Menu

Minggu, 31 Mei 2026

SEJARAH HARI TARWIYAH

SEJARAH HARI TARWIYAH : 
Ketika Nabi Ibrahim Alaihis Sallam Mendapat Petunjuk Allah

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Saudaraku....!

Hari ini  Senin 15 Dzulhijah 1447 H /1 Juni 2026

Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.

Saudaraku...!

Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.

Hadirin yang dirahmati Allah....

Hari Tarwiyah, yang jatuh pada 8 Dzulhijjah, memiliki akar sejarah yang sangat dalam dan bermakna. Dalam lembaran sejarah Islam, hari ini berkaitan erat dengan peristiwa besar yang dialami oleh Nabi Ibrahim Alaihis Sallam. Sebuah momen saat petunjuk Ilahi datang melalui mimpi, yang kemudian menguji kadar keimanan dan ketaatan seorang hamba terhadap Rabb-nya. Inilah kisah hari yang menyimpan nilai-nilai spiritual dan keteladanan luar biasa.

Mimpi Yang Mengguncang Jiwa

Diriwayatkan bahwa pada malam tanggal 8 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim Alaihis Sallam mendapatkan mimpi dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang memerintahkan agar ia menyembelih putranya, Ismail. Mimpi tersebut tidak langsung dieksekusi, melainkan direnungkan terlebih dahulu selama beberapa hari. Maka muncullah istilah “Tarwiyah” dari kata “rawa-yurawi”, yang berarti merenung atau berpikir mendalam.

Ibrahim AS tidak gegabah. Ia memastikan bahwa perintah tersebut benar-benar datang dari Allah. Ia merenungi mimpi itu dengan hati-hati, memohon petunjuk dan kekuatan agar bisa memahami makna di balik ujian tersebut. Dari sinilah Hari Tarwiyah mendapat namanya—sebuah hari kontemplasi, penguatan niat, dan persiapan jiwa.

Tahapan Ujian Nabi Ibrahim

Hari Tarwiyah hanyalah permulaan dari rangkaian ujian luar biasa yang diterima Nabi Ibrahim Alaihis Sallam. Setelah merenung, ia yakin bahwa mimpinya adalah wahyu dan perintah Allah yang nyata. Pada hari berikutnya, yakni 9 Dzulhijjah (Hari Arafah), ia kembali mendapat mimpi yang sama. Di sinilah keteguhan hatinya menguat.

Keesokan harinya, pada 10 Dzulhijjah (Idul Adha), Ibrahim Alaihis Sallam bersiap melaksanakan perintah tersebut. Ia membawa Ismail ke tempat penyembelihan. Namun atas izin Allah, penyembelihan tidak terjadi, dan digantikan dengan seekor domba. Peristiwa ini menjadi dasar dari ibadah kurban yang dijalankan umat Islam hingga hari ini.

Pelajaran Besar dari Hari Tarwiyah

Hari Tarwiyah menjadi simbol dari proses pengambilan keputusan besar dalam hidup. Nabi Ibrahim tidak langsung bertindak, melainkan menjalani tahapan berpikir, memperkuat keimanan, dan meyakinkan diri atas kebenaran wahyu. Sikap ini menunjukkan betapa pentingnya kehati-hatian dan ketundukan total dalam menjalani titah Ilahi.

Umat Islam diajarkan agar tidak gegabah dalam mengambil keputusan, terutama yang menyangkut urusan agama dan ketaatan. Hari Tarwiyah mengingatkan kita untuk selalu mencari kejelasan, bersabar dalam proses, dan meyakinkan hati sebelum melangkah.

Refleksi dari Ismail: Ketundukan yang Menggetarkan

Tidak hanya Ibrahim, putranya Ismail juga menjadi teladan luar biasa dalam kisah ini. Saat diberi tahu bahwa ia akan disembelih atas perintah Allah, ia tidak menolak. Justru ia berkata, Allah berfirman.......

سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ...................

............... “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS. As-Saffat : 102)

Ucapan dan sikap Ismail ini menjadi pelengkap keagungan kisah Hari Tarwiyah. Keikhlasan dua hamba Allah—ayah dan anak—dalam menerima perintah yang sangat berat adalah cerminan iman yang tulus dan totalitas dalam penghambaan.

Hubungan Hari Tarwiyah dengan Rangkaian Haji

Dalam konteks ibadah haji, Hari Tarwiyah menandai dimulainya rangkaian manasik yang paling sakral. Jamaah haji bergerak menuju Mina dan menginap di sana, sebagaimana yang dilakukan Nabi Muhammad Shalallahu 'AlaihiWasallam. Ini meniru langkah Nabi Ibrahim yang bersiap menjalani ujian besar keesokan harinya. Rangkaian haji adalah napak tilas dari kisah spiritual para nabi, dan Hari Tarwiyah adalah gerbang awalnya.


Spirit Tarwiyah dalam Kehidupan Sehari-hari

Meskipun peristiwa ini terjadi ribuan tahun lalu, nilai-nilainya sangat relevan hingga kini. Dalam kehidupan modern yang serba cepat, Hari Tarwiyah mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, berpikir jernih, dan mendengarkan suara hati sebelum membuat keputusan besar. Dalam keluarga, pekerjaan, atau hubungan sosial, spirit Tarwiyah mengajarkan kita untuk selalu mendahulukan perenungan sebelum tindakan.


Hari Tarwiyah di Kalangan Ulama

Para ulama sangat menekankan pentingnya Hari Tarwiyah sebagai hari yang penuh keberkahan. Bukan hanya karena sejarahnya, tetapi juga karena posisinya dalam 10 hari pertama bulan Dzulhijjah—hari-hari yang disebut lebih utama dari hari-hari lainnya dalam setahun. Karenanya, menghidupkan hari ini dengan zikir, doa, puasa, dan amal kebajikan menjadi bentuk penghormatan terhadap jejak Ibrahim dan Ismail.

Penutup : Hari yang Membangkitkan Jiwa

Sejarah Hari Tarwiyah bukan sekadar catatan masa lalu. Ia adalah cermin yang mengajarkan kita arti keimanan yang sejati, kesabaran dalam menghadapi ujian, dan pentingnya merenung sebelum bertindak. Semoga setiap kali datangnya 8 Dzulhijjah, kita bisa kembali menghidupkan semangat Tarwiyah dalam diri—merenung, memperkuat niat, dan menyambut panggilan Allah dengan hati yang ikhlas dan siap.

Wallahu'alam Bishshowab

Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.

Barakallah ..... semoga bermanfaat

-----------------NB----------------

Saudaraku...!

Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :

Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.

Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa  Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.

Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. 

Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit &  kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.

Yaa Allah... Yaa Robbana...! Ijabahkanlah Do'a-do'a kami, Tiada daya dan upaya kecuali dengan Pertolongan-MU, karena hanya kepada-MU lah tempat Kami bergantung dan tempat Kami memohon Pertolongan.

ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم

آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين

وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ

🙏🙏


Penulis: Abah Luki
Editing: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:

Posting Komentar