MENGGALI MAKNA TAKDIR ALLAH
“Antara Yang Mubram Dan Mu’allaq”
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Rabu 18 Rajab1447 H /7 Januari 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Menggali makna takdir Allah (Qada dan Qadar) berarti memahami bahwa segala sesuatu adalah ketetapan dan ukuran Allah SWT, tetapi tidak menghilangkan kehendak dan usaha manusia. Makna utamanya adalah meyakini bahwa Allah memiliki pengetahuan dan kehendak penuh atas segala sesuatu, tetapi manusia bertanggung jawab atas pilihannya, pentingnya untuk berusaha dan berdoa, serta meningkatkan rasa syukur dan sabar dalam menghadapi segala kondisi.
Konsep
taqdir (takdir)
merupakan salah satu pokok keimanan dalam Islam yang termasuk dalam rukun iman
keenam, yaitu beriman kepada qadha dan qadar.
Allah
Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:
اِنَّا
كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنٰهُ بِقَدَرٍ ٤٩
Artinya
: “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (ketentuan).”
(QS al-Qamar [54]: 49)
Ayat
ini menegaskan bahwa segala sesuatu di alam semesta berjalan sesuai dengan
ketetapan Allah. Namun, pemahaman terhadap taqdir seringkali menimbulkan
persoalan teologis dan praktis: “apakah manusia sepenuhnya pasif di hadapan
taqdir Allah, ataukah memiliki kebebasan untuk berusaha mengubahnya?”
Ulama
menjelaskan bahwa taqdir terbagi menjadi dua jenis, yakni:
mubram (mutlak, pasti terjadi) dan mu‘allaq (tergantung pada sebab atau syarat
tertentu). Pemahaman yang seimbang terhadap keduanya penting agar seorang
Muslim tidak terjerumus pada fatalisme (jabariyyah) atau penolakan terhadap kehendak
ilahi (qadariyyah).
Tinjauan
Konseptual: Qadha dan Qadar
Istilah
qadha berarti keputusan atau ketetapan Allah yang telah pasti, sedangkan qadar
berarti ukuran, batas, atau kadar yang ditentukan oleh Allah bagi setiap
makhluk.
Dalam
hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “(Ialah) engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir yang
baik maupun yang buruk.”
Dari
hadits ini jelas bahwa iman kepada qadar mencakup keyakinan bahwa semua yang
terjadi berada dalam pengetahuan dan kehendak Allah. Namun demikian, Allah juga
memberi ruang bagi manusia untuk berikhtiar, sebagaimana ditegaskan dalam
firman-Nya:
لَهٗ
مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِۗ
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ
وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ
دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ ١١
Artinya
: “Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara
bergiliran dari depan dan belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah.
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa
yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu
kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi
mereka selain Dia.” (QS ar-Ra‘d [13]: 11)
Klasifikasi
Taqdir: Mubram dan Mu‘allaq
1.
Taqdir Mubram
Taqdir
mubram adalah ketetapan Allah yang sudah pasti terjadi dan tidak dapat diubah
oleh siapa pun. Ia merupakan bagian dari ilmu Allah yang azali dan tercatat di
Lauh al-Mahfûzh. Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa taqdir mubram mencakup hal-hal
yang menjadi kepastian mutlak, seperti ajal seseorang, jenis kelamin, dan
peristiwa besar yang menjadi bagian dari kehendak universal Allah.
Dalilnya
antara lain firman Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ:
مَآ اَصَابَ
مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ
قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَاۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ ٢٢
Artinya
: “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu
sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfûzh) sebelum Kami
menciptakannya.” (QS al-Hadîd [57]: 22)
Ayat
ini menunjukkan bahwa sebagian ketentuan Allah bersifat absolut dan tidak dapat
berubah, karena sudah menjadi bagian dari kehendak ilahi yang sempurna.
2.
Taqdir Mu‘allaq
Sebaliknya,
taqdir mu‘allaq adalah ketetapan yang bergantung pada sebab atau amal tertentu.
Dengan kata lain, Allah menulis dalam catatan-Nya bahwa sesuatu akan terjadi
jika manusia melakukan sebabnya. Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani mencontohkan
dengan sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam:
“Seseorang
itu terhalang dari rezeki karena dosa yang dilakukannya, tidak ada yang menolak
takdir selain doa dan tidak ada yang menambahi umur selain kebaikan.”
Hadits
ini menjelaskan bahwa doa dan amal saleh dapat menjadi sebab perubahan kondisi
yang telah ditetapkan secara mu‘allaq. Artinya, manusia tetap memiliki ruang
untuk berikhtiar di dalam sistem ketetapan Allah yang Maha Mengetahui
segalanya.
Keseimbangan
antara Ikhtiar dan Tawakal
Pemahaman
terhadap kedua jenis taqdir ini menuntun kita untuk bersikap seimbang antara
ikhtiar dan tawakal. Imam Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah menyebutkan bahwa “tawakal
yang benar adalah menggabungkan usaha lahir dengan penyerahan total kepada
Allah dalam hasilnya.” Oleh karena itu, seorang Muslim tidak boleh berpangku
tangan dengan alasan sudah ditakdirkan, karena Allah memerintahkan untuk
berusaha.
Rasulullah
shallallâhu ‘alaihiwa sallam bersabda:
“Bersemangatlah
terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan
kepada Allah, dan jangan lemah.”
Makna
hadits ini mengandung pesan moral bahwa keimanan terhadap takdir justru harus
memperkuat semangat hidup, bukan melemahkannya. Taqdir adalah sistem ilahi yang
memberikan ruang bagi usaha manusia di bawah kehendak Allah.
Dimensi
Filosofis dan Spiritual
Dari
perspektif filsafat Islam, taqdir mencerminkan harmoni antara kehendak Tuhan
dan kebebasan manusia. Al-Farabi dan Ibn Sina menafsirkan qadar sebagai prinsip
kausalitas universal yang tidak meniadakan kebebasan manusia, karena kebebasan
itu sendiri merupakan bagian dari sistem kehendak Allah. Secara spiritual,
pemahaman terhadap taqdir melahirkan ketenangan batin (ithmi’nân). Orang yang
beriman kepada takdir tidak mudah berputus asa dalam kesulitan, karena yakin
bahwa segala sesuatu telah diatur oleh Allah dengan hikmah. Seperti firman-Nya
كُتِبَ
عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا
وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ
وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَࣖ ٢١٦
Artinya
: Diwajibkan atasmu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu
buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. QS
al-Baqarah [2] 216.
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
Oleh : Dr. Muhsin Hariyanto, M.Ag.
Sumber : https://pusatstudi.umy.ac.id/
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Oleh : Dr. Muhsin Hariyanto, M.Ag.
Sumber : https://pusatstudi.umy.ac.id/
Edit: Ndik
#NgajiBareng
Tidak ada komentar:
Posting Komentar