JIKA BUKAN KARENA RAHMAT ALLAH, BETAPA LEMAHNYA MANUSIA
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Rabu 9 Sya'ban 1447 H /28 Januari 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Tak ada manusia yang sempurna. Satu sama lain saling membutuhkan. Bahkan, tak pernah ada manusia yang mampu terlepas dari godaan setan terkutuk. Itulah di antara kelemahan-kelemahan yang dimiliki manusia. Karena itu, jika bukan karena rahmat Allah, niscaya manusia akan binasa di bumi ini. Berikut ini bukti pertolongan-pertolongan Allah berupa rahmatnya kepada manusia.
PERTAMA, jika bukan karena karunia Allah, pasti manusia tidak bisa bersih dari dosa. Inilah salah satu bukti kelemahan manusia di antara banyak kelemahan lainnya. Terkait manusia akan selalu ada dalam perbuatan dosa jika Allah tidak menurunkan karunia-Nya ini sesuai dengan firman-Nya,
وَلَوْلَا فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ
“Dan seandainya bukan karena Karunia Allah & rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tapi Allah membersihkan siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Qs. An-Nuur: 21).
Allah Ta’ala juga telah menjadikan manusia cinta kepada keimanan sehingga ia membenci kekafiran dan semua jenis kedurhakaan. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَكِنَّ اللهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ ؛ فَضْلًا مِنَ اللهِ وَنِعْمَةً
“Tetapi Allah telah menjadikanmu “Cinta” Kepada Keimanan, dan Menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada Kekafiran, Kefasikan, dan Kedurhakaan. Mereka itulah ‘Orang2’ yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia & nikmat dari Allah.” (Qs. Al Hujurat: 7-8)
KEDUA, jika bukan karena rahmat Allah, niscaya manusia akan selalu mengikuti setan. Seperti dipahami, setan adalah lambang segala bentuk keburukan. Setan akan selalu mengajak umat manusia mengikuti jejaknya hingga kelak bisa menemaninya bersama di neraka. Terkait hal ini, Allah Ta’ala berfirman,
وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللهِ عَلَیۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ لَٱتَّبَعۡتُمُ ٱلشَّیۡطَـٰنَ إِلَّا قَلِیا
“Dan seandainya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu “Tentulah” kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (diantara kamu).” (QS.An-Nisaa’ : 83)
KETIGA, manusia akan hancur dan binasa jika bukan karena rahmat Allah. Tak ada satupun manusia akan selamat dari kebinasaan di bumi ini jika bukan Allah yang menyelamatkan dengan rahmat-Nya. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَوْلَا فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللهَ تَوَّابٌ حَكِيمٌ
“Dan seandainya ‘bukan’ karena karunia & juga rahmat Allah kepadamu (niscaya kamu akan Binasa). Dan sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat, lagi Maha Bijaksana” (Qs. An-Nuur: 10)
KEEMPAT, jika bukan karena rahmat Allah, manusia ditimpa siksa yang besar. Seperti firman Allah Ta’ala,
وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ وَأَنَّ ٱللهَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
“Dan kalau ‘bukan’ karena Karunia Allah dan juga Rahmat-Nya kepadamu (niscaya kamu akan ditimpa Azab Yang Besar). Sungguh, Allah Maha Penyantun, Maha Penyayang.” (Qs. An-Nur: 20)
Dalam ayat lain, Allah Ta’ala juga menegaskan,
وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ لَمَسَّكُمۡ فِي مَآ أَفَضۡتُمۡ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Dan seandainya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar……..” (QS. An-Nur: 14)
KELIMA, jika bukan karena rahmat Allah, manusia akan mengalami kerugian. Lagi-lagi ini adalah bukti jika manusia itu sangat lemah. Maka ketergantungannya kepada Sang Khalik adalah sesuatu yang pasti. Allah Ta’ala berfirman,
ثُمَّ تَوَلَّيۡتُم مِّنۢ بَعۡدِ ذَٰلِكَۖ فَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ لَكُنتُم مِّنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ
“Kemudian setelah itu kamu berpaling. Maka sekiranya ‘bukan’ karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, pasti kamu termasuk Orang Yg Merugi.” (Qs. Al-Baqarah: 64)
KEENAM, manusia tidak akan dapat hidayah dan beribadah jika bukan karena rahmat dan karunia dari Allah Ta’ala. Hal ini seperti sabda Nabi SAW saat berada di perang Khandaq. Sabdanya,
وَاللهِ لَوْلاَ اللهُ مَا اهْتَدَيْنَا، وَلاَ صُمْنَا وَلاَ صَلَّيْنَا
“Demi Allah, seandainya bukan karena Allah, niscaya kami tidak mendapatkan hidayah, dan kami tidak akan berpuasa, dan tidak pula mendirikan shalat.” (HR. Bukhari no.6620, hadits dari al-Baraa’ bin ‘Aazib)
Selain itu, Allah Ta’ala juga telah berfirman dalam ayat-Nya,
يَمُنُّونَ عَلَيۡكَ أَنۡ أَسۡلَمُواْۖ قُل لَّا تَمُنُّواْ عَلَيَّ إِسۡلَٰمَكُمۖ بَلِ ٱللهُ يَمُنُّ عَلَيۡكُمۡ أَنۡ هَدَىٰكُمۡ لِلۡإِيمَٰنِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ
“Mereka Merasa Berjasa kepadamu dgn keislaman mereka. Katakan: “Janganlah kamu Merasa Berjasa kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allahlah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan “Menunjukkan” kamu kepada Keimanan, jika kamu orang yang benar.” (Qs. Al Hujurat:17).
PERBANYAK SYUKUR
Beberapa ayat dan hadis di atas bisa menjadi bahan renungan yang mendalam bagi setiap insan bernama manusia terlebih lagi bagi seorang muslim. Jika bukan karena rahmat Allah, betapa tak bernilainya kita sebagai manusia… Jika bukan karena rasa cinta Allah kepada kita sebagai hamba-Nya, tentu saja kita sudah banyak melakukan dosa dan kesalahan.
Jika bukan karena karunia dan rahmat Allah pada setiap hamba, sudah tentu anak cucu Adam yang hidup di muka bumi ini tidak ada nilainya sama sekali dihadapan manusia. Karena itu, di antara sekian banyak kunci-kunci kebaikan adalah meningkatkan selalu rasa syukur kepada-Nya.
Allah Ta’ala akan tambah nikmat-nikmat-Nya kepada setiap hamba beriman jika dia bersyukur. Allah Ta’ala berfirman,
Baca Juga: Taubat Nasional: Mengembalikan SDA kepada Rakyat, Bukan kepada Mafia
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-KU), sungguh adzab-Ku sangat pedih.” (Qs. Ibrahim: 7).
Bicara tentang syukur, maka ada empat komponen cara bersyukur kepada Allah menurut Imam Al Ghazali yang harus dilakukan oleh setiap hamba, antara lain sebagai berikut.
Pertama, syukur dengan hati. Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya atas segala limpahan nikmat yang diperoleh, baik besar, kecil, banyak maupun sedikit semata-mata karena anugerah dan kemurahan Allah Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ثُمَّ اِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَاِلَيْهِ تَجْـَٔرُوْنَۚ
“Segala nikmat yang ada pada kamu (berasal) dari Allah.” (Qs. An-Nahl: 53)
Syukur dengan hati dapat mengantarkan seseorang menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan keberatan, betapa pun kecilnya nikmat tersebut. Syukur ini akan melahirkan rasa betapa besarnya kemurahan dan kasih sayang Allah sehingga terucap kalimat pujian kepada-Nya.
Kedua, syukur dengan Lisan. Ketika hati seseorang sangat yakin atas segala nikmat yang ia peroleh bersumber dari Allah, maka spontan ia akan mengucapkan “Alhamdulillah” (segala puji bagi Allah). Karena itu, bila ia memperoleh nikmat dari seseorang, lisannya tetap memuji Allah. Sebab ia yakin dan sadar jika orang tersebut hanyalah perantara yang Allah kehendaki untuk menyampaikan nikmat itu kepadanya.
Kata Alhamdulillah mengandung arti bahwa yang paling berhak menerima pujian adalah Allah Ta’ala semata, bahkan seluruh pujian harus tertuju dan bermuara kepada-Nya. Oleh karena itu, seorang muslim harus mengembalikan segala pujian kepada Allah.
Ketika seorang muslim memuji seseorang karena kebaikannya, hakikat pujian tersebut harus ditujukan kepada Allah Ta’ala, sebab, Allah adalah Pemilik Segala Kebaikan.
Ketiga, syukur dengan perbuatan. Syukur dengan perbuatan mengandung arti segala nikmat dan kebaikan yang diterima harus digunakan di jalan yang diridhai Allah. Misalnya untuk beribadah kepada Allah, membantu orang lain dari kesulitan, dan perbuatan baik lainnya. Nikmat Allah harus digunakan secara proporsional dan tidak berlebihan untuk berbuat kebaikan.
Rasulullah SAW menjelaskan, Allah sangat senang melihat nikmat yang diberikan kepada hamba-Nya itu dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah senang melihat atsar (bekas/wujud) nikmat-Nya pada hamba-Nya.” (HR. Tirmidzi dari Abdullah bin Amr).
Maksud dari hadits di atas adalah Allah menyukai hamba yang menampakkan dan mengakui segala nikmat yang dianugerahkan kepadanya. Misalnya, orang yang kaya hendaknya membagi hartanya untuk zakat, sedekah dan sejenisnya. Orang yang berilmu membagi ilmunya dengan mengajarkannya kepada sesama manusia, memberi nasihat, dsb.
Maksud membagi diatas bukanlah untuk pamer, namun sebagai wujud syukur yang didasaari karena-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَاَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).” (Qs. Adh-Dhuha: 11).
Keempat, menjaga nikmat dari kerusakan. Ketika nikmat dan karunia didapatkan, maka gunakan dengan sebaik-baiknya untuk kebaikan. Setelah itu, usahakan untuk menjaga nikmat itu dari kerusakan. Misalnya, ketika seseorang diberi nikmat kesehatan, kewajibannya adalah menjaga tubuhnya agar tetap sehat dan bugar sehingga terhindar dari penyakit. Begitu juga dengan dengan nikmat iman dan Islam, seorang muslim wajib menjaganya dari segala keburukan yang bisa menghancurkannya.
Jadi, tingkatkan selalu rasa syukur kita kepada Allah Ta’ala, sebab kita bukan siapa-siapa dan tak bernilai apa-apa di sisi Allah jika Allah tidak menolong kita setiap waktu dengan limpahan karunia dan rahmatnya,
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
Sumber : https://minanews.net/
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Sumber : https://minanews.net/
Edit: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar