HIKMAH SYUKUR DAN SABAR HADAPI COBAAN KEMATIAN
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Ahad 6 Sya'ban 1447 H /25 Januari 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Islam menekankan pentingnya syukur dan sabar saat hadapi ujian hidup dan kematian. Kematian Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam adalah musibah terbesar yang menguji iman dan keteguhan umat.
Konsep bersyukur atau syukur, terutama dalam menghadapi ujian hidup dan kematian, menjadi fokus utama dalam ajaran Islam. Individu yang mampu bersabar atas cobaan, menerima takdir, dan tetap bersyukur atas ujian yang menimpa dirinya, dianggap mencapai tingkatan spiritual yang agung, menggabungkan kesabaran dan keridaan. Sikap ini diyakini mendatangkan balasan istimewa langsung dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Ujian terbesar bagi umat manusia adalah kematian, sebuah keniscayaan bagi setiap jiwa, termasuk para Nabi. Kepergian Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam sendiri disebut sebagai musibah paling berat yang pernah menimpa umat, menjadi tolok ukur kesabaran dan keteguhan iman bagi setiap Muslim di hadapan kehilangan besar. Hal ini menegaskan bahwa tidak ada kehilangan yang lebih mulia dan menyentuh daripada kepergian Sang Rasul.
Al-Qur’an secara tegas menyatakan universalitas kematian, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :
وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَۗ اَفَا۟ىِٕنْ مِّتَّ فَهُمُ الْخٰلِدُوْنَ ٣٤
Artinya : “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu wafat, apakah mereka akan kekal?” (QS. Al-Anbiya`: 34).
Rasulullah SAW sendiri bersabda, menekankan bobot musibah ini: “Jika salah seorang dari kalian tertimpa musibah, hendaknya dia mengingat musibahnya karena (kematian)ku, karena ia adalah musibah terbesar.” (Riwayat Ad-Darimi).
Mereka yang tetap berpegang teguh pada sunah dan akhlak Nabi setelah wafatnya, serta setia kepada ajaran Allah, disebut sebagai golongan yang bersyukur. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
وَمَا مُحَمَّدٌ اِلَّا رَسُوْلٌۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُۗ اَفَا۟ىِٕنْ مَّاتَ اَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلٰٓى اَعْقَابِكُمْۗ وَمَنْ يَّنْقَلِبْ عَلٰى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَّضُرَّ اللّٰهَ شَيْـًٔاۗ وَسَيَجْزِى اللّٰهُ الشّٰكِرِيْنَ ١٤٤
Artinya : “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. ” (QS. Ali-Imran : 144).
Lebih lanjut ditegaskan (QS Ali-Imran : 145)
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ اَنْ تَمُوْتَ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ كِتٰبًا مُّؤَجَّلًاۗ وَمَنْ يُّرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهٖ مِنْهَاۚ وَمَنْ يُّرِدْ ثَوَابَ الْاٰخِرَةِ نُؤْتِهٖ مِنْهَاۗ وَسَنَجْزِى الشّٰكِرِيْنَ ١٤٥
Artinya : “.Setiap yang bernyawa tidak akan mati, kecuali dengan izin Allah sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Siapa yang menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala (dunia) itu dan siapa yang menghendaki pahala akhirat, niscaya Kami berikan (pula) kepadanya pahala (akhirat) itu. Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (QS Ali-Imran : 145).
Meski demikian, Al-Qur’an juga mengingatkan :
يَعْمَلُوْنَ لَهٗ مَا يَشَاۤءُ مِنْ مَّحَارِيْبَ وَتَمَاثِيْلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُوْرٍ رّٰسِيٰتٍۗ اِعْمَلُوْٓا اٰلَ دَاوٗدَ شُكْرًاۗ وَقَلِيْلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ ١٣
Artinya : “Mereka (para jin) selalu bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan kehendaknya. Di antaranya (membuat) gedung-gedung tinggi, patung-patung, piring-piring (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (di atas tungku). Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur. Sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang banyak bersyukur.” (QS. Saba`: 13).
Keimanan dan syukur dikaitkan dengan penghapusan azab, sebagaimana firman-Nya :
مَا يَفْعَلُ اللّٰهُ بِعَذَابِكُمْ اِنْ شَكَرْتُمْ وَاٰمَنْتُمْۗ وَكَانَ اللّٰهُ شَاكِرًا عَلِيْمًا ١٤٧
Artinya : "Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui. ” (QS. An-Nisa`: 147).
Serta hubungan syukur dengan zikir:
فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِࣖ ١٥٢
Artinya : “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. “(QS. Al-Baqarah : 152).
Kisah Fudhail bin Iyadh dan putranya, Ali, menyoroti kompleksitas respons terhadap musibah. Ketika Ali wafat saat sedang mengimami salat dengan membaca ayat, “Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya.” (QS. Ash-Shaffat : 24),
Fudhail menunjukkan kesabaran luar biasa. Setelah mengurus jenazah putranya, beliau tersenyum, menjelaskan bahwa itu adalah bentuk syukur kepada Rabb-nya. Ibnu Taimiyyah mengulas bahwa sikap Rasulullah yang bersedih atas meninggalnya putra beliau lebih sempurna. Rasulullah menampakkan ubudiyah kasih sayang, keridhaan, dan ketundukan secara bersamaan, sesuai dengan fitrah manusia dalam menghadapi keadaan kritis, sementara Fudhail lebih menonjolkan ubudiyah keridhaan semata.
Peristiwa-peristiwa ini menunjukkan bahwa baik kesedihan maupun senyuman dalam musibah dapat menjadi bentuk ibadah, asalkan tidak melanggar tuntunan iman. Yang terpenting adalah menampakkan kekhusyukan, ketawadhukan, dan ketundukan terhadap takdir Allah. Allah Subhanahu Wa Ta'ala menegaskan bahwa musibah diturunkan agar manusia memohon kepada-Nya dengan rendah diri : “Kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka…....” (QS. Al An`am : 42-43).
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Artikel Abah Luky
Edit: Ndik
#NgajiBareng
Tidak ada komentar:
Posting Komentar