Maka
pepatah Arab mengatakan, al-waqtu ka saif, waktu adalah
pedang.
Orang-orang
Barat berprinsip demikian karena bagi mereka yang matrealistis, untung dan
harta yang banyak adalah tujuan hidup.
Sementara
prinsip waktu adalah pedang, lebih mengarah dan mengingatkan bahwa hidup kita
jangan melulu mengejar dunia.
Kata
pedang mengingatkan kita bahwa ada bahaya yang harus diwaspadai.
Jika
dikaitkan dengan waktu atau umur kita, maka itu adalah modal yang utama, jika
tidak menggunakan dengan baik maka justru akan membinasakan pemiliknya.
Hal
ini senada dengan firman Allah ﷻ.
وَأَنفِقُوا۟
مِن مَّا رَزَقۡنَـٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن یَأۡتِیَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ فَیَقُولَ رَبِّ
لَوۡلَاۤ أَخَّرۡتَنِیۤ إِلَىٰۤ أَجَلࣲ قَرِیبࣲ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّـٰلِحِینَ
“Dan
infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian
datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali),
Ya
Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi,
maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Munafiqun: 10)
Lihatlah
bagaimana penyesalan mereka yang semasa hidupnya tidak menggunakan waktu yang
dimiliki dengan baik.
Modal
yang dia miliki bukan menjadikan dirinya beruntung namun justru buntung.
Waktu
ibarat pedang jika tidak dipakai dengan baik justru menjadi senjata makan
tuan.
Ma’asyiral
muslimin jamaah Jum’ah rahimakumullah.
Hikmah
berikutnya adalah Waktu itu adalah salah satu sarana atau senjata setan untuk
menyesatkan manusia.
Allah
ﷻ mengingatkan kita dalam firman-Nya surat Al-A’raf ayat 182
وَٱلَّذِینَ
كَذَّبُوا۟ بِـَٔایَـٰتِنَا سَنَسۡتَدۡرِجُهُم مِّنۡ حَیۡثُ لَا یَعۡلَمُونَ
“Dan
orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami biarkan mereka
berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.”
(QS. Al-Aʿraf: 182)
Ibnu
Asyur mengatakan bahwa istidraj itu pecahan kata dari darajat.
Bermakna
anak tangga, yang fungsinya sebagai alat untuk menaikkan atau menurunkan.
Secara
kiasan berarti menjadikan pelakunya bisa naik atau turun, ke tempat yang bisa
jadi tidak diketahui. (At-Tahrir, 9/191)
Penjelasan
Ibnu Asyur ini mengingatkan kita bahwa setinggi apapun status sosial, sebanyak
apapun harta yang dimiliki, maka itu semua bisa menjadikanmu jatuh jika kamu
tidak hati-hati.
Ibarat
orang naik tangga, semakin tinggi anak tangga yang dinaiki maka potensi jatuh
lebih besar dan menyakitkan.
Allah
ﷻ menegaskan dalam firman-Nya, surat Al-An’am 44-45
فَلَمَّا
نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا
فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ * فَقُطِعَ
دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Maka
ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun
membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka.
Sehingga
ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami
siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.
Maka
orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Dan segala puji
bagi Allah, Tuhan seluruh alam.”
Dalam
ayat ini Allah ﷻ mengingatkan, bahwa disaat seorang hamba semakin jauh dari
Allah.
Malas
ibadahnya, kurang dalam syukur, semakin banyak larangan yang dilanggar namun
justru nikmat dan rezeki lancar.
Maka
hendaklah waspada, bisa jadi itu adalah istidraj, yaitu hukuman
atau azab yang berupa kenikmatan. Nauzubillah min dzalik.
بَارَكَ
اللَّهُ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ
KHUTBAH
KEDUA
ٱلْحَمْدُ
لِلَّهِ ٱلَّذِي هَدَىٰنَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَآ أَنْ هَدَىٰنَا
ٱللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ نَبِيَّنَا وَسَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ صَلَاةً تَبْقَى وَسَلَامًا يُسْرَى
فَيَا أَيُّهَا
الْمُسْلِمُونَ: اتَّقُوا اللَّهَ، فَإِنَّ تَقْوَاهُ أَفْضَلُ مُكْتَسَبٍ
Ma’asyiral
muslimin jamaah Jum’ah rahimakumullah.
Di
khutbah yang kedua ini izinkan kami menyitir hadits Rasul, sebagai pelengkap
renungi kita tentang waktu.
Dari
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,
نِعْمَتَانِ
مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada
dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu
senggang.” (HR. Bukhari, 6412)
Ada
sebuah ungkapan yang senada dengan hadits ini, yaitu perkataan Umar bin
Khattab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata
إنِّي أَكْرَهُ
الرَّجُلَ أَنْ أَرَاهُ يَمْشِي سَبَهْلَلًا أَيْ : لَا فِي أَمْرِ الدُّنْيَا ، وَلَا
فِي أَمْرِ آخِرَةٍ
“Aku
tidak suka melihat seseorang yang berjalan seenaknya tanpa mengindahkan ini dan
itu, yaitu tidak peduli penghidupan dunianya dan tidak pula sibuk dengan urusan
akhiratnya.” (Al-Adabusy Syar’iyyah, 4/303)
Maka
jangan sampai sehat dan luang kita terbuang sia-sia tanpa aktivitas yang
berarti untuk akhirat atau dunia kita yang mendukung untuk kebaikan.
Mari
menjadi pribadi muslim yang berpindah waktu, waspada selalu. Marilah kita tutup
dengan doa,
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ
لَهُ، اِلٓهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا
اَللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ
عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا
اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ
وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ
وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ
بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ
اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى
وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Sumber https://mahadannur.id/
Editing: Ndik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar