Menu

Rabu, 14 Januari 2026

KISAH HIDAYAH

MANTAN MISIONARIS YANGAN JADI DA'I

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Saudaraku....!

Hari ini Kamis 26 Rajab1447 H /15 Januari 2026

Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.

Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.

Hadirin yang dirahmati Allah....

Dalam setiap perjalanan hidup, manusia selalu mencari makna dan kebenaran hakiki. Tak jarang, pencarian ini membawa seseorang pada sebuah persimpangan takdir yang mengubah arah hidupnya secara fundamental. Kisah saudara kita Mukhlis, yang dahulunya dikenal sebagai Yeswa, adalah sebuah testimoni nyata akan kuasa hidayah Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang tak terbatas, mengantarkannya dari puncak sebuah keyakinan menuju terang benderang Islam, bahkan menjadikannya mercusuar dakwah bagi sesama.

Lahir dan tumbuh besar dalam keluarga yang sangat dihormati di lingkungan gereja Remu Utara, Manokwari, Yeswa dididik dengan harapan besar untuk menjadi seorang pendeta. Sejak usia dini, ia tekun mempelajari Injil dan Bibel, hingga menguasai ayat demi ayat. Dedikasinya begitu kuat, menjadikannya misionaris muda yang penuh semangat. Dengan kemampuan komunikasi yang mumpuni, Yeswa berhasil mengajak beberapa rekannya untuk bergabung dalam keyakinannya, sebuah pencapaian yang membanggakan bagi dirinya dan orang tuanya saat itu.

Namun, takdir Allah bekerja dengan cara yang tak terduga. Di tengah kesibukannya berdakwah, sebuah gejolak batin mulai muncul saat ia mulai menelaah literatur keislaman, awalnya hanya untuk perbandingan. Hati Yeswa mulai diliputi keraguan dan kebingungan. Ayat-ayat dalam Bibel yang dahulu ia hafal kini terasa tidak relevan dengan logika, memicu pertanyaan mendalam yang tak mampu dijawab oleh pendetanya. Keberadaan berbagai versi Alkitab dan indikasi perubahan isi demi kepentingan tertentu, berbanding terbalik dengan kemurnian dan keotentikan Al-Qur’an yang dijaga oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala hingga akhir zaman.

Kegelisahan Yeswa mencapai puncaknya ketika ia menemukan firman Allah dalam Al-Qur’an, “Innaddina indallahil Islam” (Sesungguhnya agama yang diridai di sisi Allah hanyalah Islam). Ayat tersebut meruntuhkan segala konsep yang selama ini ia pegang teguh. Dengan hati yang lapang dan penuh keyakinan, Yeswa mengucap dua kalimat syahadat di Masjid Agung Papua, disaksikan puluhan jamaah. Nama Yeswa pun berganti menjadi Mukhlis, sebuah nama yang melambangkan keikhlasan hati dalam memeluk Islam. Keputusan ini berujung pada pengusiran dari rumah keluarga, sebuah pengorbanan besar yang Mukhlis terima dengan ketabahan luar biasa, demi mempertahankan akidahnya.

Sebuah keyakinan yang Allah nyatakan di dalam Al-Qur’an, sebuah aqidah yang kita tidak boleh ragu di dalamnya, bahwa hidayah di tangan Allah. Allah memberikan hidayah kepada orang yang Ia inginkan dan Allah menjauhkan dari orang yang Ia pilih. Ini banyak ayat di dalam Al-Qur’an:

… فَيُضِلُّ اللَّهُ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ…

” .........Allah memberikan kesesatan kepada orang yang Allah inginkan dan Allah memberikan hidayah kepada orang-orang yang Ia inginkan..........” (QS. Ibrahim[14]: 4)

Perjalanan Mukhlis tidak berhenti di sana. Ia hijrah ke Bandung, Jawa Barat, untuk memperdalam ilmu agama di IAIN Sunan Gunung Djati jurusan Dakwah. Dengan karunia kecerdasan dan kemampuan belajar yang cepat, ia mampu mengejar ketertinggalan dan mendalami Islam dengan pesat. Dari kampus inilah, Mukhlis merasakan panggilan untuk memperbaiki masa lalunya. Dengan memanfaatkan pemahamannya yang mendalam tentang Kristen, ia mulai berdakwah melalui buletin “Pendeta Ditantang Debat” dan dialog personal, hingga berhasil membimbing sekitar 40 orang Kristen, termasuk beberapa pendeta, untuk menemukan kebenaran Islam.

Meskipun rindu pada keluarga tak pernah padam, hati Mukhlis kini dipenuhi tekad yang lebih besar. Ia berjanji, jika kelak studinya usai, ia akan kembali ke kampung halaman bukan sekadar melepas rindu, melainkan untuk membawa cahaya Islam kepada keluarga dan masyarakatnya yang masih dalam kegelapan. Sebuah misi mulia yang lahir dari keikhlasan dan keyakinan akan kebenaran agama Allah. Insya Allah, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memudahkan jalan Mukhlis dan menerima semua amal kebaikannya.

Wallahu'alam Bishshowab

Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.

Barakallah ..... semoga bermanfaat

-----------------NB----------------

Saudaraku...!

Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :

Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.

Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa  Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.

Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. 

Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit &  kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.

Yaa Allah... Yaa Robbana...! Ijabahkanlah Do'a-do'a kami, Tiada daya dan upaya kecuali dengan Pertolongan-MU, karena hanya kepada-MU lah tempat Kami bergantung dan tempat Kami memohon Pertolongan.

ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم

آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين

وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ

🙏🙏



Artikel Abah Luky
Edit:  Ndik

#NgajiBareng

Tidak ada komentar:

Posting Komentar