TUNTUNAN ISLAM DALAM MENJAGA PERASAAN
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Rabu 9 Rabi'ul-Akhir 1447 H /1 Oktober 2025
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Tuntunan Islam dalam menjaga perasaan melibatkan mengelola emosi diri dengan meningkatkan iman, berdoa, dan bersabar, serta menjaga perasaan orang lain melalui perkataan yang baik atau diam, menghargai perbedaan, memberikan kritik membangun, dan menghindari guncingan. Selain itu, penting untuk menjaga kesehatan hati dari penyakit seperti dengki dan marah, serta mengamalkan sunah Nabi Muhammad SAW dalam berinteraksi.
Menjaga
perasaan adalah salah satu etika yang diajarkan dalam agama Islam. Teladan
kita, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang
sangat perasa, mudah tersentuh empatinya, meskipun hanya dengan melihat orang
lain.
Dikisahkan
dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia
berkata bahwa ketika sedang bepergian bersama Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam, beliau beristirahat di tengah perjalanan. Tiba-tiba datang
seorang pria menunggang di atas unta miliknya yang mulai menoleh ke kanan dan
ke kiri (mencari sesuatu yang dapat mengganjal perutnya, karena para sahabat
menjaga diri dari meminta-minta,-penj). Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam lantas bersabda,
مَنْ كَانَ مَعَهُ فَضْلُ ظَهْرٍ فَلْيَعُدْ بِهِ عَلَى مَنْ لاَ
ظَهْرَ لَهُ وَمَنْ كَانَ لَهُ فَضْلٌ مِنْ زَادٍ فَلْيَعُدْ بِهِ عَلَى مَنْ لاَ زَادَ
لَهُ
“Barangsiapa
yang mempunyai kelebihan kendaraan (tungganganya masih ada tempat duduk), maka
hendaklah ia berikan kepada yang tidak mempunyai kendaraan. Dan barangsiapa
yang memili kelebihan bekal, maka hendaklah ia berikan kepada yang tidak
mempunyai bekal.”
Kemudian
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan beberapa
jenis harta yang lain sehingga kami mengira bahwa kami tidak berhak atas
kelebihan harta yang kami miliki. (HR. Muslim no. 1728)
Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam menyampaikan sabda di atas sebagai respon terhadap
salah seorang sahabat beliau yang kekurangan bekal makanan. Dan beliau
mengawalinya dengan tidak langsung tertuju pada makanan, akan tetapi pada
ajakan memberikan tunggangan karena menjaga perasaan sahabat tersebut.
Dalam
riwayat lain, dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَتَخَلَّفُ فِى الْمَسِيرِ
فَيُزْجِى الضَّعِيفَ وَيُرْدِفُ وَيَدْعُو لَهُمْ
“Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berada di belakang rombongan ketika dalam
perjalanan guna membantu, memboncengkan, dan mendoakan yang lemah.” (HR. Abu Daud no. 2639 . Al-Hafizh
Abu Thahir mengatakan bahwa hadis ini sahih.)
Anjuran
menjaga perasaan antar sesama
Dalam
Islam, yang pertama kali diperhatikan terkait menjaga perasaan adalah terhadap
orang-orang terdekat, yaitu keluarga dan tetangga. Antara anggota keluarga yang
satu dengan lainnya, maka Islam menekankan agar saling menjaga perasaan untuk
terciptanya keutuhan dan keharmonisan dalam rumah tangga. Istri patut menjaga
perasaan suaminya dan begitu pula seorang suami perlu menjaga perasaan
istrinya. Anak wajib menjaga perasaan kedua orang tuanya, sebaliknya orang tua
juga harus menjaga perasaan anak-anaknya terutama dalam masalah adil.
Allah Ta’ala berfirman
terkait wajibnya menjaga perasaan dalam keluarga, terutama anak kepada orang
tuanya,
وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ
اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا
تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا
رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ
“Tuhanmu
telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat
baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya
sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau
mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak
keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Rendahkanlah
dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Wahai
Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua (menyayangiku ketika)
mendidik aku pada waktu kecil.’ ”
(QS. Al-Isra’: 23-24)
Ayat
tersebut menginstruksikan agar kita berbuat baik kepada kedua orang tua dan
dilarang untuk bersikap kasar atau mengucapkan kata-kata yang menyakitkan.
Sebaliknya, kita harus menjaga perasaan mereka dengan berbicara yang baik dan
penuh hormat.
Allah Ta’ala juga
berfirman terkait hubungan suami dan istri,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَن تَرِثُوا۟
ٱلنِّسَآءَ كَرْهًا ۖ وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا۟ بِبَعْضِ مَآ ءَاتَيْتُمُوهُنَّ
إِلَّآ أَن يَأْتِينَ بِفَٰحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ ۚ وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلْمَعْرُوفِ
ۚ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَيَجْعَلَ ٱللَّهُ فِيهِ
خَيْرًا كَثِيرًا
“Hai
orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kalian mewarisi wanita dengan cara
paksa, dan janganlah kalian menyusahkan mereka agar kalian dapat mengambil
sebagian dari apa yang telah kalian berikan kepada mereka, kecuali jika mereka
melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan perlakukanlah mereka dengan baik. Jika
kalian benci kepada mereka, maka bisa jadi kalian membenci sesuatu, padahal
Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19)
Wallahu'alam Bishshowab
Bersambung Bag. ke dua
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
_____________________
Penulis: Arif
Muhammad N.
|Artikel: Muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Artikel Abah Luky
Edit: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar