NIKMAT MANA, KEBAIKAN ATAU KEMAKSIATAN?
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Ahad 28 Dzulhijah 1447 H /14 Juni 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Jawabannya mutlak ada pada kebaikan. Kebaikan mendatangkan ketenangan sejati dan berkah yang berkesinambungan. Sebaliknya, kemaksiatan mungkin menawarkan kenikmatan sesaat, tetapi selalu berujung pada penyesalan dan bahaya. Bahkan, nikmat dunia yang disalahgunakan untuk bermaksiat seringkali menjadi bentuk istidraj—jebakan yang melenakan.
Sering kali manusia terjebak pada cara pandang yang keliru: apa yang terasa menyenangkan dianggap baik, sementara apa yang menuntut disiplin justru dipandang sebagai beban. Dalam logika seperti ini, maksiat terlihat menggoda karena memberi kenikmatan instan, sedangkan ketaatan terasa berat karena menuntut kesungguhan. Padahal, ukuran kebahagiaan tidak pernah sesederhana rasa nyaman sesaat.
Menurut para Ulama, manusia sering tertipu oleh “Rasa Awal”—sesuatu yang tampak ringan belum tentu membawa ketenangan, dan sesuatu yang terasa berat belum tentu menyusahkan dalam jangka panjang. Justru, kebahagiaan yang hakiki lahir dari ketaatan, bukan dari kebebasan tanpa arah.
Pandangan ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 216 :
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
Artinya : "Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 216)
Ayat ini menegaskan bahwa penilaian manusia sering kali terbatas pada apa yang tampak di permukaan. Maksiat mungkin terasa menyenangkan di awal karena mengikuti hawa nafsu, tetapi bisa membawa dampak buruk yang tidak langsung terlihat. Sebaliknya, ketaatan yang terasa berat justru menyimpan kebaikan yang mendalam.
Dengan demikian bahwa ketaatan melatih manusia untuk mengendalikan diri. Dari situlah lahir ketenangan. Orang yang terbiasa taat tidak hanya menjalankan perintah agama, tetapi juga membangun struktur batin yang kuat—ia lebih sabar, lebih jernih dalam berpikir, dan tidak mudah goyah oleh tekanan hidup.
Hal ini juga ditegaskan dalam hadist Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam :
حُفَّتْ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ ، وَحُفَّتْ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
Artinya : "Surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai (berat), dan neraka dikelilingi oleh hal-hal yang menyenangkan (sesuai hawa nafsu).” (HR. Bikhori dan Muslim dariQnas bin Malik)
Hadis ini memberikan gambaran yang sangat jelas: jalan menuju kebaikan sering kali tidak mudah, sementara jalan menuju keburukan justru tampak menyenangkan. Namun, kemudahan itu bersifat semu.
Dalam kehidupan sehari-hari, fenomena ini mudah ditemukan. Banyak orang mengejar kesenangan instan—baik dalam gaya hidup, kebiasaan, maupun pilihan-pilihan yang impulsif. Namun, setelah itu, muncul kegelisahan yang tidak bisa dijelaskan. Inilah yang disebut Gus Baha sebagai kenikmatan yang menipu—memberi rasa sesaat, tetapi menyisakan kehampaan.
Sebaliknya, ketaatan mungkin menuntut pengorbanan di awal: bangun lebih pagi, menahan diri, atau memilih jalan yang tidak selalu populer. Namun dari proses itulah lahir ketenangan yang lebih dalam dan bertahan lama.
Pada akhirnya, persoalannya bukan tentang mana yang terasa lebih enak di awal, tetapi mana yang membawa ketenangan di akhir. Ketaatan bukanlah beban, melainkan kebutuhan jiwa. Ia adalah jalan pulang—tempat di mana manusia menemukan makna, arah, dan kedamaian yang sejati.
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Editing: Ndik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar