Menu

Minggu, 01 Februari 2026

HAKIKAT UJIAN

HAKIKAT UJIAN : SABAR DAN SYUKUR SEJATI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Saudaraku....!

Hari ini Senin 14 Sya'ban 1447 H /2 Februari 2026

Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.

Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.

Hadirin yang dirahmati Allah....

Baik nikmat maupun musibah adalah ujian Allah. Kesenangan sering lebih sulit dihadapi daripada kesulitan. Sabar dalam susah dan syukur dalam senang adalah pilar iman sejati seorang mukmin.

Perjalanan hidup seorang mukmin ibarat pelayaran di samudra luas, penuh gelombang ujian yang tak terduga. Seringkali kita hanya membayangkan ujian sebagai kesulitan, penderitaan, atau kekurangan. Namun, pernahkah kita merenungkan bahwa puncak-puncak kenikmatan, limpahan rezeki, dan segala bentuk kesenangan pun sejatinya adalah ujian yang tak kalah berat, bahkan mungkin lebih menantang? Inilah hakikat mendalam yang diajarkan dalam Islam: setiap karunia dan setiap musibah, keduanya menuntut kesabaran dan rasa syukur yang tulus dari lubuk hati.

Memang, bersabar saat ditimpa kesusahan adalah suatu kejelasan yang mudah diterima akal dan hati. Namun, kesabaran dalam lingkaran kesenangan, yaitu kesabaran untuk tetap istiqamah dalam ketaatan dan tidak terlena oleh gemerlap dunia, seringkali terabaikan. Para ulama salafush shalih, pendahulu kita yang mulia, pernah berkata, “Kami telah diuji dengan kesusahan dan kami mampu bersabar. Namun, kami telah diuji dengan kesenangan, ternyata kami tidak mampu bersabar.” Sebuah pengakuan yang jujur, menggambarkan betapa tipisnya batas antara kenikmatan dan kelalaian.

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam pun mengajarkan kita untuk waspada terhadap segala bentuk ujian. Beliau bersabda, “Aku berlindung kepada-Mu dari ujian kefakiran dan dari keburukan ujian kekayaan.” 

Hadis ini menunjukkan bahwa baik kefakiran maupun kekayaan, keduanya mengandung potensi keburukan jika tidak dihadapi dengan iman yang teguh. Seringkali kefakiran, meski pahit, justru menjadi penempa jiwa, memperbaiki keadaan banyak manusia dengan mengajari mereka rendah hati dan bergantung hanya kepada Allah. Sebaliknya, kekayaan, bila tidak disikapi dengan bijak, bisa menjadi hijab yang tebal dari ketaatan dan rasa syukur. Tak heran jika sejarah mencatat, mayoritas penghuni surga justru datang dari kalangan yang bersahaja, sebab ujian kefakiran cenderung lebih ringan bebannya.

Al-Quran, petunjuk hidup kita, juga mengabadikan gambaran tentang respons manusia terhadap ujian ini. Allah SWT berfirman dalam Surah Hud ayat 9-11

وَلَىِٕنْ اَذَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً ثُمَّ نَزَعْنٰهَا مِنْهُۚ اِنَّهٗ لَيَـُٔوْسٌ كَفُوْرٌ ۝٩

9. Sungguh, jika Kami cicipkan kepada manusia suatu rahmat dari Kami kemudian Kami cabut kembali darinya, sesungguhnya dia menjadi sangat berputus asa lagi sangat kufur (terhadap nikmat Allah).

وَلَىِٕنْ اَذَقْنٰهُ نَعْمَاۤءَ بَعْدَ ضَرَّاۤءَ مَسَّتْهُ لَيَقُوْلَنَّ ذَهَبَ السَّيِّاٰتُ عَنِّيْۗ اِنَّهٗ لَفَرِحٌ فَخُوْرٌۙ ۝١٠

10. Sungguh, jika Kami cicipkan kepadanya (manusia) suatu nikmat setelah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata, “Telah hilang keburukan itu dariku.” Sesungguhnya dia sangat gembira lagi sangat membanggakan diri.

اِلَّا الَّذِيْنَ صَبَرُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ كَبِيْرٌ ۝١١

11. Kecuali, orang-orang yang sabar dan beramal saleh, bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.

Ayat ini dengan jelas menyoroti kecenderungan manusia untuk lupa diri dalam kesenangan dan putus asa dalam kesusahan, kecuali mereka yang memiliki pondasi kesabaran dan amal saleh.

Dari sini, kita memahami bahwa bersabar dalam musibah dan bersyukur dalam nikmat adalah dua pilar kewajiban seorang mukmin yang tak terpisahkan. Keduanya bagaikan dua sisi mata uang yang harus selalu ada. Meninggalkan salah satunya bisa berujung pada sanksi dan kerugian di hadapan Allah. 

Bahkan dalam kondisi senang, kesabaran bisa berbentuk menahan diri dari godaan syahwat yang mubah sekalipun, menjadikannya sunnah, atau bahkan wajib bila berkaitan dengan hak-hak Allah. Dan di tengah kesusahan, meskipun bukan sunnah untuk bersyukur atas musibah itu sendiri, sedikitnya rasa syukur atas hikmah di baliknya, ditambah kesabaran, akan mendatangkan ampunan dan keberkahan.

Sungguh, setiap ketetapan Allah, baik yang terlihat sebagai kebaikan maupun yang dirasa sebagai kesulitan, adalah nikmat dan bagian dari rencana-Nya yang sempurna. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh Syaikh Ibn Taimiyyah, Allah Maha Mengetahui hikmah di balik setiap peristiwa, sementara kita hanya memiliki sedikit pengetahuan. Maka, mari kita senantiasa memohon kekuatan untuk bersabar dalam setiap ujian dan bersyukur atas setiap karunia, karena sejatinya, semua yang datang dari Allah adalah anugerah terindah bagi hamba-Nya yang beriman.

Wallahu'alam Bishshowab

Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.

Barakallah ..... semoga bermanfaat

-----------------NB----------------

Saudaraku...!

Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :

Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.

Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa  Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.

Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. 

Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit &  kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.

Yaa Allah... Yaa Robbana...! Ijabahkanlah Do'a-do'a kami, Tiada daya dan upaya kecuali dengan Pertolongan-MU, karena hanya kepada-MU lah tempat Kami bergantung dan tempat Kami memohon Pertolongan.

ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم

آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين

وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ

🙏🙏



Artikel Abah Luky
Edit:  Ndik

#NgajiBareng

Tidak ada komentar:

Posting Komentar