BERBEKALLAH UNTUK KEHIDUPAN YANG ABADI
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Jum'at 21 Syawal 1447 H /10 April 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
KHOTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ
مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا
مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ
الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا
زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي
تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ
وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا
بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ
إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Jamaah Jum’ah yang dirahmati Allah,
Dari
berbagai macam urusan dan persoalan yang menyibukkan manusia, ada satu hal yang
hendaknya kita benar-benar memperhitungkannya yaitu tentang nasib kita nanti
dalam kehidupan sesudah mati. Apakah kita akan selamat atau celaka.
Hidup
ini singkat. Kita akan mati dan sesudahnya akan memasuki kehidupan yang abadi.
Pada akhirnya kita akan berada dalam salah satu dari dua kondisi yang sangat
ekstrim. Apakah kita akan selamat, dimasukkan Allah ke dalam surga, merasakan
kebahagiaan yang abadi selamanya tanpa batas.
Atau
celaka, masuk ke dalam neraka untuk merasakan penderitaan yang abadi, selamanya
tanpa batas. Tidak ada urusan yang lebih penting dari itu. Tidak ada persoalan
yang lebih serius dari itu.
Sekali
waktu berkunjunglah ke kuburan dan perhatikan yang tertulis di batu nisan. Ada
nama, tanggal lahir dan tanggal kematian. Itulah umurnya di dunia.
Perhatikan
kembali kapan ia meninggal, sudah berapa lama ia dikubur. Ada yang sudah
puluhan tahun, ratusan tahun, bahkan ribuan tahun. Mereka hidup di alam kubur
jauh lebih lama daripada usia hidupnya di dunia.
Ada
yang baru sehari dikuburkan, tetapi ia tidak tahu berapa puluh, ratus, ribu
tahun lagi ia harus menunggu sampai kiamat tiba.
Dan,
tibanya hari kiamat bukan akhir, tetapi fase kehidupan berikutnya. Alam kubur
hanya pengantar untuk memasuki kehidupan akhirat yang abadi.
Jama’ah Jum’ah yang Dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala
Coba
kita renungkan, seratus tahun atau dua ratus tahun yang akan datang kita akan
menjadi orang yang dilupakan, sendiri dalam kesepian di alam kubur.
Tidak
ada lagi manusia di permukaan bumi yang masih mengingat kita. Tidak ada lagi
anak, cucu, dan keturunan kita yang mengirimkan doa ampunan untuk kita.
Keluarga
kita, anak, cucu, teman-teman dan para tetangga mereka juga sedang meratapi
nasib yang sama di alam kubur. Rumah, tanah, dan semua aset yang dulu kita
miliki sudah berpindah tangan ke pemilik baru yang bahkan sama sekali tidak
mengenal kita.
Mereka
tidak peduli bagaimana dulu kita berjuang untuk mendapatkannya. Apa yang dulu
kita banggakan dan kita kenang sebagai prestasi dengan mudah mereka membuang
dan mencampakknya. Pada saat itu mungkin kita sedang menyesali segala kesibukan
yang kita jalani hari ini.
Karena
itu, sebelum semuanya terjadi, hendaknya kita merenungkan kembali kehidupan
kita hari ini agar tidak menyesali kehidupan kita nanti. Inilah kesempatan
untuk menentukan nasib kita di akhirat.
Di
dunia inilah segala sesuatunya harus kita siapkan. Kehidupan akhirat sepenuhnya
tergantung bagaimana kita menjalani kehidupan dunia ini. Hidup ibarat sebuah
perjalanan, maka berbekallah.
Kalau
hendak pergi sehari, setidaknya kita siapkan bekal untuk keperluan perjalanan
sehari. Kalau kita hendak pergi sepekan, siapkan bekal untuk perjalanan
sepekan.
Kalau
kita hendak pergi sebulan, siapkan bekal untuk perjalanan sebulan. Kekurangan
bekal akan membuat kita mengalami kesulitan dalam perjalanan.
Tetapi
ada yang lebih berat lagi, kalau kita salah memilih bekal. Apa yang kita anggap
bekal justru menjadi beban yang memberatkan perjalanan. Maka berbekallah, dan
pandai-pandailah memilih bekal.
Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah Ayat 197:
وَتَزَوَّدُواْ
فَإِنَّ خَيۡرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ
“Dan
berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah
kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”
Perjalanan
ke akhirat bukan perjalanan sehari atau dua hari, bukan sebulan atau dua bulan,
tetapi perjalanan untuk selamanya tanpa pernah kembali lagi dalam kehidupan
dunia.
Maka
sejatinya dunia ini hanyalah tempat mencari bekal untuk kehidupan yang abadi.
Jika kita menginginkan kehidupan dunia maka kita mencarinya di dunia ini.
Jika
kita menginginkan kehidupan akhirat, maka kita harus mencarinya di dunia ini.
Semuanya harus kita siapkan saat ini, di dunia ini. Tidak ada lagi kesempatan
di akhirat nanti.
Maka
kita harus memastikan bahwa semua yang kita miliki dan semua usaha dan jerih
payah kita akan menjadi bekal untuk perjalanan akhirat.
Harta
yang kita miliki yang kita mendapatkannya dengan susah payah, penuh resiko,
pengorbanan, dan perjuangan jangan sampai menjadi beban akhirat.
Jama’ah Jum’ah yang Dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala
Harta
memang akan kita tinggal di dunia ketika mati tetapi jangan sampai sia-sia.
Jauh lebih baik kita mati meninggalkan harta yang berguna bagi yang hidup dan
menjadi kendaraan yang mengantarkan kita ke surga dibandingkan jika kita mati
meninggalkan utang yang menyusahkan yang hidup dan memberatkan pengadilan
akhirat.
Maka
hendaknya kita mempertanyakan kembali, harta kita bekal atau beban akhirat?
Kita hitung kembali dengan jujur, kita audit ulang, bahkan berulang-ulang, dari
mana kita mendapatkannya dan ke mana kita membelanjakannya.
Nabi shallallaahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
لاَ تَزُولُ
قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ
وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ
وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ
“Tidak
akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia
ditanya tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia
mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana
dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya” (HR. Tirmidzi).
Juga
dengan pekerjaan kita. Hendaknya kita merenungkan kembali, apakah pekerjaan
kita itu mendekatkan ke surga atau justru akan menjerumuskan kita ke neraka.
Hal yang terpenting bukan berapa besar gaji yang kita dapatkan atau berapa
besar peluang dan keuntungan dari usaha kita, tetapi halal atau haram.
Kita
harus menjadikan pekerjaan itu sebagai sarana ibadah dan amal saleh sehingga
setiap tetes keringat dan semua sakit dan lelah dalam bekerja menjadi catatan
amal kebaikan yang menambah bekal perjalanan akhirat.
Juga
keluarga kita. Anak istri yang menemani kita di dunia mereka juga yang kita
harapkan membersamai menjadi keluarga di surga. Jangan sampai anak-anak kita
menjadi beban akhirat yang menyeret kita ke neraka.
Kita
akan mendidik keluarga kita sebaik-baiknya menjadi keluarga yang tunduk dan
taat kepada Allah. Anak-anak yang saleh itulah yang akan mengantarkan kita ke
surga.
Dan
juga teman-teman kita, saudara-saudara kita, tetangga-tetangga kita. Mereka
akan bersaksi tentang kita. Ada saksi memberatkan, ada saksi meringankan.
Maka
kita akan bergaul dengan manusia dengan kebaikan-kebaikan, menunaikan apa yang
menjadi hak sesama muslim, menghindari segala bentuk kedzaliman agar mereka
senantiasa mendoakan kita setelah kematian kita dan di akhirat menjadi saksi
atas semua kebaikan kita.
Setiap
waktu yang berlalu semakin mendekatkan kita pada batas akhir kehidupan. Kita
harus memastikan setiap detiknya menambah produktifitas amal kita.
Jangan
sampai kita menyesal di akhirat karena kurangnya bekal kebaikan, apalagi kalau
harus ditambah beban tanggung jawab yang memberatkan.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا
فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ
إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ
الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHOTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ
فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ
اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ
بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ
وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم
الدين. أما بعد
فَيَاأَيُّهَا
النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ
يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا
صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ.
وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ
عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ
اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ.
وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ
وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ
Do’a
Penutup
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ
ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ
مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ
سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ
تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا
اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ
اَللّٰهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ
الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ
عِبَادِكَ. اَللّٰهُمَّ اكْشِفْ الغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ
أَنْ تَرْفَعَ الْبَلَاءَ عَنْ غَزَّةَ وَأَهْلِهَا، وَأَنْ تَنْصُرَهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ،
وَأَنْ تَرْحَمَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ، وَأَنْ تَكْشِفَ الْغُمَّةَ عَنْ
أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ عَافِنَا وَالْطُفْ بِنَا وَاحْفَظْنَا وَانْصُرْنَا وَفَرِِّجْ
عَنَّا وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا وَإِيَّاهُمْ جَمِيْعًا شَرَّ مَصَائِبِ
الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ
وَصَلَّى
اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ
رَبّ الْعَالَمِيْنَ
!عِبَادَاللهِ
إِنَّ اللهَ
يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ
اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ
أَكْبَرْ
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Editing: Ndik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar