8 TIPS MENJAGA KEIKHLASAN DALAM BERAMAL
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Kamis 8 Syafar 1448 H /23 Juli 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Kita
semua tahu bagaimana kedudukan ikhlas dalam ibadah seorang hamba. Kita
semua insyaAllah juga tahu bahwa keikhlasan merupakan salah
satu syarat utama diterimanya sebuah amal. Orang yang ikhlas akan senantiasa
Allah Ta’ala jaga dari kemaksiatan dan marabahaya. Allah Ta’ala mengisahkan
kisah nabi Yusuf ‘alaihissalam,
وَلَقَدْ
هَمَّتْ بِهٖۙ وَهَمَّ بِهَا ۚ لَوْلَآ اَنْ رَّاٰ بُرْهَانَ رَبِّهٖۗ كَذٰلِكَ لِنَصْرِفَ
عَنْهُ السُّوْۤءَ وَالْفَحْشَاۤءَۗ اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِيْنَ
“Dan
sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusuf pun
berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya.
Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sesungguhnya dia
(Yusuf) itu termasuk hamba-hamba Kami yang terikhlas (dalam hal ketaatan).” (QS. Yusuf: 24)
Orang
yang ikhlas akan mendapatkan kedudukan yang tinggi dan keikhlasannya tersebut
akan menjadi pembuka untuk kebaikan lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda,
إِنَّكَ
لَنْ تُخَلَّفَ فَتَعْمَلَ عَمَلًا تَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا ازْدَدْتَ
بِهِ دَرَجَةً وَرِفْعَةً
Artinya
: “Sesungguhnya kamu tidak diberikan umur panjang, lalu kamu mengerjakan suatu
amal untuk mengharap keridaan Allah, kecuali kamu akan bertambah derajat dan
kemuliaan dengan amal itu.” (HR.
Bukhari no. 4409 dan Muslim no. 1628)
Keikhlasan
akan menentramkan dan menenangkan jiwa serta menjauhkan seseorang dari
merendahkan diri kepada makhluk hanya karena ingin mendapatkan keridaan dan
perhatian mereka. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah mengatakan,
مَنْ عَرَفَ
الناس استراح
Artinya
: “Siapa yang mengetahui hakikat asli seorang manusia, maka ia akan tenang dan
santai.”
Maksudnya,
ia tahu bahwa orang lain tidak akan bisa memberikan manfaat ataupun memberikan
kemudaratan untuk dirinya. Sehingga ia tidak akan ambil pusing hanya untuk
mendapatkan pujian dan keridaan mereka.
Sejak
dahulu kala hingga hari kiamat nanti, seorang mukmin akan senantiasa dalam
pertempuran melawan Iblis laknatullah, yang tugasnya memang
menggoda dan memalingkan manusia dari keikhlasan dalam beramal, merusak amal
kebaikan yang telah mereka lakukan.
Sebagian
dari kita mungkin masih bingung, bagaimana caranya menjaga keikhlasan di dalam
beramal, bagaimana caranya agar senantiasa istikamah mengharapkan wajah
Allah Ta’ala di dalam setiap amalan yang kita lakukan. Syekh
Abdul Muhsin Al-Qasim hafidzhahullah dalam salah satu
karyanya, memberikan 8 tips yang insyaAllah akan membantu kita
di dalam menjaga keikhlasan.
Pertama:
Berdoa
Hidayah
ada di tangan Allah Ta’ala dan hati manusia ada di antara 2
jari Allah Ta’ala. Allah bolak-balikkan hati manusia seperti
yang Ia inginkan.
Oleh
karena itu, mintalah selalu kepada Rabb kita yang memiliki kuasa penuh terhadap
hidayah. Tampakkan kepada-Nya kebutuhan kita akan pertolongan-Nya. Mintalah
selalu keikhlasan dalam beribadah. Di antara doa yang sering dibaca oleh ‘Umar
bin Khattab radhiyallahu ‘anhu adalah,
اللهمَّ
اجعل عملي كُلّه صالحًا، واجعله لِوَجهِك خالصًا، ولا تجعل لأحد فيه شيئًا
Artinya
: “Ya Allah, jadikan seluruh amalku bernilai kebaikan, dan jadikanlah amal
tersebut benar-benar ikhlas hanya untuk wajah-Mu, dan jangan jadikan sedikit
pun dari amal tersebut untuk siapa pun (selain Engkau).” (Jaamiul Masail karya
Ibnu Taimiyyah).
Kedua:
Menyembunyikan amal
Setiap
kali sebuah amal yang memang diperintahkan untuk disembunyikan semakin
tersembunyi, maka amalan tersebut semakin berpeluang besar diterima oleh
Allah Ta’ala dan akan semakin dekat dengan keikhlasan.
Lihatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
سَبْعَةٌ
يُظِلُّهُمُ اللَّهُ يَومَ القِيَامَةِ في ظِلِّهِ، يَومَ لا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ،
ومنهَا: وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فأخْفَاهَا حتَّى لا تَعْلَمَ شِمَالُهُ ما
صَنَعَتْ يَمِينُهُ.
Artinya
: “Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak
ada naungan kecuali naungan-Nya. Di antaranya: seseorang yang bersedekah dengan
satu sedekah, lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa
yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR.
Bukhari no. 1423 dan Muslim no. 1031)
Bisyr
bin Al-Haris pernah mengatakan, “Janganlah engkau beramal hanya agar
engkau diingat (oleh manusia). Sembunyikanlah amal kebaikan sebagaimana engkau
menyembunyikan kejelekan-kejelekan.”
Salat
sunah nafilah di malam hari memiliki keutamaan lebih dari
salat sunah nafilah di siang hari. Beristigfar di waktu sahur
memiliki keutamaan khusus melebihi istigfar di waktu-waktu lainnya. Mengapa?
Karena semuanya itu lebih mudah disembunyikan dan lebih dekat dengan
keikhlasan.
Ketiga:
Dalam beramal saleh, lihatlah selalu orang yang lebih baik dari dirimu!
Saat
beramal saleh, maka jangan jadikan orang-orang di sekitarmu sebagai patokan,
apalagi jika orang tersebut lebih rendah kualitas amalnya dari dirimu.
Jadikanlah selalu para nabi dan orang saleh sebagai panutanmu dalam beramal
sebagaimana firman Allah Ta’ala,
اُولٰۤىِٕكَ
الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ فَبِهُدٰىهُمُ اقْتَدِهْۗ
Artinya
: “Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka
ikutilah petunjuk mereka.” (QS.
Al-An’am: 90)
Bacalah
kisah-kisah dan biografi orang-orang saleh terdahulu, baik itu dari kalangan
ulama, ahli ibadah, ataupun orang-orang yang zuhud. Karena kisah-kisah mereka
akan menjadi booster yang sempurna bagi keimanan.
Keempat:
Menganggap kecil amalan yang sudah dilakukan
Di
antara hal-hal yang merusak diri seorang hamba adalah merasa puas dengan
dirinya sendiri, merasa kagum dengan amalan yang telah ia lakukan. Sungguh
perbuatan semacam ini akan memperkeruh keikhlasan atau bahkan mencabut
keikhlasan, dan yang lebih buruk lagi adalah menggugurkan pahala setelah ia
bersusah payah melaksanakannya.
Said
bin Jubair radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Ada seorang
lelaki yang masuk surga karena kemaksiatan dan ada seorang lelaki yang masuk
neraka karena perbuatan baik.”
Dikatakan
kepadanya, “Bagaimana mungkin hal seperti itu terjadi?” Maka
Said bin Jubair menjawab, “Seorang lelaki pernah melakukan kemaksiatan,
lalu setelahnya ia senantiasa merasa takut akan hukuman Allah karena
kemaksiatan (yang ia lakukan) tersebut. Lalu ia pun bertemu dengan Allah. Maka,
Allah ampuni dirinya dikarenakan rasa takutnya tersebut kepada-Nya. Dan ada
seorang lelaki yang berbuat kebaikan, kemudian ia terus menerus berbangga diri
dengan hal tersebut hingga kemudian ia bertemu Allah dengan membawa amalannya
tersebut. Namun Allah masukkan ia ke dalam neraka.”
Kelima:
Merasa takut amalannya tidak diterima Allah Ta’ala
Suatu
ketika Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Wahai
Rasulullah, perihal ayat,
وَالَّذِيْنَ
يُؤْتُوْنَ مَآ اٰتَوْا وَّقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ اَنَّهُمْ اِلٰى رَبِّهِمْ رٰجِعُوْنَ
ۙ
Artinya
: ‘Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan dengan hati penuh rasa
takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada
Tuhannya.’ (QS.
Al-Mukminun: 60)
Apakah
itu tentang mereka yang mencuri, berzina, dan menenggak minuman keras kemudian
ia takut kepada Allah Ta’ala?”
Maka
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab,
لا يا بنت
أبي بكر الصديق، ولكنهم الذين يصلون ويصومون ويتصدقون وهم خائفون ألا يتقبل منهم
Artinya
: “Tidak wahai putri Abu Bakar As-Shiddiq, justru mereka adalah orang-orang
yang melaksanakan salat, berpuasa, dan bersedekah sedang mereka takut amalan
mereka tidak diterima (oleh Allah Ta’ala).” (HR. Tirmidzi no. 3175)
Sungguh
keikhlasan memerlukan perjuangan, baik itu sebelum beramal, saat beramal,
maupun setelah beramal.
Keenam:
Tidak mudah terpengaruh oleh ucapan manusia
Ibnu
Al-Jauzi rahimahullah dalam kitabnya Shaidu
Al-Khaatir berkata,
ما أقلَّ
مَن يعمل لله تعالى خالصًا! لأن أكثر الناس يُحبُّون ظهور عباداتهم، فاعلم أن ترك النظر
إلى الخلق، ومحو الجاه من قلوبهم بالعمل وإخلاص القصد، وستر الحال- هو الذي رفع مَن
رفع
Artinya
: “Sangat sedikit sekali orang beramal dengan ikhlas untuk Allah Ta’ala! Karena
kebanyakan manusia sangat senang menampakkan amalan mereka. Ketahuilah!
Sesungguhnya meninggalkan penilaian manusia, tidak gengsi hanya untuk mengambil
hati mereka saat beramal dan mengikhlaskan tujuan serta menyembunyikan keadaan
sebenarnya itulah yang akan meninggikan derajat orang-orang yang memang
memiliki kedudukan yang tinggi tersebut.”
Ketujuh:
Yakin, bahwa tidak ada seorang pun dari manusia yang berkuasa atas surga dan
neraka
Mukmin
harus yakin bahwa tidak ada seorang pun dari manusia yang bisa menjaminkan
surga untuk dirinya. Dan tidak ada juga dari mereka yang mampu mengeluarkan
seseorang dari neraka jika ada yang meminta kepadanya. Bahkan, jika semua
manusia berkumpul di belakangmu lalu mendorongmu menuju surga, maka mereka
tidak akan mampu memajukanmu walau sejengkal saja.
Lalu,
mengapa engkau harus bersusah payah beramal hanya agar dilihat manusia? Padahal
mereka sama sekali tidak memiliki kekuasaan apapun yang akan membantumu. Ibnu
Rajab rahimahullah dalam Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam mengatakan,
“Siapa
yang berpuasa, mendirikan salat dan berzikir lalu ia mengharapkan dari semuanya
itu kepentingan duniawi, maka tidak ada kebaikan baginya suatu apapun; karena
amalannya tidak akan mendatangkan manfaat apapun bagi pelakunya. Amalannya
tersebut justru akan mendatangkan dosa bagi dirinya sendiri dan tidak untuk
yang lain.”
Kedelapan:
Senantiasa mengingat bahwa kita akan sendirian di alam kubur
Jika
seseorang yakin bahwa dirinya hanya akan dikuburkan sendirian tanpa seorang
teman pun, yakin bahwa tidak ada yang bermanfaat baginya kecuali amal
kebaikannya saja, yakin bahwa semua manusia tidak akan ada yang mampu
meringankan azab kuburnya sedikit pun, serta yakin bahwa seluruh urusan itu ada
di tangan Allah Ta’ala, maka saat itu juga ia akan sadar bahwa
tidak akan ada yang dapat menyelamatkannya, kecuali dengan mengikhlaskan
seluruh amal perbuatan hanya untuk Penciptanya, Allah Subhaanahu wa
Ta’ala saja.
Ibnu Al-Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kesungguhan dan kesiapan mental seseorang untuk bertemu Allah merupakan faktor paling bermanfaat bagi seorang hamba untuk mencapai keistikamahan. Karena sesungguhnya siapa yang telah bersiap untuk bertemu Allah Ta’ala, maka hatinya akan terputus dari hiruk pikuk kehidupan duniawi dan tuntutan-tuntutannya.” (Thariqu Al-Hijratain, hal. 297).
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Artikel: www.muslim.or.id
Editing: Ndik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar