TUTUPI AIB SAUDARAMU, APALAGI JIKA DIA TELAH BERTOBAT!
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Jum'at 25 Rabi'ul-Akhir 1447 H /17 Oktober 2025
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
KHOTBAH PERTAMA
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ,
وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ,
وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ
لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ
الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ
إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ
فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ,
وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan
Allah Ta’ala.
Pertama-tama,
kami berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada para jemaah sekalian.
Marilah senantiasa kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala dengan
menjalankan apa-apa yang diperintahkan oleh-Nya dan meninggalkan apa-apa yang
dapat mengantarkan kita ke dalam api neraka. Dengan ketakwaan inilah, wahai
jemaah sekalian, Allah akan memberikan hidayah dan taufik kepada kita sehingga
diri kita dapat membedakan kebaikan dan keburukan, serta dijauhkan dari
kesalahan dan dosa. Allah Ta’ala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَتَّقُوا۟
ٱللَّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيَغْفِرْ
لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ ذُو ٱلْفَضْلِ ٱلْعَظِيمِ
“Hai
orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan
kepadamu furqan (taufik untuk membedakan yang baik dan buruk). Dan kami akan
jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan
Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS.
Al-Anfal: 29)
Jemaah
yang dimuliakan Allah,
Allah Subhanahu
wa Taa’la memerintahkan kita untuk saling menutupi aib sesama kaum
muslimin terlebih lagi jika pelakunya sudah bertobat kepada Allah Ta’ala. Sungguh
ini merupakan akhlak yang mulia, dengannya kehormatan saudara seiman kita
terjaga, dan dengannya pula persatuan dan ukhuwwah Islamiyah di
antara kita terbangun.
Allah Subhanahu
wa Ta’ala dalam firman-Nya melarang orang-orang mukmin untuk
mencari-cari kesalahan dan aib orang lain, karena hal ini merupakan langkah
awal untuk membuka aibnya,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا
كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب
بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ
ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
“Wahai
orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. (Sesungguhnya
sebagian prasangka itu adalah dosa), dan janganlah kamu mencari-cari
kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian
yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya
yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan
bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha
Penyayang.” (QS.
Al-Hujurat: 12)
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam juga menguatkan hal ini di dalam hadis sahih yang
diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ
كُرَبِ الدُّنيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ،
وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعَسِّرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِيْ الدُّنْيَا وَالآَخِرَةِ،
وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمَاً سَتَرَهُ اللهُ فِيْ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَاللهُ فِيْ
عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ
“Barangsiapa
yang menghilangkan satu kesulitan seorang mukmin yang lain dari kesulitannya di
dunia, niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesulitan pada hari
kiamat. Barangsiapa yang meringankan orang yang kesusahan (dalam utangnya),
niscaya Allah akan meringankan baginya (urusannya) di dunia dan akhirat. Barangsiapa
yang menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia
dan akhirat. Dan Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya,
selama hamba tersebut mau menolong saudaranya (HR. Muslim no. 2699)
Begitu
banyak juga dalil-dalil yang menunjukkan peringatan keras serta ancaman
keras bagi mereka yang suka mencari dan membuka aib orang lain. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ
فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَاللَّهُ
يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Sesungguhnya
orang-orang yang ingin agar perbuatan yang sangat keji itu (berita bohong)
tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di
dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak
mengetahui.” (QS. An-Nur: 19)
Dalam
hadis riwayat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah naik mimbar,
lalu menyeru dengan suara keras,
يا معشرَ من أسلمَ بلسانهِ ولم يُفضِ الإيمانُ
إلى قلبهِ ، لا تُؤذُوا المسلمينَ ولا تُعيّروهُم ولا تَتّبعوا عوراتهِم ، فإنه من
يتبِعْ عورةَ أخيهِ المسلمِ تتبعَ اللهُ عورتَهُ ، ومن يتبعِ اللهُ عورتهُ يفضحْه ولو
في جوفِ رحلهِ
“Wahai
sekalian orang yang beriman dengan lisannya, namun tidak beriman dengan
hatinya! Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, janganlah kalian
menjelek-jelekkan mereka, dan janganlah kalian mencari-cari aib mereka. Sesungguhnya
barangsiapa yang mencari-cari aib saudaranya, maka Allah akan mencari-cari
aibnya. Dan barangsiapa yang Allah mencari-cari aibnya, niscaya Allah
akan membongkar aibnya di tengah rumahnya sendiri.” (HR. Tirmidzi no.
2032)
Jemaah
yang dirahmati Allah Ta’ala, hanya saja ada satu kondisi di
mana kita diperbolehkan untuk menceritakan dan membuka keburukan seseorang,
yaitu apabila orang tersebut melakukan maksiat secara terang-terangan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
كُلُّ أُمَّتي مُعافًى إلَّا المُجاهِرِينَ
“Seluruh
umatku akan diampuni, kecuali orang-orang yang terang-terangan (dalam berbuat
dosa).” (HR.
Buhari no. 6069 dan Muslim no. 2990)
Para
ulama berkata, “Adapun orang yang terang-terangan (bermaksiat) tanpa
memiliki rasa malu, maka dianjurkan untuk tidak menutupi aibnya, bahkan
hendaknya memperingatkan orang-orang lain agar waspada dan menjauhinya. Dan
hendaknya urusannya diangkat kepada hakim agar ia menjatuhkan hukuman yang
layak baginya.”
Menutupi
aib orang semacam ini akan mendorongnya untuk berbuat lebih banyak kerusakan
dan kemaksiatan. Hal ini sejalan dengan apa yang pernah dikatakan oleh Imam Ahmad rahimahullah, “Jika seseorang
terang-terangan melakukan kefasikan, maka tidak ada gibah baginya.”
Imam
Ahmad rahimahullah juga berkata, “Tidak ada kehormatan
dan ikatan hubungan bagi orang yang minum khamr dan melakukan perbuatan keji
secara terang-terangan dan terbuka.”
An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah memberikan
penjelasan tambahan bahwa gibahnya (membicarakan aibnya) hanya pada apa yang ia
lakukan secara terang-terangan saja, dan orang-orang lain diperingatkan untuk
menjauhi interaksi dan urusan dengannya, baik dengan memutus hubungan, tidak berbicara
dengannya, tidak mengunjunginya, atau tidak mengucapkan salam kepadanya.
Sehingga menimbulkan efek jera kepadanya. (Kitab Al-Adab Asy-Syar’iyyah, 1:
255)
Begitu
juga dibedakan antara aib pribadi yang tidak membahayakan orang lain secara
umum dengan kejahatan atau kemaksiatan publik yang dampaknya merugikan
masyarakat luas dan memerlukan penindakan hukum, seperti pencurian, penipuan,
dan lain sebagainya. Maka hal tersebut dilaporkan kepada pihak berwajib demi
kemaslahatan umum. Namun niatnya tetap harus untuk mencegah kejahatan dan
menegakkan keadilan, bukan untuk mempermalukan atau membuka aib.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ
لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHOTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ
عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ
أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ
Jemaah
salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.
Ada
beberapa hal yang dianjurkan bagi setiap muslim ketika ia mengetahui aib
saudaranya,
Pertama: Muhasabah, introspeksi
diri, dan fokus memperbaiki aib dan kekurangan diri kita sendiri, sehingga kita
tersibukkan dari menyebarluaskan aib dan kekurangan orang lain.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
طُوْبَى لِمَنْ شَغَلَهُ عَيْبُهُ عَنْ عُيُوْبِ
النَّاسِ
“Beruntunglah
orang yang disibukkan oleh aibnya sendiri sehingga tidak sempat mencari aib
orang lain.” (HR. Al-Bazzar no. 1539 dengan sanad yang hasan)
Kedua: Menasihati saudara kita tersebut
secara empat mata. Jika aib tersebut berkaitan dengan kemaksiatan atau
pelanggaran syariat, hendaknya menasihati orang tersebut secara pribadi, dengan
hikmah dan tanpa harus menyakiti perasaan dan menjatuhkan martabatnya. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,
تعمدني بنصحك في انفرادي . وجنبْني النصيحة
في الجماعهْ .فإن النصح بين الناس نوع. من التوبيخ لا أرضى استماعهْ . وإن خالفتني
وعصيت قولي. فلا تجزعْ إذا لم تُعْطَ طاعهْ
“Berilah
nasihat kepadaku ketika aku sendiri. Jauhilah memberikan nasihat di
tengah-tengah keramaian. Sesungguhnya nasihat di tengah-tengah manusia itu
termasuk suatu pelecehan yang aku tidak suka mendengarkannya. Jika engkau
menyelisihi dan menolak saranku, maka janganlah engkau marah jika kata-katamu
tidak aku turuti.” (Diwan
Asy-Syafi’i, hal. 56)
Ketiga: Mendoakan kebaikan untuknya. Jika
kita mendapati aib saudara kita, maka doakanlah agar orang tersebut bertobat
dan kembali ke jalan yang benar. Karena sejatinya, hidayah hanyalah milik Allah Ta’ala.
Keempat: Mengedapankan prasangka baik dan
menjauhkan prasangka buruk. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu
’alaihi wasallam juga bersabda,
إيَّاكُمْ والظَّنَّ، فإنَّ الظَّنَّ أكْذَبُ
الحَديثِ
“Jauhilah
prasangka, karena prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta.” (HR. Bukhari no. 5143 dan Muslim
no. 2563)
Hendaknya
seorang muslim mencarikan kemungkinan-kemungkinan baik dan uzur bagi saudara
muslim lainnya terhadap perbuatannya selama masih memungkinkan. Muhammad bin
Manazil rahimahullah berkata,
الْمُؤْمِنُ يَطْلُبُ مَعَاذِيرَ إِخْوَانِهِ
، وَالْمُنَافِقُ يَطْلُبُ عَثَرَاتِ إِخْوَانِهِ
“Seorang
mukmin itu mencarikan uzur (alasan-alasan baik) terhadap saudaranya. Sedangkan
seorang munafik itu selalu mencari-cari kesalahan saudaranya.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul
Iman, 7: 9508)
Semoga
Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menutupi aib kita di
dunia dan akhirat, serta menjadikan kita masyarakat yang penuh dengan kedamaian
dan kebaikan.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى
النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ
والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ
أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ
مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا
وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ
اللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن
الْمُسْتَضْعَفِيْنِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ
الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ
الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ
لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى
، والعَفَافَ ، والغِنَى
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي
اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ
وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
***
Penulis: Muhammad Idris, Lc.
Artikel Muslim.or.id
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Artikel: Muslim.or.id
Edit: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar