WAHAI JIWA, JANGAN KEMBALI KEPADA KEHINAAN MAKSIAT!
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Kamis 22 Syafar 1448 H /6 Agustus 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Jiwa
kita ibarat tunggangan berupa hewan ternak yang mudah tunduk pada tuannya.
Namun, kehidupan dunia ibarat alam liar yang membuat hasrat melawannya terus
terasah. Tugas kita adalah terus menjinakkannya agar senantiasa mengikuti arah
menuju kebaikan. Namun, hewan yang telah menikmati bebasnya alam liar itu
senantiasa memiliki hasrat untuk melawan. Oleh karena itu, di tengah hasrat
menggeliat, inilah tugas utama untuk menjaga jiwa berada di halaman kebaikan.
Bila
jiwa sudah terbiasa dengan manisnya iman dan kebaikan, ini adalah kebahagiaan
di atas kebahagiaan. Namun, sungguh jiwa yang sudah terbiasa dengan kebaikan,
lalu berbalik arah menjadi liar dengan kemaksiatan, maka ini adalah kehinaan
yang teramat. Simaklah uraian para ulama, di antaranya Ibnu
Rajab rahimahullah, yang mengingatkan kita semua tentang
hinanya kembali kepada kemaksiatan. Dalam Lathaiful Maarif (hal.
399), beliau memberi pesan,
وما أقبَحَ
السيئةَ بعدَ الحسنةِ تمحقُها وتعفُوها
Betapa
buruknya keburukan yang dilakukan setelah perbuatan kebaikan! Sungguh keburukan
itu akan menghapus dan membinasakannya!
ذنبٌ واحِدٌ
بعدَ التوبة أقبَحُ مِن سبعين ذنبًا قبلَها
Satu
dosa yang dilakukan setelah bertobat itu lebih buruk dari tujuh puluh dosa yang
dilakukan sebelumnya.
النكسة
أصعب من المرض، وربما أهلَكَتْ
Kambuhnya
suatu penyakit itu jauh lebih sulit disembuhkan dibandingkan terkena sakit
pertama kali. Demikian pula ia seringkali berujung kecelakaan–kematian.
سلوا الله
الثبات على الطَّاعاتِ إلى الممات، وتعوَّذُوا به من تقلُّب القلوب، ومِنَ الحَوْر
بعد الكَوْرِ
Mintalah
kepada Allah ﷻ ketetapan hati di atas ketaatan sampai wafat. Dan mohonlah
perlindungan kepada-Nya dari berbaliknya hati, serta kemunduran pasca kemajuan
yang dilakukan.
Rendahnya
kemaksiatan setelah mulianya ketaatan
Ibnu
Rajab rahimahullah memberikan wasiat,
ما أوحشَ
ذلّ المعصيةِ بَعْدَ عزِّ الطاعة، وأفحشَ فقر الطمع بعد غنى القناعة
“Betapa
menyedihkannya tergelincirnya kepada kemaksiatan setelah mencapai kemuliaan
ketaatan. Dan betapa hinanya kefakiran berbuat tamak setelah kekayaan
bersifat qanaah.
ارحموا
عزيز قوم بالمعاصي ذَلَّ، وغنِيَّ قومٍ بالذُّنوب افتقر
Kasihanilah
orang yang dahulunya mulia, tetapi kemudian menjadi rendah karena tergelincir
maksiat. Dan kasihanilah orang yang dahulunya kaya, tetapi kini menjadi miskin
karena dosanya.”
Ibnu
Rajab rahimahullah ingin mengajak kita merenungi hinanya orang
yang dulunya mulia karena amal kebajikan dan kekayaan akan ganjaran amalnya,
lalu terjerembab ke jurang rendah maksiat dan dosa. Terhadap sosok yang
demikian, hendaknya kita merasa kasihan. Rasa kasihan ini dapat kita tujukan
kepada sosok yang tenggelam dalam kemaksiatan, baik sosok itu orang lain maupun
diri kita sendiri.
Kepada
orang lain, janganlah kita biarkan ia tenggelam kembali dalam kehinaan,
selamatkan dan jangan tertawakan mereka. Ulurkanlah tangan kepada mereka dengan
rahmat dan kasih sayang. Semoga secercah iman di hatinya dapat mendorongnya
untuk kembali kepada kemuliaan.
Sedangkan
jika sosok itu adalah diri kita sendiri, maka kasihanilah dengan berhenti
membuat diri kita terus tenggelam. Allah ﷻ menjanjikan ampunan yang teramat
luas bagi kita. Andai seorang hamba membawa dosa sepenuh bumi, sungguh ampunan
Allah ﷻ melampaui itu.
عَنْ أَنَسِ
بنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّم يَقُوْلُ : قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَـى : يَا ابْنَ آدَمَ
، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا
أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ، ثُمَّ اسْتَغفَرْتَنِيْ
، غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ
الْأَرْضِ خَطَايَا ، ثُمَّ لَقِيتَنيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا ، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابهَا
مَغْفِرَةً
Dari Anas bin Malik radhiyallahu
‘anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Allah ﷻ
berfirman, ‘Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdoa dan berharap hanya
kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku
tidak peduli. Wahai anak Adam! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian
engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli.
Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang
hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak
mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan
memberikan ampunan sepenuh bumi.” (HR. at-Tirmidzi,
dinilai hasan shahih)
Kembalilah
kepada-Nya dengan bersegera. Sungguh Allah ﷻ senantiasa membuka pintu tobat
kepada hamba-Nya yang ingin kembali.
Dalam
sebuah hadis dari Abu Musa ‘Abdullah bin Qais Al-Asy’ari radhiyallahu
‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّ اللهَ
يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيئُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ
لِيَتُوْبَ مُسِيئُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا
“Sesungguhnya
Allah ﷻ selalu membuka tangan-Nya di waktu malam untuk menerima tobat orang
yang melakukan kesalahan di siang hari, dan Allah membuka tangan-Nya pada siang
hari untuk menerima tobat orang yang melakukan kesalahan di malam hari.
Begitulah, hingga matahari terbit dari barat.” (HR. Muslim no.
2759)
Bertobat
kepada Allah itu mudah
Sungguh
mudah cara bertobat kepada Allah ﷻ. Tidak disyaratkan membawa hadiah sebagai
pelembut hati, pengorbanan harta, atau semisalnya. Cukup dengan bersuci dan
bersujud kepada-Nya, Allah ﷻ akan membukakan pintu ampunan kepada kita
semuanya. Rasulullah ﷺ bersabda,
مَا مِنْ
عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ
ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ
“Tidaklah
seorang hamba melakukan dosa, lalu ia bersuci dengan baik, berdiri untuk
melakukan salat dua rakaat, kemudian meminta ampun kepada Allah, kecuali Allah
akan mengampuninya.” (HR. Tirmidzi no. 406, diriwayatkan pula oleh Abu
Daud dan Ibnu Majah. Al-Albani mengatakan
bahwa hadis ini sahih)
Berhenti
maksiat seketika sadar
Kemudian
renungilah ayat yang Nabi kita ﷺ bacakan setelah sabdanya tersebut,
وَالَّذِينَ
إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا
لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا
فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Dan
(juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri
sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka.
Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Mereka tidak
meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran:
135)
Salah
satu sifat dari seorang yang bertobat diterangkan dalam ayat ini adalah,
وَلَمْ
يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Dan
mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”
Ibnu
Katsir rahimahullah memberikan keterangan,
أَيْ: تَابُوا
مِنْ ذُنُوبِهِمْ، وَرَجَعُوا إِلَى اللَّهِ عَنْ قَرِيبٍ، وَلَمْ يَسْتَمِرُّوا عَلَى
الْمَعْصِيَةِ وَيُصِرُّوا عَلَيْهَا غَيْرَ مقْلِعِين عَنْهَا، وَلَوْ تَكَرَّرَ مِنْهُمُ
الذَّنْبُ تَابُوا عَنْهُ
“Maksudnya
adalah mereka bertobat dari dosanya dan segera kembali kepada Rabbnya. Mereka
tidak terus-menerus berbuat dosa atau mengulanginya. Sekalipun mereka
mengulangi dosa itu, mereka bertobat atasnya.”
Dari
keterangan ini, ada tiga level orang yang bertobat:
Pertama: Segera berhenti ketika tersadar, tidak
menunda hingga maksiatnya selesai terlebih dahulu. Dan ini adalah level
tertinggi.
Kedua: Setelah maksiatnya selesai, ia
benar-benar berhenti dan tidak mengulanginya.
Ketiga: Seandainya mengulangi maksiat, mereka
pun bersegera untuk bertobat darinya. Adapun kelaziman manusia adalah demikian,
setidaknya kita dapat menjangkau level ini.
Analogi
menyusu maksiat dan pahitnya masa sapihan
Wahai
para pejuang tobat! Terimalah pesan dari Ibnu Rajab rahimahullah kepada
kita semua ini. Jadilah pria sejati yang bersabar akan masa sapihan dan jangan
menjadi anak kecil yang merengek untuk menyusu kepada kemaksiatan.
يا شُبَّانَ
التوبةِ، لا تَرجِعُوا إلى ارتضاعِ ثَدْي الهَوَى من بعد الفطام، فالرَّضاع إنما يصلُح
للأطفال لا للرجال. ولكن لا بُدّ مِن الصّبْرِ على مَرَارة الفِطام؛ فإنْ صَبَرْتُم
تعوَّضْتُم عن لَذَّةِ الهَوَى بحلاوة الإيمان في القلوب
“Wahai para pemuda yang bertobat! Janganlah kalian kembali menyusu kepada hawa nafsu setelah kalian disapih darinya. Menyusu itu hanya pantas bagi anak kecil, bukan kepada lelaki sejati. Akan tetapi, hendaknya kita bersabar atas pahitnya masa sapihan dari maksiat. Apabila kalian sabar, sungguh kelezatan hawa nafsu itu akan tergantikan dengan manisnya iman di hati kalian.” (Lathaiful Maarif, hal. 399-400)
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Artikel Muslim.or.id
Editing: Ndik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar