6 ALASAN MENGAPA TIDAK BOLEH IKUT MERAYAKAN NATAL DAN TAHUN BARU
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Jum'at 20 Rajab1447 H /9 Januari 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Khotbah Pertama
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ
اللهِ وَبَركَاتُهُ
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ
لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ
إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ
عَلٰى مَحَمَّدٍ الْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى.
أَمَّا بَعْدُ
فَيَأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ!
أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى
فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ
كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا
رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ
مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ
وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Ma’asyiral muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.
Mengawali
khotbah kali ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah
sekalian agar kita senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan
kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan perintah-Nya dan
menjauhi larangan-Nya. Karena tidaklah kita itu semakin mulia, kecuali dengan
takwa. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ
عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Sesungguhnya
orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling
takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahamengenal.”
Ingatlah,
ketakwaan tidak dapat diperoleh, kecuali dengan belajar dan menuntut ilmu.
Sehingga ketika seseorang itu semakin memahami agama, maka ketakwaannya pun
akan semakin meningkat. Selawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi
mulia, suri teladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam beserta
keluarga, dan para sahabatnya.
Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah.
Hari-hari
akhir tahun Masehi ini mungkin kita akan sering mendengar dan mendapati
ucapan “Merry Christmas”, “selamat natal” berdengung dan
tercantum di dalam beberapa iklan maupun tulisan di jalanan. Sebagian orang
pasti menganggap hal ini merupakan hal lumrah yang sah-sah saja untuk diikuti
dan diramaikan. Namun, hal ini pada hakikatnya akan menjadi masalah yang sangat
besar jika diucapkan oleh seorang muslim.
Mengapa?
Sejak pertama kali agama Islam ini turun kepada Nabi Muhammad shalallahu
‘alaihi wasallam, Allah Ta’ala sudah mewanti-wanti dan
menguatkan bahwa sembahan kita umat Islam ini hanyalah satu, yaitu Allah Yang
Mahaesa, Allah Ta’ala yang tidak dilahirkan dan melahirkan.
Allah Ta’ala sendirilah yang mengatakan hal itu, yaitu di
dalam surah Al-Ikhlas, surah yang sangat populer, yang menjadi asas
utama serta pembeda agama ini dengan yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,
قُلۡ هُوَ
ٱللَّهُ أَحَد ، ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ، لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ ، وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ
كُفُوًا أَحَدٌۢ
“Katakanlah
(Muhammad), “Dialah Allah, Yang Mahaesa. Allah tempat meminta segala
sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada
sesuatu yang setara dengan Dia.” (QS.
Al-Ikhlas: 1-4)
Mengucapkan
selamat natal, memberikan ucapan selamat kepada perayaan orang Nasrani ini sama
saja dengan menyetujui bahwasanya Allah Ta’ala memiliki anak,
menyetujui bahwa ada sesembahan lain yang berhak selain Allah. Ini merupakan
sebuah kekufuran serta sebuah penolakan terhadap ayat Allah Ta’ala!
Selain
itu, ada beberapa faktor lain yang menjadikan hal tersebut haram hukumnya
dilakukan oleh seorang muslim:
Pertama, merayakan hari raya natal merupakan
salah satu kebid’ahan yang tidak ada contohnya dari nabi Muhammad shalallahu
‘alaihi wasallam serta tidak terdapat syariatnya pada agama kita,
sedangkan Rasulullah telah melarang kita untuk melakukan kebid’ahan/ hal baru
di dalam agama. Beliau bersabda,
من أحدث
في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
“Barangsiapa
yang melakukan hal baru yang tidak ada contohnya dari kami (Nabi Muhammad),
maka amalan tersebut tertolak.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Maka,
tidaklah seorang muslim mengkhususkan satu hari pun untuk bergembira dan
berpesta, kecuali harus ada dalilnya yang jelas baik dari Al-Qur’an maupun
hadis.
Kedua, seorang muslim tidak boleh berhari raya,
kecuali dengan hari raya yang disyariatkan dan diizinkan oleh agama kita. Allah
melalui lisan Nabi-Nya Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam telah
memberikan kita dua hari raya. Diriwayatkan dari Abu Dawud dan An-Nasa’i di
dalam riwayat yang sahih dari sahabat Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau
berkata, “Ketika Nabi Muhammad datang ke kota Madinah, orang-orang Madinah
memiliki dua hari yang mana mereka gunakan untuk bermain atau bersukacita, maka
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang
artinya),
“Allah Ta’ala telah
menggantikan dua hari ini dengan sesuatu yang lebih baik, yaitu hari Idulfitri
dan Iduladha.”
Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam membatalkan hari raya mereka agar tidak menyerupai
perayaan kaum muslimin. Sehingga jika para pemimpin dan ulama bermudah-mudahan
di dalam membolehkan ikut perayaan orang kafir, dikhawatirkan orang yang awam
akan lebih mengagungkannya, serta menganggap perayaan tersebut bagian dari
perayaan kaum muslimin.
Ketiga, di dalam merayakan hari lahir Al-Masih, terdapat
sifat berlebih-lebihan di dalam mencintainya, dan ini sangatlah tampak pada
syiar-syiar orang Nasrani pada hari tersebut. Padahal, Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wasallam pernah bersabda,
لَا تُطْرُونِي
كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا:
عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
“Janganlah
kalian terlalu berlebih-lebihan kepadaku sebagaimana orang-orang Nasrani telah
berlebih-lebihan kepada Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba
Allah, maka katakanlah, ‘hamba Allah dan Rasul-Nya.’!” (HR Al-Bukhari)
Syariat
ini melarang dari menyucikan para nabi berlebihan di dalam mencintainya serta
beribadah kepada mereka dan mengangkat mereka melebihi kedudukannya.
Keempat, merayakan perayaan mereka dapat
menumbuhkan rasa cinta dan mengikuti mereka di dalam melakukan ritual-ritual
yang batil, serta membuat mereka merasa bahwa mereka itu berada di dalam
kebenaran, dan semua itu merupakan hal yang haram dan termasuk dosa yang besar.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ
أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا
يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan
Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu). Sebagian mereka adalah pemimpin bagi
sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi
pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah: 51)
Ini
adalah kondisi jika seorang muslim tidak bermaksud rida terhadap agama mereka
dan menyetujui prinsip agama mereka, baik itu trinitas, menyembelih untuk
selain Allah ataupun memasang salib. Adapun jika seorang muslim benar-benar
bermaksud kepada semua itu, maka dia telah kafir dan telah murtad dari agama
ini menurut kesepakatan ulama. Maka, wajib hukumnya bagi seorang muslim untuk
menjauhi gereja-gereja dan tempat ibadah orang Nasrani pada hari perayaan
maupun hari-hari lainnya.
Kelima, merayakan perayaan mereka merupakan
bentuk tasyabbuh/menyerupai orang-orang Nasrani karena di dalamnya
terdapat hal-hal spesifik dan khusus yang merupakan identitas mereka. Sedangkan
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ
بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa
yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari mereka.” (HR. Abu Dawud)
Menyerupai
mereka di dalam hal-hal yang tampak, baik itu pakaian maupun kebiasaan dan
rutinitas mereka tentu akan menghantarkan pelakunya ke dalam menyerupai mereka
pada hal-hal yang sifatnya keyakinan, serta menimbulkan kecintaan dan rasa suka
di antara orang yang menyerupai dan yang diserupai. Oleh karena itu, agama yang
mulia ini memutus semua wasilah yang dapat menimbulkan rasa takjub dan kagum
terhadap orang kafir serta rida terhadap agama mereka.
Keenam, perayaan yang disyariatkan di dalam
Islam merupakan bentuk sebuah rasa syukur dan rasa senang setelah menyelesaikan
sebuah ibadah. Idul Fitri disyariatkan setelah menyelesaikan ibadah puasa dan
Idul Adha disyariatkan setelah melangsungkan ibadah haji dan setelah lewat
sepuluh hari bulan Dzulhijjah. Dan itu semua merupakan bentuk kebahagiaan,
ibadah, serta syukur untuk Allah Sang Mahapencipta, bukan untuk makhluk.
Prinsip inilah yang tidak ada pada perayaan Kelahiran Al-Masih/
Natal. Maka, hal ini bertentangan dengan ajaran ini sehingga kita pun
diharamkan untuk meramaikannya.
Demikian
itu adalah 6 alasan, mengapa seorang muslim tidak boleh ikut serta merayakan
ataupun mengucapkan selamat natal kepada orang-orang Nasrani. Semoga
Allah Ta’ala selalu memberikan kita hidayah dan taufik-Nya
sehingga dengan kedua hal itu kita menjadi seorang muslim yang tidak mudah
ikut-ikutan meramaikan sesuatu, apalagi hal tersebut sangat bertentangan dengan
akidah kita yang berasas pada Tauhid.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khotbah Kedua.
اَلْحَمْدُ
للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ
فَيَأَيُّهَا
الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ
عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى
النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اللهم ادْفَعْ
عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ
وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا
بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً،
إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
رَبّنَا
لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا
إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا
مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا
فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ
اللَّهُمَّ
إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
اللهمّ
أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ
الآخِرَةِ
رَبَنَا
ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.
وَالْحَمْدُ
للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ
عِبَادَ
اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى
ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Wallahu'alam Bishshowab
Penulis: Muhammad Idris,
Lc.
Artikel: www.muslim.or.id
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Penulis: Muhammad Idris, Lc.
Artikel: www.muslim.or.id
Edit: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar