SABAR DALAM AL-QUR’AN
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Senin 4 Jumadil-Akhirah 1447 H /25 November 2025
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Sabar
dalam Al-Qur'an adalah sikap menahan diri dari kesusahan, mengendalikan
nafsu, dan tetap teguh dalam ketaatan, yang merupakan perintah Allah dan kunci
kesuksesan serta kemenangan dalam menghadapi ujian hidup. Al-Qur'an
menekankan bahwa Allah selalu bersama orang yang sabar (QS. Al-Baqarah: 153),
sabar adalah bagian dari iman, dan pahalanya tidak terbatas (QS. Az-Zumar: 10).
Sangking
urgen dan sentralnya sabar, serta posisinya tinggi dalam keimanan, Allah
menyebutkan sabar dalam banyak ayat di kitab-Nya. Imam Ahmad rahimahullah
mengatakan ada lebih dari 90 ayat di
Al-Qur’an yang menyebutkan tentang sabar. Baik itu dalam bentuk perintah, keutamaan,
janji pahala, dan sebagainya. Berikut beberapa contoh konteks sabar yang
disebutkan dalam Al-Qur’an:
Pertama: Allah mencintai dan membersamai orang
yang sabar, Dia berfirman,
وَٱللَّهُ
يُحِبُّ ٱلصَّـٰبِرِينَ
“Dan
Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 146)
وَٱصْبِرُوٓا۟
ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّـٰبِرِينَ
“… dan
bersabarlah. Sungguh, Allah bersama orang-orang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)
Kedua: Ada kabar gembira ampunan, rahmat, serta
titel “orang yang mendapat petunjuk” dari Allah bagi orang yang bersabar,
sebagaimana firman-Nya yang artinya,
وَبَشِّرِ
ٱلصَّـٰبِرِینَ ٱلَّذِینَ إِذَاۤ أَصَـٰبَتۡهُم مُّصِیبَةࣱ قَالُوۤا۟ إِنَّا لِلَّهِ
وَإِنَّاۤ إِلَیۡهِ رَ ٰجِعُونَ
أُو۟لَـٰۤىِٕكَ عَلَیۡهِمۡ صَلَوَ ٰتࣱ مِّن رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةࣱۖ وَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ
هُمُ ٱلۡمُهۡتَدُونَ
“… dan
sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang
yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Innā lillāhi wa innā ilaihi
rāji’ūn” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka
itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah
orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)
Ketiga: Sabar juga adalah solusi yang terbaik,
senada dengan ayat,
وَلَئِن
صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌۭ لِّلصَّـٰبِرِينَ
“Tetapi
jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang yang sabar.”
(QS. An-Nahl: 126)
Ayat
ini mengarahkan bahwa dalam suatu masalah yang melanda kita, atau musibah yang
menimpa kita, sabarlah yang terbaik. Ketika kita sabar, itu lebih baik bagi
kita dibandingkan kita berontak.
Hakikat
keberadaan dunia
Dunia
ini sejatinya adalah tempat kita diuji dan diberi cobaan. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَنَبْلُوَنَّكُم
بِشَىْءٍۢ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ
ۗ
“Dan
Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan
harta, jiwa, dan buah-buahan.” (QS. Al-Baqarah: 155)
وَنَبْلُوكُم
بِٱلشَّرِّ وَٱلْخَيْرِ فِتْنَةًۭ ۖ
“Kami
akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.” (QS.
Al-Anbiya: 35)
Tidak
ada seorang pun di dunia ini yang sama sekali tidak mendapat ujian, cobaan,
ataupun musibah. Semua pasti diuji keimanannya dengan diberi cobaan juga
musibah, yang dengan itu Allah melihat bagaimana reaksi hamba-Nya, sabarkah ia?
Marahkah? Atau malah mengumpat, tidak terima dan tidak rida dengan takdir dari
Allah?
Adapun
bentuk cobaan di dunia ini sebenarnya tidak selalu soal kesulitan dan kesusahan
saja, sebagaimana yang mungkin disangkakan sebagian besar orang. Akan tetapi,
terkadang cobaan itu berbentuk kesulitan, terkadang juga kelancaran hidup itu
sendiri adalah cobaan. Sehat jasmani pun juga adalah cobaan, bukan hanya sakit.
Bahkan, kekayaan juga pasti adalah cobaan dari Allah, pun dengan kebalikannya,
kefakiran dan kemiskinan.
Dunia
ini sendiri memang adalah tempat kita, seluruh manusia, diberi cobaan dan ujian
yang datang dalam dua bentuk: kesempitan dan kelapangan, seluruhnya adalah
cobaan. Akan tetapi, seorang mukmin sejati berbeda, cobaan yang ia dapat selalu
bernilai baik, bahkan segala urusan dan perkaranya. Kenapa? Karena ketika
menghadapi cobaan ia bersabar.
Pemberian
terbaik dari Allah
Sabar
adalah bentuk pemberian terbaik dari Allah. Dari sekian banyak hal yang Allah
berikan kepada seluruh makhluknya, sabar adalah yang terbaik. Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam pernah mengabarkan dalam hadisnya,
وما أُعطِىَ
أحدٌ عطاءً خيرًا وأوسَعَ من الصبْرِ
“Dan
tidak ada seorang pun yang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih
luas daripada kesabaran.” (Muttafaqun ‘alaih)
Dalam
hadis lain juga disebutkan,
والصَّبْرُ
ضِياءٌ
“Sabar
adalah sinar (cahaya).” (HR. Muslim)
Kesabaran
adalah bagaikan sinar, sinar bagi orang yang bersabar dan cahaya dalam
kehidupannya. Yang dengannyalah, jalan-jalan yang benar dapat dibedakan dari
jalan-jalan yang salah, membuat seseorang dapat melewati segala macam rintangan
hidup. Dan selama ia masih memiliki sinar ini (sabar), jalan hidupnya akan
terasa lebih mudah, lebih luwes, dan lebih bisa ia nikmati jika dibandingkan
jika tanpa sinar sabar ini. Dengan sabar, ia diterangi, terbimbing
langkah-langkahnya, terarah segala tindak-tanduknya, juga akan senantiasa
berada di jalan yang benar.
Kenapa
sabar bisa disebut sebagai pemberian terbaik? Karena di dunia ini, segala
sesuatunya butuh kesabaran. Dalam melaksanakan ibadah-ibadah yang Allah
perintahkan, jika tanpa sabar, bisakah seseorang melaksanakannya dengan baik,
dengan sempurna, dengan tetap sesuai syariat dan menghadirkan hati yang tulus?
Soal keistikamahan di jalan yang lurus, dapatkah seseorang bertahan dan teguh
di tengah huru-hara kesesatan yang dinormalisasi saat ini, jika tanpa sabar,
mampukah?
Dalam
bersosial, bertemu banyak macam karakter manusia, dengan berbagai latar
belakang dan situasi-kondisi mood setiap orang selalu berubah
sepanjang waktu, tanpa sabar, bisakah seseorang berhadapan dengan puluhan,
ratusan, ribuan manusia dengan segala macam permasalahan hariannya? Dalam dunia
karier, jika tidak meniti dari bawah dan belajar banyak hal yang berat dan
rumit, beban tanggung jawab seabrek, jika tanpa sabar, bisakah seseorang naik
dan mendapatkan karier tingginya?
Jika
tanpa sabar, apakah seseorang bisa melawan dorongan buruk yang menjadi
kecenderungan diri-diri manusia, terutamanya yang merusak tubuh, dunia, agama,
dan masa depan?
Bahkan,
tanpa adanya kesabaran, bisakah seseorang melewati satu saja hari dalam
kehidupannya?
Maka,
dapat kita katakan bahwa sabar punya peran penting dalam kehidupan, andil
penjagaan, yaitu menjaga dua hal:
Pertama: menjaga perkara dunia kita dengan
sabar dalam menahan mengikuti segala hawa nafsu yang mendorong ke dalam
berbagai hal buruk apa pun itu bentuknya, juga dalam melewati setiap hari-hari
yang berat; dan
Kedua: menjaga perkara agama kita dengan 3
macam sabarnya sebagaimana pembagian sabar oleh para ulama:
- sabar
dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah. Tentu hal ini berat dan butuh
kesabaran. Buktinya tidak semua orang bisa istikamah dan benar dalam
melaksanakan ketaatan,
- sabar
dari bermaksiat kepada Allah, sangat berat karena melawan nafsu yang
berasal dari diri kita sendiri dan sudah menjadi tabiat jiwa adalah
menyuruh kepada keburukan, terlebih ketika diperkuat oleh dorongan setan,
butuh kesabaran ekstra,
- dan
sabar menghadapi takdir dan segala bentuk ketetapan Allah yang terjadi
pada kita, terutamanya ketika itu adalah hal yang tidak kita sukai.
Apa
itu sabar dan kenapa harus sabar?
Sabar
tentunya bukanlah sebuah istilah ataupun sikap yang asing bagi semua orang,
tetapi karena sesuatu yang sudah terlampau diketahui, terkadang kita malah jadi
tidak mengetahui esensinya yang sebenarnya. Begitu pula dengan sabar ini, kita
mungkin merasa sudah mengetahui artinya, tapi mungkin ternyata tidak benar,
atau belum sepenuhnya.
Beberapa
ulama lain juga mengartikan sabar dengan menahan nafsu diri dari melakukan
larangan-larangan Allah dan menekannya untuk melaksanakan kewajiban yang
diperintahkan-Nya,serta, mengendalikannya dari rasa tidak puas dan berkeluh
kesah atas takdir yang sudah ditetapkan oleh-Nya.
Berdasarkan
pengertian yang dibawakan oleh para ulama, bisa kita lihat kalau sabar bukanlah
sikap lemah, pasrah, dan pesimistis seperti yang dipandang dan disangkakan oleh
hampir sebagian besar masyarakat kita saat ini.
Kalau
ditanya kenapa kita harus sabar? Secara
singkat semoga artikel ini sudah sedikit menjawabnya. Namun, kita sebagai
muslim, tidakkah cukup bagi kita ayat-ayat dan hadis-hadis tentang sabar untuk
membuat kita bisa bersabar?
Jikalau
kita perhatikan, semua konteks ayat tentang sabar di Al-Qur’an tidak ada satu
pun sama sekali yang menegasikan esensi dan hakikat serta kebermanfaatan sabar,
semuanya tentang hal positif dari sabar, buah manis dari sabar, janji indah
dari Allah, ganjaran atas kesabaran. Maka, dari mana datangnya persepsi kalau
sikap tidak sabar lebih baik? Meluapkan emosi dan membuat kekacauan, itukah
yang disebut baik? Sepertinya tidak akan pernah sekalipun sikap seperti itu
(luapan emosi karena tidak adanya kesabaran) dapat menggeser kedudukan sabar
sebagai sikap terbaik. Keberlangsungan hidup jasmani dan rohani, bahkan
bergantung pada sabar.
Kenapa
orang sulit sekali disuruh untuk bersabar? Padahal, sabar itu kau hanya perlu
menahan, menahan emosi, menahan hawa nafsu, menahan dorongan-dorongan dan
kecenderungan negatif. Kamu menahannya apakah lebih sulit daripada melakukannya
yang justru memakan waktu dan tenaga?
Orang-orang
bebal mungkin akan berkelit dengan alibi “Sabar juga ada batasnya!”
Oke,
memang ada, sabar memang ada batasnya. Apa batas sabar? Batasnya adalah 950
tahun mengajak orang-orang sesat ke jalan yang benar dan hanya sedikit yang
mempercayai, bahkan selalu didebat, dihina, dicaci, dan dimaki, padahal apa
yang disampaikan tidak sedikit pun mengandung kesalahan. Apakah kita sudah
sampai batas itu? Jika belum, maka masih harus sabarlah kita.
Selama
kita masih menginginkan keberuntungan, bersabarlah. Begitulah petuah Islami
dari ayat,
يَـٰٓأَيُّهَا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱصْبِرُوا۟ وَصَابِرُوا۟ وَرَابِطُوا۟ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُونَ
“Wahai
orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan
tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah
agar kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200)
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
Penulis: Abdurrahman Waridi Sarpad
Sumber: https://muslim.or.id/
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Sumber: https://muslim.or.id/
Edit: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar