KEWAJIBAN BERBAKTI KEPADA ORANG TUA
Oleh : Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Selasa 25 Syawal 1447 H /14 April 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Marilah
kita bertakwa kepada Allah. Kita laksanakan kewajiban yang telah diperintahkan
Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu berupa hak-hak-Nya dan hak para hamba-Nya. Dan
ketahuilah, hak manusia yang paling besar atas diri kalian ialah hak kedua
orang tua dan karib kerabat. Allah menyebutkan hak tersebut berada pada
tingkatan setelah hak-Nya.
Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاعْبُدُوا
اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Sembahlah
Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat
baiklah kepada dua orang ibu-bapa ... ” [an-Nisâ`/4:36].
Begitu
pula Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman dalam surat Luqmân/31 ayat 14:
وَوَصَّيْنَا
الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ
“(Dan
Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya,
…)”
Selanjutnya
Allah menyebutkan alasan perintah ini, yaitu:
حَمَلَتْهُ
أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ
“(ibunya
telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah)”.
Yakni
keadaan lemah dan berat ketika mengandung, melahirkan, mengasuh dan menyusuinya
sebelum kemudian menyapihnya.
Kemudian
Allah berfirman:
وَفِصَالُهُ
فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
“(dan
menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu
bapakmu. Hanya kepada-Kulah kembalimu)“.
Nabi
telah menjadikan bakti kepada orang tua lebih diutamakan daripada berjihad di
jalan Allah. Disebutkan dalam shahîhaian dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd, ia berkata:
سَأَلْتُ
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ
قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ
ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Aku
bertanya kepada Nabi; “Amalan apakah yang paling utama?” Beliau
menjawab,”Shalat pada waktunya.” Aku bertanya lagi: “Kemudian apa lagi?” Beliau
menjawab,”Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi: ”Kemudian apa
lagi?” Beliau menjawab,”Berjihad di jalan Allah.”
Dikisahkan
dalam kitab Shahîh Muslim, bahwa ada seseorang datang kepada Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam seraya berkata: “Aku berbaiat kepadamu untuk berhijrah dan
berjihad di jalan Allah. Aku mengharap pahala dari Allah.” Beliau
bertanya,”Apakah salah satu dari kedua orang tuamu masih hidup?” Ia
menjawab,”Ya, bahkan keduanya masih hidup,” beliau bersabda,”Engkau mencari
pahala dari Allah?” Ia menjawab,”Ya.” beliau bersabda,”Pulanglah kepada kedua
orang tuamu, kemudian perbaikilah pergaulanmu dengan mereka.”
Disebutkan
dalam sebuah hadits dengan sanad jayyid (bagus), ada seseorang berkata kepada
Nabi : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin berjihad namun aku tidak
mampu melakukannya”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya:
“Apakah salah satu dari kedua orang tuamu masih ada?” Ia menjawab,”Ya,
ibuku,” beliau bersabda: “Temuilah Allah dalam keadaan berbakti kepada
kedua orang tuamu. Apabila engkau melakukannya, maka berarti engkau telah
berhaji, berumrah dan berjihad”.
Allah
Subhanhu wa Ta’ala juga telah berwasiat supaya berbuat baik kepada kedua orang
tua di dunia walaupun keduanya kafir. Akan tetapi, apabila keduanya menyuruh
untuk berbuat kufur maka sang anak tidak boleh menaati perintah kufur ini.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِنْ
جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا
ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ
ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan
jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada
pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan
pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang
kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan
kepadamu apa yang telah kamu kerjakan“.[Luqmân/31:15].
Disebutkan
dalam kitab shahîhain, dari Asmâ’ binti Abu Bakar Radhiyallahu ‘anha, ia
menceritakan ketika ibunya datang menyambung silaturrahmi dengannya padahal si
ibu masih dalam keadaan musyrik.
Asmâ’
Radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
يَا رَسُولَ
اللَّهِ قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ رَاغِبَةٌ أَفَأَصِلُ أُمِّي قَالَ نَعَمْ
صِلِي أُمَّكِ
“Wahai
Rasulullah, ibuku datang kepadaku ingin (menyambung hubungan dengan putrinya,
Asmâ’), apakah aku boleh menyambung hubungan kembali dengan ibuku”. Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Ya, sambunglah.”
Bersambung ke babgian kedua…….
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
(Diringkas
oleh Ustadz Abu Sauda` Eko Mas`uri, dari ad-Dhiyâ-ul Lâmi’, Syaikh Muhammad bin
Shâlih al-‘Utsaimîn, hlm. 501-504)
[Disalin
dari majalah As-Sunnah Edisi 109/Tahun XI/1428H/2008 (Rubrik Khutbah Jum’at).
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Editing: Ndik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar