Menu

Sabtu, 03 Januari 2026

HAKIKAT HIDAYAH

HAKIKAT HIDAYAH : PERAN GURU DAN BATASAN KITA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Saudaraku....!

Hari ini Ahad 15 Rajab1447 H /4 Januari 2026

Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.

Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.

Hadirin yang dirahmati Allah....

Hakikat hidayah adalah petunjuk dari Allah, sedangkan peran guru adalah membantu manusia meraihnya dengan menjadi pendidik, motivator, dan fasilitator. Namun, batasan kita adalah bahwa hidayah itu sendiri adalah milik Allah dan tidak bisa dipaksakan, sehingga seorang guru hanya bisa berusaha dan berdoa, tidak bisa menjamin murid akan mendapatkannya. 

Pernahkah hati kita merasakan gelisah, bahkan mungkin sedikit “gregetan,” ketika nasehat kebaikan yang berulang kali kita sampaikan seolah tak berbekas pada jiwa yang kita harapkan? Apalagi bila sosok tersebut adalah mereka yang kita bimbing, seperti murid atau santri, dan kita sendiri adalah seorang guru atau pendidik. Rasa putus asa bisa menyelinap, menggoda kita untuk menyerah atau bahkan bertindak di luar batas kesabaran. Namun, di sinilah terletak ujian terbesar bagi para pengemban amanah dakwah : "Memahami hakikat hidayah dan peran sejati kita".

Menanggapi gejolak hati semacam ini, harus ditanggapi dengan bijak, tidak bisa dilakukan dengan tindakan gegabah. Dakwah, adalah sebuah perjalanan panjang yang membutuhkan proses dan kesabaran, bukan sulap yang menghasilkan perubahan instan. Ia tak bisa disimulasikan seperti “simsalabim” yang mengubah segalanya dalam sekejap mata.

Lebih jauh, hikmah mendalam yang patut kita renungkan adalah bahwa kita tidak dituntut untuk melihat hasil akhir dari upaya dakwah kita. Amanah kita hanyalah pada proses, pada penyampaian kebenaran dengan cara terbaik. Sebab, hak untuk membuka dan melembutkan hati seseorang sepenuhnya berada di Tangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bahkan, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang mulia sekalipun, tidak memiliki kewenangan untuk memaksa atau memastikan hidayah seseorang. Tugas kita hanyalah menyampaikan, dan jika kebaikan itu diikuti, maka puji syukur kehadirat-Nya. Jika belum, kesabaran adalah kunci.

Kisah agung tentang Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan pamannya, Abu Thalib, menjadi pelajaran abadi tentang batasan kuasa manusia dalam membukakan pintu hidayah. Abu Thalib adalah sosok yang sangat dicintai Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, pelindung setia dakwah beliau sepeninggal sang kakek, Abdul Muthalib. Ikatan batin mereka begitu kuat, dipenuhi kasih sayang timbal balik yang tak terhingga, namun takdir hidayah memiliki jalannya sendiri.

Pada detik-detik terakhir kehidupan Abu Thalib, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dengan segala kerendahan hati dan cinta yang melimpah, datang menuntun pamannya untuk mengucapkan kalimat tauhid. “Wahai pamanku,” pinta Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dengan suara bergetar, “ucapkanlah ‘La ilaha illallah,’ sebuah kalimat yang akan kubersaksi untukmu di sisi Allah kelak.” Namun, di tengah upaya suci ini, godaan dan bisikan jahil dari Abu Jahal dan Abdullah ibn Abi Umayyah turut mewarnai suasana. Mereka membujuk Abu Thalib untuk tetap teguh pada agama leluhurnya. Meskipun Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam terus mengulang permintaannya, kehendak Allah-lah yang berlaku. Abu Thalib memilih untuk tetap pada keyakinan Abdul Muthalib hingga akhir hayatnya, sebuah pengingat bahwa hati manusia ada dalam genggaman-Nya.

Kisah ini kemudian diabadikan dalam firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an Surat Al-Qashash [28] ayat 56, 

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُۚ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ ۝٥٦

Artinya : "Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) tidak (akan dapat) memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk). Dia paling tahu tentang orang-orang yang (mau) menerima petunjuk. (QS. Al-Qashash [28] ayat 56,)

Tafsir Wajiz : Hidayah yang mengantar seseorang menerima dan melaksanakan tuntunan Allah bukanlah wewenang manusia, atau dalam batas kemampuannya, tetapi semata-mata wewenang dan hak prerogatif Allah. Di sini Allah menjelaskan hakikat tersebut dengan penegasan, “Sungguh, engkau wahai Nabi Muhammad, tidak dapat memberi petunjuk dalam bentuk hidayah taufiq yang menjadikan seseorang menerima dengan baik dan melaksanakan ajaran Allah kepada orang yang engkau kasihi, meski engkau sangat berhasrat untuk memberi petunjuk kepada kaummu. Engkau hanya mampu memberi hidayah irsyad, dalam arti memberi petunjuk dan memberitahu tentang jalan kebahagiaan, Akan tetapi, Allah-lah yang memberi petunjuk keimanan hidayah kepada orang yang Dia kehendaki-Nya bila dia bersedia menerima hidayah dan membuka hatinya untuk itu, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”

Ayat ini menegaskan kembali bahwa hidayah adalah karunia Illahi. Maka, marilah kita senantiasa memupuk kesabaran dalam berdakwah, terus berikhtiar dengan hikmah, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya, tugas kita adalah menanam benih, adapun buahnya, itu adalah kehendak-Nya semata.

Wallahu'alam Bishshowab

Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.

Barakallah ..... semoga bermanfaat

-----------------NB----------------

Saudaraku...!

Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :

Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.

Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa  Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.

Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. 

Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit &  kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.

Yaa Allah... Yaa Robbana...! Ijabahkanlah Do'a-do'a kami, Tiada daya dan upaya kecuali dengan Pertolongan-MU, karena hanya kepada-MU lah tempat Kami bergantung dan tempat Kami memohon Pertolongan.

ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم

آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين

وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ

🙏🙏



Artikel Abah Luky
Edit:  Ndik

#NgajiBareng

Tidak ada komentar:

Posting Komentar