Menu

Selasa, 20 Januari 2026

SABAR DAN SHALAT

SABAR DAN SHALAT : PILAR KEKUATAN BATIN SEJATI UMAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Saudaraku....!

Hari ini Rabu 2 Sya'ban 1447 H /21 Januari 2026

Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.

Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.

Hadirin yang dirahmati Allah....

Al-Quran mengajarkan Sabar dan Shalat sebagai penolong sejati. Sabar adalah pengendalian diri aktif; shalat melatih ketenangan. Keduanya membentuk jiwa muthma’innah yang penuh keberkahan.

Dalam setiap helaan napas kehidupan, kita diuji dengan beragam peristiwa, baik suka maupun duka. Namun, Allah Subhanahu WaTa’ala, dengan segala kasih sayang-Nya, tidak pernah meninggalkan hamba-Nya tanpa bekal. Al-Quranul Karim, panduan hidup kita, secara indah dan mendalam menggandengkan dua pilar utama sebagai penolong sejati : sabar dan shalat. Sebagaimana firman-Nya dalam QS al-Baqarah [2] ayat 153, 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ ۝١٥٣

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS al-Baqarah [2] ayat 153,)

Ayat ini bukan sekadar perintah, melainkan sebuah janji dan petunjuk agung menuju ketenangan dan kekuatan batin. Sabar, yang secara etimologi berarti ‘menahan’, adalah upaya mulia untuk mengendalikan diri demi mencapai ridha Ilahi.

Sabar bukanlah sekadar sikap pasif menunggu, melainkan sebuah upaya aktif menahan diri dari godaan, keluh kesah, dan emosi negatif, demi mencari keridhaan Rabb semesta alam. Tiada heran, kata ‘Sabar ’ disebutkan lebih dari seratus kali dalam Al-Quran, menggarisbawahi posisinya sebagai poros dan asas bagi segala kemuliaan akhlak. Para ulama mengajarkan, saat kita merenungi kebaikan dan keutamaan, akan kita dapati bahwa sabar senantiasa menjadi fondasinya. Iffah (menjaga kesucian diri) adalah bentuk kesabaran menahan diri dari nafsu syahwat. Syukur adalah sabar untuk tidak mengingkari nikmat. Qana’ah (merasa cukup) adalah sabar menahan diri dari keserakahan. Hilm (lemah lembut) adalah kesabaran mengendalikan amarah. Bahkan, pemaaf adalah sabar untuk tidak membalas dendam. Semua akhlak mulia itu bermuara pada satu sumber : kesabaran.

Cakupan sabar yang begitu luas ini menjadikan ia bernilai separuh dari keimanan. Para ulama membagi sabar ke dalam tiga tingkatan utama. Pertama, sabar dalam menghadapi segala bentuk ujian dan musibah kehidupan, baik berupa bencana, kesusahan, maupun kehilangan, dengan penuh keikhlasan dan tawakal. Kedua, sabar dalam meninggalkan perbuatan maksiat, menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang Allah, meskipun nafsu meronta. Ketiga, dan yang tak kalah penting, sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, konsisten menunaikan perintah-Nya, meski terasa berat atau membutuhkan pengorbanan.

Sabar bukan hanya konsep spiritual, melainkan juga kemampuan psikologis yang mendalam, yaitu kemampuan untuk menerima, mengolah, dan menyikapi setiap kenyataan dengan hati yang lapang. Ketika kita menggabungkan sabar ini dengan shalat, sebuah integrasi proses latihan yang luar biasa terjadi. Shalat, dengan setiap gerakan, ucapan, dan kekhusyukannya, melatih kita untuk mengendalikan diri secara proporsional, mulai dari motorik hingga olah rasa dan akal. Ini adalah jalan menuju terbentuknya jiwa yang tenang dan damai, atau yang disebut Nafs Muthma’innah.

Jiwa yang tenang inilah, Nafs Muthma’innah, yang memiliki karakteristik istimewa untuk memancarkan nilai-nilai kebenaran absolut dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana Allah berfirman, 

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ۝٢٧

Artinya : “Hai jiwa yang tenang (nafs yang muthmainnah). Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang bening dalam ridha-Nya.” (QS al-Fajr [89]: 27-28). 

Orang-orang yang dianugerahi jiwa muthma’innah akan mampu mengaplikasikan nilai-nilai shalat dalam setiap langkah mereka. Hidup mereka akan didominasi oleh kesabaran paripurna yang tercermin dalam sikap syukur yang mendalam, pemaaf, lemah lembut, penyayang, tawakal, qana’ah, pandai menjaga kesucian diri, serta konsisten dalam kebaikan.

Maka, tiada mengherankan bila Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam dan para sahabat menjadikan shalat sebagai ‘istirahat’ bagi jiwa, sarana pembelajaran, pembangkit energi, sumber kekuatan, dan pemandu meraih kemenangan. 

Ketika rezeki melimpah, shalat adalah ungkapan syukur terbaik. Ketika beban hidup menghimpit, shalat adalah pelepasnya. Ketika rasa cemas membelenggu, shalat adalah penawarnya. Kisah Sahabat Khubaib bin Adi, yang meminta shalat dua rakaat sebagai permintaan terakhir sebelum dieksekusi mati, adalah bukti nyata bagaimana shalat menjadi puncak ketenangan dan kekuatan batin. 

Shalat yang baik akan menghasilkan kemampuan bersabar yang kokoh, dan kesabaran yang baik akan melahirkan shalat yang berkualitas tinggi—sebuah dialog spiritual yang mendalam dengan Allah, yang menghasilkan ketenangan dan kedamaian abadi. Siapa pun yang merasakan nikmatnya berdialog dengan Sang Pencipta, niscaya tak akan pernah rela melepaskan shalat, karena di sanalah terletak janji pertolongan-Nya.”}

Wallahu'alam Bishshowab

Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.

Barakallah ..... semoga bermanfaat

-----------------NB----------------

Saudaraku...!

Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :

Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.

Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa  Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.

Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. 

Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit &  kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.

Yaa Allah... Yaa Robbana...! Ijabahkanlah Do'a-do'a kami, Tiada daya dan upaya kecuali dengan Pertolongan-MU, karena hanya kepada-MU lah tempat Kami bergantung dan tempat Kami memohon Pertolongan.

ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم

آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين

وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ

🙏🙏



Artikel Abah Luky
Edit:  Ndik

#NgajiBareng

Tidak ada komentar:

Posting Komentar