Menu

Sabtu, 31 Januari 2026

KESABARAN DALAM ISLAM

KESABARAN DALAM ISLAM : PILAR KEKUATAN MENUJU KEMENGAN SEJATI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Saudaraku....!

Hari ini Ahad 13 Sya'ban 1447 H /1 Februari 2026

Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.

Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.

Hadirin yang dirahmati Allah....

Kesabaran (sabar) dalam Islam adalah inti kekuatan batin untuk menahan diri, bersyukur, dan tetap teguh dalam ketaatan, menjauhi maksiat, serta menghadapi musibah, yang merupakan ujian iman dan kunci meraih pertolongan Allah, pahala tanpa batas, dan surga, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW dalam berbagai aspek kehidupan seperti ibadah, sosial, dan menghadapi godaan dunia, menjadikannya akhlak mulia yang menguatkan hubungan dengan Allah dan sesama. 

Kesabaran adalah kekuatan Ilahiah dan pilar utama dalam Islam dalam menghadapi ujian hidup.

Dalam setiap lembaran kehidupan, kita seringkali dihadapkan pada ujian dan tantangan yang menguras tenaga dan jiwa. Layaknya seorang musafir yang meniti jalan berliku, perjalanan iman pun tak pernah luput dari cobaan yang menguji keteguhan hati. Di sinilah kesabaran hadir sebagai pilar utama, bukan sekadar respons pasif terhadap kesulitan, melainkan sebuah kekuatan ilahiah yang menggerakkan kita maju, menjanjikan kemenangan hakiki di setiap sudut perjuangan. Ia adalah mutiara berharga yang memancarkan cahaya di tengah kegelapan, penuntun jiwa menuju ridha-Nya.

Spirit kesabaran ini begitu mendalam dalam ajaran Islam, bahkan menjadi prasyarat penting dalam menghadapi berbagai “Pertempuran” hidup, baik yang bersifat fisik maupun batin. Al-Qur’an secara tegas mengingatkan kita, sebagaimana firman-Nya : 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا لَقِيْتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوْا وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَۚ ۝٤٥

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (QS. Al-Anfal : 45).

Ayat diatas bukan hanya seruan untuk medan perang, melainkan juga panduan universal bahwa Dzikrullah dan Keteguhan Hati adalah kunci keberuntungan. Sejalan dengan itu, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam juga menanamkan optimisme, “Kemenangan itu setelah kesabaran, kebahagiaan itu setelah kegalauan, dan sungguh ada kemudahan beserta kesulitan.” Sebuah janji yang menghibur dan menguatkan.

Sungguh, nilai kesabaran ini begitu agung di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sehingga Dia memberikan pujian istimewa bagi mereka yang sanggup menanggungnya dengan lapang dada. Dalam firman-Nya : “Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 177). 

Ayat ini menegaskan bahwa kesabaran adalah bukti kebenaran iman dan ketakwaan, sebuah mahkota kemuliaan yang menghiasi jiwa-jiwa pilihan. Ia adalah manifestasi nyata dari penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendak Ilahi.

Kesabaran menjadi semakin krusial tatkala badai ujian menerpa, ketika semangat mulai mengendur, dan godaan untuk menyerah merayap masuk. Seperti dalam kisah Perang Uhud dan Hunain, di mana kaum muslimin menghadapi titik kritis, keberanian para sahabat yang menjadikan diri mereka tameng bagi Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam adalah bukti nyata kesabaran yang tak tergoyahkan. Sejarah para nabi terdahulu pun mengajarkan hal serupa. Allah berfirman (QS. Ali-Imran : 146)

وَكَاَيِّنْ مِّنْ نَّبِيٍّ قٰتَلَۙ مَعَهٗ رِبِّيُّوْنَ كَثِيْرٌۚ فَمَا وَهَنُوْا لِمَآ اَصَابَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَمَا ضَعُفُوْا وَمَا اسْتَكَانُوْاۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الصّٰبِرِيْنَ ۝١٤٦

Artinya : Betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut(-nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat, dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah mencintai orang-orang yang sabar. (QS. Ali-Imran : 146). 

Ini adalah potret keteguhan yang abadi. Kisah Nabi Thalut dan pasukannya menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya menguji kesabaran sebelum menghadapi tantangan besar. Saat melintasi sungai, Thalut menetapkan ujian sederhana : “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menciduk tangan, maka dia adalah pengikutku.” (QS. Al-Baqarah : 249). 

Ujian ini bukan sekadar tentang air, melainkan tentang disiplin diri dan keteguhan iman. Hanya sedikit yang lulus, menunjukkan bahwa kesabaran dalam perkara kecil adalah fondasi kesabaran dalam perjuangan yang lebih besar, menegaskan pentingnya pendidikan spiritual sebelum memasuki medan jihad yang sesungguhnya.

Kelompok kecil yang lulus ujian Thalut inilah yang menunjukkan ketabahan luar biasa. Mereka yang memahami bahwa pertolongan Allah tak terbatas pada jumlah pasukan, melainkan pada keikhlasan dan kesabaran. Ketika menghadapi musuh yang jauh lebih besar, mereka berdoa, “Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah : 250). 

Doa ini adalah cerminan keyakinan mendalam bahwa dengan kesabaran dan pertolongan-Nya, golongan yang sedikit pun bisa mengalahkan yang banyak. Marilah kita jadikan kesabaran sebagai bekal utama dalam setiap langkah hidup, percaya bahwa setiap kesulitan pasti beriringan dengan kemudahan, dan kemenangan sejati menanti mereka yang teguh dalam kesabaran.

Wallahu'alam Bishshowab

Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.

Barakallah ..... semoga bermanfaat

-----------------NB----------------

Saudaraku...!

Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :

Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.

Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa  Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.

Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. 

Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit &  kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.

Yaa Allah... Yaa Robbana...! Ijabahkanlah Do'a-do'a kami, Tiada daya dan upaya kecuali dengan Pertolongan-MU, karena hanya kepada-MU lah tempat Kami bergantung dan tempat Kami memohon Pertolongan.

ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم

آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين

وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ

🙏🙏



Artikel Abah Luky
Edit:  Ndik

#NgajiBareng

Tidak ada komentar:

Posting Komentar