AKHLAK YANG MULIA, TANDA KESEMPURNAAN ISLAM SEORANG MUSLIM
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Ahad 2 Jumadil-Akhirah 1447 H /23 November 2025
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Mengusahakan
ibadah-ibadah individual, seperti: salat, berpuasa, melaksanakan ibadah haji,
umrah, dan ibadah-ibadah lainnya, tentu akan lebih mudah untuk dilakukan
daripada ibadah-ibadah sosial yang erat kaitannya dengan akhlak yang mulia dan
perangai yang baik. Tidak sedikit kita jumpai, seseorang yang baik salatnya,
rajin bangun di tengah malam, rajin berpuasa, namun ia lupa atau lalai dari
menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia.
Tidak
bertegur sapa dengan saudara semuslimnya saat bertemu, mudah berbicara kotor,
hobi membicarakan (kejelekan) saudara semuslimnya tanpa sepengetahuan
saudaranya tersebut, dan akhlak-akhlak tidak terpuji lainnya yang terkadang
dijumpai dari seorang pribadi muslim yang zahirnya adalah seorang yang saleh.
Saudaraku,
akhlak yang baik adalah tujuan utama diutusnya Nabi kita. Akhlak yang baik
adalah buah dari amal ibadah yang kita lakukan sehari-hari. Tidaklah diri kita
dikatakan berhasil dan sukses di dalam mengerjakan ibadah-ibadah, seperti:
salat, tahajud, dan lain sebagainya, kecuali apabila memiliki akhlak yang
mulia. Lihatlah apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam katakan
tatkala ada seorang sahabatnya yang bertanya kepadanya,
يا رَسولَ
اللهِ ! إنَّ فلانةَ تقومُ اللَّيلَ و تَصومُ النَّهارَ و تفعلُ ، و تصدَّقُ ، و تُؤذي
جيرانَها بلِسانِها ؟ فقال رسولُ اللهِ صلَّى الله عليهِ و سلم لا خَيرَ فيها ، هيَ
من أهلِ النَّارِ . قالوا : و فُلانةُ تصلِّي المكتوبةَ ، و تصدَّقُ بأثوارٍ ، و لا
تُؤذي أحدًا ؟ فقال رسولُ اللهِ : هيَ من أهلِ الجنَّةِ
“Wahai
Rasulullah, sesungguhnya ada seorang perempuan yang rajin salat malam, rajin
sedekah, dan rajin puasa, namun dia suka menyakiti tetangganya dengan
lisannya.” Nabi pun berkomentar, “Sungguh tidak ada kebaikan padanya, dia di
neraka.” Para sahabat bertanya lagi, “Ada perempuan yang dikenal hanya
melaksanakan salat lima waktu saja (jarang melaksanakan salat sunah) dan dia
hanya bersedekah dengan potongan keju, namun dia tidak pernah menyakiti
tetangganya.” Rasulullah menjawab, “Dia ahli surga.” (HR. Ahmad no. 9675 dan Bukhari
dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 119)
Nabi
diutus untuk mengajarkan akhlak yang mulia
Dahulu
kala, orang-orang jahiliah sebelum diutusnya Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wasallam sangatlah jauh dari akhlak yang baik. Banyak dari
mereka yang memiliki akhlak dan perangai yang buruk.
Akhlak
terburuk mereka adalah menyekutukan Allah Ta’ala, padahal
mereka mengetahui bahwa Allahlah satu-satu-Nya Zat yang menciptakan mereka.
Mereka pernah mengubur hidup-hidup anak-anak perempuan mereka karena rasa malu
dan anggapan bahwa anak perempuan adalah aib bagi kedua orang tuanya. Mereka
juga memiliki kebiasaan mabuk, berbuat zina, meratapi mayit, serta saling
mengejek dan mencela.
Oleh
sebab itu, di antara perjanjian (baiat) yang Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam berlakukan untuk mereka yang masuk Islam setelah dibukanya
kota Makkah adalah meninggalkan perbuatan-perbuatan tersebut. Hal ini
sebagaimana dikisahkan oleh Abdullah bin Amru radhiyallahu ‘anhu,
جاءَتْ
أُمَيمةُ بنتُ رُقَيقةَ إلى رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ تُبايِعُه على الإسلامِ،
فقال: أُبايِعُكِ على أنْ لا تشرِكي باللهِ شيئًا، ولا تسرِقي، ولا تزني، ولا تقتُلي
وَلدَكِ، ولا تأتي ببُهتانٍ تفترينَه بين يدَيكِ ورِجلَيكِ، ولا تَنوحي، ولا تبرَّجي
تبرُّجَ الجاهليَّةِ الأولى.
Umaimah
binti Ruqaiqah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk
berbaiat kepada beliau mengenai keislamannya. Maka, beliau shallallahu ‘alaihi
wasallam mengatakan,
“Aku
baiat dirimu untuk tidak menyekutukan Allah dengan suatu apa pun, tidak
mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kalian, tidak berbuat dosa
yang didatangkan di antara tangan-tangan dan kaki-kaki kalian, tidak meratapi
kematian seseorang, dan tidak bersolek serta berhias layaknya kebiasaan
orang-orang di awal-awal masa jahiliah.” (HR. Ahmad no. 6850)
Di
lain kesempatan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah
bersabda,
إنما بُعِثتُ لأتمِّمَ مكارمَ الأخلاقِ
“Sesungguhnya
aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi no. 21301 dan
Ahmad no. 8952)
Rasulullah
diutus untuk menyempurnakan dan memperbaiki akhlak umat manusia, sekaligus
sebagai contoh teladan yang baik dalam hal tersebut. Hal ini seperti firman
Allah,
لَّقَدۡ
كَانَ لَكُمۡ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ۬ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ
وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأَخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرً۬ا
“Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu)
bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia
banyak menyebut Allah.” (QS.
Al-Ahzab: 21)
Jika
kita benar-benar mencintai beliau, benar-benar ingin menjalankan syariat ini
secara sempurna, maka tentu harus memiliki akhlak yang mulia, berusaha
semaksimal mungkin untuk meneladani beliau dalam bermuamalah dan bergaul dengan
orang tua, dengan anak-anak, dengan teman sebaya, dan dengan siapa pun yang
hidup bersama kita dan bersinggungan dengan diri kita sehari-hari.
Ibadah
badan adalah wasilah (sarana) untuk mewujudkan akhlak yang
mulia
Allah Ta’ala tidaklah
memerintahkan kita untuk beribadah, kecuali di baliknya terdapat hikmah yang
agung dan besar yang dapat kita ambil darinya. Dan di antara hikmah terbesar
yang akan didapatkan seorang hamba tatkala memperbanyak ibadah adalah agar
dirinya menjadi sosok muslim yang berakhlak mulia dan berbudi pekerti yang baik
kepada siapa pun.
Dalam
hal salat misalnya. Allah Ta’ala pernah berfirman,
وَأَقِمِ
ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ
ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۗ
“Dan
dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan)
keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar
(keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain).” (QS. Al-Ankabut: 45)
Ibadah
salat yang kita harapkan keutamaannya adalah salat yang dapat menjaga diri kita
dari berlaku keji dan mungkar. Menjauhkan diri kita dari berucap kotor,
menyakiti orang lain, dan mengganggu orang lain.
Mengenai
kewajiban membayar zakat, Allah Ta’ala berfirman,
خُذْ مِنْ
أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا
“Ambillah
zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan
mensucikan mereka.” (QS.
At-Taubah: 103)
Baik
itu mensucikan mereka yang membayar zakat dari dosa-dosa ataupun mensucikan
hati mereka dari perangai buruk lagi tak terpuji.
Mengenai
ibadah haji, Allah Ta’ala juga mewanti-wanti agar ibadah haji
yang dilakukan seseorang jauh dari perilaku buruk, perangai yang tidak terpuji,
dan akhlak yang tidak baik kepada orang lain. Allah Ta’ala berfirman,
الْحَجُّ
أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلا رَفَثَ وَلا فُسُوقَ وَلا
جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا
فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
“(Musim)
haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya
dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik,
dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu
kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, karena
sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku, wahai
orang-orang yang berakal.” (QS.
Al-Baqarah: 197)
Bahkan,
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mensyaratkan perolehan
keutamaan dihapusnya dosa bagi mereka yang berhaji dengan tidak adanya akhlak
terpuji yang dilanggar oleh mereka. Beliau bersabda,
مَنْ حَجَّ
فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
“Barangsiapa
menunaikan ibadah haji, lalu ia tidak mengucapkan kata-kata kotor, serta tidak
berbuat kefasikan, maka ia pulang dalam keadaan suci seperti pada saat
dilahirkan oleh ibunya.” (HR.
Bukhari no. 1521 dan Muslim no. 1350)
Merugilah
mereka yang berakhlak buruk dan tidak mau berubah!
Sungguh
kerugian yang besar bagi siapapun yang memiliki akhlak buruk dan tidak mau
berubah darinya. Apalagi jika perangai buruknya tersebut bersangkutan dengan
hak-hak dan kehormatan orang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam mengingatkan kita bahwa amal ibadah individual bisa saja
menjadi tidak bernilai apa-apa di sisi Allah Ta’ala karena
kezaliman dan perangai buruk yang kita miliki. Di dalam hadis sahih, beliau
menyampaikan,
مَنْ لَمْ
يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ
طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa
yang tidak meninggalkan perkataan dusta, perbuatan dusta, maka Allah tidak
butuh dia meninggalkan makanan dan minumannya (puasanya).” (HR. Bukhari no. 1903)
Beliau
juga pernah menyampaikan,
رُبَّ صَائِمٍ
حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ ، وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ
السَّهَرُ
“Berapa
banyak orang yang berpuasa, hanya mendapatkan dari puasanya rasa lapar dan haus
saja. Dan berapa banyak orang yang melakukan qiyamullail hanya mendapatkan dari
qiyamullailnya terjaga (begadang) saja.” (HR. An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra no.
3249 dan Ibnu
Majah no. 1690)
Alangkah
meruginya seorang hamba yang rajin beribadah kepada Allah di malam-malam yang
sunyi, rajin bersedekah, rajin berpuasa sunah, akan tetapi saudara semuslimnya
tidak nyaman untuk tinggal di sekitarnya, teman-temannya menjaga jarak dari
dirinya karena khawatir akan keburukannya.
Sungguh
kerugian yang besar bagi mereka yang terbiasa menjadikan olokan dan hinaan
sebagai bahan tertawaan, mengumbar aib manusia sebagai bahan pembicaraan,
karena di dalam hadis yang sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam pernah bertanya kepada para sahabatnya,
أَتَدْرُونَ
مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ
فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ
وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ
دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ
فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ
فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ
“Tahukah
kamu, siapakah orang bangkrut itu?” Para sahabat radhiyallahu ‘anhum menjawab,
“Orang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak punya uang dan barang.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya orang bangkrut di
kalangan umatku, (yaitu) orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa
(pahala amalan) salat, puasa dan zakat. Tetapi dia juga mencaci maki si ini,
menuduh si itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang ini, dan
memukul orang ini. Maka, orang ini diberi sebagian kebaikan-kebaikannya, dan
orang ini diberi sebagian kebaikan-kebaikannya. Jika kebaikan-kebaikannya telah
habis sebelum diselesaikan kewajibannya, kesalahan-kesalahan mereka diambil,
lalu ditimpakan kepadanya, kemudian dia dilemparkan di dalam neraka.” (HR. Muslim no. 2581)
Semoga
Allah Ta’ala senantiasa memberikan hidayah kepada kita semua
untuk selalu berakhlak mulia, menjaga diri kita dari sifat kesombongan,
kezaliman, dan berlaku semena-mena kepada orang lain.
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
Penulis: Muhammad Idris, Lc.
Artikel: Muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Sumber: https://muslim.or.id/
Edit: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar