PENTINGNYA TEMAN SALEH DI ZAMAN KETERASINGAN
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Jum'at 8 Jumadil-Akhirah 1447 H /28 November 2025
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Khotbah pertama
السَّلاَمُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ
لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ
شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
مَنْ يَهْدِهِ
اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ.
يَا أَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا
زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي
تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا
عَظِيمًا.
أَمَّا
بَعْدُ:
فَإِنَّ
خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ
الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ,
وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan
Allah Ta’ala.
Kita
hidup di zaman di mana agama Islam kembali menjadi “asing”. Sesuatu yang
seharusnya menjadi identitas seorang muslim seringkali malah tidak terlihat
dari sebagian besar kaum muslimin yang ada. Mereka yang berusaha menghidupkan
sunah dengan memelihara jenggot dan mengenakan pakaian di atas mata kaki
seringkali justru menjadi bahan pembicaraan. Para wanita yang berusaha menjaga
auratnya dengan mengenakan baju yang menutup seluruh tubuhnya, berkerudung
lebar, dan berusaha menutup wajahnya, seringkali menjadi pusat perhatian
manusia. Sungguh benar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
بَدَأَ
الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam
datang dalam keadaan yang asing. Akan kembali pula dalam keadaan asing
sebagaimana waktu datang. Sungguh beruntunglah orang yang asing.” (HR. Muslim no. 145)
Wahai
hamba-hamba Allah sekalian,
Di
zaman keterasingan seperti ini, memiliki sahabat, teman, saudara semuslim, dan
lingkungan yang baik merupakan kebutuhan mendasar untuk bisa terus istikamah di
atas jalan kebenaran dan ketakwaan. Kita butuh kepada saudara dan teman yang
dapat menguatkan dan mengingatkan kita saat sedang lemah iman dan terjatuh ke
dalam kemaksiatan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah
bersabda menggambarkan beratnya kondisi kehidupan di zaman keterasingan ini,
يَأْتِي
عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ
“Akan
datang kepada manusia suatu masa yang ketika itu orang yang sabar di atas
agamanya seperti menggenggam bara api.”
(HR. Tirmidzi no. 2260)
Simaklah
kisah kebiasaan Abdullah bin Rawahah radhiyallahu ‘anhu yang
kemudian menuai pujian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut
ini! Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengisahkan,
“Dahulu
kala, jika Abdullah bin Rawahah bertemu dengan salah satu sahabat Nabi, maka
akan mengatakan, ‘Mari sejenak kita duduk untuk beriman dan mengingat Allah
Ta’ala.’ Hingga suatu hari ia mengajak seseorang, lalu orang tersebut marah dan
tersinggung, kemudian ia mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam. Ia berkata, “Wahai Nabi, lihatlah Abdullah bin Rawahah, ia berpaling
dari beriman kepadamu dan lebih memilih untuk duduk beriman sesaat.”
Lihatlah
bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menanggapi keluhan
tersebut! Alih-alih memarahi Abdullah bin Rawahah, Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam justru memujinya. Beliau bersabda,
يرحمُ اللهُ ابنَ رواحةَ إنه يحبُّ المجالسَ التي تتباهَى
بها الملائكةُ
“Semoga
Allah merahmati Abdullah bin Rawahah, sungguh dia mencintai majelis-majelis
yang para malaikat berbangga dengan majelis tersebut.” (HR. Ahmad no. 13796)
Jemaah
yang dimuliakan Allah Ta’ala, sesungguhnya hati kita mudah sekali
usang dan berubah. Ia sangat butuh akan nasihat dan peringatan dari
saudara-saudara mukmin lainnya. Abdullah bin Rawahah merupakan teladan yang
baik terkait hal ini. Beliau senantiasa mengajak sahabat-sahabat lainnya untuk
mengingat Allah Ta’ala, juga memberikan mereka nasihat dan
masukan.
Memberikan
nasihat kepada saudara semuslim kita merupakan salah satu hak yang harus kita
penuhi. Ingatlah firman Allah Ta’ala yang menjelaskan
karakteristik orang-orang beriman yang tidak akan merugi di kehidupan dunia
ini. Allah Ta’ala berfirman,
وَٱلْعَصْرِ*
إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِى خُسْرٍ * إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ
وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ
“Demi
masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang
yang beriman, dan mengerjakan amal saleh, dan nasihat-menasihati supaya menaati
kebenaran, dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3)
Kaum
mukminin yang Allah sebutkan di dalam ayat ini memiliki sifat saling menasihati
dalam hal kebaikan dan kesabaran dengan saudara mukmin lainnya. Di mana kedua
hal ini (kebaikan dan kesabaran) sangatlah dibutuhkan di kehidupan zaman
keterasingan ini.
Jemaah
Jumat yang berbahagia,
Seorang
muslim sangatlah lemah jika ia hanya sendirian dan akan menjadi kuat jika
bersama dengan saudara semuslim lainnya. Saat sedang bersama, maka ia akan
ditegur jika melakukan kesalahan. Dan akan dikuatkan serta diberikan motivasi
ketika sedang futur dan malas. Nabiyullah Musa ‘alaihis
salam saja, Nabi yang memiliki pendirian dan fisik kuat pun meminta
kepada Allah Ta’ala untuk diberikan kawan tatkala akan
mengahadapi Firaun. Beliau ‘alaihis salam meminta Harun ‘alaihis
salam untuk membantunya, mengingatkannya, dan menguatkannya. Nabi Musa
‘alaihis salam berkata,
وَاجْعَلْ
لِي وَزِيرًا مِنْ أَهْلِي * هَارُونَ أَخِي * اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي * وَأَشْرِكْهُ
فِي أَمْرِي * كَيْ نُسَبِّحَكَ كَثِيرًا * وَنَذْكُرَكَ كَثِيرًا * إِنَّكَ
كُنْتَ بِنَا بَصِيرًا
“Dan
jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku.
Teguhkanlah dengan dia kekuatanku. Dan jadikankanlah dia sekutu dalam urusanku,
supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau.
Sesungguhnya Engkau Maha Melihat (keadaan) kami.” (QS. Thaha: 29-35)
Jemaah
yang dimuliakan Allah Ta’ala,
Salah
satu tolak ukur keberhasilan dan keselamatan seseorang di dunia dan akhirat
adalah bagaimana ia dapat memilih temannya. Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam pernah bersabda,
لا تُصاحِبْ
إِلَّا مُؤْمِنًا ، ولا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ
“Janganlah
kalian berkawan, kecuali dengan seorang mukmin. Dan jangan sampai ada yang
memakan makananmu, kecuali orang yang bertakwa.” (HR. Abu Dawud no. 4832 dan Tirmidzi no.
2395)
Syekh Binbaz menjelaskan,
“Jangan
jadikan orang-orang yang senang bermaksiat sebagai sahabat, tetapi ambillah
orang-orang baik yang mempunyai sifat-sifat yang baik lagi terpuji. Yaitu,
mereka yang menjaga salat, serta menjaga lidah dan anggota tubuhnya dari apa
yang diharamkan Allah. Dan janganlah engkau mengundang, kecuali orang-orang
baik untuk memakan hidanganmu. Janganlah kamu mengundang ahli maksiat dan
orang-orang kafir. Para ulama berkata, ‘Ini pada hal yang kita pilih dan kita
jadikan kebiasaan. Adapun dalam hal menjamu tamu, maka itu ranah yang berbeda.
Disunahkan dan tidak ada halangan untuk menyuguhkan makanan, meskipun mereka
bukanlah orang-orang yang bertakwa, atau bahkan ahli maksiat dan orang kafir
sekalipun.’” (Fatawa
Nur Ala Ad-Darbi)
Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam juga bersabda,
المَرْءُ
مع مَن أحَبَّ
“Seseorang
itu bersama orang yang dicintainya.” (HR.
Bukhari no. 6168 dan Muslim no. 2640)
Saat
seseorang memilih untuk berteman dan bergaul dengan orang-orang saleh lagi taat
kepada Allah dan Rasul-Nya, maka insyaAllah kelak di akhirat nanti, ia juga
akan dikumpulkan bersama mereka di surga Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khotbah
kedua
اَلْحَمْدُ
للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.
Jemaah
salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.
Saat
mendapati saudara semuslim kita yang sedang terpuruk, futur, malas, dan menjauh
dari hidayah, maka yang harus kita lakukan adalah merangkulnya, membesarkan
hatinya, menyemangatinya, dan membahagiakannya. Bukan malah menjauhinya,
membicarakannya, dan memusuhinya. Alangkah indahnya apa yang disampaikan oleh
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam perihal keutamaan
orang-orang yang dapat membahagiakan dan menyemangati saudaranya. Beliau shallallahu
‘alaihi wasallam pernah bersabda,
أَحَبُّ
الناسِ إلى اللهِ أنفعُهم للناسِ ، وأَحَبُّ الأعمالِ إلى اللهِ عزَّ وجلَّ سرورٌ تُدخِلُه
على مسلمٍ ، تَكشِفُ عنه كُربةً ، أو تقضِي عنه دَيْنًا ، أو تَطرُدُ عنه جوعًا
“Manusia
yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia
lainnya, sedangkan amal yang paling dicintai oleh Allah adalah kebahagiaan yang
engkau berikan kepada diri seorang muslim atau engkau menghilangkan
kesulitannya atau engkau melunasi utangnya atau membebaskannya dari kelaparan.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam
Al-Ausath, no. 6029)
Jika
belum bisa membantu mereka untuk meringankan rasa susah mereka, atau belum
mampu menyelamatkan mereka dari rasa malas yang menimpa mereka, atau belum
mampu mengingatkan mereka secara langsung tatkala mereka melalukan kesalahan,
setidaknya bantulah mereka dengan doa-doa kita. Karena berdoa dalam kondisi
seperti ini merupakan salah satu doa yang mustajab. Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda,
دَعْوَةُ
المَرْءِ المُسْلِمِ لأَخِيهِ بظَهْرِ الغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ
مُوَكَّلٌ كُلَّما دَعَا لأَخِيهِ بخَيْرٍ، قالَ المَلَكُ المُوَكَّلُ بهِ: آمِينَ
وَلَكَ بمِثْلٍ
“Doa
seorang muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya akan dikabulkan oleh
Allah. Di atas kepala orang muslim yang berdoa tersebut terdapat seorang
malaikat yang ditugasi menjaganya. Setiap kali ia mendoakan kebaikan bagi
saudaranya, maka malaikat yang menjaganya berkata, ‘Amin dan bagimu hal yang
semisal dengan apa yang engkau minta untuk saudaramu.’” (HR. Muslim no. 2733)
Allah Ta’ala juga
berfirman,
وَالَّذِينَ
جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ
سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا
رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Dan
orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa,
‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman
lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati
kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha
Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS.
Al-Hasyr: 10)
Semoga
Allah Ta’ala senantiasa menjaga setiap pertemanan yang
dilandasi oleh ketakwaan dan keimanan, pertemanan yang akan mengantarkan
seseorang ke surga Allah Ta’ala. Ya Allah, berikanlah kami teman
dan sahabat yang saleh, dekatkanlah kami dengan teman-teman yang saleh dan
jauhkanlah kami dari teman-teman yang buruk.
Ya
Allah, berilah kami keistikamahan di dalam menjalankan syariat-Mu hingga ajal
menjemput kami, wafatkanlah kami dalam kondisi muslim dan beriman, dan
pertemukanlah kami di surga dengan orang-orang yang saleh lagi beriman
kepada-Mu.
إِنَّ اللهَ
وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا
عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،
رَبّنَا
لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا
إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا
مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا
فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ
انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنَِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ
ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ
الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ
تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ
اللَّهُمَّ
إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
رَبَنَا
ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.
وَالْحَمْدُ
للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ
عِبَادَ
اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى
ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Penulis: Muhammad Idris, Lc.
Artikel: Muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Sumber: https://muslim.or.id
Edit: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar