Menu

Selasa, 06 Januari 2026

TAKDIR ALLAH

MENGGALI MAKNA TAKDIR ALLAH
“Antara Yang Mubram Dan Mu’allaq”

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Saudaraku....!

Hari ini Rabu 18 Rajab1447 H /7 Januari 2026

Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.

Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.

Hadirin yang dirahmati Allah....

Menggali makna takdir Allah (Qada dan Qadar) berarti memahami bahwa segala sesuatu adalah ketetapan dan ukuran Allah SWT, tetapi tidak menghilangkan kehendak dan usaha manusia. Makna utamanya adalah meyakini bahwa Allah memiliki pengetahuan dan kehendak penuh atas segala sesuatu, tetapi manusia bertanggung jawab atas pilihannya, pentingnya untuk berusaha dan berdoa, serta meningkatkan rasa syukur dan sabar dalam menghadapi segala kondisi. 

Konsep taqdir (takdir) merupakan salah satu pokok keimanan dalam Islam yang termasuk dalam rukun iman keenam, yaitu beriman kepada qadha dan qadar.

Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:

اِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنٰهُ بِقَدَرٍ ۝٤٩

Artinya : “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (ketentuan).” (QS al-Qamar [54]: 49)

Ayat ini menegaskan bahwa segala sesuatu di alam semesta berjalan sesuai dengan ketetapan Allah. Namun, pemahaman terhadap taqdir seringkali menimbulkan persoalan teologis dan praktis: “apakah manusia sepenuhnya pasif di hadapan taqdir Allah, ataukah memiliki kebebasan untuk berusaha mengubahnya?”

Ulama menjelaskan bahwa taqdir terbagi menjadi dua jenis, yakni:
mubram (mutlak, pasti terjadi) dan mu‘allaq (tergantung pada sebab atau syarat tertentu). Pemahaman yang seimbang terhadap keduanya penting agar seorang Muslim tidak terjerumus pada fatalisme (jabariyyah) atau penolakan terhadap kehendak ilahi (qadariyyah).

Tinjauan Konseptual: Qadha dan Qadar

Istilah qadha berarti keputusan atau ketetapan Allah yang telah pasti, sedangkan qadar berarti ukuran, batas, atau kadar yang ditentukan oleh Allah bagi setiap makhluk.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Ialah) engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.”

Dari hadits ini jelas bahwa iman kepada qadar mencakup keyakinan bahwa semua yang terjadi berada dalam pengetahuan dan kehendak Allah. Namun demikian, Allah juga memberi ruang bagi manusia untuk berikhtiar, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:


لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ ۝١١

Artinya : “Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara bergiliran dari depan dan belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS ar-Ra‘d [13]: 11)

Klasifikasi Taqdir: Mubram dan Mu‘allaq

1. Taqdir Mubram

Taqdir mubram adalah ketetapan Allah yang sudah pasti terjadi dan tidak dapat diubah oleh siapa pun. Ia merupakan bagian dari ilmu Allah yang azali dan tercatat di Lauh al-Mahfûzh. Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa taqdir mubram mencakup hal-hal yang menjadi kepastian mutlak, seperti ajal seseorang, jenis kelamin, dan peristiwa besar yang menjadi bagian dari kehendak universal Allah.

Dalilnya antara lain firman Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ:

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَاۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ ۝٢٢

Artinya : “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfûzh) sebelum Kami menciptakannya.” (QS al-Hadîd [57]: 22)

Ayat ini menunjukkan bahwa sebagian ketentuan Allah bersifat absolut dan tidak dapat berubah, karena sudah menjadi bagian dari kehendak ilahi yang sempurna.

2. Taqdir Mu‘allaq

Sebaliknya, taqdir mu‘allaq adalah ketetapan yang bergantung pada sebab atau amal tertentu. Dengan kata lain, Allah menulis dalam catatan-Nya bahwa sesuatu akan terjadi jika manusia melakukan sebabnya. Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani mencontohkan dengan sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam:

“Seseorang itu terhalang dari rezeki karena dosa yang dilakukannya, tidak ada yang menolak takdir selain doa dan tidak ada yang menambahi umur selain kebaikan.”

Hadits ini menjelaskan bahwa doa dan amal saleh dapat menjadi sebab perubahan kondisi yang telah ditetapkan secara mu‘allaq. Artinya, manusia tetap memiliki ruang untuk berikhtiar di dalam sistem ketetapan Allah yang Maha Mengetahui segalanya.

Keseimbangan antara Ikhtiar dan Tawakal

Pemahaman terhadap kedua jenis taqdir ini menuntun kita untuk bersikap seimbang antara ikhtiar dan tawakal. Imam Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah menyebutkan bahwa “tawakal yang benar adalah menggabungkan usaha lahir dengan penyerahan total kepada Allah dalam hasilnya.” Oleh karena itu, seorang Muslim tidak boleh berpangku tangan dengan alasan sudah ditakdirkan, karena Allah memerintahkan untuk berusaha.

Rasulullah shallallâhu ‘alaihiwa sallam bersabda:

“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan
kepada Allah, dan jangan lemah.”

Makna hadits ini mengandung pesan moral bahwa keimanan terhadap takdir justru harus memperkuat semangat hidup, bukan melemahkannya. Taqdir adalah sistem ilahi yang memberikan ruang bagi usaha manusia di bawah kehendak Allah.

Dimensi Filosofis dan Spiritual

Dari perspektif filsafat Islam, taqdir mencerminkan harmoni antara kehendak Tuhan dan kebebasan manusia. Al-Farabi dan Ibn Sina menafsirkan qadar sebagai prinsip kausalitas universal yang tidak meniadakan kebebasan manusia, karena kebebasan itu sendiri merupakan bagian dari sistem kehendak Allah. Secara spiritual, pemahaman terhadap taqdir melahirkan ketenangan batin (ithmi’nân). Orang yang beriman kepada takdir tidak mudah berputus asa dalam kesulitan, karena yakin bahwa segala sesuatu telah diatur oleh Allah dengan hikmah. Seperti firman-Nya (QS al-Baqarah [2] 216:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَࣖ ۝٢١٦

Artinya : Diwajibkan atasmu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. QS al-Baqarah [2] 216.

Wallahu'alam Bishshowab

Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.

Barakallah ..... semoga bermanfaat
Oleh : 
Dr. Muhsin Hariyanto, M.Ag.
Sumber : 
https://pusatstudi.umy.ac.id/

-----------------NB----------------

Saudaraku...!

Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :

Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.

Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa  Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.

Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. 

Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit &  kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.

Yaa Allah... Yaa Robbana...! Ijabahkanlah Do'a-do'a kami, Tiada daya dan upaya kecuali dengan Pertolongan-MU, karena hanya kepada-MU lah tempat Kami bergantung dan tempat Kami memohon Pertolongan.

ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم

آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين

وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ

🙏🙏



Oleh : Dr. Muhsin Hariyanto, M.Ag.
Sumber : 
https://pusatstudi.umy.ac.id/

Edit:  Ndik

#NgajiBareng

Tidak ada komentar:

Posting Komentar