MERAJUT HARUM PERSAUDARAAN DI HARI KEMENANGAN
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Sabtu, 1 Syawal 1447 H /21 Maret 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
KHOTBAH PERTAMA
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ
أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا،
مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ
لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
فَيَا عِبَادَ الله اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى
بِتَقْوَاللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقٌوْنَ، فَقَالَ الله تعالى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ،
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ
لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وَقَالَ النَّبِيُّ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ
تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ
عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ
فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ،
فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هو الْغَفُوْرُ الرَّحِيمُ
أَمَّا بَعْدُ
Allahu
Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah Wallahu Akbar, Allahu
Akbar Wa Lillahil Hamd.
Jama’ah
Shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah ﷻ.
Pada
pagi yang penuh berkah dan suka cita ini, marilah bersama kita mensyukuri
segala kenikmatan yang telah Allah ﷻ karuniakan dengan mengucap tahmid
kepada-Nya.
Atas
izin-Nya, kita masih digerakkan untuk bersimpuh dalam iman, meyakini bahwa
hanya Allah ﷻ sajalah satu-satunya Rabb yang berhak disembah.
Hadirin
sekalian, mari kita menatap wajah-wajah di samping kanan dan kiri kita pagi
ini. Lihatlah binar yang tersirat di mata mereka.
Mereka
adalah saudara yang mungkin tak kita kenal namanya, tapi sujudnya sama dengan
kita. Di tempat yang penuh dengan berkah ini, kita sedang menyaksikan bukti
nyata dari sebuah keajaiban iman, yaitu umat yang satu.
Di
tempat ini, kita duduk dalam shaf yang sama, tanpa menanyakan berapa harta yang
kita miliki. Kita bersujud ke arah yang sama, tanpa mempedulikan warna kulit
atau suku sebagai identitas diri.
Dan
kita hadir di sini, semata-mata karena ingin mendekap perintah suci dari Sang
Ilahi.
Jama’ah rahimakumullah.
Inilah Ummah
Wahidah. Kita adalah bangunan yang kokoh karena disatukan oleh satu detak
jantung keimanan. Rabb yang satu, Nabi dan Rasul yang sama, serta keimanan yang
serupa di dalam dada.
Oleh
karena itu, nikmat persaudaraan ini bukan sekadar pelengkap, melainkan anugerah
yang harus senantiasa kita jaga.
Allahu
Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah Wallahu Akbar, Allahu
Akbar Wa Lillahil Hamd.
Jama’ah
Shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah ﷻ.
Shalawat
serta salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada baginda Nabi
Muhammad ﷺ. Kebersamaan yang kita rasakan pagi ini bukanlah sebuah kebetulan
sejarah. Keindahan ini bermula dari sentuhan tangan sang arsitek agung
peradaban, baginda Nabi Muhammad ﷺ.
Beliau
bukan sekadar penyampai risalah, Beliau ﷺ juga adalah pendidik yang membangun
peradaban di atas pondasi kasih sayang. Menyatukan hati yang sebelumnya saling
bermusuhan, mengubah dendam menjadi rindu, dan meleburkan ego menjadi
pengorbanan.
Dari
keluhuran Beliau lah lahir generasi terbaik yang mencintai saudaranya melebihi
cinta pada dirinya sendiri. Bagi mereka, iman bukan sekadar kata, melainkan
pengabdian yang memberikan bukti nyata.
Kemudian
tak lupa, kami selaku Khatib berwasiat kepada diri kami pribadi dan umumnya
kepada para hadirin sekalian, mari senantiasa meningkatkan kualitas serta
kesungguhan ketakwaan kita kepada Allah ﷻ.
Ketakwaan
adalah lentera yang tidak akan pernah padam. Rambu-rambu yang mengingatkan kita
bahwa dosa hanyalah fatamorgana, nikmat di awal namun menyisakan luka dan
penyesalan yang mendalam di akhir kehidupan.
Jama’ah
Shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah ﷻ.
Sebagai
orang yang mengaku pengikutnya Nabi Muhammad ﷺ, sudah selayaknya bagi kita
untuk selalu meneladani jejak langkah yang telah beliau contohkan. Demikian
pula kepada para sahabat dan para pengikut di zaman setelah mereka.
Para
sahabat dan pengikut terdahulu adalah manusia-manusia ideal yang patut kita
teladani. Bukan karena megahnya istana yang mereka bangun atau tingginya
pangkat yang mereka duduki. Bukan pula karena garis keturunan yang mereka
miliki.
Melainkan
karena ketulusan iman mereka, yang menjadikan layak dan patut kita
teladani.
Rasulullah
Muhammad ﷺ, adalah Sang Tokoh Agung pembangun peradaban umat manusia yang telah
menjadikan keimanan sebagai dasar bagi pondasinya. Begitu besar jasa Beliau,
sehingga nilai-nilai keimanan itu bisa benar-benar diresapi oleh para Sahabat
dan pengikutnya.
Tidak
sebatas hanya pada untaian kata di lisan, tapi mereka selalu memberikan bukti
nyata dalam amal.
Selain
keimanan yang ditanamkan, Beliau ﷺ juga menanamkan dalam diri para Sahabat arti
dari sebuah persaudaraan. Ukhuwah islamiyah, yaitu persaudaraan
yang dipersatukan karena keimanan. Beliau memahami betul tentang arti
persaudaraan bagi bangunan peradaban.
Peradaban
suatu bangsa akan terbentuk saat manusia di dalamnya bisa saling bahu-membahu.
Mereka bekerja sama menciptakan keseimbangan hubungan yang harmonis. Tanpa
adanya keseimbangan itu, suatu umat atau bangsa hanya akan menghabiskan
energinya untuk mengatasi konflik internal yang berkepanjangan.
Oleh
karena itu, Nabi Muhammad ﷺ sangat memperhatikan perkara ini.
Hadirin
sekalian yang dimuliakan oleh Allah ﷻ.
Mari
sejenak kita berkaca pada sebuah peristiwa yang terjadi dalam peperangan di
masa Nabi ﷺ. Kala itu, sebuah kejadian yang menunjukkan bahwa Beliau ﷺ tidak
menginginkan sebuah konflik timbul karena adanya sebuah percikan fanatisme yang
bisa menyulut api perpecahan.
Perselisihan
antara kaum Muhajirin dan Anshar terjadi begitu peliknya. Dalam keadaan
demikian, salah seorang dari kaum Anshar berseru memanggil kaumnya, “Wahai kaum
Anshar!”, dan begitu juga dari salah seorang kaum Muhajirin juga membalasnya
dengan berseru, “Wahai kaum Muhajirin!”.
Mereka
mulai terjebak dalam fanatisme golongan yang memecah belah. Melihat seruan
fanatisme yang memicu perpecahan itu, sontak Nabi ﷺ bersabda dengan tegas
أَبِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ وَأَنَا بَيْنَ
أَظْهُرِكُمْ؟ دَعُوْهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ
“Apakah
kalian berseru dengan seruannya orang-orang Jahiliyyah sedangkan aku masih
berada di tengah-tengah kalian? Tinggalkan seruan itu, karena sungguh, ia
adalah sesuatu yang busuk lagi menjijikkan.”
Begitu
tajam teguran beliau ini kepada para Sahabatnya, sehingga seruan fanatisme
golongan itu disebut Nabi ﷺ sebagai sesuatu yang busuk dan menjijikkan.
Mengapa
demikian? Sebab dari seruan seperti itulah kebencian dan perpecahan akan
bermula.
Hadirin
yang dirahmati Allah ﷻ.
Jika
fanatisme dan kebencian adalah bau busuk yang harus kita buang, maka cinta
kepada sesama adalah keharuman iman yang harus kita tebarkan. Inilah standar
keimanan yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ kepada umatnya.
Dalam
sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,
bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّىٰ يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ
لِنَفْسِهِ
“Tidaklah
beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya
(seperti) apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari, 13)
Allahu
Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah Wallahu Akbar, Allahu
Akbar Wa Lillahil Hamd.
Jama’ah
Shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah ﷻ.
Hadits
ini adalah cermin bagi kita semua. Dengan jelas, hadits ini menyampaikan bahwa
kecintaan kepada sesama saudara muslim lainnya merupakan indikator atau tanda
dari adanya keimanan dalam diri seseorang.
Sebuah
penjelasan dari Imam Ath-Thufi dalam kitabnya at-Ta’yin fi Syarhil
Arbain menerangkan bahwa seseorang tidak akan dikatakan sebagai mukmin
yang memiliki keimanan sempurna kecuali dengan ia mencintai saudara muslim
lainnya.
Mencintai
orang lain sebagaimana mencintai diri sendiri bukan sekedar teori, melainkan
seni memperlakukan manusia dengan kemuliaan. Hal itu karena diri ini suka jika
diperlakukan baik dan tidak suka disakiti.
Ketika
perbuatan mencintai saudara seperti mencintai diri sendiri dilakukan, rasa
cinta pun akan timbul pada diri orang lain.
Hadirin
sekalian.
Perilaku
mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri ini akan menciptakan rantai
kebaikan yang nyata dalam kehidupan. Ketika kita memperlakukan orang lain
dengan baik karena kita pun ingin diperlakukan dengan hal yang serupa, maka
rasa saling mencintai akan tumbuh dan menyebar di lingkungan kita.
Energi
positif ini akan secara otomatis mengangkat keburukan dan menggantinya dengan
kebaikan. Dan pada akhirnya, hal ini akan memperbaiki kondisi lingkungan kita
serta menciptakan ketertiban dalam kehidupan bermasyarakat.
Lebih
dalam lagi hadirin sekalian, mari kita renungkan bersama pilihan kata yang
Allah ﷻ gunakan dalam Al-Qur’an terkait hubungan sesama muslim. Dalam Surah
Al-Hujurat ayat ke-10, Allah ﷻ berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا
بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya
orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua
saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”
Ada
sebuah rahasia indah di balik ayat ini hadirin sekalian. Jika kita cermati
potongan awal dalam ayat yang mulia ini, kita akan mendapati kalimat إِنَّمَا
الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ , “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu
bersaudara”.
Dalam
tafsirnya, Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menyebutkan tentang ayat ini,
bahwa siapapun orangnya, baik di belahan bumi timur maupun barat, jika ia
memiliki iman kepada Allah ﷻ, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya,
dan hari akhir, maka ia adalah saudara bagi kaum mukmin lainnya.
Allah
ﷻ menggunakan kata ikhwah, bukan ikhwan. Dalam Bahasa
Arab, kata ikhwan biasa digunakan untuk menunjukkan
persaudaraan yang tidak senasab, sedangkan kata ikhwah biasa
digunakan untuk menunjukkan persaudaraan kandung.
Sehingga,
penggunaan kata ikhwah dibanding ikhwan bertujuan
untuk menekankan kedalaman makna, yang berarti: ikatan persaudaraan yang
didasari oleh keimanan berkedudukan sebagaimana persaudaraan kandung. Maka dari
sini, Allah ﷻ ingin kita menyadari, bahwa kita bukan sekadar ‘teman seiman’,
tapi kita adalah ‘saudara sekandung’ dalam rahim Islam.
Seseorang
belumlah bisa dikatakan sebagai seorang mukmin manakala di dalam dirinya belum
tertanam rasa persaudaraan pada sesama muslim lainnya. Menyakiti saudara seiman
berarti menyayat nadi kita sendiri.
Membenci
saudara seiman berarti membenci saudara kandung sendiri. Mengolok-olok saudara
seiman berarti mengolok-olok saudara sendiri. Keimanan seseorang belumlah
dikatakan sempurna manakala ia belum menjiwai persaudaraan yang kental ini.
Allahu
Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah Wallahu Akbar, Allahu
Akbar Wa Lillahil Hamd.
Jama’ah
sidang Shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah ﷻ.
Bayangkan
jika hari ini adalah Idul Fitri terakhir kita. Bayangkan jika setelah sujud
ini, kita tidak lagi memiliki kesempatan untuk meminta maaf kepada mereka yang
pernah kita lukai hatinya. Akankah kita membiarkan lisan ini berseru takbir
mengagungkan Allah ﷻ, namun di saat yang sama hati kita masih menyimpan
‘bangkai busuk’ perpecahan?
Jangan
biarkan ibadah puasa sebulan penuh menguap begitu saja hanya karena ego yang
enggan merunduk. Hari ini bukan tentang siapa yang salah, tapi tentang siapa
yang lebih dulu membuka pintu maaf. Karena sungguh, tidak ada kemenangan sejati
bagi jiwa yang masih terbelenggu oleh dendam kepada saudaranya sendiri.
Oleh
karena itu para hadirin sekalian.
Pada
penghujung khutbah ini, mari bersama kita sadari bahwa ukhuwah
Islamiyah, persaudaraan Islam, bukanlah sekadar pelengkap iman, namun
ia adalah syarat mutlak kesempurnaan iman itu sendiri. Kita adalah ikhwah,
yaitu saudara kandung dalam satu rahim keimanan.
Jika
satu bagian tubuh kita sakit, maka seluruh bagian tubuh lainnya pun akan
merasakannya.
Dan
marilah kita jadikan momentum Idul Fitri ini sebagai titik balik untuk
meruntuhkan tembok pembatas fanatisme golongan maupun kepentingan pribadi, demi
membangun peradaban umat yang kokoh dan bermartabat.
Jadikan
perbedaan sebagai warna dan bukan sebagai jurang pembatas yang memisahkan antar
saudara. Jadikan perbedaan sebagai ajang toleransi pendapat, dan bukan sebagai
ajang saling menghujat. Berdiri sama tegak, duduk sama rendah, dan merangkul
tanpa membeda-bedakan.
Sebagai
bekal pulang, izinkan kami menitipkan satu pesan singkat untuk kita semua,
yaitu: Jadilah yang pertama. Jadilah yang pertama menyapa, jadilah yang pertama
tersenyum, dan jadilah yang pertama memaafkan tanpa menunggu diminta.
Ingatlah,
bahwa tangan yang di atas untuk memberi maaf jauh lebih mulia di hadapan Allah ﷻ
daripada hati yang keras menunggu permohonan maaf. Mari kita pulang membawa
keharuman ukhuwah dan bukan bau busuk perpecahan.
Setelah
ini, dekap pundak saudara kita, jabat erat tangannya, dan tanamkan dalam jiwa
kita bahwa kita adalah saudara, kita adalah ummah wahidah, kita
adalah umat yang satu.
باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآياَتِ وِالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ،
وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ بِتِلاَوَتِهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُوْا اللهَ الْعَظِيْمِ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ
Khutbah
Kedua
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ
أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ
عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ
لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ
بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ
أَمَّا بَعْدُ
Allahu
Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah Wallahu Akbar, Allahu
Akbar Wa Lillahil Hamd.
Jama’ah
Shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah ﷻ.
Mengakhiri
rangkaian khutbah pada pagi yang mulia ini, mari kita sekali lagi meneguhkan
hati. Ramadhan telah berlalu, namun jangan biarkan bekas-bekas kebaikannya ikut
berlalu. Jika di khutbah pertama tadi kita diingatkan tentang betapa buruknya
perpecahan, maka di khutbah kedua ini, mari kita buktikan bahwa hati kita telah
benar-benar bersih.
Jangan
keluar dari tempat ini, jangan beranjak dari sajadah ini, kecuali kita telah
membawa satu tekad, bahwa tidak akan ada lagi dendam yang kita simpan, dan
tidak ada lagi sapaan yang kita abaikan.
Hadirin
sekalian, mari kita menundukkan kepala sejenak. Merendahkan hati kita di
hadapan Dzat Yang Menggenggam segala jiwa.
Membayangkan
wajah kedua orang tua kita, wajah anak-istri kita, dan wajah saudara-saudara
kita di samping kanan dan kiri. Mari kita bersama-sama mengetuk Arsy Allah
dengan untaian doa tulus yang kita panjatkan.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى
النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ
حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ
وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ
قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعْوَاتِ
رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ
سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰانِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟
رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ
ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى
النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَبَارِكْ
لَنَا فِى أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا،
وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
اَللّٰهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ
قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ وَ يا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى
طَاعَتِكَ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ
وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُوَحِّدِيْنَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي
الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعِزَّةِ عَمَّا
يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Sumber : Aplikasi taujiah kultum Ramadhan
Penulis : Abah Luki & Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar