KASIH SAYANG ADALAH PONDASI AGAMA ISLAM
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Senin 3 Jumadil-Akhirah 1447 H /24 November 2025
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Islam, yang berakar dari kata salam, memiliki arti keselamatan atau
kedamaian. Jalan keselamatan ini adalah apa yang ditawarkan oleh Islam. Dalam
pandangan para ulama, esensi dari jalan keselamatan tersebut adalah tauhid dan
kasih sayang. Syekh Nawawi Al-Bantani rahimahullah berkata,
فان جميع
أوامر الله تعالى ترجع الى خصلتين التعظيم لله تعالى والشفقة لخلقه
“Sesungguhnya
semua perintah Allah kembali kepada dua hal: mengagungkan Allah Ta’ala dan
berkasih sayang terhadap makhluk-Nya.” (Nasha’ihul ‘Ibad, hal. 9)
Para
ulama terdahulu juga mengaitkan keimanan dengan sifat kasih sayang. Abu Khairah
Al-Aqtha’ dalam Tarikh Dimasyqi (66: 161), mengatakan,
فقلب مملوء
إيمانًا، فعلامته الشَّفَقَة على جميع المسلمين والاهتمام بما يهمُّهم، ومعاونتهم على
أن يعود صلاحه إليهم
“Hati
yang penuh dengan keimanan, tandanya adalah kasih sayang kepada semua umat
muslim, perhatian terhadap apa yang menjadi kepentingan mereka, dan membantu
mereka agar kebaikannya kembali kepada mereka.”
Akan
tetapi, Islam sering disalahpahami sebagai agama yang keras, baik dari luar
maupun dari sebagian kaum muslimin itu sendiri. Stigma ini muncul dari
penyimpangan sekelompok kaum muslimin yang mengabaikan prinsip kasih sayang dan
perdamaian, terutama oleh segelintir orang yang terlihat agamis, tetapi
memaknai Islam secara ekstrem. Di sisi lain, kaum orientalis yang
menginterpretasikan syariat Islam dengan lensa negatif juga ikut menciptakan
citra keras terhadap Islam.
Setidaknya,
ada tiga argumentasi sederhana yang menunjukkan bahwa Islam adalah agama kasih
sayang. Argumentasi ini perlu diketahui kaum muslimin sebagai ilmu yang
menambah keimanan pribadi. Selain itu, juga menjadi jawaban bagi golongan yang
skeptis terhadap klaim luasnya rahmat dalam ajaran Islam.
Islam
menuhankan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Kewajiban
pertama seorang hamba dalam Islam adalah mengakui bahwasanya tiada sesembahan
yang berhak disembah, melainkan Allah ﷻ. Dialah Allah ﷻ, Zat Yang Esa, yang
menciptakan dan memelihara kita beserta seluruh ciptaan-Nya di bentangan alam
semesta.
Dua
nama Allah yang paling sering disebut dalam Al-Qur’an adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim,
keduanya bermakna kasih sayang yang begitu luas. Allah ﷻ menetapkan atas
dirinya sifat kasih sayang dalam firman-Nya,
وَإِذَا
جَآءَكَ ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِـَٔايَٰتِنَا فَقُلْ سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ ۖ كَتَبَ
رَبُّكُمْ عَلَىٰ نَفْسِهِ ٱلرَّحْمَةَ ۖ
“Dan
apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami datang kepadamu, maka
katakanlah, ‘Keselamatan atas kalian. Tuhan kalian telah menetapkan atas
diri-Nya kasih sayang.’” (QS. Al-An’am: 54)
Allah
ﷻ juga membuka kitab suci Al-Qur’an yang mulia dengan nama Ar-Rahman
Ar-Rahim, begitu juga ketika membuka 113 surah di dalam Al-Qur’an. Allah ﷻ
membuka Al-Qur’an dengan,
بِسْمِ
اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
“Dengan
menyebut nama Allah ﷻ Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS.
Al-Fatihah: 1)
Allah
ﷻ pun kembali menegaskan sifat rahmat atas diri-Nya pada ayat selanjutnya,
الرَّحْمَنِ
الرَّحِيمِ
“Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Fatihah: 3)
Nama
Allah ﷻ bukanlah sekadar nama, tetapi juga mengandung sifat kesempurnaan di
sisi-Nya. Sifat tersebut juga memiliki tuntutan bagi kaum muslimin untuk
meneladaninya dan mengejawantahkannya dalam kehidupan sehari-hari. Lantas,
bagaimana seorang muslim tidak berkasih sayang, sementara ia beriman kepada
Allah ﷻ yang bersifat Maha Pengasih dan Penyayang?! Maka, kasih sayang bukan
sekadar nilai tambah bagi seorang muslim. Akan tetapi, ia merupakan pondasi
keimanan seorang yang beriman kepada Allah ﷻ.
Kasih
sayang dalam pengutusan Nabi ﷺ
Rasulullah
ﷺ adalah sosok yang Allah ﷻ utus dalam misi mulia, yakni menjadi rahmat bagi
semesta alam.
وَمَآ
أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ
“Dan
tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta
alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)
Rahmat
dalam ayat ini menunjukkan kepada makna jaminan keselamatan bagi siapa saja
yang mengikuti Nabi ﷺ. Dan yang dimaksud mengikuti Nabi ﷺ, dalam Tafsir
Kemenag RI, misalnya adalah pengamalan Islam yang melahirkan perlindungan,
kedamaian, dan karakter kasih sayang.
Dalam
hadis yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ’anhuma,
Rasulullah ﷺ bersabda,
الرَّاحِمُونَ
يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ
“Orang-orang
yang penyayang, niscaya akan disayangi pula oleh Ar-Rahman (Allah). Maka,
sayangilah penduduk bumi, niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi
kalian.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh Al-Albani)
Sabda
ini membawa pesan esensial bahwa kasih sayang adalah refleksi iman yang sejati.
Kasih sayang terhadap sesama berhubungan langsung dengan kasih sayang Allah ﷻ.
Bagaimana kehidupan yang tidak berisi cinta dan kasih sayang dari Allah ﷻ yang
mengatur seluruh alam? Tentu kehidupan akan teramat berat dan penuh
kesengsaraan.
Kasih
sayang sebagai akhlak sehari-hari
Sifat
kasih sayang tidak hanya termuat dalam fundamental Islam, tetapi juga tercermin
dalam syariat dan juga keteladanan Nabi ﷺ. Tujuan utama dari praktik-praktik
syariat ini adalah untuk melahirkan seorang muslim yang memancarkan kasih
sayang dalam keseharian mereka. Beberapa praktik kehidupan Islami tersebut, di
antaranya:
Pertama:
Pengulangan mengingat sifat kasih sayang Allah ﷻ dalam salat
Seorang
muslim diwajibkan untuk mengulang Al-Fatihah yang mengandung pernyataan tegas
tentang nama Ar-Rahman Ar-Rahim setidaknya 17 kali dalam
sehari. Sungguh hal ini menjadi alamat bahwa Islam menginginkan sifat kasih
sayang menjadi keseharian seorang muslim.
Kedua:
Berempati dan lemah lembut kepada orang lain
Islam
mengajarkan adab dan akhlak yang penuh empati, lemah lembut, dan pengertian
terhadap orang lain. Allah ﷻ berfirman mengabarkan sebab para sahabat Nabi ﷺ
berada di sisinya adalah karena kelemahlembutan beliau yang lahir dari sifat
rahmat,
فَبِمَا
رَحْمَةٍ مِّنَ الله لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظّاً غَلِيظَ القلب لاَنْفَضُّواْ
مِنْ حَوْلِكَ
“Maka,
disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.
Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan
diri dari sekelilingmu.” (QS.
Ali Imran: 159)
Al-Hasan
Al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Berlaku lemah lembut
adalah akhlak Muhammad ﷺ yang beliau memang diutus dengan membawa akhlak yang
mulia ini.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3: 232)
Dari
hubungan keluarga hingga interaksi dengan tetangga, Islam mendorong umatnya
untuk selalu menempatkan kasih sayang di atas kekerasan. Rasulullah ﷺ dalam
banyak hadis mengingatkan umatnya untuk berlaku lembut kepada anak-anak,
mengasihi orang tua, dan saling menyayangi sesama manusia tanpa memandang latar
belakang.
Ketiga:
Perintah beragam bentuk muamalah kasih sayang dengan sesama
Rasulullah
ﷺ juga biasa mengumpulkan perintah untuk bermuamalah dengan baik kepada sesama
makhluk-Nya sebagai perwujudan sifat rahmat. Dari Al-Bara’, dia meriwayatkan,
أَمَرَنَا
النَّبِيُّ بِسَبْعِ، وَنَهَانَا عَنْ سَبْعِ: أَمَرَنَا بِعِيَادَةِ الْمَرِيضِ، وَاتَّبَاعِ
الْجِنَازَةِ، وَتَثْمِيتِ الْعَاطِسِ، وَإِجَابَةِ الدَّاعِي، وَرَةِ السَّلَامِ،
وَنَصْرِ الْمَظْلُومِ، وَإِبْرَارِ الْمُقْسِمِ.
“Nabi
ﷺ memerintahkan kami untuk melakukan tujuh hal dan melarang kami melakukan
tujuh hal. Beliau memerintahkan kami untuk menjenguk orang sakit, menghadiri
pemakaman, mengucapkan ‘yarḥamuka Allāh’ (semoga Allah merahmati kalian) kepada
orang yang bersin, menjawab undangan, menjawab salam, menolong orang yang
teraniaya, dan memenuhi permintaan orang yang bersumpah….” (HR. Bukhari no.
6294 dan Muslim no. 5510)
Keempat:
Nabi ﷺ pun memerintahkan kasih sayang kepada hewan dan tumbuhan
Rasulullah
ﷺ bersabda,
في كُلِّ
كَبِدٍ رطبَةٍ أجرٌ
“Pada
setiap yang mempunyai hati yang basah (hewan) itu terdapat pahala (dalam
berbuat baik kepada-Nya).” (HR. Bukhari no. 2363)
Nabi
Muhammad ﷺ pun memotivasi kita untuk menumbuhkan pepohonan yang dinilai
sebagai kebaikan bagi setiap makhluk. Dalam sabda beliau ﷺ,
فَلاَ يَغْرِسُ
الْمُسْلِمُ غَرْسًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ وَلاَ دَابَّةٌ وَلاَ طَيْرٌ إِلاَّ
كَانَ لَهُ صَدَقَةً إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Tidaklah
seorang muslim menanam tanaman, lalu dimakan oleh manusia, hewan, atau burung,
kecuali hal itu merupakan sedekah untuknya sampai hari kiamat.” (HR. Muslim
no. 1552)
Bahkan,
dalam perintah menyembelih pun, Rasulullah ﷺ menekankan untuk berkasih sayang
di dalamnya. Rasulullah ﷺ telah bersabda,
إن الله
كتب الإحسانَ على كل شيء، فإذا قتلتم فأحسِنوا القِتلةَ وإذا ذبحتم فأحسِنوا الذِّبحة،
وليحد أحدُكم شَفْرَتَه ولْيُرِحْ ذبيحتَهُ
“Sesungguhnya
Allah telah mewajibkan ihsan (berbuat baik) atas segala sesuatu. Maka, apabila
kalian membunuh (hewan yang haram dimakan), hendaklah berlaku ihsan di dalam
pembunuhan. Dan apabila kalian menyembelih (hewan yang halal dimakan),
hendaklah berlaku baik di dalam penyembelihan. Dan hendaklah salah seorang kamu
menyenangkan sembelihannya dan hendaklah ia mempertajam mata pisaunya.”
(HR. Muslim no. 1955)
Terkadang,
perintah syariat yang merefleksikan sifat kasih sayang ini tampak sederhana.
Namun, dampaknya sangat besar. Semua ini adalah bentuk kasih sayang yang
menjadi pondasi dalam menggapai keselamatan, baik di dunia maupun akhirat.
Menghadapi
tantangan dan stigma
Islam
sendiri mengajarkan bahwa rahmat Allah melingkupi segala sesuatu dan umat-Nya
harus meneladani sifat kasih sayang tersebut dalam setiap aspek kehidupan.
Mencintai dan menyayangi, bahkan dalam hal-hal kecil, adalah bentuk ibadah
kepada Allah. Umat Islam harus memahami bahwa dengan menampilkan sifat kasih
sayang, mereka sejatinya sedang menunaikan perintah Allah dan mengamalkan
ajaran Rasulullah ﷺ.
Sebagai
penutup, ingatlah bahwa kasih sayang adalah pondasi dari Islam. Prinsip kasih
sayang dalam Islam, bukan hanya ajaran yang dipraktikkan kepada sesama muslim,
tetapi kepada seluruh alam. Stigma yang dilekatkan kepada Islam, tak lain ialah
datang dari kesalahpahaman orang terhadap ajaran Islam yang didapatkan dari
berinteraksi dengan penganutnya. Maka, seorang muslim harus menunjukkan akhlak
dan sifat kasih sayang kepada orang lain. Karena sejatinya seorang muslim
adalah ikon dari agama yang diyakininya.
Dan
kita perlu sadari bahwa tujuan utama dalam berkasih sayang adalah menggapai
cinta Allah ﷻ. Kecintaan Allah ﷻ berkaitan erat dengan kebermanfaatan hamba
tersebut kepada sesamanya. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ,
أحبُّ الناسِ
إلى اللهِ تعالى أنفعُهم للناسِ
“Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ath-Thabrani, 6: 139, dishahihkan Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, 2: 575)
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
Penulis: Glenshah Fauzi
Artikel: Muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Sumber: https://muslim.or.id/
Edit: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar