KARAKTERISTIK FUNDAMENTAL AL-QURAN
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Kamis 5 Rajab1447 H /25 Desember 2025
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Bagi orang yang beriman, Al-Qur’an merupakan sebuah pedoman fundamental yang menjadi rujukan dan landasan prinsip dalam menjalani kehidupan di dunia dan di akhirat. Al-Qur’an merupakan kalamullah yang dengan keagungannya dikhususkan untuk disampaikan kepada umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang alam tidak sanggup memikulnya.
Allah Ta’ala berfirman,
لَوۡ أَنزَلۡنَا هَـٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ عَلَىٰ جَبَلࣲ لَّرَأَیۡتَهُۥ خَـٰشِعࣰا مُّتَصَدِّعࣰا مِّنۡ خَشۡیَةِ ٱللَّهِۚ وَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَـٰلُ نَضۡرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ یَتَفَكَّرُونَ
“Sekiranya Kami turunkan Al-Qur`an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.” (QS. Al-Hasyr: 21)
Namun, di antara jutaan umat manusia yang meyakini kemuliaan dan
keutamaan kitab suci ini, tetap saja ada yang berperilaku menyimpang
terhadapnya. Mulai dari bersikap enggan untuk membaca dan mentadaburinya, tidak
beriman kepadanya, bahkan ada yang dengan sengaja mengubah isi dan maknanya,
serta ada pula yang tega membakarnya. Wal’iyadzu billah.
Mungkin, saat ini, kita khususnya yang membaca artikel ini, tidak termasuk dalam golongan orang-orang menyimpang tersebut, insyaAllah. Akan tetapi, adakah yang menjamin bahwa orang-orang di sekitar kita khususnya mereka orang-orang yang kita sayangi (orang tua, keluarga, anak/keturunan, dan kerabat) terbebas dari perilaku menyimpang ini?
Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk terlebih dahulu menanamkan
keimanan dan pemahaman yang kokoh pada diri kita tentang Al-Qur’an.
Mudah-mudahan, dengan keimanan dan pemahaman tersebut, dapat menjadikan kita
mampu untuk memberikan kebenaran tentang Al-Qur’an kepada orang banyak
khususnya orang-orang terdekat kita.
Saudaraku, banyak dalil yang menyebutkan keutamaan dan keagungan
Al-Qur’an baik secara aqli maupun naqli. Namun, dalam kesempatan kali ini, kami ingin
menguraikan satu dalil naqli tentang
Al-Qur’an yang sangat fundamental untuk dapat diimani, dipahami, dan
diaplikasikan dalam kehidupan kita.
Dalil yang sering kita lantunkan tatkala memulai membaca dan mentadaburi
lembar demi lembar permulaan ayat Al-Qur’an.
Allah Ta’ala berfirman,
الٓمٓ ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
“Alif Lam Mim. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 1 – 2)
Saudaraku, melalui ayat di atas, Allah Ta’ala menegaskan 2 karakteristik Al-Qur’an yang sangat penting untuk kita pahami, yaitu: tidak ada keraguan dan petunjuk bagi orang-orang bertakwa.
Tidak ada keraguan di dalamnya
Di antara tanda
keimanan seseorang adalah ia meyakini adanya kitab kalamullah yang diturunkan kepada para Nabi dan
Rasul shalawatullah ‘alaihim. Dalam hal ini, Al-Qur’an
sebagai kita suci umat Islam yang menjadi pelengkap kitab suci sebelumnya.
Iman terhadap
Al-Qur’an merupakan perkara yang wajib bagi seorang muslim. Seseorang dikatakan
beriman, hanya apabila ia meyakini 6 (enam) rukun iman yang menjadi syarat
wajib dari amalan hati yang harus dipenuhi.
Sebuah potongan hadis Jibril yang merupakan lanjutan dari hadis Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam menjawab pertanyaan malaikat Jibril ‘alaihissalam tentang Iman.
قَالَ : صَدَقْتَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ قَالَ : فَأَخْبِرْنِي عَنِ الإِيْمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
“Orang itu (Jibril) berkata, “Engkau benar.” Kami pun heran, ia bertanya lalu membenarkannya. Orang itu berkata lagi, “Beritahukan kepadaku tentang Iman.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, kepada para rasul-Nya, kepada hari kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim, no. 8)
Tidak mengimani Al-Qur’an, artinya tidak percaya terhadap isi kandungannya. Padahal, Al-Qur’an dan semua kandungannya selalu berada dalam penjagaan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya
Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr :9)
Akhirnya, seseorang yang tidak mengimani isi kandungan Al-Qur’an akan
dianggap sebagai orang yang tidak beriman karena telah gugur daripadanya salah
satu rukun iman yang enam. Iman adalah kemantapan hati dalam meyakini sesuatu
yang tidak dapat dicapai oleh pancaindra. Meskipun telah banyak bukti nyata
tentang kebenaran Al-Qur’an khususnya yang berkaitan dengan saintifik seperti
ilmu tentang astronomi, biologi, fisika, dan berbagai disiplin ilmu.
Namun, masih ada manusia yang masih mempertanyakan keautentikan Al-Qur’an. Mereka masih beralasan bahwa dalil-dalil naqli belum cukup untuk memantapkan hati mereka terhadap Al-Qur’an. Padahal, tidak sulit bagi Allah Ta’ala untuk membuktikan semuanya hingga mereka beriman. Sebagaimana permohonan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kepada Rabbnya,
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي
“Dan ketika Ibrahim berkata, ‘Ya Rabbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yang mati.’ Allah berfirman, ‘Apakah kamu belum percaya?’ Ibrahim menjawab, ’Saya telah percaya, akan tetapi agar bertambah teguh hati saya.’ “ (QS. Al-Baqarah : 260)
Tetapi, kenapa
mereka beranggapan bahwa mereka masih butuh bukti dari Allah agar memantapkan
hati mereka? Saudaraku, inilah amalan hati yang dinamakan iman terhadap hal
yang gaib. Mengimani sesuatu yang tidak dapat terjangkau oleh pancaindra bukan
berarti hal yang diimani tersebut tidak ada. Tetapi justru karena keterbatasan
yang ada pada fisik manusia untuk mencapai pembuktian tersebut secara materil.
Oleh karenanya, firman Allah Ta’ala (yang menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya) ini adalah perkara pokok yang wajib kita imani dengan cara melaksanakan seluruh perintah dan larangan Allah yang terkandung di dalamnya, serta mengambil ibrah dari setiap kisah yang tertera di dalamnya dengan haqqul yaqin.
Petunjuk bagi
orang-orang bertakwa
Telah dijelaskan
sebelumnya bahwa di antara cara beriman terhadap Al-Qur’an adalah dengan cara
melaksanakan seluruh perintah dan larangan Allah yang terkandung di dalamnya.
Maka, orang yang benar-benar komitmen dengan keimanan terhadap Al-Qur’an inilah
yang disebut sebagai orang-orang yang bertakwa.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
وَالقُرْاَنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
“Al-Qur’an
itu bisa menjadi pembelamu atau musuh bagimu.” (HR. Muslim no.
223)
Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Syarh Arba’in An-Nawawiyyah berkata, ”Al-Qur’an itu bisa menjadi pembelamu, jika engkau melaksanakan nasihat terhadap Al-Qur’an.”
Saudaraku, sadarilah bahwa Al-Qur’an tidak hanya sekadar panduan, tetapi juga merupakan sumber petunjuk spiritual dan moral bagi individu yang memiliki takwa. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِینَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِیَتۡ عَلَیۡهِمۡ ءَایَـٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِیمَـٰنࣰا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ یَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetar hatinya. Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya. Dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2)
Marilah kita renungkan sejenak. Pernahkah hati kita tergugah tatkala
mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an karena memahami makna ayat yang sedang
kita dengarkan? Atau lebih sederhana lagi, berapa kali dalam sehari kita
mengkhususkan waktu untuk ber-taqarrub dengan Allah melalui Al-Qur’an (membaca dan mentadaburinya)?
Padahal, Al-Qur’an merupakan bagian dari sebab seseorang mendapatkan ketinggian derajat di surga, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُهَا
“Dikatakan kepada
shahibul Qur’an (di akhirat), “Bacalah Al-Qur’an dan naiklah ke surga serta
tartilkanlah (bacaanmu) sebagaimana engkau tartilkan sewaktu di dunia.
Sesungguhnya kedudukan dan tempat tinggalmu (di surga) berdasarkan akhir ayat
yang engkau baca.” (HR. Imam Tirmidzi, Abu Dawud, dari
Abdillah bin Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhuma)
Menyadari betapa
agungnya kitab suci Al-Qur’an ini, orang-orang yang memiliki ketakwaan pada
dirinya pasti akan menjadikannya petunjuk untuk menggapai keridaan Allah Ta’ala berupa surga dan perjumpaan dengan-Nya.
Karena, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala “petunjuk bagi orang yang
bertakwa.“, Al-Quran hanya akan menjadi wasilah bagi orang yang
konsisten dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Semoga kita senantiasa mendapatkan karunia jalan keridaan Allah Ta’ala berupa keimanan dan ketakwaan sehingga memperoleh keistikamahan untuk selalu menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman kehidupan dunia dan akhirat. Allahumma amin.
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
Penulis: Fauzan Hidayat
Artikel: Muslim.or.id.
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Penulis: Fauzan Hidayat
Artikel: Muslim.or.id.
Edit: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar