PENTINGNYA TEMAN SALEH DI ZAMAN KETERASINGAN
oleh Muhammad Idris, Lc.
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Jum'at 15 Rabi'ul-Awal 1448 H /28 Agustus 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Khotbah pertama
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ,
وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ
لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي
خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً
كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ
اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
أَمَّا بَعْدُ:
فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ
الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Ma’asyiral muslimin, jemaah
Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.
Kita hidup di zaman di mana agama Islam
kembali menjadi “asing”. Sesuatu yang seharusnya menjadi identitas seorang
muslim seringkali malah tidak terlihat dari sebagian besar kaum muslimin yang
ada. Mereka yang berusaha menghidupkan sunah dengan memelihara jenggot dan
mengenakan pakaian di atas mata kaki seringkali justru menjadi bahan
pembicaraan. Para wanita yang berusaha menjaga auratnya dengan mengenakan baju
yang menutup seluruh tubuhnya, berkerudung lebar, dan berusaha menutup
wajahnya, seringkali menjadi pusat perhatian manusia. Sungguh benar sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam,
بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا
بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
Artinya : “Islam datang dalam keadaan yang
asing. Akan kembali pula dalam keadaan asing sebagaimana waktu datang. Sungguh
beruntunglah orang yang asing.” (HR. Muslim no. 145)
Wahai hamba-hamba Allah sekalian,
Di zaman keterasingan seperti ini, memiliki
sahabat, teman, saudara semuslim, dan lingkungan yang baik merupakan kebutuhan
mendasar untuk bisa terus istikamah di atas jalan kebenaran dan ketakwaan. Kita
butuh kepada saudara dan teman yang dapat menguatkan dan mengingatkan kita saat
sedang lemah iman dan terjatuh ke dalam kemaksiatan. Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam pernah bersabda menggambarkan beratnya kondisi
kehidupan di zaman keterasingan ini,
يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ
عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ
Artinya : “Akan datang kepada manusia suatu
masa yang ketika itu orang yang sabar di atas agamanya seperti menggenggam bara
api.” (HR. Tirmidzi no.
2260)
Simaklah kisah kebiasaan Abdullah bin
Rawahah radhiyallahu ‘anhu yang kemudian menuai pujian dari
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini! Anas bin
Malik radhiyallahu ‘anhu mengisahkan,
“Dahulu kala, jika Abdullah bin Rawahah
bertemu dengan salah satu sahabat Nabi, maka akan mengatakan, ‘Mari sejenak
kita duduk untuk beriman dan mengingat Allah Ta’ala.’ Hingga suatu hari ia
mengajak seseorang, lalu orang tersebut marah dan tersinggung, kemudian ia
mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia berkata, “Wahai
Nabi, lihatlah Abdullah bin Rawahah, ia berpaling dari beriman kepadamu dan
lebih memilih untuk duduk beriman sesaat.”
Lihatlah bagaimana Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam menanggapi keluhan tersebut! Alih-alih memarahi
Abdullah bin Rawahah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam justru
memujinya. Beliau bersabda,
يرحمُ اللهُ ابنَ رواحةَ إنه يحبُّ المجالسَ التي تتباهَى
بها الملائكةُ
Artinya : “Semoga Allah merahmati Abdullah
bin Rawahah, sungguh dia mencintai majelis-majelis yang para malaikat berbangga
dengan majelis tersebut.” (HR. Ahmad no. 13796)
Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,
sesungguhnya hati kita mudah sekali usang dan berubah. Ia sangat butuh akan
nasihat dan peringatan dari saudara-saudara mukmin lainnya. Abdullah bin
Rawahah merupakan teladan yang baik terkait hal ini. Beliau senantiasa mengajak
sahabat-sahabat lainnya untuk mengingat Allah Ta’ala, juga
memberikan mereka nasihat dan masukan.
Memberikan nasihat kepada saudara semuslim
kita merupakan salah satu hak yang harus kita penuhi. Ingatlah firman
Allah Ta’ala yang menjelaskan karakteristik orang-orang
beriman yang tidak akan merugi di kehidupan dunia ini. Allah Ta’ala berfirman,
وَٱلْعَصْرِ* إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِى خُسْرٍ *
إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟
بِٱلصَّبْرِ
Artinya : “Demi masa. Sesungguhnya manusia
itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, dan
mengerjakan amal saleh, dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran, dan
nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS.
Al-Ashr: 1-3)
Kaum mukminin yang Allah sebutkan di dalam
ayat ini memiliki sifat saling menasihati dalam hal kebaikan dan kesabaran
dengan saudara mukmin lainnya. Di mana kedua hal ini (kebaikan dan kesabaran)
sangatlah dibutuhkan di kehidupan zaman keterasingan ini.
Jemaah Jumat yang berbahagia,
Seorang muslim sangatlah lemah jika ia hanya
sendirian dan akan menjadi kuat jika bersama dengan saudara semuslim lainnya.
Saat sedang bersama, maka ia akan ditegur jika melakukan kesalahan. Dan akan
dikuatkan serta diberikan motivasi ketika sedang futur dan malas. Nabiyullah Musa ‘alaihis
salam saja, Nabi yang memiliki pendirian dan fisik kuat pun meminta
kepada Allah Ta’ala untuk diberikan kawan tatkala akan
mengahadapi Firaun. Beliau ‘alaihis salam meminta Harun ‘alaihis
salam untuk membantunya, mengingatkannya, dan menguatkannya. Nabi Musa
‘alaihis salam berkata,
وَاجْعَلْ لِي وَزِيرًا مِنْ أَهْلِي * هَارُونَ
أَخِي * اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي * وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي * كَيْ
نُسَبِّحَكَ كَثِيرًا * وَنَذْكُرَكَ كَثِيرًا * إِنَّكَ كُنْتَ
بِنَا بَصِيرًا
Artinya : “Dan jadikanlah untukku seorang
pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku. Teguhkanlah dengan dia
kekuatanku. Dan jadikankanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak
bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha
Melihat (keadaan) kami.” (QS. Thaha: 29-35)
Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,
Salah satu tolak ukur keberhasilan dan
keselamatan seseorang di dunia dan akhirat adalah bagaimana ia dapat memilih
temannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,
لا تُصاحِبْ
إِلَّا مُؤْمِنًا ، ولا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ
Artinya : “Janganlah kalian berkawan, kecuali
dengan seorang mukmin. Dan jangan sampai ada yang memakan makananmu, kecuali
orang yang bertakwa.” (HR. Abu Dawud no. 4832 dan Tirmidzi no.
2395)
Syekh Binbaz menjelaskan,
“Jangan jadikan orang-orang yang senang
bermaksiat sebagai sahabat, tetapi ambillah orang-orang baik yang mempunyai
sifat-sifat yang baik lagi terpuji. Yaitu, mereka yang menjaga salat, serta
menjaga lidah dan anggota tubuhnya dari apa yang diharamkan Allah. Dan
janganlah engkau mengundang, kecuali orang-orang baik untuk memakan hidanganmu.
Janganlah kamu mengundang ahli maksiat dan orang-orang kafir. Para ulama
berkata, ‘Ini pada hal yang kita pilih dan kita jadikan kebiasaan. Adapun dalam
hal menjamu tamu, maka itu ranah yang berbeda. Disunahkan dan tidak ada
halangan untuk menyuguhkan makanan, meskipun mereka bukanlah orang-orang yang
bertakwa, atau bahkan ahli maksiat dan orang kafir sekalipun.’” (Fatawa
Nur Ala Ad-Darbi)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga
bersabda,
المَرْءُ مع مَن أحَبَّ
Artinya : “Seseorang itu bersama orang yang
dicintainya.” (HR. Bukhari no. 6168 dan Muslim no. 2640)
Saat seseorang memilih untuk berteman dan
bergaul dengan orang-orang saleh lagi taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka
insyaAllah kelak di akhirat nanti, ia juga akan dikumpulkan bersama mereka di
surga Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khotbah kedua
اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ
عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ
أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.
Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.
Saat mendapati saudara semuslim kita yang
sedang terpuruk, futur, malas, dan menjauh dari hidayah, maka yang harus kita
lakukan adalah merangkulnya, membesarkan hatinya, menyemangatinya, dan
membahagiakannya. Bukan malah menjauhinya, membicarakannya, dan memusuhinya.
Alangkah indahnya apa yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam perihal keutamaan orang-orang yang dapat membahagiakan dan
menyemangati saudaranya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pernah
bersabda,
أَحَبُّ الناسِ إلى اللهِ أنفعُهم للناسِ ، وأَحَبُّ
الأعمالِ إلى اللهِ عزَّ وجلَّ سرورٌ تُدخِلُه على مسلمٍ ، تَكشِفُ عنه كُربةً ، أو
تقضِي عنه دَيْنًا ، أو تَطرُدُ عنه جوعًا
Artinya : “Manusia yang paling dicintai oleh
Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, sedangkan amal yang
paling dicintai oleh Allah adalah kebahagiaan yang engkau berikan kepada diri
seorang muslim atau engkau menghilangkan kesulitannya atau engkau melunasi
utangnya atau membebaskannya dari kelaparan.” (HR. Thabrani
dalam Al-Mu’jam Al-Ausath, no. 6029)
Jika belum bisa membantu mereka untuk
meringankan rasa susah mereka, atau belum mampu menyelamatkan mereka dari rasa
malas yang menimpa mereka, atau belum mampu mengingatkan mereka secara langsung
tatkala mereka melalukan kesalahan, setidaknya bantulah mereka dengan doa-doa
kita. Karena berdoa dalam kondisi seperti ini merupakan salah satu doa yang
mustajab. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
دَعْوَةُ المَرْءِ المُسْلِمِ لأَخِيهِ بظَهْرِ
الغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّما دَعَا لأَخِيهِ
بخَيْرٍ، قالَ المَلَكُ المُوَكَّلُ بهِ: آمِينَ وَلَكَ بمِثْلٍ
“Doa seorang muslim untuk saudaranya tanpa
sepengetahuannya akan dikabulkan oleh Allah. Di atas kepala orang muslim yang
berdoa tersebut terdapat seorang malaikat yang ditugasi menjaganya. Setiap kali
ia mendoakan kebaikan bagi saudaranya, maka malaikat yang menjaganya berkata,
‘Amin dan bagimu hal yang semisal dengan apa yang engkau minta untuk
saudaramu.’” (HR. Muslim no. 2733)
Allah Ta’ala juga berfirman,
وَالَّذِينَ
جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ
سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا
رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Artinya : “Dan orang-orang yang datang
sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Ya Rabb kami, beri
ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami,
dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang
yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha
Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10)
Semoga Allah Ta’ala senantiasa
menjaga setiap pertemanan yang dilandasi oleh ketakwaan dan keimanan,
pertemanan yang akan mengantarkan seseorang ke surga Allah Ta’ala.
Ya Allah, berikanlah kami teman dan sahabat yang saleh, dekatkanlah kami dengan
teman-teman yang saleh dan jauhkanlah kami dari teman-teman yang buruk.
Ya Allah, berilah kami keistikamahan di dalam
menjalankan syariat-Mu hingga ajal menjemput kami, wafatkanlah kami dalam
kondisi muslim dan beriman, dan pertemukanlah kami di surga dengan orang-orang
yang saleh lagi beriman kepada-Mu.
إِنَّ اللهَ
وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا
عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،
رَبّنَا
لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا
إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا
مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا
فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ
انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنَِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ
ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ
الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ
تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ
اللَّهُمَّ
إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
رَبَنَا
ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.
وَالْحَمْدُ
للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ
عِبَادَ
اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى
ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
***
Penulis: Muhammad
Idris, Lc.
Artikel: Muslim.or.id
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Artikel: Muslim.or.id
Editing: Ndik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar