Menu

Kamis, 04 Juni 2026

KHUTBAH JUM’AT

PENTINGNYA SELALU MENYUCIKAN JIWA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Saudaraku....!

Hari ini  Jum'at 19 Dzulhijah 1447 H /5 Juni 2026

Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.

Saudaraku...!

Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.

Jama’ah Shalat Jum’at yang dimuliakan oleh Allah ﷻ.

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى ألِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى ألِ إِبْرَاهِيْمَ ِفي اْلعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

فَيَا عِبَادَ الله اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَاللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقٌوْنَ، فَقَالَ الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

 وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

وَقَالَ النَّبِيُّ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

أَمَّا بَعْدُ.

Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah ﷻ, atas segala limpahan karunia dan nikmat yang telah diberikan kepada kita semua. 

Dengan segala nikmat itu, kita bisa memanfaatkannya untuk meraih kebaikan di dunia maupun di akhirat. 

Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi dan Rasul junjungan kita, suri teladan terbaik bagi umat ini, yakni Nabi Agung Muhammad ﷺ. 

Seorang Nabi dan juga Rasul yang Allah ﷻ utus untuk mengajarkan akidah tentang keesaan Allah ﷻ kepada umat manusia di muka bumi ini. 

Tak lupa, Khatib mengajak kepada jama’ah sekalian untuk bersama-sama meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benarnya takwa.

Jama’ah shalat Jum’at yang semoga dimuliakan Allah ﷻ.

Jika kita perhatikan ajaran Islam secara menyeluruh, maka akan kita dapati bahwa inti dari semua perintah dan larangan bermuara pada satu tujuan besar: memperbaiki jiwa.

Menyucikan jiwa dengan iman, membersihkannya dari noda syirik dan maksiat, serta menghiasi diri dengan ketaatan merupakan hakikat dari ajaran Islam. 

Para ulama telah memberikan perhatian besar terhadap masalah jiwa. Hal tersebut karena beberapa alasan sebagai berikut:

Pertama, karena adanya sumpah terpanjang dalam Al-Qur’an. 

Allah ﷻ bersumpah hingga sebelas kali dalam Surah Asy-Syams, yang kemudian diakhiri dengan penegasan:


Allah Subhanahu Wata'ala berfirman 
(QS. Asy-Syams: 9-10)

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ ۝٩

9. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu)

وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ ۝١٠

10. dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.

Ini menunjukkan betapa krusialnya nasib seorang hamba yang sangat bergantung pada kondisi jiwanya. 

Apakah ia disucikan atau justru dibiarkan kotor dan berlumur dosa. 

Kedua, karena kebaikan seluruh tubuh bergantung pada hati.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada segumpal daging, apabila ia baik maka baik pula seluruh tubuh, dan apabila ia rusak maka rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati.” (HR. Bukhari & Muslim)

Para sahabat pun memahami hal ini dengan sangat mendalam. Salah satunya adalah Abu Hurairah yang menggambarkan hati sebagai “raja” dan anggota tubuh sebagai “tentaranya”. 

Jika rajanya baik, maka seluruh tentara akan tunduk dalam kebaikan; namun jika rajanya rusak, maka seluruh anggota tubuh akan mengikuti kerusakan tersebut.

Bahkan para ulama menegaskan, sebagaimana dikatakan oleh Al-Kailani rahimahullah, bahwa jika seseorang mampu meluruskan dirinya sendiri, maka ia akan mampu meluruskan orang lain. 

Semua itu berawal dari perbaikan jiwa.

Jama’ah shalat Jum’at yang semoga dimuliakan Allah ﷻ.

Ketiga, penyucian jiwa merupakan syarat keselamatan di akhirat.

Tidak ada keselamatan bagi seorang hamba di hari kiamat dan tidak ada kebahagiaan baginya di akhirat, kecuali jika ia memiliki hati yang selamat (qalbun salim), bertauhid, serta bebas dari penyakit hati. 

Allah ﷻ berfirman, “(QS. Asy-Syu’ara: 88-89)

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَۙ ۝٨٨

88. (Yaitu) pada hari ketika tidak berguna (lagi) harta dan anak-anak.

اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍۗ ۝٨٩

89. Kecuali, orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”

Sehingga hati menjadi tolok ukur penilaian Allah ﷻ

Nabi ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan tubuh kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim). 

Maka yang menjadi ukuran bukanlah penampilan, bukan pula harta, tetapi apa yang tersembunyi di dalam dada.

Jama’ah shalat Jum’at yang semoga dimuliakan Allah ﷻ.

Keempat, membersihkan hati dan jiwa adalah fokus utama orang-orang saleh terdahulu. 

Yusuf bin Asbath rahimahullah bahkan sering berdoa “Ya Allah, kenalkanlah aku kepada diriku sendiri.” 

Sebab dalam jiwa terdapat rahasia dan cacat tersembunyi yang tidak akan tampak kecuali dengan pertolongan Allah ﷻ.

Sahl bin Abdullah rahimahullah berkata bahwa mengenali aib diri sendiri lebih sulit daripada mengenali musuh, karena cacat jiwa sering bersembunyi dan menyamar.

Sehingga, kesamaran itu harus ditembus dan disingkap jika kita menginginkan jiwa yang suci dan bersih. 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Adapun penyucian jiwa melibatkan dua proses utama, yaitu takhliyah, mengosongkan jiwa dari penyakit-penyakit seperti sombong, riya, dengki, dan cinta dunia. 

Kemudian tahliyah, menghiasi hati dengan sifat-sifat mulia seperti syukur, sabar, ikhlas, dan tawakal. 

Kebutuhan kita akan penyucian jiwa pada zaman ini bahkan lebih mendesak daripada kebutuhan terhadap makan dan minum. 

Mengapa demikian? Karena kita hidup di zaman yang penuh dengan fitnah syahwat dan syubhat. 

Banyak orang mengalami penurunan kadar keimanan karena jiwa yang rapuh dan tidak terjaga. 

Padahal kelak di hadapan Allah ﷻ, setiap kita akan dimintai pertanggungjawaban secara pribadi.

Tidak ada yang dinilai kecuali hati dan amal kita. 

Oleh karena itu, marilah kita tempuh jalan penyucian jiwa dengan menjaga tauhid.

Istiqamah dalam ketaatan, rajin bermuhasabah, memilih lingkungan pertemanan yang saleh, serta senantiasa membasahi lisan dengan istighfar.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ: اتَّقُوا اللَّهَ فَإِنَّ تَقْوَاهُ أَفْضَلُ مُكْتَسَبٍ

Ma’asyiral muslimin jamaah Jum’at rahimakumullah.

Sebagai penutup, ketahuilah bahwa buah dari penyucian jiwa adalah keberuntungan yang nyata. 

Jiwa yang bersih akan melahirkan ketenangan hati (sakinah) dan keteguhan iman (istiqamah) dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. 

Mereka itulah yang dijanjikan oleh Allah dengan tempat yang tinggi ﷻ di surga-Nya.

Sebaliknya, jangan sampai kita termasuk orang-orang yang lalai.

Sebagaimana firman Allah ﷻ dalam QS. Al-Hasyr ayat 19, “Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.

Marilah kita senantiasa berdoa kepada Allah ﷻ , memohon agar Dia menjaga kesucian jiwa kita, membersihkannya dari segala penyakit, dan menghiasinya dengan keimanan serta ketakwaan.

‎إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعْوَاتِ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَبَارِكْ لَنَا فِى أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُوَحِّدِيْنَ

رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰانِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Wallahu'alam Bishshowab

Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.

Barakallah ..... semoga bermanfaat

-----------------NB----------------

Saudaraku...!

Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :

Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.

Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa  Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.

Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. 

Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit &  kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.

Yaa Allah... Yaa Robbana...! Ijabahkanlah Do'a-do'a kami, Tiada daya dan upaya kecuali dengan Pertolongan-MU, karena hanya kepada-MU lah tempat Kami bergantung dan tempat Kami memohon Pertolongan.

ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم

آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين

وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ

🙏🙏


Penulis: Danil Rahman Bintang (Mahasantri Ma’had Aly An-Nuur) 
Sumber : https://mahadannur.id/

Editing: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:

Posting Komentar