5 BUKTI KECINTAAN KEPADA NABI MUHAMMAD
oleh Muhammad Idris, Lc.
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Jum'at 8 Rabi'ul-Awal 1448 H /21 Agustus 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Khotbah pertama
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ,
وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ
لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي
خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً
كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ
اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
أَمَّا بَعْدُ:
فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ
الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Ma’asyiral muslimin, jemaah
Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.
Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri
khatib pribadi dan kepada para jemaah sekalian, marilah senantiasa menjaga
kualitas ketakwaan kita dan keluarga kita kepada Allah Ta’ala. Baik
itu dengan senantiasa menjalankan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala,
ataupun dengan meninggalkan perkara-perkara yang dapat mengantarkan kita ke
dalam api neraka. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ
وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ
شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman,
peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah
manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak
mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)
Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,
sungguh kita diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk mencintai
Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi siapa
pun yang ada di dunia ini. Allah Ta’ala berfirman mengancam
siapa pun yang menjadikan selain Nabi Muhammad sebagai sesuatu yang paling
dicintainya,
قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ
وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ
كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ
وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ
لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Artinya : “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Jika
bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta
kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan
tempat tinggal yang kamu sukai, kesemuanya itu lebih kamu cintai dari Allah dan
Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah
mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24)
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Jika
semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad
di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa
kalian.”
Ancaman keras ini menunjukkan kepada kita
bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi
kecintaan kita kepada makhluk lainnya hukumnya adalah wajib. Di ayat yang lain,
Allah Ta’ala juga menegaskan bahwa mencintai Nabi juga harus
didahulukan dan diutamakan dari mencintai diri sendiri. Allah Ta’ala berfirman,
النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ
Artinya : “Nabi itu (hendaknya) lebih utama
bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.” (QS.
Al-Ahzab: 6)
Hanya saja, wahai jemaah yang semoga
senantiasa mendapatkan rahmat Allah Ta’ala,
Di dalam mencintai Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wasallam, kita tidak boleh asal-asalan dan serampangan. Agama
kita adalah agama yang berdiri di atas dalil dan petunjuk Allah serta
Rasul-Nya. Bahkan, di dalam hal mencintai sekalipun, semuanya sudah ada
petunjuk dan dalil yang mengaturnya. Seorang muslim dituntut untuk berpedoman
dengan dalil dan petunjuk tersebut di dalam mencintai Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam.
Berikut ini wahai jemaah sekalian, lima bukti
kuat yang apabila terdapat di dalam diri seorang muslim, maka dia layak untuk
dikatakan mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan
sebenar-benarnya.
Yang pertama adalah senantiasa mengikuti
ajaran beliau dan menghidupkan sunah-sunah yang telah beliau ajarkan.
Mencintai Nabi yang benar memiliki konskuensi
ketaatan penuh kepada perintah dan wahyu yang telah diturunkan kepada beliau,
begitu pula kesadaran penuh dari diri kita untuk meninggalkan apa-apa yang
beliau larang. Allah Ta’ala berfirman,
Artinya : “Katakanlah (wahai Muhammad),
‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi
dan mengampuni dosa-dosamu.’” (QS. Ali Imran: 31)
Tidaklah mungkin seorang mukmin mengaku-ngaku
mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun masih
banyak sekali perintah agama yang tidak ia kerjakan, masih banyak sekali
larangan syariat yang ia lakukan dan ia langgar, dan dirinya sama sekali tidak
berhias dengan adab-adab yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam.
Kedua, Memperbanyak penyebutan beliau.
Yaitu, dengan memperbanyak selawat serta
salam kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu
Wa Ta’ala berfirman,
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى
النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Artinya : “Sesungguhnya Allah dan
malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman,
berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan
kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)
Mereka yang tidak berselawat kepada
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala nama beliau disebut,
oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dicap sebagai orang
yang pelit. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
الْبَخِيلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ ثُمَّ لَمْ يُصَلِّ
عَلَيَّ
Artinya : “Orang yang bakhil dan pelit itu
adalah orang yang jika namaku disebut di dekatnya, namun dia tidak berselawat
kepadaku.” (HR. Tirmidzi no.
3546, Ahmad no. 1736, dan An-Nasa’i no. 8100)
Di antara bentuk banyak menyebut beliau yang
lain adalah dengan menyebutkan keutamaan-keutamaan yang beliau miliki,
menceritakan juga sifat dan akhlak beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga,
kaum muslimin menjadi semangat di dalam berusaha untuk meniru beliau serta
menjalankan sunah-sunah yang telah beliau ajarkan.
Ketiga, Mencintai orang-orang yang dicintai
oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Di antara akidah ahli sunah wal jamaah adalah
mencintai ahlu bait Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan
para sahabatnya, menyayangi mereka, dan menjaga wasiat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang mereka di mana
beliau bersabda,
أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ
اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي
Artinya : “Aku ingatkan kepada kalian semua
agar berpedoman kepada hukum Allah dalam memperlakukan keluargaku.” (Beliau
ucapkan sebanyak tiga kali).” (HR. Muslim no. 2408)
Hal ini juga telah dipraktikkan oleh para
sahabat dahulu kala. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah
mengatakan,
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَرَابَةُ رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ إِلَيَّ أَنْ أَصِلَ مِنْ قَرَابَتِي
“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya,
sungguh kerabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih aku sukai untuk
aku sambung (silaturahmi) daripada kerabatku sendiri.” (HR.
Bukhari no. 3711 dan Muslim no. 1759)
Hanya saja yang perlu kita garis bawahi,
wahai saudaraku, bahwa kemuliaan nasab tidaklah identik dengan kemuliaan
seseorang di sisi Allah Ta’ala dan bahwasanya tidak ada yang
dapat meninggikan kedudukan seorang hamba di sisi Allah, kecuali ketakwaannya.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُم
Artinya : “Sesungguhnya orang yang paling
mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara
kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Di dalam sebuah hadis yang sahih, Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam juga bersabda,
وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ
نَسَبُه
Artinya : “Barangsiapa yang lambat amalnya,
maka tingginya garis keturunan tidak bisa mempercepat amalnya.” (HR.
Muslim no. 2699)
Oleh karena itu, kemuliaan nasab keturunan
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ahlu bait-nya
juga berkaitan erat dengan kesalehan dan amal ibadah mereka. Siapa saja
dari ahlu bait yang menjaga amalnya dan kesalehannya, mereka
itulah yang pantas mendapatkan kemuliaan. Dan siapa saja yang mengaku-ngaku
atau berbangga diri dengan nasabnya tersebut, namun tidak dibarengi kesalehan
dan amal ibadahnya, maka nasabnya tersebut tidaklah bernilai apa-apa.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khotbah kedua
اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ
وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا.
أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ
Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.
Bukti keempat dari kejujuran cinta seorang
muslim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah
besarnya harapan untuk melihat beliau dan kerinduan untuk berjumpa dengannya.
Bahkan, hal itu akan ia lakukan, meskipun harus dengan pengorbanan harta dan
keluarga.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah
bersabda,
مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِي حُبًّا: نَاسٌ يَكُونُونَ
بَعْدِي، يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِي بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ
Artinya : “Di antara umatku yang sangat
mencintaiku adalah orang-orang sepeninggalku. Salah seorang di antara mereka
ingin melihatku dengan (mengorbankan) keluarganya dan hartanya.” (HR.
Muslim no. 2832)
Yang kelima dan terakhir, wahai saudaraku,
adalah menghindarkan diri dari perkara yang diada-adakan dalam agama dan segala
macam bentuk ke-bid’ah-an.
Sebagian orang mengira bahwa dirinya boleh
menggambarkan dan mengekspresikan cinta dan kasih sayangnya kepada Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam dengan segala cara yang ia inginkan, tanpa perlu
memperhatikan sama sekali petunjuk dan kaidah-kaidah syariat yang berlaku.
Mereka turuti kemauan hawa nafsu mereka dengan dalih kecintaan kepada Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Padahal, Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنَ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ
هُدًى مِنَ اللَّهِ
Artinya : “Dan siapakah yang lebih sesat
daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari
Allah sedikit pun.” (QS.
Al-Qasas: 50)
Mereka membuat ritual-ritual dan
perayaan-perayaan yang sejatinya tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam dan tidak pula oleh para sahabat radhiyallahu
‘anhum sepeninggal beliau. Sebagian dari mereka berlebih-lebihan di
dalam memuji sampai pada tahapan menyamakan kedudukan beliau dengan Tuhan.
Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita
agar tidak jatuh ke dalam ke-bid’ah-an. Beliau bersabda,
إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ؛ فَإِنَّ كُلَّ
مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
Artinya : “Waspadalah terhadap
perkara-perkara baru (dalam ibadah). Sesungguhnya setiap hal yang baru adalah
bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud no.
4607, Ahmad no. 17145, dan At-Tirmidzi no. 2676)
Ketahuilah, wahai saudaraku, pengakuan cinta
saja tidaklah cukup. Yang terpenting yang harus kita jaga adalah keselarasan
amal ibadah dan gerak-gerik kita dengan apa yang telah diajarkan oleh Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam.
Semoga Allah Ta’ala menjadikan
kita salah satu hamba-Nya yang benar-benar mencintai Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam, menjadikan kita salah satu umatnya yang mendapatkan
syafaat beliau di hari akhir nanti. Ya Allah, kumpulkanlah kami dan
pertemukanlah kami dengan kekasih-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi
wasallam di surga-Mu yang penuh dengan kenikmatan dan kerinduan.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ،
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ
والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا
رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا
رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا
وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ
اللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنَِ
فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ
، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى
، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ
قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى
، والعَفَافَ ، والغِنَى
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي
اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ
وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ
وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ
وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
***
Penulis: Muhammad Idris, Lc.
Artikel: Muslim.or.id
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Artikel: Muslim.or.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar