MELESTARIKAN LINGKUNGAN ADALAH HAK DAN KEWAJIBAN BERSAMA
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Senin 21 Muharam 1448 H /6 Juli 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Prinsip
kemaslahatan bersama ini juga ditegaskan dalam sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam,
الْمُسْلِمُونَ
شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ: فِي الْمَاءِ، وَالْكَلَأِ، وَالنَّارِ
“Kaum
muslimin berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.”
(HR. Abu
Dawud dan Ahmad) [4]
Hadis
ini menunjukkan bahwa sumber-sumber kehidupan pokok yang menjadi penopang
kelestarian alam adalah milik bersama. Karena statusnya sebagai hak publik,
maka menjaganya dari kerusakan bukan lagi sekadar anjuran moral, tetapi masuk
dalam tuntutan syariat demi terjaganya kemaslahatan bersama. Menjaga
kelestarian lingkungan berarti mempedulikan kemaslahatan bersama karena banyak
makhluk yang bergantung pada kelestarian lingkungan. Para ulama dari kalangan
Syafi’i berpendapat bahwa menghidupkan tanah yang usang (mati) adalah perkara
yang sunah dan dianjurkan sebagaimana disebutkan oleh Syekh Yasir
an-Najjar rahimahullah dalam kitabnya, Mawsū‘ah
al-Fiqh ‘alā al-Mazāhib al-Arba‘ah,
نصَّ الشافِعيةُ
على أنَّ إِحياءَ المَواتِ مُستحَبٌ
“Ulama
dari kalangan Syafi’iyyah berpendapat bahwa menghidupkan tanah yang usang
(mati, tidak terurus) adalah perkara yang sunah.” [5]
Mereka
berdalil dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَن أحيا
أرضًا ميتةً فله فيها أجرٌ وما أكَلتِ العافيةُ فهو له صدقةٌ
“Barangsiapa
yang menghidupkan tanah yang mati (gersang), maka baginya pahala. Setiap ada
makhluk yang mengambil manfaat dari tanah itu, maka ia akan terhitung sebuah
pahala.” (HR. Ahmad, ad-Darimi,
dan an-Nasa`i) [6]
Dalam
konteks hadis ini, menghidupkan tanah mati berarti melestarikan lingkungan;
karena dengan lestarinya lingkungan, maka makhluk-makhluk lain seperti burung
maupun hewan liar akan mendapatkan makan dan tempat tinggal dari hal itu.
Disebutkan oleh An-Nawawi rahimahullah dalam
kitabnya, Rawḍah al-Ṭālibīn, ketika menjelaskan hadis
tersebut,
العَوافِيُّ:
طُلابُ الرِّزقِ مِنْ طَيرٍ أو وَحشٍ أو غيرِهما
“Makhluk-makhluk
pada hadis tersebut bermakna: para pencari rezeki (makan atau tempat tinggal),
baik dari kalangan burung, binatang liar, dan yang lainnya.” [7]
Syamsuddin
Muhammad al-Maghribi (ulama dari kalangan Maliki) menyebutkan dalam
kitabnya, Mawāhib al-Jalīl,
حِكمةُ
مَشروعيَّةِ الإِحياءِ الرِّفقُ والحثُّ على العِمارةِ
“Hikmah
disyariatkannya ihyā’ (menghidupkan tanah mati) adalah untuk menumbuhkan sikap
kasih sayang (kepedulian) dan memakmurkan bumi (melestarikan lingkungan).” [8]
Banyak
penelitian ilmiah terkini juga menyebutkan aktivitas manusia sangat berpengaruh
terhadap keseimbangan ekosistem yang ada. Mengetahui hal tersebut, seharusnya
sebagai orang yang beriman kepada Allah, kita memperhatikan kelestarian
lingkungan dalam aktivitas kehidupan. Di dalam jurnal Nature, Keck
dkk (2025) menyebutkan bahwa dampak aktivitas manusia terhadap biodiversitas
(keanekaragaman hayati) bersifat global dan menentukan menjadikan manusia
sebagai pengendali (controller) yang dapat menyelamatkan atau malah
mempercepat keruntuhan spesies [9]. Peran manusia sebagai
pengendali ekosistem telah diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya,
وَلَقَدْ
كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ
الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّن مَّا خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
“Sungguh
Kami telah memuliakan anak cucu Adam; Kami angkut mereka di darat dan di laut,
Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka atas
banyak makhluk yang Kami ciptakan.” (QS. Al-Isrâʼ: 70)
Manusia
Allah muliakan dengan kemampuannya untuk berfikir dibanding makhluk-makhluk
penghuni bumi yang lainnya. Al-Baghawi rahimahullah dalam
tafsirnya, Tafsīr Ma‘ālim at-Tanzīl, menjelaskan maksud dari
firman Allah لَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ (Sungguh Kami telah
memuliakan anak cucu Adam),
ورُوِيَ
عن ابنِ عباسٍ رضيَ اللهُ عنهما أنَّه قال: بالعقلِ. وقال الضحَّاكُ: بالنُّطقِ
“Diriwayatkan
dari Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā bahwa (kelebihan manusia) adalah karena
akal. Adh-Ḍaḥḥāk juga berkata: (bahwa kelebihan manusia) karena kemampuan
berbicara.” [10]
Kemuliaan akal yang Allah berikan kepada manusia bukan sekadar kelebihan biologis, tetapi juga merupakan dasar tanggung jawab moral. Dengan akal itulah, manusia mampu memilih antara perbuatan yang membawa kemaslahatan bagi seluruh makhluk atau justru menimbulkan kerusakan bagi kehidupan yang lain.
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Editing: Ndik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar