السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Rabu 22 Jumadil-Akhirah 1446 H / 12 November 2025
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Saudaraku...!
Sejatinya di antara kewajiban yang ditekankan oleh agama kita dengan penekanan yang serius adalah berbakti kepada Ayah. Sebagian orang hanya fokus untuk berbakti kepada Ibunya. Tentu saja ini juga adalah kebaikan. Namun yang menjadi masalah adalah mereka lupa untuk berbakti kepada Ayah. Padahal Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :
أَنْتَ وَمَالُكَ لِأَبِيْكَ
Artinya : “Engkau dan semua hartamu adalah milik Ayahmu.” (HR. Ibnu Majah).
Dalam Riwayat yang lebih lengkap :
Datang seorang lelaki dan mengadu kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, “Wahai Rasulullah, Ayahku mengambil hartaku.” Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : “Jemput Ayahmu untuk berdiskusi denganku.”
Lalu Jibril datang lebih dulu dan berdiskusi dengan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Jibril berkata, “Allah menitipkan salam untukmu.” Jibril melanjutkan, “Kalau orang tuanya menemuimu, tanyakan tentang sesuatu yang ia bisikkan pada dirinya dan belum pernah terlontar hingga terdengar di kedua pendengarannya sendiri.”
Saat orang tuanya datang, Nabi bertanya kepadanya, “Anakmu terus-menerus mengadukan bahwa Anda mengambil hartanya.” Orang tua itu menanggapi, “Anda bisa bertanya pada anakku ini, wahai Rasulullah. Aku mengambil hartanya untuk kebutuhan salah seorang bibinya atau untuk diriku sendiri”? Rasulullah bersabda, “Bukan... Bukan itu yang ingin kutanyakan. Kabarkan saya tentang sesuatu yang Anda bisikkan pada diri Anda namun belum pernah terdengar oleh telingamu.”
Orang tua itu berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, Allah selalu menambahkan keyakinan kepada kami bahwa engkau adalah utusan-Nya. Iya, aku mengatakan sesuatu pada diriku sendiri yang bahkan tak pernah didengar oleh telingaku sendiri.” Rasulullah bersabda, “Ucapkanlah. Saya akan mendengarkannya.” Lalu orang tua itu berkata :
Aku yang mengasuhmu ketika kamu lahir dan aku yang memenuhi kebutuhanmu ketika kamu remaja. Semua jerih payahku kamu nikmati dan reguk sepuasmu.
Bila kamu sakit (wahai anakku), maka aku tidak bisa tidur karena sakit yang kamu derita. Aku resah dan gelisah tidak bisa tidur karena sedih dan khawatir.
Aku memikat jiwamu ke luar maut. Padahal aku tahu ajal itu ada waktu kepastiannya.
Seakan-akan akulah yang sedang sakit dan bukan engka (wahai putraku). Kedua mataku pun tak kuasa mengalirkan air mata.
Tatkala kamu sudah mencapai dewasa dan telah menggapai cita-citamu, itulah yang dulu kuharapakan kamu.
Engkau membalas budi baikku dengan sikap keras dan kata-kata kasar. Seakan-akan engkaulah yang berbuat baik dan berjasa.
Seandainya engkau tidak memperdulikan hakku sebagai seorang Ayah. Sikapilah aku seperti seorang tetanggamu. Bagaimana seorang tetangga yang baik memperlakukan tetangganya.
Dalam satu Riwayat disebutkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam menangis lalu menarik kerah baju si anak. Beliau bersabda, “Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu.” (HR. Ath-Thabrani dalam Mu'jam As-Shaghir Al-Ausath).
Sebenarnya hak seorang ayah keagungannya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Renungkanlah sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam : Engkau (diri dan jiwamu, tubuh dan ragamu) adalah milik ayahmu dan hartamu juga adalah milik ayahmu.
Meski pujian setinggi langit dan puisi indah yang terangkai, tetap tidak bisa membalas hak ayahmu yang begitu agung. Dialah sosok yang menjadi tumpuanmu tatkala kamu masih kecil dan tatkala kamu remaja. Tatkala semua orang di sekitarmu meninggalkanmu dan tidak memperdulikanmu, dia tetap bersamamu. Dialah sang ayah yang menjadi pondasi dalam keluarga. Dialah tanda ketentraman dan keamanan dalam keluarga.
Ayah adalah cahaya dalam keluarga. Kehadirannya selalu diharapkan. Canda dan tawanya adalah penghias kehidupan. Pelukan dan kasih sayangnya adalah pelita kehidupan. Memandang ayah mendatangkan kebahagiaan. Kepergiannya mendatangkan kesedihan.
Ayahmu adalah sosok yang telah berkorban untuk keluarga. Dialah yang telah berusaha membimbingmu dengan tidak pernah lelah. Dialah yang selalu mengharapkan kebaikanmu dengan penuh ketulusan.
Ayahmu, dialah yang selamanya memberi tanpa pelit sama sekali. Tanpa perhitungan Anda. Yang penting kamu bisa tertawa, kamu bisa tersenyum. Ia menyerahkan dirinya untuknya. Ia mengorbankan waktunya untuk menebus kebahagiaanmu. Dialah Ayah. Dialah Ayah. Yang Allah Rabbul 'Alamin telah mewasiatkan Anda agar berbakti kepadanya. Agar berbuat yang terbaik baginya.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman (QS. Luqman : 14)
وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ
Artinya : “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman : 14)
Wahai yang ingin meraih surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Yang ingin meraih kenikmatan yang sempurna dan abadi. Di hadapanmu ada pintu surga yang terbuka lebar. Dialah ayahmu. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
الْوَالِدُ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ
Artinya : “Ayah adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).
Al-Qadhi Iyadh berkata, “Maksud pintu Jannah yang paling tengah adalah pintu yang paling bagus dan paling tinggi.”
Berbakti kepada Ayah merupakan sebab diterimanya amal shaleh. Allah berfirman tentang orang-orang yang berbakti kepada kedua orang tuanya :
اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ اَحْسَنَ مَا عَمِلُوْا وَنَتَجَاوَزُ عَنْ سَيِّاٰتِهِمْ فِيْٓ اَصْحٰبِ الْجَنَّةِۗ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِيْ كَانُوْا يُوْعَدُوْنَ
Artinya : “Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami mengampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah menjanjikan kepada mereka.” (QS. Al-Ahqaf : 16)
Ingatlah, menjadikan Ayahmu ridha, menjadi sebab meraih keridhaan Allah. Menjadi sebab memasukkan seseorang ke dalam surga. Dan menjadi sebab dijauhkan dari neraka. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :
رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ, وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ
Artinya : “Ridha Allah ada pada ridha Ayah dan Ibu. Dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan Ayah dan Ibu.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Hakim).
Renungkanlah kedudukan Ayahmu, dan besarnya jasa Ayahmu kepadamu. Ayahmu, sesungguhnya engkau adalah setetes air maninya. Engkau adalah belahan dari jiwanya. Betapa banyak harapan yang ia harapkan dari dirimu.
Jangan kau bertanya tentang besarnya kegembiraan. Tingginya kebahagiaan yang meliputinya tatkala ia dikabari ibumu tengah mengandungmu. Ia begitu gembira, sementara kau masih di dalam perut ibumu.
Kerinduan semakin meliputinya menanti saat kelahiranmu. Ia menghitung hari demi hari, malam demi malam menanti pertemuan yang indah bersamamu. Betapa besarnya harapan yang ia gantungkan pada dirimu. Betapa banyak angan-angan yang berputar di pikiran.
Tatkala tiba saat kamu akan keluar dari perut ibumu. Ayahmu berdoa dengan penuh cemas dan kegelisahan agar Allah meringankan penderitaan Ibumu. Agar kamu keluar dengan selamat.
Saat Ia mendengar tangisanmu. Ia mendengar teriakanmu. Ia tak kuasa menahan air mata kebahagiaan. Terharu melihatmu. Kasih sayang yang tiada tara mengalir di lubuk hatinya. Jangan kau bertanya tentang cintanya padamu. Sayangnya pada dirimu sendiri. Itulah hari bersejarah yang tak akan terlupakan oleh Ayahmu. Sejarah hari pertama perjumpaan denganmu.
Kemudian hari terus bertambah, bertambah pula kasih sayangmu. Hingga jadilah engkau yang nomor satu, prioritas dalam kehidupannya. Jadilah kamu yang dilayani di siang hari dan malamnya. Pikirannya selalu bersamamu. Hatinya selalu bersamamu. Engkau yang selalu ia tanyakan. Ia begitu gembira melihat senyumanmu. Ia begitu resah dan gelisah melihat kesedihanmu. Apalagi tatkala kamu sedang sakit. Ia tidak ingin Anda tersakiti sedikit pun. Hatinya teriris tatkala mendengarkan tangisan rintih sakitmu. Malam-malam ia lalui dengan bergadang karena ketidak nyamanan memikirkanmu. Betapa seringnya matanya tak berkuasa menahan aliran air mata karena khawatir akan kesehatanmu.
Tatkala kamu semakin besar. Pandangannya kepadamu semakin penuh harapan. Cita-citamu selalu Ia perjuangkan. Ia bahagia dengan bahagianya dirimu. Ayahmu bersedih jika kamu bersedih. Betapa banyak air matamu yang terhapus dari pelukannya. Betapa banyak kegelisahan yang ada dalam hatimu ia hapus dengan belaiannya. Ia bekerja untukmu tak kenal lelah. Keringat bercucuran dari peluhnya, tidak ia pedulikan.
Hingga tatkala engkau menjadi seorang pemuda. Engkau menceritakan di sana dan di sini. Ia gembira dengan keberhasilanmu. Ia senang melihat derap langkah kakimu.
Tahun-tahun berlalu, inilah hasil perjuangannya mendidikmu selama ini. Jerih payahnya yang penuh dengan kesulitan dan penderitaan demi memperjuangkan kebahagiaanmu. Betapa banyak kesedihan yang ia lalui tatkala mendidikmu. Betapa banyak gelas air mata pilu yang harus diminumnya ketika kamu nakal dan melawannya. Memang dia pernah memarahimu, tapi itu semua karena Ia sangat menyayangmu. Mungkin dia pernah membentakmu atau menjewermu, tapi semua itu karena khawatir akan dirimu sendiri.
Ia melawan kerasnya kehidupan, bertarung mencari nafkah. Semuanya demi kebahagiaanmu. Demi untuk melihat senyumanmu. Betapa sering engkau memintanya untuk memberikan sesuatu. Sementara engkau tidak tahu tentang kondisinya yang berat yang sedang Ia hadapi. Namun Ia tak pernah mengutarakannya kepadamu. Engkau tidak peduli akan dirinya, namun Ia begitu mempedulikan mu. Baginya yang penting kebutuhan sekolahmu, kebutuhan kuliahmu, kebutuhan pendidikanmu terpenuhi. Ia tidak peduli meski harus berutang. Tidak peduli meski harus dimaki dan dihina orang. Semua itu demi dirimu.
Betapa sering Ia terbangun di tengah gelapnya malam untuk mendo'akanmu, sementara sedang tidur pulas dalam impianmu. Betapa sering air matanya mengalir seraya memohon kepada yang kuasa “Yaa Rabb, berikanlah kekuatan dan kemudahan kepadaku dalam mendidik anakku menjadi anak-anak yang berhasil menggapai cita-citanya dunia dan akherat.”
Lihatlah, Ia harus berangkat bekerja di pagi hari demi untuk membahagiakanmu. Ia harus pulang di malam hari, bahkan terkadang tak sempat istirahat, Ia bersafar menempuh jarak yang begitu jauh, dihadapkan pada rintangan dan bahaya, Ia lalui tanpa mengenal menyerah. Semuanya demi kebahagiaanmu. Karena Ia tak kuasa jika harus melihat engkau sedih dan menangis.
Ia membanting tulang untuk membangun rumah bagimu. Agar engkau bisa hidup dengan layak dan nyaman. Ia berpeluh keringat agar engkau bisa makan yang enak. Ia menahan penderitaan pekerjaan agar engkau bisa sukses dalam pendidikanmu. Itulah Ayahmu. Itulah Ayahmu. Itulah perjuangannya. Itulah pengorbanannya. Ia memberikan kepadamu segala sesuatu dan Ia tidak pernah meminta upah darimu.
Ia berusaha semaksimal mungkin untukmu. Sementara ia tidak pernah menanti ucapan terima kasih darimu. Ia telah banyak berbuat baik untukmu yang engkau tidak melihatnya. Ia berbakti kepadamu dengan pengorbanan yang tidak akan pernah bisa engkau balas.
Karena itu, taatlah kepada Rabbul ‘Alamin yang memerintahkanmu untuk taat pada Ayahmu. Yang memerintahkan engkau untuk berbakti kepadanya. Sungguh, durhaka kepadanya adalah dosa besar. Menyakiti Ayahmu adalah bencana bagimu. Membuatnya marah atau menangis adalah mala petaka bagimu. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
Artinya : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “Ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra: 23)
Sesungguhnya berbakti kepada Ayah adalah wajib setiap saat. Akan tetapi berbakti kepadanya tatkala ia sudah tua, lebih ditekankan lagi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ketika rambutnya sudah memutih. Ketika jari-jarinya gemetar tak kuat lagi menggenggam. Ketika jalannya tak segagah sululagi. Ketika penyakit mulai menghampirinya. Ketika kekuatannya sudah mulai sirna demi untuk membahagiakanmu. Sekarang saatnya engkau menyambutnya dengan penuh kasih sayang. Saatnya engkau rendahkan dirimu untuk berkhidmat kepadanya. Ingatlah perintah Rabbmu :
وَٱخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا
Artinya : “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS. Al-Isra: 24)
Janganlah kau jalan di hadapannya. Janganlah kau duduk sebelum ia duduk. Sambutlah ia dengan wajah senyum berseri-seri. Isilah sisa umurnya dengan membahagiakannya. Berbanggalah kalau kau bisa melayaninya. Cari-cari tahu apa keperluannya agar kau bisa memenuhinya. Jangan biarkan dia meminta kepadamu. Penuhi kebutuhannya sebelum ia mengutarakannya kepadamu.
Berikanlah kepadanya hadiah. Doakan selalu dirinya. Senantiasa senandungkan do'amu :
وَقُل رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا
Artinya : “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”
Ciumlah tangannya. Ketauhilah! Tangan yang kau cium itu telah hilang kekuatannya. Karena bekerja demi kebahagiaanmu. Ciumlah keningnya, karena itu adalah kening yang dulu senantiasa berkerut memikirkan keberhasilanmu. Pijit kedua kakinya yang telah hilang kekokohannya di masa muda karena berusaha memenuhi kebutuhanmu.
Sungguh ini adalah kesempatan yang tidak akan terulang. Demi Allah, akan datang suatu masa engkau tidak lagi akan melihat Ayahmu. Pintu surga yang selama ini bisa kau buka telah diangkat oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jika Ayahmu telah tiada, maka engkau tak lagi bisa memijitnya. Engkau tak lagi bisa memberi hadiah kepadanya. Tidak bisa lagi membawakan makanan kesukaannya. Akan tetapi janganlah terputus do'a darimu. Itulah yang selalu dia harapkan dari dalam kuburnya.
Jika suatu saat Ia telah tiada, berinfaklah atas namanya, bersedekahlah atas namanya, berwakaflah untuknya. Niscaya pahalanya akan melapangkan sempitnya kubur Ayahmu. Akan menyinari gelapnya kuburannya. Berbuat baiklah kepada keluarga dekat Ayah mu. Berbuat baik pula kepada sahabat-sahabat dekatnya.
Wallahu'alam Bishshowab
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Sumber : Aplikasi kumpulan tausiah Islam
Penulis : Abah Luki & Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar