ALLAH MENGGANTI YANG HILANG
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Senin 11 Rabi'ul-Awal 1448 H /24 Agustus 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Mungkin
seringkali kita mendengar berbagai kalimat nasihat untuk menenangkan hati yang
dilanda duka, “Allah akan mengganti dengan yang lebih baik.” Namun,
jujur saja, kalimat ini terasa ringan di lisan yang menasihati, tetapi berat di
hati orang yang sedang merasakan kehilangan. Bahkan, tidak sedikit yang merasa
bahwa nasihat seperti ini hanya mudah diucapkan oleh mereka yang belum pernah
kehilangan.
Saudaraku,
tulisan ini adalah refleksi dari seseorang yang juga telah merasakan
kehilangan, kehilangan seorang ayah dan adik kandung. Luka itu nyata. Namun, di
balik luka itu, ada janji Allah yang perlahan-lahan mulai terasa kebenarannya.
Janji
Allah dalam Al-Qur’an
Allah Ta’ala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلنَّبِىُّ قُل لِّمَن فِىٓ أَيْدِيكُم مِّنَ ٱلْأَسْرَىٰٓ إِن يَعْلَمِ ٱللَّهُ فِى
قُلُوبِكُمْ خَيْرًا يُؤْتِكُمْ خَيْرًا مِّمَّآ أُخِذَ مِنكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ
ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Wahai
Nabi, katakanlah kepada para tawanan yang ada di tanganmu: jika Allah
mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang
lebih baik dari apa yang telah diambil darimu dan Dia akan mengampuni kamu. Dan
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Anfal: 70)
Ayat
ini turun dalam konteks tawanan perang. Mereka (para tawanan) telah kehilangan
harta, kebebasan, bahkan keluarga. Namun, Allah memberikan prinsip yang sangat
agung dalam ayat ini, yaitu “Jika ada kebaikan dalam hati, Allah akan
mengganti dengan yang lebih baik dari apa yang hilang.”
Al-Imam Ibnu
Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan
“kebaikan” dalam ayat ini adalah iman dan niat yang tulus dalam hati. Jika hal
tersebut ada pada diri seseorang, maka Allah akan memberikan kepadanya
pengganti yang lebih baik dari apa yang telah diambil darinya, serta mengampuni
dosa-dosanya. Pengganti tersebut bisa berupa kebaikan di dunia, maupun balasan
di akhirat. [1]
Apakah
kehilangan bisa tergantikan?
Secara
manusiawi, kita merasa bahwa ada kehilangan yang tidak tergantikan. Bagaimana
mungkin seorang ayah bisa tergantikan? Bagaimana mungkin sosok adik yang penuh
kenangan bisa diganti? Jawabannya: tentu tidak tergantikan secara bentuk,
tetapi diganti dalam makna.
Tentu,
Allah Ta’ala tidak selalu mengganti dengan hal yang sama.
Namun, Allah Ta’ala mengganti dengan sesuatu yang lebih
menguatkan hati, lebih mendekatkan kepada-Nya, dan lebih bernilai dalam
kehidupan kita.
Ibn
al-Qayyim rahihamullah mengatakan bahwa siapa saja yang
meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang
lebih baik darinya. Ini merupakan kaidah agung dalam kehidupan seorang mukmin,
bahwa setiap pengorbanan yang dilakukan karena Allah itu tidak akan sia-sia,
bahkan akan diganti dengan kebaikan yang lebih besar. [2]
Saudaraku,
kehilangan itu kadang, kalau kita coba merenungi, bisa menjadi anugerah dari
Allah Ta’ala dalam bentuk dan makna yang bermanfaat bagi
kehidupan duniawi dan ukhrawi kita. Seperti kedewasaan yang
tidak pernah kita miliki sebelumnya. Karena dengan kehilangan orang yang kita
cintai, kita belajar bagaimana menerima dan ikhlas dengan ketetapan Allah Ta’ala sehingga
iman kita pun bertambah.
Pun,
dari sisi kedekatan dengan Allah yang tidak pernah kita rasakan sebelumnya.
Bagaimana seseorang mengadu kepada Allah Ta’ala atas perihnya
rindu kepada orang yang ia cintai. Akhirnya, ia pun rutin untuk selalu
beribadah dan ber-taqarrub kepada Allah, karena ia tahu bahwa
setiap doa yang ia panjatkan, khususnya kepada orang tua yang telah tiada,
pahalanya akan sampai.
Begitu
pula dapat berupa hati yang lebih lembut dan penuh empati. Saat melihat orang
yang sedang ditimpa cobaan yang sama (kehilangan), maka timbul rasa empati yang
tinggi. Sehingga ia pun dengan mudah membantu saudaranya yang sedang dilanda
duka, baik dari sisi materi maupun immateri.
Luka
yang mengantarkan kepada Allah
Kehilangan
seringkali menjadi titik balik kehidupan seseorang. Saat semua sandaran dunia
hilang, ayah atau ibu pergi selamanya, tak ada lagi tempat untuk mencurahkan
kasih sayang, barulah kita benar-benar bersandar kepada Allah Ta’ala. Andai
di balik kembali, misalnya, sebelum musibah terjadi, bisa saja kita cenderung
tak peduli dengan kewajiban kita sebagai hamba.
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
عَجَبًا
لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ
لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ
ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh
menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah
didapati kecuali pada diri seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia
bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu
pun baik baginya.” (HR. Muslim no.
2999 dari Shuhaib radhiyallahu ‘anhu)
Ketika
mendapatkan nikmat, ia bersyukur. Ketika ditimpa musibah, ia bersabar. Dan
keduanya adalah kebaikan. Inilah ciri khas dan keutamaan seorang mukmin,
apabila ia benar-benar menyadari dan mengilmuinya.
Ketika
kita tengah menghadapi musibah kehilangan, maka ingatlah bahwa kesabaran bukan
berarti tidak menangis. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun
menangis saat kehilangan putranya, Ibrahim. Namun, beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ العَيْنَ
تَدْمَعُ، وَالقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلاَ نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا
بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ
“Kedua
mata boleh mencucurkan air mata, hati boleh bersedih, hanya kita tidaklah
mengatakan kecuali apa yang diridai oleh Rabb kita. Dan kami dengan perpisahan
ini, wahai Ibrahim, pastilah bersedih.” (HR. Bukhari no.
1303 dan Muslim no. 62)
Ini
adalah bentuk kesedihan yang benar—sedih, tetapi tetap dalam iman. Sebab dengan
ilmu yang benar, maka kita dapat menempatkan sisi fitrah kemanusiaan kita
dengan benar pula sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam tanpa melanggar batasan yang telah Allah tetapkan.
Allah
tidak pernah mengambil tanpa memberi
Salah
satu keyakinan terindah dalam Islam adalah bahwasanya Allah Ta’ala tidak
mengambil sesuatu kecuali Dia akan memberi yang lebih baik. Hal ini sebagaimana
sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَا مِنْ
عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ
اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا
“Siapa
saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah, lalu ia mengucapkan, “Inna lillahi
wa inna ilaihi rooji’un. Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron
minhaa [Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ya
Allah, berilah ganjaran terhadap musibah ang menimpaku dan berilah ganti dengan
yang lebih baik].” (HR.
Sahih Muslim no. 918)
Saudaraku,
perhatikanlah! Ini adalah janji mulia Allah Ta’ala untuk kita
hamba-hamba-Nya. Namun, pengganti itu tidak selalu cepat, tidak selalu
terlihat, dan tidak selalu dalam bentuk yang kita harapkan. Tetapi pastikan,
ganti itu pasti ada.
Harapan
Bagi
siapa pun yang sedang kehilangan, ketahuilah bahwa luka ini bukan akhir dari
segalanya. Ini adalah bagian dari perjalanan menuju Allah.
Memang,
kehilangan seseorang yang kita cintai adalah luka yang sangat menyakitkan.
Namun dalam Islam, luka itu tidak sia-sia. Setiap air mata, setiap rasa rindu,
setiap kesabaran, semuanya bernilai di sisi Allah Ta’ala, asalkan
kita benar-benar memahami konsepnya. Paham dan yakin akan takdir atau ketetapan
Allah Ta’ala. Kemudian berikhtiar semaksimal mungkin untuk
bersabar dalam menghadapinya.
Jika hari ini kita merasa kehilangan, maka ingatlah janji-Nya, Allah akan mengganti. Dan ketika saat itu tiba, kita akan sadar bahwa Allah tidak pernah salah dalam mengambil sesuatu dari hidup kita.
Wallahu'alam Bishshowab
Artikel Muslim.or.id
Penulis: Fauzan Hidayat
Saudaraku, tulisan ini adalah refleksi dari seseorang yang juga telah merasakan kehilangan, kehilangan seorang ayah dan adik kandung. Luka itu nyata. Namun, di balik luka itu, ada janji Allah yang perlahan-lahan mulai terasa kebenarannya
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Editing: Ndik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar