SABAR DAN SYUKUR,
IBARAT DUA SISI MATA UANG ATAU DUA JALAN YANG BERLAWANAN?
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Selasa15 Sya'ban 1447 H /3 Februari 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Hidup
adalah panggung ujian, tempat di mana manusia menari di antara takdir yang
telah tergariskan. Ada saatnya kebahagiaan menyapa, menghadirkan tawa dan
kehangatan yang meresap hingga ke dasar hati. Namun, ada pula saat di mana
langit terasa begitu kelam, langkah terasa berat, dan harapan seakan menjadi
kabut yang enggan sirna.
Di
sanalah, manusia berdiri di persimpangan, antara bertahan atau menyerah, antara
meratap atau mencari makna, antara tenggelam dalam kepedihan atau menemukan
kekuatan untuk bangkit.
Kita
semua pernah merasakan detik-detik di mana hati seakan remuk, napas terasa
sesak, dan dunia seolah menyempit dalam genggaman takdir yang tak bisa ditolak.
Ada luka yang tak kasatmata, tetapi pedihnya lebih dalam dari sayatan belati.
Ada duka yang tak bersuara, tetapi getarnya meruntuhkan ketegaran. Ada
kelelahan yang tak terucap, tetapi mengguncang jiwa hingga nyaris rebah.
Di
zaman ini, depresi dan stres bukan lagi sekadar istilah psikologis, melainkan
fenomena yang menjalar ke dalam jiwa banyak manusia. Ia datang tanpa permisi,
menyelinap ke dalam batin yang lelah, mengikis harapan, dan merampas
kebahagiaan dalam diam. Ia hadir dalam sunyi, menciptakan ruang gelap di mana
pikiran terus bertarung dengan keresahan yang tak berkesudahan.
Namun,
Islam tidak membiarkan manusia terperangkap dalam kesedihan yang
berkepanjangan. Islam adalah agama yang menawarkan kehangatan dalam dinginnya
kesepian, ketenangan dalam riuhnya kegelisahan, dan harapan dalam pekatnya
keputusasaan.
Di
antara jutaan solusi yang ada, Islam menghadirkan dua kunci utama yang mampu
menenangkan jiwa dan menguatkan hati: sabar dan syukur.
Sabar:
Pilar Keteguhan di Tengah Badai
Sabar bukanlah tanda kelemahan, bukan pula bentuk kepasrahan tanpa daya. Sabar adalah seni ketahanan jiwa, kekuatan untuk tetap teguh di tengah badai, ketenangan yang lahir dari keyakinan bahwa di balik kepedihan, ada hikmah, di balik ujian, ada kemuliaan; dan di balik air mata, ada cahaya yang menanti di ujung jalan. Allah SWT. berfirman:
وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Artinya : "Dan bersabarlah! Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang
sabar." (QS. Al-Anfal [8]: 46)
Sabar
adalah nafas panjang dalam menghadapi kenyataan yang tak selalu sesuai harapan.
Ia bukan sekadar bertahan, tetapi juga keyakinan bahwa setiap kesulitan akan
berakhir, setiap luka akan sembuh, dan setiap malam yang gelap akan diikuti
oleh fajar yang terang. Rasulullah SAW.bersabda:
وَاعْلَمْ أَنَّ فِي الصَّبْرِ عَلَى مَا تَكْرَهُ خَيْرًا كَثِيرًا
"Ketahuilah, bahwa dalam kesabaran atas sesuatu yang tidak kamu sukai
terdapat banyak kebaikan." (HR. Ahmad)
Dalam
keheningan malam, dalam sujud yang panjang, dalam doa yang lirih terucap, sabar
menjadi jembatan yang menghubungkan manusia dengan Rabb-nya.
Ia
mengajarkan bahwa kehidupan ini hanyalah perjalanan sementara, dan setiap ujian
adalah cara Allah menguatkan hati hamba-hamba-Nya yang terpilih.
Syukur:
Cahaya di Tengah Kegelapan
Jika
sabar adalah benteng ketahanan, maka syukur adalah mata air yang menyegarkan.
Syukur bukan hanya tentang menerima nikmat, tetapi juga kemampuan melihat
cahaya di tengah kegelapan, menemukan harapan di antara reruntuhan, dan
memahami bahwa setiap detik kehidupan adalah anugerah yang tak ternilai. Allah
berjanji dalam firman-Nya:
وَإِذْ
تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
Artinya
: "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu
bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu’." (QS. Ibrahim [14]:
7)
Syukur
bukan sekadar ungkapan lisan, tetapi sebuah cara pandang, sebuah sikap hidup,
sebuah energi yang menghidupkan jiwa. Ia mengajarkan bahwa bahkan di saat
tersulit, selalu ada sesuatu yang patut disyukuri: napas yang masih berhembus,
langkah yang masih mampu diayunkan, senyum yang masih bisa diberikan, dan doa
yang masih bisa dilantunkan.
Dalam sebuah hadits , Rasulullah SAW. pernah ditanya mengapa beliau tetap mendirikan shalat malam hingga kakinya bengkak, padahal beliau telah dijamin masuk surga. Beliau menjawab:
أَفَلاَ
أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
Artinya
: "Tidakkah aku menjadi hamba yang bersyukur?" (HR. Bukhari &
Muslim)
Syukur
bukan berarti tidak merasakan kesedihan, tetapi kemampuan untuk tetap menemukan
makna di balik setiap peristiwa.
Ia
adalah kekuatan yang membuat hati tetap tenang meski badai menerjang, karena
jiwa yang bersyukur selalu menemukan cara untuk melihat keindahan dalam setiap
kepingan takdir.
Sabar
dan Syukur: Dua Sayap Menuju Ketenangan
Seperti
burung yang membutuhkan dua sayap untuk terbang, manusia membutuhkan sabar dan
syukur untuk menjalani kehidupan dengan keseimbangan. Jika sabar adalah cara
menghadapi kesulitan dengan keteguhan, maka syukur adalah cara merayakan
kehidupan dengan penuh penerimaan.
Keduanya
tidak bisa dipisahkan. Tanpa sabar, manusia akan mudah rapuh dalam menghadapi
ujian. Tanpa syukur, manusia akan terus merasa kurang dan kehilangan makna
kebahagiaan.
Dalam
keselarasan antara sabar dan syukur, kita menemukan ketenangan yang hakiki,
kebahagiaan yang sejati, dan keikhlasan yang mendalam.
Menghampiri
Cahaya di Tengah Gelap
Jika
hari ini langkah terasa berat, jika hati terasa sesak, jika air mata mengalir
tanpa suara, ketahuilah bahwa kita tidak sendiri. Allah tidak pernah
meninggalkan hamba-Nya tanpa jalan keluar.
Dalam
sabar, kita menemukan kekuatan. Dalam syukur, kita menemukan ketenangan.
Maka,
mari kita resapi makna mendalam dari dua kunci kehidupan ini. Mari kita
tenangkan hati dengan keindahan sabar, dan kita hidupkan jiwa dengan cahaya
syukur. Karena dalam setiap ujian, selalu ada hikmah.
Dalam
setiap luka, selalu ada pelajaran. Dan dalam setiap kesedihan, selalu ada
rahmat yang tersembunyi.
Hidup
ini terlalu singkat untuk dihabiskan dalam keterpurukan. Mari kita jalani
setiap detiknya dengan kesadaran, dengan kebijaksanaan, dengan hati yang luas
menerima takdir, dan dengan jiwa yang selalu bersyukur.
Karena pada akhirnya, ketenangan sejati bukanlah tentang apa yang terjadi di luar diri kita, tetapi tentang bagaimana kita menyikapinya.
Dalam
kehidupan, manusia tak terlepas dari ujian, kesulitan, dan tantangan yang dapat
memicu stres dan depresi.
Dalam
menghadapi kondisi ini, Islam menawarkan dua konsep utama yang menjadi solusi
mendasar: sabar dan syukur.
Sabar
menjadi benteng
ketahanan mental dalam menghadapi kesulitan, sedangkan syukur menjadi
energi positif yang menguatkan jiwa untuk tetap optimis.
Islam,
sebagai agama yang sempurna, memberikan panduan holistik untuk mengelola
kesehatan mental dengan mengaitkan aspek spiritual dan psikologis.
Banyak
dalil dalam Al-Qur’an dan hadits yang menjelaskan bagaimana sabar dan syukur
dapat menjadi terapi jiwa dalam menghadapi tekanan hidup. Artikel ini akan
mengupas konsep tersebut secara mendalam dengan pendekatan filosofis, analitis,
dan solutif.
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Sumber: https://uin-alauddin.ac.id/
Oleh : Prof. Dr. H. Munawir K., S.Ag., M.Ag.
Edit: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar