Menu

Senin, 29 September 2025

MENJAGA HATI

HATI-HATI MENJAGA HATI
Oleh : Azizah Herawati, S.Ag, MSI


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Saudaraku....!

Hari ini Selasa 8 Rabi'ul-Akhir 1447 H /30 September 2025

Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.

Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.

Hadirin yang dirahmati Allah....

Tuntunan Islam dalam menjaga perasaan meliputi menjaga lisan agar tidak menyakiti, seperti dengan berkata baik atau diam (hadis riwayat Muslim), berkata sopan, tidak menggunjing kekurangan orang lain, serta menghargai perbedaan pendapat. Selain itu, penting untuk bersikap sabar, menjaga silaturahmi, dan terus mengingat Allah melalui ibadah dan doa agar hati tetap tenang dan terhindar dari penyakit hati. 

Kehidupan di dunia ini hanyalah sementara. Ibarat sebuah perjalanan, sekedar singgah sebentar untuk minum dan segera berkemas lagi untuk melanjutkan perjalanan. Tujuannya tak lain adalah kehidupan yang kekal abadi yakni kehidupan akhirat. Semua perbuatan yang telah dilakukan selama di dunia akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat. Seluruh bagian dari tubuh ia kan menjadi saksi dari apa yang telah diperbuat selama di dunia. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kepada manusia untuk tidak mengikuti sesuatu tanpa ilmu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surat Isra’ (17) ayat 36:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا ۝٣٦

Artinuya : “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya”. (Al-Qur’an Surat Isra’ (17) ayat 36)

Peran dan kedudukan kalbu terhadap anggota tubuh yang lain sangatlah penting. Bagaikan seorang raja yang mengatur anak buahnya, di mana seluruh anggotanya bergerak dan bekerja sesuai dengan perintah sang raja (qalbu/hati). Oleh karena itu, Rasulullah Saw bersabda:

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Jadi, hati merupakan raja dari seluruh anggota badan, di mana mereka melaksanakan segala apa yang diperintahkannya. Suatu amal perbuatan tidaklah benar, kecuali bila diawali dengan “Niat” yang benar di dalam hati. Sebab hati itulah yang kelak bertanggungjawab terhadap sah tidaknya segala amal perbuatan ia. Setiap pemimpin bertanggungjawab terhadap semua hal yang dipimpinnya.

Dengan demikian, meluruskan dan membuat niat menjadi benar adalah pekerjaan yang paling utama yang harus dilaksanakan oleh hamba-hamba yang meniti jalan menuju Allah Ta’ala. Segala sesuatu dinilai dari niat yang tumbuh berasal dari dalam kalbu (hati). Memeriksa atau menghisab dan mengobati penyakit-penyakit hati adalah suatu kewajiban setiap hamba Allah Ta’ala, karena ia manusia diciptakan oleh Allah hanyalah untuk beribadah lahir dan batin kepada-Nya, karena itulah fitrah manusia. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Az-Zariyat (51) ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ ۝٥٦

Artinya : “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”. (Al-Qur’an surat Az-Zariyat (51) ayat 56)

Hati itu sendiri terdiri dari tiga macam kondisi. Akibatnya pun tentu berbeda-beda. Tentu saja setiap orang menginginkan hati yang sehat, bukan sebaliknya hati yang mati atau hati yang penuh dengan penyakit. Dengan demikian, hati dibagi menjadi 3:

1. Hati yang selamat (sehat) / Qalbun Salim

2. Hati yang mati /Qalbun Mayyit

3. Hati yang mengandung penyakit-penyakit (sakit)/ Qalbun Maridl

Adapun penjelasan dari ketiga pembagian hati tersebut adalah:

  • Hati yang selamat (sehat)/ Qalbun Salim

      Hati yang selamat adalah hati yang hanya dengannya manusia bisa datang dan berjumpa Allah Ta’ala dengan selamat di hari kiamat nanti. Yaitu pada hari di mana harta dan anak-anak tidak bermanfaat lagi. Kecuali manusia yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat (sehat). Seperti apa yang difirmankan-Nya dalam Al-Qur’an Surat  (26) ayat 88 sampai dengan 89:

“(Yaitu) pada hari ketika tidak berguna (lagi) harta dan anak-anak.Kecuali, orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”

     Hati yang selamat ini adalah hati yang selamat dari setiap hawa, keinginan maupun kehendak yang menyalahi kehendak atau perintah Allah Ta’ala. Selamat dari setiap syubhat dan kesalahfahaman yang bertentangan dengan kebaikan atau kebenaran, sehingga hati yang seperti ini juga akan selamat dari penghambaan kepada selain Allah Ta’ala, dan terlepas dari perbuatan yang menjadikan hakim selain Rasulullah Saw. Sehingga akhirnya membuahkan keikhlasan dalam setiap perilaku yang meskipun sesungguhnya merupakan rangkaian ibadah ia semata-mata hanya kepada Allah Ta’ala. Semua dilakukan secara penuh dengan segenap mahabbah, tunduk, pasrah dan tawakal, taubat, takut serta penuh harap hanya kepada Allah Ta’ala.

     Bila ia mencintai sesuatu, maka ia mencintainya hanya karena Allah Ta’ala. Dan bila ia membenci sesuatu, maka ia pun membencinya hanya karena Allah Ta’ala jua. Bila ia memberi, hanyalah karena Allah Ta’ala, dan bila ia melarang ataupun mencegah sesuatu, itupun hanya karena Allah Ta’ala. Bahkan tidak hanya sampai di situ, ia pun terlepas dari segala ketundukan dan pertahkiman kepada setiap hal yang bertentangan dengan ajaran Rasulullah Saw. Hatinya terikat sangat kuat kepada ajaran ataupun contoh Rasulullah Saw, baik dalam setiap ucapan maupun perbuatan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat (49) ayat 1:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُقَدِّمُوْا بَيْنَ يَدَيِ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ ۝١

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Al-Qur’an surat Al-Hujurat (49) ayat 1)

§  Hati yang mati /Qalbun Mayyit

Hati yang mati adalah hati yang tidak mengenal Allah Ta’ala, tidak beribadah kepada-Nya  dengan tidak menjalankan perintah dan hal apapun yang diridhai-Nya. Hati yang seperti ini selalu berada dan berjalan bersama hawa nafsu, keinginan atau kehendaknya, walaupun itu dibenci dan dimurkai Allah Ta’ala. Ia tidak peduli apakah Allah Ta’ala rida kepadanya ataukah tidak.

Apabila ia mencintai sesuatu, maka ia mencintai sesuatu karena mengikuti hawa nafsunya atau keinginannya, dan bila ia membenci sesuatu, maka ia membencinya karena hawa nafsunya. Begitu juga apabila ia menolak atau mencegah sesuatu, hawa nafsunya telah menguasainya dan menjadi pemimpin sekaligus pengendali bagi dirinya. Kebodohan dan kelalaian adalah supirnya. Ia diselubungi, dipenjara oleh kecenderungan dan kecintaannya kepada dunia, yaitu hal-hal selain Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Hatinya telah ditutupi oleh selubung kabut gelap cinta kehidupan dunia dan hawa nafsunya.

Ia tidak menyambut dan menerima panggilan serta seruan Allah Ta’ala, begitu juga seruan tentang hari kiamat, karena ia mengikuti syetan yang menunggangi hawa nafsunya. Hawa nafsunya telah membuatnya tuli dan buta, sehingga ia tidak tahu lagi manakah yang batil dan manakah yang haq. Dengan demikian, jika kita berteman dan bergaul dengan orang-orang yang hatinya telah mati seperti ini berarti sama saja kita mencari penyakit.

§  Hati yang sakit/ Qalbun Maridl

Hati yang sakit adalah hati yang hidup namun mengandung penyakit-penyakit. Hati semacam ini mengandung 2 unsur, yaitu:

1.    Di satu pihak mengandung iman, ikhlas, tawakal, mahabbah, dan sejenisnya yang membuatnya menjadi hidup

2.    Namun di pihak lain mengandung kecintaan dan kecenderungan kepada hawa nafsu, seperti cinta  dan senang pada kehidupan dunia, sombong, ego, harga diri tinggi, keluhan, iri dan dengki serta sifat-sifat lain yang dapat mencelakakan dan membinasakannya.

Hati seperti ini diisi oleh 2 jenis santapan, yaitu  santapan berupa seruan atau panggilan serta perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya akan hari kiamat dan santapan lain berupa panggilan dan kecintaan kepada dunia. Dari kedua seruan (panggilan) tersebut, yang akan disambutnya adalah yang paling dekat kepadanya.

Berdasarkan uraian dari tiga macam hati di atas, jelaslah bahwasannya hati yang pertama itulah yang selamat. Hal ini tak lain dikarenakan hati tersebut sehat dari berbagai macam penyakit hati. Hati yang demikian senantiasa khusyu’, tunduk dan bersifat lembut. Sedangkan hati jenis kedua itulah hati yang mati, tidak akan selamat alias celaka. Hati jenis ketiga yaitu hati yang sakit karena mengandung penyakit, ada dua kemungkinan, bisa kembali dengan selamat atau sehat atau sebaliknya, akan celaka (mati) tergantung kemampuannya membersihkan diri dari segala macam penyakit hati.

Semoga Allah Ta’ala selalu membimbing kita untuk menjadi pribadi yang bersih hatinya, senantiasa tunduk dan patuh pada seruan-Nya. Sehingga kita akan selamat dalam mengarungi kehidupan di dunia dan menggapai kebahagiaan abadi kelak di akhirat. (Sumber : https://magelang.kemenag.go.id/)

Wallahu 'Alam Bishshawab...

Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.

Barakallah ..... semoga bermanfaat

-----------------NB----------------

Saudaraku...!

Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :

Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.

Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa  Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.

Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. 

Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit &  kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.

Yaa Allah... Yaa Robbana...! Ijabahkanlah Do'a-do'a kami, Tiada daya dan upaya kecuali dengan Pertolongan-MU, karena hanya kepada-MU lah tempat Kami bergantung dan tempat Kami memohon Pertolongan.

ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم

آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين

وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ

🙏🙏



Sumber : https://magelang.kemenag.go.id/
Edit:  Ndik

#NgajiBareng

Tidak ada komentar:

Posting Komentar