AKIBAT LALAI TERHADAP WAKTU
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Selasa 20 Jumadil-Ula 1447 H /11 November 2025
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Kematian
vs. kelalaian adalah istilah yang berkaitan dengan konsekuensi hukum dari suatu
peristiwa, di mana "kelalaian" adalah tindakan atau kelalaian yang
menyebabkan "kematian". Kelalaian adalah kegagalan untuk bertindak
dengan hati-hati yang wajar, yang menyebabkan cedera atau kematian pada orang
lain.
Kematian vs. kelalaian
Bagi
seorang muslim yang meninggal dalam ketaatan, kematian adalah pintu menuju
kehidupan abadi yang penuh kenikmatan. Kematian justru menjadi persinggahan
menuju surga. Sebaliknya, kelalaian dalam menghabiskan waktu adalah benih-benih
yang akan menuai kesengsaraan, baik di dunia (gelisah, tidak berkah) maupun di
akhirat (penyesalan dan azab).
Kematian
bukanlah akhir, melainkan awal perjalanan yang sesungguhnya. Dunia hanyalah
ladang amal, sedangkan akhirat adalah tempat menuai hasil dari apa yang kita
tanam. Barang siapa yang mengisi waktunya dengan amal saleh, maka kematian
menjadi perantara menuju kebahagiaan. Namun, siapa saja yang lalai, maka
kematian menjadi awal dari penyesalan panjang yang tak berujung.
Allah Ta’ala berfirman,
حَتَّىٰٓ
إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ ٱلْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ٱرْجِعُونِ . لَعَلِّيٓ أَعْمَلُ صَٰلِحًا
فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّآ ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا ۖ وَمِن وَرَآئِهِم
بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“(Demikianlah
keadaan orang kafir) hingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari
mereka, dia berkata, ‘Ya Rabb-ku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat
berbuat amal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak!
Sesungguhnya itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan
mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 99–100)
Ayat
ini menegaskan bahwa penyesalan setelah kematian tidak akan bermanfaat.
Kesempatan untuk beramal hanya ada di dunia. Maka, siapa saja yang
menyia-nyiakan waktunya, seakan ia menunda kebahagiaan abadi dengan menukar
waktunya untuk sesuatu yang fana.
Sungguh
indah ucapan para salaf, “Dunia adalah ladang akhirat.” Jika
ladang ini tidak ditanami dengan amal saleh, maka ia akan gersang tanpa hasil.
Sebaliknya, orang yang menabur amal baik akan memanen kebahagiaan di akhirat.
Karena itu, setiap detik kehidupan adalah kesempatan emas yang tidak boleh
disia-siakan.
Bentuk-bentuk
menyia-nyiakan waktu
Menyia-nyiakan
waktu tidak hanya berarti duduk-duduk tanpa melakukan apa-apa. Perbuatan ini
memiliki banyak wajah yang seringkali tersamarkan, bahkan dianggap sebagai hal
yang normal:
Banyak
berbicara tanpa guna: Terlalu
banyak obrolan duniawi, ghibah (menggunjing), namimah (mengadu
domba), dan perkataan dusta.
Bermain
media sosial berlebihan: Scroll tanpa
batas, melihat-lihat hal yang tidak bermanfaat, atau bahkan menjadi alat
untuk riya’ dan pamer.
Terlalu
sibuk dengan urusan dunia: Bekerja
memang ibadah, tetapi jika sampai melalaikan salat, menguras waktu untuk
keluarga, atau lupa untuk berzikir, maka ia telah berubah menjadi kelalaian.
Menunda-nunda
amal kebaikan: “Nanti
saja salatnya”; “besok saja sedekahnya”; “masih muda, tobatnya nanti saja.” Ini
adalah jerat setan yang paling ampuh.
Bergaul
dengan orang-orang yang lalai: Berteman
dengan orang yang tidak mengingatkan kita kepada Allah akan membuat kita
terbawa dalam kubangan kelalaian.
Bagaimana
menyelamatkan diri dari bahaya ini?
Rasulullah
ﷺ telah memberikan kita panduan untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.
Hiduplah
dengan dua prinsip utama: iman dan amal saleh
Allah
berfirman,
وَالعَصرِ
. إِنَّ الإِنسانَ لَفى خُسرٍ . إِلَّا الَّذينَ آمَنوا وَعَمِلُوا الصّالِحاتِ وَتَواصَوا
بِالحَقِّ وَتَواصَوا بِالصَّبرِ
“Demi
masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati
kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Asr: 1-3)
Surah
ini adalah pedoman hidup. Selamat dari kerugian hanya dengan empat syarat:
iman, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati
dalam kesabaran.
Manfaatkan
lima kesempatan sebelum datang lima penghalang
Rasulullah
ﷺ bersabda,
اغْتَنِمْ
خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ
، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ
مَوْتِكَ
“Manfaatkan
lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa
sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu,
waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, dan hidupmu sebelum datang
kematianmu.” (HR.
Al-Hakim)
Perbanyak
zikir dan mengingat kematian
Senantiasa
mengingat Allah akan membuat hati hidup dan tidak lalai. Mengingat kematian
akan memotivasi kita untuk tidak menunda-nunda amal kebaikan. Rasulullah ﷺ
bersabda,
أَكْثِرُوا
ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ
“Perbanyaklah
mengingat pemutus kelezatan.” (HR. An-Nasa’i no. 1824, Tirmidzi no.
2307, Ibnu Majah no. 4258, dan Ahmad 2: 292)
Buat
agenda dan evaluasi diri (muhasabah)
Sebagaimana
para salafussalih, biasakan untuk mengevaluasi diri setiap
hari. Apa yang telah dilakukan pagi, siang, dan sore? Untuk apa saja waktu
dihabiskan? Allah berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
“Wahai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)…” (QS. Al-Hasyr: 18)
Mari
berubah, mulai dari sekarang!
Saudaraku,
waktu adalah kehidupan. Kehidupan kita hakikatnya adalah kumpulan dari detik,
menit, dan jam yang kita lalui. Maka, membiarkan waktu berlalu tanpa makna sama
saja dengan membiarkan kehidupan kita habis dengan sia-sia.
Mari
kita jadikan peringatan Ibnul Qayyim ini sebagai cambuk untuk bangkit. Jangan
tunggu nanti, karena kita tidak tahu apakah nanti itu masih ada. Isilah waktu
dengan tilawah Qur’an, salat sunah, menuntut ilmu, sedekah, silaturahim, dan
semua amal yang mendekatkan diri kepada-Nya.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur dengan memanfaatkan waktu untuk ketaatan, dan melindungi kita dari kelalaian yang membinasakan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu a’lam.
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
Penulis: Fauzan Hidayat
Artikel Muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/109842-akibat-lalai-terhadap-waktu.html
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Sumber: https://muslim.or.id/109842-akibat-lalai-terhadap-waktu.html
Edit: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar