HATI-HATI MENJAGA HATI
Oleh : Azizah Herawati, S.Ag, MSI
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Selasa 8 Rabi'ul-Akhir 1447 H /30 September 2025
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Tuntunan
Islam dalam menjaga perasaan meliputi menjaga lisan agar tidak menyakiti,
seperti dengan berkata baik atau diam (hadis riwayat Muslim), berkata sopan,
tidak menggunjing kekurangan orang lain, serta menghargai perbedaan
pendapat. Selain itu, penting untuk bersikap sabar, menjaga silaturahmi,
dan terus mengingat Allah melalui ibadah dan doa agar hati tetap tenang dan
terhindar dari penyakit hati.
Kehidupan
di dunia ini hanyalah sementara. Ibarat sebuah perjalanan, sekedar singgah
sebentar untuk minum dan segera berkemas lagi untuk melanjutkan perjalanan.
Tujuannya tak lain adalah kehidupan yang kekal abadi yakni kehidupan akhirat.
Semua perbuatan yang telah dilakukan selama di dunia akan dimintai
pertanggungjawaban kelak di akhirat. Seluruh bagian dari tubuh ia kan menjadi
saksi dari apa yang telah diperbuat selama di dunia. Oleh karena itu, Allah
memerintahkan kepada manusia untuk tidak mengikuti sesuatu tanpa ilmu. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surat Isra’ (17) ayat 36:
وَلَا تَقْفُ
مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ
كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا ٣٦
Artinuya
: “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya
pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta
pertanggungjawabannya”. (Al-Qur’an
Surat Isra’ (17) ayat 36)
Peran
dan kedudukan kalbu terhadap anggota tubuh yang lain sangatlah penting.
Bagaikan seorang raja yang mengatur anak buahnya, di mana seluruh anggotanya
bergerak dan bekerja sesuai dengan perintah sang raja (qalbu/hati). Oleh karena
itu, Rasulullah Saw bersabda:
“Ingatlah
bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula
seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa
ia adalah hati (jantung)” (HR.
Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).
Jadi,
hati merupakan raja dari seluruh anggota badan, di mana mereka melaksanakan
segala apa yang diperintahkannya. Suatu amal perbuatan tidaklah benar, kecuali
bila diawali dengan “Niat” yang benar di dalam hati. Sebab hati itulah yang
kelak bertanggungjawab terhadap sah tidaknya segala amal perbuatan ia. Setiap
pemimpin bertanggungjawab terhadap semua hal yang dipimpinnya.
Dengan
demikian, meluruskan dan membuat niat menjadi benar adalah pekerjaan yang
paling utama yang harus dilaksanakan oleh hamba-hamba yang meniti jalan menuju
Allah Ta’ala. Segala sesuatu dinilai dari niat yang tumbuh berasal dari dalam
kalbu (hati). Memeriksa atau menghisab dan mengobati penyakit-penyakit hati
adalah suatu kewajiban setiap hamba Allah Ta’ala, karena ia manusia diciptakan
oleh Allah hanyalah untuk beribadah lahir dan batin kepada-Nya, karena itulah
fitrah manusia. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Az-Zariyat
(51) ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ
الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ ٥٦
Artinya
: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”.
(Al-Qur’an surat
Az-Zariyat (51) ayat 56)
Hati
itu sendiri terdiri dari tiga macam kondisi. Akibatnya pun tentu berbeda-beda.
Tentu saja setiap orang menginginkan hati yang sehat, bukan sebaliknya hati
yang mati atau hati yang penuh dengan penyakit. Dengan demikian, hati dibagi
menjadi 3:
1.
Hati yang selamat (sehat) / Qalbun Salim
2.
Hati yang mati /Qalbun Mayyit
3.
Hati yang mengandung penyakit-penyakit (sakit)/ Qalbun Maridl
Adapun
penjelasan dari ketiga pembagian hati tersebut adalah:
- Hati
yang selamat (sehat)/ Qalbun Salim
Hati yang selamat adalah hati yang hanya dengannya manusia bisa datang dan
berjumpa Allah Ta’ala dengan selamat di hari kiamat nanti. Yaitu pada hari di
mana harta dan anak-anak tidak bermanfaat lagi. Kecuali manusia yang datang
kepada Allah dengan hati yang selamat (sehat). Seperti apa yang difirmankan-Nya
dalam Al-Qur’an Surat (26) ayat 88 sampai dengan 89:
“(Yaitu)
pada hari ketika tidak berguna (lagi) harta dan anak-anak.Kecuali, orang yang
menghadap Allah dengan hati yang bersih.”
Hati yang selamat ini adalah hati yang selamat dari setiap hawa, keinginan
maupun kehendak yang menyalahi kehendak atau perintah Allah Ta’ala. Selamat
dari setiap syubhat dan kesalahfahaman yang bertentangan dengan kebaikan atau kebenaran,
sehingga hati yang seperti ini juga akan selamat dari penghambaan kepada selain
Allah Ta’ala, dan terlepas dari perbuatan yang menjadikan hakim selain
Rasulullah Saw. Sehingga akhirnya membuahkan keikhlasan dalam setiap perilaku
yang meskipun sesungguhnya merupakan rangkaian ibadah ia semata-mata hanya
kepada Allah Ta’ala. Semua dilakukan secara penuh dengan segenap mahabbah,
tunduk, pasrah dan tawakal, taubat, takut serta penuh harap hanya kepada Allah
Ta’ala.
Bila ia mencintai sesuatu, maka ia mencintainya hanya karena Allah Ta’ala. Dan
bila ia membenci sesuatu, maka ia pun membencinya hanya karena Allah Ta’ala
jua. Bila ia memberi, hanyalah karena Allah Ta’ala, dan bila ia melarang ataupun
mencegah sesuatu, itupun hanya karena Allah Ta’ala. Bahkan tidak hanya sampai
di situ, ia pun terlepas dari segala ketundukan dan pertahkiman kepada setiap
hal yang bertentangan dengan ajaran Rasulullah Saw. Hatinya terikat sangat kuat
kepada ajaran ataupun contoh Rasulullah Saw, baik dalam setiap ucapan maupun
perbuatan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat (49) ayat 1:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُقَدِّمُوْا بَيْنَ يَدَيِ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَاتَّقُوا
اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ ١
Artinya
: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah mendahului Allah dan Rasul-Nya dan
bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui”. (Al-Qur’an
surat Al-Hujurat (49) ayat 1)
§ Hati yang mati /Qalbun Mayyit
Hati
yang mati adalah hati yang tidak mengenal Allah Ta’ala, tidak beribadah
kepada-Nya dengan tidak menjalankan perintah dan hal apapun yang
diridhai-Nya. Hati yang seperti ini selalu berada dan berjalan bersama hawa
nafsu, keinginan atau kehendaknya, walaupun itu dibenci dan dimurkai Allah
Ta’ala. Ia tidak peduli apakah Allah Ta’ala rida kepadanya ataukah tidak.
Apabila
ia mencintai sesuatu, maka ia mencintai sesuatu karena mengikuti hawa nafsunya
atau keinginannya, dan bila ia membenci sesuatu, maka ia membencinya karena
hawa nafsunya. Begitu juga apabila ia menolak atau mencegah sesuatu, hawa
nafsunya telah menguasainya dan menjadi pemimpin sekaligus pengendali bagi
dirinya. Kebodohan dan kelalaian adalah supirnya. Ia diselubungi, dipenjara
oleh kecenderungan dan kecintaannya kepada dunia, yaitu hal-hal selain Allah
Ta’ala dan Rasul-Nya. Hatinya telah ditutupi oleh selubung kabut gelap cinta
kehidupan dunia dan hawa nafsunya.
Ia
tidak menyambut dan menerima panggilan serta seruan Allah Ta’ala, begitu juga
seruan tentang hari kiamat, karena ia mengikuti syetan yang menunggangi hawa
nafsunya. Hawa nafsunya telah membuatnya tuli dan buta, sehingga ia tidak tahu
lagi manakah yang batil dan manakah yang haq. Dengan demikian, jika kita
berteman dan bergaul dengan orang-orang yang hatinya telah mati seperti ini
berarti sama saja kita mencari penyakit.
§ Hati yang sakit/ Qalbun Maridl
Hati
yang sakit adalah hati yang hidup namun mengandung penyakit-penyakit. Hati
semacam ini mengandung 2 unsur, yaitu:
1.
Di
satu pihak mengandung iman, ikhlas, tawakal, mahabbah, dan sejenisnya yang
membuatnya menjadi hidup
2.
Namun
di pihak lain mengandung kecintaan dan kecenderungan kepada hawa nafsu, seperti
cinta dan senang pada kehidupan dunia, sombong, ego, harga diri tinggi,
keluhan, iri dan dengki serta sifat-sifat lain yang dapat mencelakakan dan
membinasakannya.
Hati
seperti ini diisi oleh 2 jenis santapan, yaitu santapan berupa seruan
atau panggilan serta perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya akan hari kiamat dan
santapan lain berupa panggilan dan kecintaan kepada dunia. Dari kedua seruan
(panggilan) tersebut, yang akan disambutnya adalah yang paling dekat kepadanya.
Berdasarkan
uraian dari tiga macam hati di atas, jelaslah bahwasannya hati yang pertama
itulah yang selamat. Hal ini tak lain dikarenakan hati tersebut sehat dari
berbagai macam penyakit hati. Hati yang demikian senantiasa khusyu’, tunduk dan
bersifat lembut. Sedangkan hati jenis kedua itulah hati yang mati, tidak akan
selamat alias celaka. Hati jenis ketiga yaitu hati yang sakit karena mengandung
penyakit, ada dua kemungkinan, bisa kembali dengan selamat atau sehat atau
sebaliknya, akan celaka (mati) tergantung kemampuannya membersihkan diri dari
segala macam penyakit hati.
Semoga Allah Ta’ala selalu membimbing kita untuk menjadi pribadi yang bersih hatinya, senantiasa tunduk dan patuh pada seruan-Nya. Sehingga kita akan selamat dalam mengarungi kehidupan di dunia dan menggapai kebahagiaan abadi kelak di akhirat. (Sumber : https://magelang.kemenag.go.id/)
Wallahu 'Alam Bishshawab...
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Sumber : https://magelang.kemenag.go.id/
Edit: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar