DI BALIK KESULITAN PASTI ADA KEMUDAHAN
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Selasa 8 Sya'ban 1447 H /27 Januari 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Di balik kesulitan pasti ada kemudahan" adalah pesan kuat dari Al-Qur'an, QS. Al-Insyirah ayat 5-6, menekankan bahwa setiap ujian hidup pasti diikuti jalan keluar atau kelapangan, bahkan kemudahan bisa dua kali lebih banyak dari kesulitan, mendorong kesabaran, tawakal, dan usaha, karena Allah tidak pernah menutup pintu rezeki dan pertolongan.
فَاِنَّ
مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ ٥
5. Maka,
sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.
اِنَّ مَعَ
الْعُسْرِ يُسْرًاۗ ٦
6.
Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.
Ayat
ini bukan sekadar janji, melainkan penegasan berulang bahwa setiap kesulitan
tidak akan berdiri sendiri. Ia selalu ditemani oleh kemudahan yang akan hadir
pada waktunya.
Para
ulama dan sahabat menafsirkan bahwa satu kesulitan (al-‘usr) tidak mungkin
mampu mengalahkan dua kemudahan (yusr). Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah
saw pernah bersabda, “Seandainya kesulitan masuk ke dalam sebuah lubang,
niscaya kemudahan akan datang hingga mengeluarkannya” (HR al-Bazzar).
Ungkapan
ini menegaskan bahwa kemudahan tidak sekadar janji samar, melainkan sunnatullah
yang pasti. Bahkan Hasan al-Bashri mengingatkan, “Tidak akan mengalahkan
satu kesulitan dua kemudahan.” Artinya, saat kita diuji, kesulitan itu
hanya satu, namun Allah membukakan banyak pintu jalan keluar. Imam al-Syafi’i
pernah berpesan dalam syairnya: “Bersabarlah dengan sabar yang indah,
sungguh dekatlah jalan keluar Barang siapa menjaga Allah, ia akan selamat
Barang siapa jujur kepada Allah, ia tak akan disentuh bahaya Barang siapa
berharap kepada-Nya, ia akan sampai pada harapannya.” Pesan ini sangat
relevan dengan kehidupan kita sebagai bangsa Indonesia.
Dalam
perjalanan sejarah, negeri ini tidak pernah luput dari ujian, mulai dari masa
perjuangan merebut kemerdekaan, gelombang krisis ekonomi, bencana alam, hingga
tantangan global hari ini. Namun, bangsa ini selalu menemukan jalan untuk
bangkit, karena keyakinan bahwa kesulitan bukan akhir dari segalanya.
Setiap
masalah yang dihadapi bangsa justru membuka peluang lahirnya kekuatan baru,
baik melalui persatuan rakyat, semangat gotong royong, maupun kebijakan yang
lebih arif. Inilah cermin janji Allah dalam Al-Qur’an, bahwa di balik setiap
kesempitan selalu ada jalan keluar, dan di balik setiap cobaan selalu ada pintu
kemudahan.
Kesulitan
memang nyata, seperti pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, harga
kebutuhan yang melonjak, tekanan hidup yang semakin berat. Tetapi dalam setiap
kesempitan itu, ada ruang-ruang kebaikan yang Allah bukakan, kreativitas yang
tumbuh, solidaritas sosial yang menguat, dan peluang-peluang baru yang lahir
dari keterdesakan.
Seperti
syair indah Ibnu Duraid: “Jika hati sudah dipenuhi keputusasaan, dada terasa
sempit, dan bencana menancap kuat tanpa celah, tiba-tiba pertolongan Allah
datang, menghubungkan akhir dari segala bencana dengan fajar pertolongan yang
dekat.” Ayat dalam Surat Al-Insyirah ini bukan hanya penghibur, tetapi juga
penuntun sikap.
Kita diajarkan untuk sabar, tawakal, dan tetap berusaha. Karena sesulit apa pun keadaan, Allah tidak pernah menutup jalan keluar bagi hamba-Nya. Hari ini, bangsa kita mungkin menghadapi turbulensi ekonomi, sosial, dan budaya. Individu pun diuji dengan tekanan hidup yang tidak ringan. Namun kita harus yakin bahwa tidak ada kesulitan yang abadi. Janji Allah tetap berlaku: “Sungguh bersama kesulitan ada kemudahan.” Maka, jangan berhenti berharap, jangan berhenti berusaha. Karena sesungguhnya, di balik gelapnya malam, selalu ada cahaya fajar yang menanti untuk terbit.
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Penulis: H Puji Raharjo
Sumber: https://lampung.nu.or.id/
Edit: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar