TUNTUNAN ISLAM DALAM MENJAGA PERASAAN
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Kamis 10 Rabi'ul-Akhir 1447 H /2 Oktober 2025
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Dalam
(QS. An-Nisa: 19), Ayat ini menegaskan bahwa suami tidak boleh memperlakukan
istri dengan cara paksa atau menyusahkan mereka. Bahkan, jika ada
ketidaksukaan, suami diingatkan untuk tetap berperilaku baik dan tidak
melakukan tindakan yang merugikan. Ayat di atas juga menekankan pentingnya
sikap saling menjaga perasaan dan menjaga hubungan yang harmonis dalam
pernikahan, baik suami maupun istri, harus diperlakukan dengan baik dan penuh
kasih sayang.
‘Aisyah radhiyallahu
‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam telah bersabda,
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي
“Sebaik-baik
kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang
paling baik bagi keluargaku.” (HR. At
Tirmidzi no. 3895 dan Ibnu Majah no. 1977. Lihat Ash-Shahihah no.
285.)
Selain
keluarga, tetangga merupakan orang terdekat dalam kehidupan seseorang. Dalam
ajaran Islam, menjaga hubungan baik dengan tetangga dianggap sebagai bagian
dari iman. Tindakan yang baik dan menjaga perasaan tetangga adalah cara untuk
menciptakan lingkungan yang rukun dan serasi.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda,
وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لاَ
يُؤْمِنُ
“Demi
Allah, tidak beriman! Demi Allah, tidak beriman! Demi Allah, tidak beriman!”
Para
sahabat bertanya, “Siapa ya Rasulullah?”
Beliau
menjawab,
الَّذِي لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ
“Orang
yang tetangganya tidak merasa aman dari keburukannya.” (HR. Bukhari no. 6016)
Dalam
riwayat lain,
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
“Tidak
akan masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman dari
keburukannya.” (HR.
Bukhari no. 6016 dan Muslim no. 46)
Salah
satu aktivitas yang tidak luput dari perhatian tetangga dan dapat menjaga kita
adalah memasak, karena bisa terdengar dan tercium aromanya. Hal ini tentu dapat
membangkitkan selera bagi tetangga yang mendengar atau mencium bau masakannya,
sehingga apabila seseorang tidak menjaga perasaan dengan memberikan
(membagikan) masakannya dikhawatirkan dapat menimbulkan kerenggangan,
kekecewaan, dan penilaian buruk (pelit) dari tetangganya. Oleh karenanya, Islam
menutup celah tersebut dengan memberikan tuntunan sebagaimana hadis yang
diriwayatkan dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَاً فَأكْثِرْ مَاءها ، ثُمَّ انْظُرْ أهْلَ
بَيْتٍ مِنْ جِيرَانِكَ ، فَأصِبْهُمْ مِنْهَا بِمعرُوفٍ
“Jika
engkau memasak daging (atau masakan berkuah), maka perbanyaklah kuahnya,
kemudian lihatlah anggota keluarga dari tetanggamu, maka berikanlah kepada
mereka dengan baik.”
(HR. Muslim)
Dari
hadis di atas terdapat beberapa faedah terutama bagaimana seseorang dianjurkan
untuk peka menjaga perasaan orang lain dengan memperbanyak kuah ketika memasak
dan membagikannya kepada tetangga. Hadis tersebut juga menunjukkan bahwa level
terendah seseorang ketika memasak adalah dengan memperbanyak kuahnya, sehingga
tidak butuh modal besar dan banyak untuk diberikan kepada tetangganya. Alangkah
lebih baik lagi jika ditambahkan sayur dan dagingnya agar tetangga juga
merasakan isi kuah dari masakan tersebut.
Secara
umum ada sebuah riwayat yang menegaskan terkait anjuran menjaga perasaan antar
sesama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً، فَلَا يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ الْآخَرِ،
حَتَّى تَخْتَلِطُوا بِالنَّاسِ; مِنْ أَجْلِ أَنَّ ذَلِكَ يُحْزِنُهُ
“Jika
kalian bertiga, maka janganlah berbisik-bisik berduaan sementara yang ketiga
tidak diajak, kecuali sampai kalian bersama dengan
manusia lainnya (orang banyak). Karena hal ini bisa membuat orang yang
ketiga tadi bersedih (tersinggung).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menjaga
perasaan hewan
Terhadap
hewan pun Islam mengajarkan kepada umatnya bagaimana tata cara menjaga
perasaan.
Dari
Sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
كنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في سفر، فانطلق لحاجة، فرأينا
حمرة معها فرخان، فأخذنا فرخيها فجاءت الحمرة فجعلت تفرش، فجاء النبي صلى الله عليه
وسلم فقال: من فجع هذه بولديها؟ ردوا ولديها إليها
“Kami
bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perjalanan,
namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pergi sebentar karena
keperluan beliau. Kemudian kami menemukan burung kecil dengan dua anaknya.
Lalu, kami ambil keduanya. Ternyata induk burung terbang mengepak-epakkan kedua
sayapnya (mencari anak-anaknya). Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam datang seraya berkata, ‘Siapa yang memisahkan induk burung ini
dengan anaknya? Kembalikan anaknya kepada induknya.’ “ (HR. Abu Dawud no. 4584)
Tidak
hanya menjaga perasaan kepada hewan secara umum, tetapi Islam juga mengajarkan
bagaimana menjaga perasaan terhadap hewan yang hendak disembelih dengan tidak
menyembelih hewan kurban di hadapan hewan lainnya dan tidak boleh mengasah
pisau di depan hewan yang hendak disembelih.
Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا
قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَةَ
وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ
“Sesungguhnya
Allah memerintahkan (mewajibkan) berbuat baik terhadap segala sesuatu. Jika
kalian hendak membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian hendak
menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah kalian
menajamkan pisaunya dan senangkanlah hewan yang akan disembelih.” (HR. Muslim no. 1955)
Ibnu
Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,
أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحَدِّ
الشِّفَارِ ، وَأَنْ تُوَارَى عَنِ الْبَهَائِمِ
“Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk mengasah pisau, tanpa
memperlihatkannya kepada hewan.” (HR.
Ahmad dan Ibnu Majah)
Dari Ibnu
Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam telah melewati seorang laki-laki yang sedang
meletakkan salah satu kakinya di atas pelipis seekor kambing sambil mengasah
pisau, sedangkan hewan tersebut melihatnya, maka beliau bersabda,
أفلا قبل أتريد أن تميتها\أتريدُ أن تُميتَها مَوتاتٍ ؟
“Apakah
kamu benar-benar ingin mematikannya (dalam riwayat lain: apakah engkau ingin
membunuhnya sebanyak dua kali atau berkali-kali)?” (HR. Al-Hakim, 4: 257, Al-Baihaqi,
9: 280, dan At-Thabrani di Al-Kafir, 11: 332, dan Abdurrazzaq no. 8608.
Lihat Shahihul Jami no. 93)
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
_____________________
Penulis: Arif Muhammad N.
|Artikel: Muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Sumber: https://muslim.or.id
Edit: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar