MENGENALI DIRI SENDIRI, JALAN MENUJU KETENANGAN HATI
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Ahad 17 Rabi'ul-Awal 1448 H /30 Agustus 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Dalam perjalanan hidup yang penuh liku,
manusia kerap tersesat bukan karena gelapnya jalan, tetapi karena tidak
mengenal dirinya sendiri. Kita berjalan jauh, mencari makna ke berbagai arah,
padahal kunci ketenangan itu bersemayam di dalam diri.
Saat seseorang mulai mengenali dirinya,
ia tidak lagi asing dengan asal-usulnya, mengerti apa yang benar-benar ia
butuhkan, dan mampu membedakan mana yang menguatkan serta mana yang perlahan
merusaknya. Dari situlah lahir sebuah kompas batin yang menuntun langkah agar
tidak mudah goyah oleh berbagai fitnah.
Ibnu
Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,
مَنْ عرف نفسه بالضعف عرف
ربه بالقوة، ومن عرفها بالعجز عرف ربه بالقدرة، ومن عرفها بالذل، عرف ربه بالعز، ومن
عرفها بالجهل، عرف ربه بالعلم
Artinya : “Barang siapa mengenal
dirinya sebagai makhluk yang lemah, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang
Maha Kuat.
Barang siapa mengenal dirinya sebagai
tidak mampu, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Berkuasa.
Barang siapa mengenal dirinya sebagai
hina, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Mulia.
Barang siapa mengenal dirinya sebagai
bodoh, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Mengetahui.” (Madarijus
Salikin, 1: 427)
Mengenal diri bukan sekadar memahami
kelebihan, tetapi juga berani menatap kelemahan dengan jujur. Dalam kejujuran
itu, hati menjadi lebih lapang, lebih lembut, dan membuat kita menyadari
kelemahan, kebutuhan, dan ketergantungan total kepada Allah Ta’ala.
Ada beberapa cara agar kita dapat
mengenali diri sendiri lebih dalam.
Pertama, mengetahui unsur dasar
penciptaan diri
Manusia adalah makhluk istimewa (mulia),
diberi akal, diberi amanah, dan dijadikan khalifah di
bumi. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ
ءَادَمَ
Artinya : “Sungguh Kami telah memuliakan
anak Adam…” (QS. Al-Isra’: 70)
Kemuliaan itu bukan tanpa alasan. Salah
satunya adalah karena manusia diciptakan dari dua unsur besar, yaitu jasad dan
ruh.
Unsur jasad (lahir)
Allah Ta’ala berfirman,
وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ
خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ
Artinya : “Dan di antara tanda-tanda
kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah.” (QS. Ar-Rum: 20)
Jasad manusia berasal dari tanah,
membutuhkan makanan, pakaian, tempat tinggal, istirahat, dan perawatan. Semua
itu adalah tanda bahwa manusia lemah dan bergantung pada pemberian Allah.
Unsur ruh (batin)
Allah Ta’ala juga
berfirman mengenai ruh,
وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ
ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى
Artinya : “Dan mereka bertanya
kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu urusan Rabb-ku…” (QS. Al-Isra’:
85)
Ruh adalah tiupan kemuliaan dari
Allah Ta’ala. Ia tidak terlihat, tidak tersentuh, tetapi ia
yang menggerakkan hati, iman, dan arah hidup kita.
Oleh karena itu, siapa saja yang hanya
memperhatikan jasadnya, tetapi membiarkan ruhnya kelaparan, ia telah merusak
keseimbangan terhadap dirinya sendiri.
Kedua, mengenali kebutuhan pokok diri
Ketika kita telah mengetahui bahwa
manusia diciptakan dari dua unsur (jasmani dan rohani), maka selanjutnya untuk
bisa mengenal diri sendiri perlu juga untuk mengetahui kebutuhan pokok atas
jasmani dan rohani tersebut.
Kebutuhan pokok jasad meliputi pangan
(makanan), sandang (pakaian), dan papan (tempat tinggal), karena ketiganya
adalah kebutuhan dasar yang membuat manusia mampu bertahan hidup.
Allah Ta’ala berfirman,
وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا
تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ
Artinya : “Makan dan minumlah, tetapi
jangan berlebih-lebihan…” (QS. Al-A‘raf: 31)
Oleh karena itu, kebutuhan jasad memang
harus dipenuhi, namun tidak boleh dituruti secara berlebihan atau tanpa batas.
Kemudian adalah kebutuhan ruh. Ruh
adalah inti kehidupan. Ia hidup bukan dari makan dan minum, tetapi
dari ilmu dan ibadah.
Imam
Ahmad rahimahullah berkata,
الناس إلى العلم أحوج منهم
إلى الطعام والشراب. لأن الرجل يحتاج إلى الطعام والشراب في اليوم مرة أو مرتين. وحاجته
إلى العلم بعدد أنفاسه
Artinya : “Manusia lebih butuh kepada
ilmu (agama), dibandingkan kebutuhan terhadap makanan dan minuman. Karena
seseorang dalam sehari hanya membutuhkan makan dan minum sekali atau dua kali.
Sedangkan ia membutuhkan ilmu dalam setiap helaan nafasnya.” (Madarijus
Salikin, 2: 440)
Tanpa ilmu, seseorang akan tersesat.
Tanpa ibadah, ruh menjadi hampa. Allah Ta’ala menegaskan
tujuan penciptaan manusia,
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ
وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya : “Tidaklah Aku menciptakan
jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Inilah makanan bagi ruh, yakni dengan
salat, zikir, membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu, dan mendekat kepada Allah dalam
setiap keadaan.
Ketiga, mengenali hal-hal yang merusak
diri
Setelah mengetahui dari apa kita
diciptakan dan apa kebutuhan utama diri, kita juga wajib mengenali apa saja
yang dapat merusak kita, baik jasmani maupun rohani.
Hal-hal yang dapat merusak jasad di
antaranya adalah mengonsumsi makanan haram atau berbahaya, melakukan kebiasaan
yang merusak kesehatan, serta bersikap malas dan tidak menjaga amanah tubuh.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda,
فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ
حَقًّا
Artinya : “Sesungguhnya tubuhmu memiliki
hak atas dirimu.” (HR. Bukhari)
Sehingga jasad ini adalah amanah dari
Allah yang wajib dijaga dan tidak boleh disia-siakan.
Selain perusak jasad, ada pula hal-hal
yang merusak ruh. Kerusakan ruh jauh lebih berbahaya daripada kerusakan jasad,
karena ruh adalah pusat keimanan, ketenangan, dan arah hidup. Jika ruh rusak,
maka seluruh kehidupan ikut rusak. Berikut ini beberapa hal yang paling merusak
ruh seorang hamba:
Dosa dan maksiat
Dosa adalah racun bagi hati. Setiap kali
seseorang berbuat maksiat, maka ia sedang menambah noda yang menggelapkan
hatinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ
خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ
وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ
الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا
يَكْسِبُونَ}
Artinya : “Jika seorang hamba
melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam.
Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristigfar, dan bertobat; niscaya noda
itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa, niscaya noda-noda itu
akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang
difirmankan Allah, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu
mereka lakukan itu telah menutup hati mereka” (QS. Al-Muthaffifin: 14).”
(HR. Tirmidzi dari Abu
Hurairah radhiyallahu ’anhu. Hadis ini dinilai hasan
sahih oleh Tirmidzi)
Semakin banyak noda itu dibiarkan,
semakin gelap hati seseorang, sehingga sulit menerima nasihat dan cahaya
hidayah. Dosa membuat ruh melemah, iman menurun, dan hati menjadi keras.
Lalai dari zikir dan ibadah
Ruh yang tidak diberi makanan berupa
zikir, doa, dan ibadah akan menjadi lemah seperti halnya jasad. Allah Ta’ala memperingatkan,
وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ
نَسُوا۟ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ
Artinya : “Dan janganlah kamu menjadi
seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa
kepada diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr: 19)
Ketika seseorang melupakan Allah, ia
kehilangan arah hidup. Ia lupa tujuan penciptaannya, lupa kewajibannya, dan
akhirnya justru merugikan dirinya sendiri.
Syubhat, syahwat, dan hawa nafsu
Syubhat merusak pemikiran. Syahwat merusak
keinginan dan tindakan. Hawa nafsu merusak keteguhan hati.
Tiga hal ini adalah musuh besar ruh.
Allah Ta’ala menyebut bahwa mengikuti hawa nafsu akan
menyesatkan dari jalan yang benar,
وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ
فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ
Artinya : “Dan janganlah engkau
mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan dari jalan Allah.” (QS.
Shad: 26)
Syubhat membuat seseorang ragu terhadap
agama, syahwat membuatnya mudah tergelincir, dan hawa nafsu membuatnya
membenarkan kesalahan.
Tidak menuntut ilmu agama
Hati tanpa ilmu akan kosong dan mudah
disusupi kebodohan, syubhat, serta bisikan setan. Ilmu adalah cahaya, dan
kebodohan adalah kegelapan. Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ
يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ
Artinya : “Apakah sama orang-orang yang
mengetahui dan yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)
Buruknya teman dan lingkungan
Ruh sangat mudah terpengaruh oleh
lingkungan. Teman yang buruk bisa menyeret seseorang kepada kelalaian dan dosa.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
المرء على دين خليله فلينظر
أحدكم من يخالل
Artinya : Agama seseorang sesuai
dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat, siapakah yang menjadi
teman dekatnya.” (HR. Abu
Dawud dan Tirmidzi. Lihat Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)
Lingkungan buruk membuat ruh sulit
berkembang, sementara teman saleh adalah penolong bagi iman dan ketenangan
hati.
Perjalanan mengenal diri adalah
perjalanan pulang
Mengenal diri bukan sekadar mengetahui
kelemahan diri, tapi memahami dari mana kita berasal dan ke mana kita akan
kembali. Allah Ta’ala berfirman,
قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ
وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ
Artinya : “Sesungguhnya kami milik
Allah, dan kepada-Nya kami akan kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengenali diri, memperbaiki diri, dan mendekat kepada-Nya dengan segenap hati. Aamiin.
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Artikel Muslim.or.id
Editing: Ndik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar